Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
183.Akhir cerita Tito


__ADS_3

"Aaaak" Gery mengerang kesakitan tak berdaya. Tito menginjak kaki Gery dengan bengis dan mengeratkan rahangnya.


Melihat temanya disiksa Ardi maju dan hendak menendang Tito. Tapi sayangnya anak buah Tito terlalu sigap. Menarik tubuh Ardi dengan kasar. Ardi mencoba melawan, tapi tenaganya sudah lemah.


Tito melirik ke Ardi dengan tatapan sinis dan senyum smirknya.


Kemudian Tito berjongkok dan mendekat ke Gery. Tito menunjuk-nunjuk jijik kepala Gery dengan ujung jarinya.


"Lo jangan sok pahlawan buat rebut Mira dari gue, Dokter Gery! Mira miliku. Nggak ada seorangpun yang bisa halangi jalanku. Dasar pria bodoh!" ucap Tito.


"Bede*ah!" meski tenaganya hampir habis, Gery masih mengumpati Tito dan mengepalkan tanganya.


Tito berdiri dan dengan be*gisnya mene*dang perut Gery meskipun Gery sudah terkapar.


"Kita apakan mereka bos?" tanya John ke Tito.


Tito melihat anak buah Ardi sudah kalah semua. Hanya Ardi yang masih tampak menegakan kepalanya meski sudah babak belur dan dipegangi anak buah Tito.


"Saya masih ingin bermain-main dengan orang hebat ini" ucap Tito dengan tatapan sinis.


"Bug" Tito menonjok Ardi meskipun Ardi sudah tidak berdaya.


"Ini rasa yang harus lo bayar karena buat adiku menangis. Kalian pikir kalian bisa mengalahkanku? Hah hahaha" ucap Tito tertawa puas mengejek Ardi.


"Cih, pengecut" jawab Ardi masih tetap berani dan tidak gentar.


"Riko akan kalah dalam persidangan besok, dan berita kematian kalian akan saya rilis besok. Ah tidak-tidak. Itu terlalu cepat. Saya ingin anda melihat istri dan anak anda menderita dulu di ujung umurmu Tuan Ardi"


"Itu tidak akan pernah terjadi. Aku akan tetap hidup bersama istri dan anak-anakku. Dan kamu akan membusuk di penjara"


Ardi masih saja meracau meski wajahnya sudah tak berbentuk. Dan hal itu membuat Tito tambah kesal.


Anak buah Tito memegangi tangan Ardi.


"Bug" Tito kembali memukul Ardi dengan bengis.


Meski darahnya keluar, Ardi justru tersenyum sinis.


Saat Tito hendak mengayunkan kakinya menendang Ardi.


"Brak!"


Dari luar beberapa orang berpakaian hitam mendobrak pintu depan markas Tito. Mereka tampak gagah masuk hendak menyelamatkan Ardi.


"Sial. Siapa mereka?" umpat Tito.

__ADS_1


"Urus mereka!" ucao Tito memerintah menyuruh anak buahnya melawan anak buah Tuan Aryo.


Anak buah Tito kemudian menoleh ke sumber suara semua. Tidak terkecuali yang memegangi Ardi. Ardipun dilepaskan begitu saja.


"Tuan Muda" teriak salah satu orang berbaju hitam menghampiri Ardi. Karena di depanya ada Tito, orang itu menyerang Tito lebih dulu.


Ardi menoleh sedikit heran. Ardi kira yang datang rombongan polisi kenapa yang datang orang-orang pilihan ayahnya. Darimana Tuan Aryo tahu? Ah yasudahlah yang penting Ardi selamat.


Ardi berdiri sempoyongan menahan semua rasa sakit di badanya. Matanya mulai berkunang-kunang melihat adegan perkelahian di depanya. Dan akhirnya Ardi terjatuh pingsan.


Tito dibuat kalang kabut menghadapi orang-orang handal pelindung Gunawijaya. Tuan Aryo mengirim 10 pasukan khusus yang sudah terlatih.


Untuk yang kedua kalinya, terjadi baku hantam. Dan kali ini seimbang. Mereka satu banding satu.


Dengan kubu Tito berkelahi sudah dengan sisa tenaga yang tadi. Sementara kubu Tuan Aryo masih sangat fresh dan kemampuannya juga lebih tinggi.


Tidak menunggu lama anak buah Tito berhasil dilumpuhkan. Tito bingung dan berusaha kabur.


Tapi di saat Tito hendak kabur polisi datang. Bahkan polisis membawa reporter. Markas Tito dikepung. Dan malam itu menjadi akhir dari cerita Tito. Tito ditangkap polisi atas tuduhan bisnis narkoba dan penganiayaan.


Polisi langsung masuk menggeledah rumah tua itu. Mengambil semua barang-barang haram kepunyaan Tito dan John.


Dan di dalam ruang bawah tanah itu. Ternyata terdapat ruang seperti istana, persembunyian khusus menghadap ke pantai. Di situ juga ada brankas uang yang sangat banyak.


Karena Tito terbukti bersalah. Barang-barang barangnya pun belum sempat dia sembunyikan. Kemungkinan Tito akan dijatuhi hukuman mati atau penjara seumur hidup.


Andik ternyata masih sadar hanya saja tubuhnya sangat lemah. Dan yang paling parah adalah Gery dan Roni. Mereka berdua banyak darah, dan tidak sadarkan diri.


Ardi dan Rey juga pingsan tapi lukanya tak sebanyak Gery. Anak buah Tuan Aryo mengevakuasi Gery dan teman-temanya ke rumah sakit terdekat.


Untungnya Tuan Aryo mengirim dua mobil anak buahnya. Dengan bantuan GPS ponsel Ardi mereka bisa menyelamatkan Ardi meski hampir terlambat.


Kini mereka ada tiga mobil. Gery di angkat bersama Ardi didampingi anak buah Tuan Aryo. Andik diangkat bersama Roni. Dan Rey sendirian. Tapi mereka semua dilarikan ke rumah sakit yang sama untuk mendapat pertolongan pertama.


"Tuan, kami berhasil membawa Tuan Muda" lapor anak buah Tuan Aryo.


Meski tidak ikut turun tangan Tuan Aryo berjaga di ruang kerjanya menunggu kabar dari anak buahnya.


"Bagaimana keadanya?" tanya Tuan Aryo


"Tuan Muda dan teman-temanya pingsan Tuan"


"Siapa saja yang dia bawa?"


"Satu teman Tuan Muda, 3 yang lain tim gunawijaya dari kelompok B"

__ADS_1


"Dimana posisi kalian sekarang?"


"Kami di rumah sakit Harapan Sehat"


"Pastikan Tuan Mudamu stabil, pindahkan mereka ke rumah sakit Healthiest, biar pihak rumah sakit yang menjemput" tutur Tuan Aryo.


"Baik Tuan"


Tuan Aryo langsung menghubungi rumah sakit orang tua Gery. Tuan Aryo tidak tahu kalau teman Ardi itu adalah Gery. Orang tua Gery juga tahunya Gery pulang ke apartemen atau masih sibuk di tempat magang.


Rumah sakit kepunyaan Gery kemudian mengirimkan armada terbaiknya menjemput Ardi. Setelah sampai tujuan, mereka semua kaget dan syok, selain Tuan Ardi ternyata juga ada Dokter Gery.


Kemudian ambulance rumah sakit Dokter Gery membawa dokter Gery lebih dulu. Karena ternyata Gery butuh ruang ICU. Bahkan Gery perlu melakukan operasi karena ada bagian organ dalamnya yang perdarahan.


****


Jam menunjukan jam 02.00 dini hari. Tuan Aryo mengetuk kamar menantunya. Tapi tidak ada sahutan.


"Mah, Lian" panggil Tuan Aryo. Karena tidak ada jawaban Tuan Aryo membuka pintu kamar menantunya.


Bu Rita dan Alya tampak tertidur di lantai bersandar dinding kasur masih menggunakan mukenah.


"Mah bangun" ucap Tuan Aryo membangunkan istrinya.


Alya dan Bu Rita terbangun.


"Ada apa Pah?"


"Ke rumah sakit sekarang?"


"Jam berapa ini Pah?" tanya Bu Rita setengah sadar.


"Jam dua, cepat bangun!"


"Emang ada apa ke rumah sakit jam begini"


"Ardi sekarang di rumah sakit"


"Ardi?" tanya Bu Rita membulatkan matanya dan kesadaranya langsung terkumpul sempurna.


"Mas Ardi kenapa Pah?" tanya Lian ikut panik.


"Cepat berangkat sekarang" ucap Tuan Aryo.


Tanpa dandan dan berganti pakaian, Bu Rita melepas mukenahnya dan mengikuti Tuan Aryo. Alya juga hanya melepas mukenah bagian bawah dan masih menggunakan mukenah atas.

__ADS_1


Malam itu Tuan Aryo pergi sendiri tanpa sopir. Mengendarai mobilnya di malam buta ke rumah sakit dokter Gery. Sepanjang jalan Alya hanya bisa menangis membayangkan suaminya.


__ADS_2