
"Sepertinya hujan lagi Pah" Bu Rita bangkit dari duduknya.
Sementara Tuan Aryo masih duduk di kursi balkon. Tuan Aryo sibuk membaca ponselnya. Dia tidak menghiraukan istrinya, suara rintik hujan di luar juga tidak dihiraukan, malah sengaja dinikmatinya.
"Mamah masuk ya, Pah. Di sini dingin" pamit Bu Rita meninggalkan suaminya di balkon.
Bu Rita masuk ke kamarnya. Lalu menyalakan televisi. Bu Rita diam sejenak,memikirkan suaminya.
"Akhir-akhir ini papah sering mengabaikanku dan fokus dengan ponsel. Tapi kalau ditanya selalu menjawab masalah pekerjaan"
31 tahun Bu Rita dan Tuan Aryo menjalani bahtera rumah tangga. Bukan waktu yang singkat untuk dilalui. Bu Rita paham betul, Tuan Aryo sebelumnya tidak pernah mengabaikan istrinya demi masalah pekerjaan. Lebih sering justru Tuan Aryo menceritakan keluh kesah masalah pekerjaan dengan istrinya. Padahal istrinya tidak bertanya dan memberi solusi, hanya mendengarkan.
Tapi akhir-akhir ini Tuan Aryo hanya menjawab biasa Mah. Padahal jelas - jelas Bu Rita bertanya lebih dulu, ada masalah apa? Siapa yang menghubungi? Tetap saja dijawab, nggak papa.
Bu Rita semakin curiga dan kesal. Bahkan di malam yang hujan dan cuaca dingin Tuan Aryo bertahan duduk di balkon dengan ponselnya.
"Sebenarnya papah chattingan sama siapa akhir-akhir ini?" Gumam Bu Rita melirik suaminya masih asik dengan ponselnya.
"Apa papah punya simpanan? Papah kan sudah tua? Ah tapi stamina papa masih kuat seperti anak muda"
"Apa karena aku sudah menua dan tidak cantik lagi? Atau kurang menggairahkan seperti dulu? Bahkan menstruasiku sudah mulai mengacau, apa papa tau tidak lama lagi aku menopause?"
Bu Rita mulai menerka-nerka sendiri terhadap sikap suaminya. Bu Rita berniat untuk membuka ponsel suaminya. Hal yang tidak wajar dilakukan oleh pasangan seumur Bu Rita dan Pak Aryo, curiga dengan suami dan memata-matai lewat handhphone. Bahkan saat muda dulu Bu Rita hampir tidak peduli dengan handphone Tuan Aryo. Karena selama ini Tuan Aryolah yang sangat posesif terhadap Bu Rita.
Hujan di luar semakin deras disertai angin. Tuan Aryo yang duduk di balkon ikut masuk menyusul istrinya dan menutup pintu.
"Nonton apa Mah?" tanya Tuan Aryo ikut naik ke kasur mendekati istrinya.
"Biasa pah sinetron, papah kan nggak suka!" jawab Bu Rita agak ketus masih menyimpan prasangka.
Mendengar nada istrinya yang sedikit berbeda Tuan Aryo paham. Tuan Aryo meletakan ponselnya dan masuk ke selimut yang sama dengan istrinya.
"Sudah malam, tidur Mah" ajak Tuan Aryo.
Bu Rita masih diam. Dia ingin melampiaskan kecurigaanya, tapi Bu Rita gengsi untuk marah-marah mengingat usianya tidak muda lagi. Tapi entah karena Bu Rita memasuki masa perimenopause atau karena apa. Bu Rita menjadi sangat sensitif dan mudah emosi. Bu Rita yakin betul suaminya menyembunyikan sesuatu.
"Mah" panggil Tuan Aryo yang sudah bergelung di bawah selimut.
Bu Rita masih tetap diam menahan emosi.
__ADS_1
Merasa diabaikan Tuan Aryo bangun, lalu melingkarkan tanganya ke tubuh istrinya dan mengajak tidur. Ya, hanya mengajak tidur, tidak ada aktivitas lain, karena usia Tuan Aryo dan Bu Rita sudah tidak muda lagi, jadi mereka hanya melakukan hubungan suami istri beberapa hari sekali. Tapi mereka tetap mesra.
Bu Rita hanya diam dan menuruti ajakan suami. Bu Rita mematikan televisi dan tidur dipelukan suaminya seperti malam-malam biasanya. Tapi malam ini berbeda. Bu Rita tidak menikmati kehangatan pelukan suaminya. Otak dan dada Bu Rita bergemuruh, ada banyak pertanyaan yang menyalakan bara di dadanya.
Bu Rita diam dibalik pelukan suaminya, menunggu suaminya terlelap. Bu Rita berniat mengambil ponsel suami dan mengeceknya. Tidak menunggu lama Bu Rita mendengar dengkuran halus suaminya. Tangan Tuan Aryo yang melingkar terasa melonggar. Dan benar saja.
"Thriiing" Layar ponsel Tuan Aryo menyala seperti ada pesan masuk.
Bu Rita memastikan suaminya sudah benar-benar terlelap. Bu Rita memindahkan tangan suaminya, tidak ada respon. Bu Rita menggerakan tangan di depan wajah suaminya tidak ada respon juga. Terakhir sedikit mencubit hidung suaminya, Tuan Aryo juga tidak merespon, malah dengkuranya semakin keras.
Yakin suaminya sudah tidur Bu Rita menyibakan selimut dan berniat mengambil ponsel Tuan Aryo di nakas. Bayangan Bu Rita ada foto perempuan muda, yang menggoda suaminya. Bu Rita sangat ingin tau perempuan tidak tahu malu mana, yang berani menggerogoti rumah tangganya.
Dengan hati-hati Bu Rita membuka kunci ponsel mahal suaminya. Bu Rita membuka pesan whatsap yang baru saja masuk.
"Bukan nama perempuan" gumam Bu Rita, terbaca nama depan pengirim pesan Didi.
"Thit" Bu Rita membuka pesan Tuang Aryo.
"Sepertinya Tuan Muda bermalam lagi Tuan. Hujan sangat deras disertai angin"
"Tuan lampu apartemen padam, Tuan Muda tidak terlihat keluar dari apartemen"
"Tuan Muda bersama Nona masuk ke apartemen"
"Tuan Muda hujan-hujanan bersama Nona, Tuan"
"Tuan Muda menunggu hujan reda dan masih di warung tenda"
"Tuan Muda terlihat akrab dengan Nona Tuan"
"Tuan Muda menikmati makan malam di warung tenda"
"Haaah" Bu Rita menutup mulutnya membaca pesan masuk di ponsel suaminya. Mata Bu Rita terbelalak membaca laporan anak buah suaminya. Apalagi memandangi foto-foto yang dikirim. Tangan Bu Rita melanjutkan aktivitas selancarnya, menyusuri chattingan suaminya ke bawah. Bu Rita semakin tidak percaya.
Banyak sekali foto-foto anak kesayanganya. Sejenak Bu Rita menarik nafas masih tidak percaya. Lalu Bu Rita kembali mengusap layar ponselnya. Ditatapnya foto dalam chattingan suaminya dengan teliti. Kemudian Bu Rita tersenyum.
Bu Rita kemudian berbalik menatap suaminya yang terlelap. Bibir Bu Rita tampak manyun.
"Kenapa papah merahasiakanya dariku, padahal sudah sejauh itu. Papah harus jelaskan ini!"
__ADS_1
Bu Rita menghembuskan nafasnya kasar. Tapi kemudian dia kembali menatap suaminya lembut.
"Bodohnya aku, sudah 31 tahun aku bersamamu masih saja meragukanmu, ternyata suamiku sudah melakukan banyak hal, suamiku sangat mencintai kami, keluarganya"
Bu Rita menatap ponsel dalam genggamanya lagi, lalu tersenyum.
"Apa ini artinya mimpiku menjadi seorang nenek akan terwujud?"
Bu Rita kembali menyalakan ponsel suaminya, ditatapnya kembali foto-foto di pesan whatsapnya.
"Mereka sudah saling mengenal?" Bu Rita mengusap foto Alya tampak menyuapi Ardi suiran ayam di warung tenda.
"Bahkan mereka terlihat sangat manis dan serasi"
Bu Rita menggeser layar ponsel suaminya lagi.
Banyak sekali foto-fotonya, mulai dari keluar apartemen bersama, jalan berdua di bawah lampu jalan, duduk di tenda bareng. Mereka berdua saling menatap, melihat Ardi tersenyum.
"Kenapa Ardi mengelabuhiku? Tapi untuk apa?" gumam Bu Rita masih tidak percaya dengan isi ponsel suaminya.
"Naif sekali anakku. Tapi dia sungguh anakku" Bu Rita kembali bergumam membayangkan wajah tampan putranya.
Bu Rita kembali menggeser layar ponsel suaminya. Membaca pesan-pesan anak buah suaminya dengan teliti
"Haaah?" Bu Rita menutup mulut.
"Jadi, apa ini berarti sekarang mereka menginap berdua di apartemen?" Bu Rita membayangkan sesuatu terjadi di tempat yang jauh di sana.
Ardi laki-laki normal dewasa bahkan umurnya sudah tidak muda lagi, bisa dibilang tua malah. Sementara Alya perempuan dewasa yang memiliki wajah cantik dan tubuh yang menarik. Apa yang akan terjadi jika dua orang berbeda kelamin menginap bersama di usia yang tidak belia lagi.
"Tidak, tidak, penilaianku tidak pernah salah. Alya bukan perempuan seperti itu"
"Tapi benarkah Ardi sekarang bermalam di sana?"
Bu Rita kembali membaca pesan anak buah Tuan Aryo dengan seksama. Bu Rita melihat suaminya yang terlelap. Ingin rasanya membangunkan dan meminta penjelasan.
Tapi Bu Rita mengurungkan niatnya. Bu Rita bangkit meninggalkan kamarnya menuju kamar anaknya. Bu Rita membuka kamar putranya pelan-pelan. Bu Rita harus pastikan sendiri dimana putranya.
"Benar. Dia tidak pulang? Jadi Ardi sungguh bermalam berdua dengan Alya di apartemen? Mati lampu? Hujan deras? Apa yang akan terjadi?"
__ADS_1
"Ini tidak bisa dibiarkan, Aku harus merencanakan sesuatu" gumam Bu Rita berjalan kembali ke kamarnya.