Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
259. Telepon Di Pagi Hari


__ADS_3

Tentu saja, malam itu dokter Steve bahagia dan lega. Uang 1 M bukan uang sedikit. Bahkan sebelum rumah sakit itu mempunyai pasien, untuk mendapatkan uang segitu dari pemerintah mereka harus membuat prposal dan laporan banyak sekali. Belum nanti cairnya lama. 


Bahkan malam ini, tidak menunggu bermenit- menit hanya berjalan dan keliling sebentar  1 M langsung diterima. Ardi tidak minta proposal apapun, tidak mau diliput media, hanya minta laporan perbulan uang kalau keinginan realisasi uang itu seperti maunya. 


Dokter Steve langsung bersikap sangat baik dan megistimewakan Alya. Bahkan mengkode Dokter senior membiarkan Alya banyak istirahat, yang penting absen aja. 


Tapi Alya tetaplah Alya. Dia mencintai pekerjaanya, meski Dokter Ajeng memintanya istirahat aja, atau nulis rekam medis aja, atau bahkan disuruh duduk dan mainan hp saja. Alya tetap berdiri dan pasang badan, menyambut setiap pasien yang masuk dengan senyuman tulus dan manisnya. 


Hal itupun yang membuat rekan- rekan kerja Alya semakin mengaguminya. Semua setuju dan merasa Alya memang pantas menjadi seorang yang Ardi pilih untuk menjadi ibu dari penerus Gunawijaya. Hanya Alya juga yang pantas mendapatkan cinta yang berlimpah dari seorang rupawan dan hartawan seperti Ardi. 


Sebab kalau bukan Alya, menjadi istri Ardi pasti akan sangat congkak dan bekerja seenaknya. Sudah banyak contohnya melihat berbagai macam pasien yang kayanya nanggung, punya jabatan sedikit, jauh di bawah Ardi pada berlagak. Omonganya sangat tinggi dan suka semena- mena. 


Dari rekan kerja juga, banyak yang bekerja dengan embel- embel karena orang dalam. Bekerja sesukanya, sama teman pilih- pilih, sama pasien juga pilih- pilih. Dan lebih parahnya lagi banyak yang membual cerita, menjaga gengsi pura- pura kaya. 


Sementara Alya, yang jelas istri dari seorang pewaris tunggal perusahaan terbesar di negaranya. Alya masih mau bekerja keras, ramah, tidak pandang pasien apalagi teman.


Alya juga selalu merendah, tidak pernah menceritakan berapa harga sepatu yang sekarang dia pakai. Padahal sepatu yang dibelikan mertuanya itu setara dengan 3 bulan gaji rekan kerjanya.


Semuanya Alya lakukan karena Alya cinta dengan profesinya. Alya merasa berharga dengan pekerjaanya.


Alya merasa tanganya dan otaknya itu adalah anugerah Tuhan yang harus dia gerakan untuk memanjangkan harapan hidup dan nafas banyak orang. Wajah pasien yang melepaskan kesakitan menjadi syukur adalah hal yang menjadi tujuan Alya.


“Dok, biar saya yang infus” bisik perawat membawa peralatan infus saat Alya berbincang ramah dengan pasienya. 


“Iya Sus, silahkan!” jawab Alya. Lalu Alya duduk menyelesaiakan tumpukan laoporan pasien di depanya. 


Karena sudah terlanjur bertemu, bahkan terlanjur membuat kegaduhan. Sampai Sang Direktur datang, kini Ardi tidak malu menampakan dirinya ke teman-teman Alya.


Setelah selesai diskuis, dan dokter Steve pulang, Ardi dengan percaya  diri dan disambut dengan penuh hormat berbaur dengan teman- teman Alya. 


Ya, jiwa Ardi yang kadang dibalut dengan sikap sombong sebenarnya sehangat itu. Ardi duduk di dekat komputer, diam santai bermain ponsel sambil menikmati kesibukan para pekerja di rumah sakit itu.


Ardi sudah janji tidak mau mengganggu istrinya, dari pada nanti tidak boleh menyentuh buah kesukaanya dan kehausan, Ardi memilih diam. 


Sesekali Ardi mengobrol dengan perawat jika pasien sudah berhasil memindahkan pasiennya. Tapi istrinya belum kunjung mendekatinya.


Dan akhirnya Ardi tersenyum puas saat Alya berjalan ke arah meja mengambil ballpoint, meraih setumpuk rekam medis dan menarik kursinya. 


“Sayangku!” panggil Ardi meenggeser kursinya mensejajari Alya. 


Meja nurse station tinggi, jadi mereka tak akan terlihat dari luar, dari jangkauan pasein atau perawat. Kecuali jika sama- sama di situ. 


“Hemmm” jawab Alya berdehem tapi muka dan matanya fokus menatap kertas dan deretan kata pertanyaan yang harus diisi. 


“Prinscessnya Mas, nggak protes dari tadi Bubunya nggak berhenti mondar mandir?” tanya Ardi khawatir, lalu tanganya bergerak ingin memeluk dan mengusap perut istrinya. 


“Ck. Hhh” Alya menghentikan jarinya dari menggerakan ballpoint, lalu menatap suaminya. 


“Maaas, ingat. Lian lagi kerja, please ya!” tutur Alya sambil menepis tangan Ardi agar bersikap sopan. 


“Hmmmm” Ardi manyun karena dimarahi.


“Ke kamar aja sih! Kan udah dikunci jendelanya, udah nggak ada ularnya!” 


“Masih!” jawab Ardi dengan senyum nakalnnya.


“Hisssh! Udah sana balik ke kamar aja!” jawab Alya paham dengan mata Ardi yang menoleh ke pusat tubungnya di bawah.


“Nggak, mas laper, temen- temen gimana? Udah makan belum?” tanya Ardi ke Alya. Ardi menolak ke kamar dan ingin makan saja.


“Kita yang di sini, akan makan kalau pekerjaan selesai, makanya jangan ganggu Lian. Nanti nggak selesai- selesai!” jawab Alya ke suaminya. 


Ardi kemudian diam dan memundurkan kursinya ngumpet lagi ke ruangan di balik nurse station agar tidak menganggu. Lalu Alya fokus lagi mengerjakan pekerjaanya.


Setelah beberapa waktu, semua pasien tertangani. Laporan juga berhasil di selesaikan. Setelah pasien di antar ke bangsal belakang, semua perawat dan dokter meluruskan tangan dan kakinya yang pegal dan berkumpul di nusrse station.


“Bang, Mba, pada mau makan apa nih?” tanya Ardi ikut nimbrung  lagi. 


Mendengar suara Ardi dokter dan perawat menoleh dan memberikan tempat agar Ardi duduk di samping Alya. 


“Makan apa ya?” tanya Dokter Ajeng. 

__ADS_1


“Nasi lamongan depan rumah sakit aja!” celetuk salah satu perawat. 


“Oh ya itu setuju!” jawab Ardi sok akrab. 


Teman- teman Alya mengangguk, ingin membalas keakraban Ardi tapi mereka sungkan mengetahui siapa Ardi. 


“Ya Tuan!” jawab salah seorang perawat laki- laki. 


“Belikan ya Bro. Sejumlah perawat yang di sini, terserah mau menu apa? Gue mau yang menu rica pedasnya!” ucap Ardi mengeluarkan ung 500 Ribu. 


Mendengar menu yang Ardi ucapkan Alya mendelik. “Sejak kapan Ardi tau di situ ada menu rica-rica pedas dan enak?” batin Alya. 


“Ya Tuan!” jawab perawat menerima uang Ardi. 


“Selebihnya terserah kalian, jangan panggil gue Tuan, gue bukan bos kalian di sini! Panggil Bang aja!” jawab Ardi melirik ke Alya.


Ardi juga ingin akrab dengan teman- teman Alya agar Alya nyaman kalau Ardi menguntitnya. 


“Iya Bang!” jawab perawat.


Setelah mencatat semua pesanan teman-temanya perawat itu pergi. 


Malam itu di ruang pantri, Ardi bersama dengan partner kerja Alya makan bersama. Makan lesehan membentuk lingkarang dengan menggunakan tangan.


Dan di antara mereka tercipta keakraban. Alya sangat bahagia. Ternyata Ardi bisa bersikap luwes dan adaptasi. 


Entah karena doa Ardi atau memang semua masyarakat sekitar sehat. Jika saat Alya jaga malam biasanya pasien datang tanpa henti, malam ini pasien rame hanya sampai pukul 11 malam. Setelah itu sepi.


Lalu perawat laki- laki menunggu di depan. Membuat barisan kursi agar mereka bisa meluruskan kaki. Dokter dan perawat perempuan dipersilahkan bergantian jaga dan istirahat di dalam. 


Alya dan Ardi kemudian masuk ke kamarnya. Meski di matras yang kecil dan saat mereka berdua berbaring busanya langsung kempes, Ardi menikmatinya karena bersama istrinya.


Mereka tetap mesra. Berpelukan dengan nyaman seperti di rumahnya sendiri. Apapun situasinya, hidup bersama pasangan halal adalah hal terindah semua insan.


“Mas suka ikut Lian kerja?” tanya Alya sambil memeluk tubuh bidang  suaminya. 


Ardi memiringkan tubuhnya, lalu mengeratkan pelukanya dan mencium kepala Alya yang masih terbalut jilbab. 


Alya diam menghitung- hitung awal dia magang. Dan berapa lama lagi Alya akan mendapatkan keterangan lulus masa pengabdian. 


“Entah Mas, kan nanti kepotong cuti lahiran, kenapa memangnya?” tanya Alya lagi sambil mendongakkan kepalanya melihat Ardi memejamkan matanya tapi masih sadar dan tanganya masih memeluk Alya erat. 


“Yang?” panggil Ardi dengan suara mendesah karena ngantuk. 


“Hemm, apa?”


“Sebenarnya kamu kenal mengeluh nggak sih?” 


“Apa maksudnya?” 


“Pinggang Mas, tidur di sini sakit, kenapa kamu nggak pernah ngeluh sih?” tanya Ardi masih sambil merem.


“Hemmm. Siapa yang suruh ikut?” jawab Alya menyandarkan kepalanya di dada Ardi.


“Ingat sayang, ada anak mas di perutmu, jaga dia ya! Mengeluhlah jika kamu lelah. Aku ingin mendengar kamu mengeluh dan memintaku menyembuhkan lelahmu” 


“Maas, buat Lian semuanya menyenangkan. Bisa merebahkan badan dan istirahat, itu juga udah nikmat kok. Tugas kita memang begini! Lian nyaman di sini, buat apa mengeluh?"


"Tapi kasian anak kita"


"Suamiku Sayang, anak kita hebat, Lian yakin kok dia juga seneng temenin ibunya kerja. Dia akan jadi anak kuat nanti! Nyatanya Lian ngrasa baik-baik aja” tutur Lian melepaskan pelukan suaminya lalu bangun terlentang dan mengelus perutnya. 


Ardi kemudian ikut membuka matanya, lalu bangun dri tidurnya. Memilih duduk bersandar pada tembok dan menatap istrinya. 


“Apa secinta itu kamu terhadap pekerjaanmu?” tanya Ardi lagi. 


“Kenapa selalu tanya begitu sih?” tanya Alya lirih dan ikut duduk. 


Ardi diam, meski beberapa jam melihat istrinya bekerja, Ardi bisa melihat kehidupan di raut Alya. Alya begitu semangat menjalaninya.


Seperti ada kebahagiaan yang Ardi tidak bisa memberinya. Ardi menjadi trenyuh dan cintanya naik berlipat- lipat, melihat semangat Alya. Ardi melihat Alya sangat istimewa.

__ADS_1


Bahkan di saat orang lain menjalani kehamilanya dengan banyak keluhan dan keinginan. Alya tidak pernah mengeluh sama sekali. Ardi besyukur, tapi dia merasa tidak ada guna. 


"Kenapa kamu bahagia jika bekerja?"


"Lian selalu bahagia kapanpun dan dimanapun. Karena nggak ada alasan untuk kita nggak bahagia Mas. Saat bekerja Lian merasa hidup beeharga bisa bermanfaat dan menolong orng lain. Lian merasa keren. Saat jadi istri Mas, Lian juga bahagia karena suami Lian memberi Lian banyak cinta"


“Apa dia mendengar kita?” tanya Ardi mengelus perut Alya. Lalu Ardi merasa ada yang berdenyut. 


“Dia akan ajak ngobrol saat ibunya tenang. Tapi dia juga sangat pengertian, tidak protes saat Lian beraktifitas” jawab Alya lagi dengan lembut. Lalu ikut Ardi mengelus perutnya. "Sedang kamu Sayang? Ngantuknya belum tidur. Besok siang kita tidur sepuasnya ya!" tutur Alya seakan berbicara dengan anaknya.


“Dia pasti akan sangat pintar seperti ayahnya” ucap Ardi lagi dengan percaya diri.


“Ishh, seperti ibunya” jawab Alya tidak terima.


“Yaya. Yang penting jangan nurun bawelnya”


“Siapa yang bawel?” tanya Alya manyun.


Lalu Ardi meringkuk, menghujani perut Alya dengan banyak ciuman.


“Lakukan apa yang buat kamu bahagia, tapi berjanjilah, fokuslah di rumah saat anak kita lahir!” ucap Ardi dengan nada seriusnya setelah puas mencium perut Alya.


“Sampai Lian dapet str ya Mas! Ijinin Lian tuntas menyelesaikan tugasku" jawab Alya menawar.


Alya selalu berprinsip, entah dipakai atau tidak. Entah mendapatkan suami kaya atau miskin, sebagaia perempuan Alya harus bisa hidup mandiri. Alya harus mempunyai pegangan mempunyai identitas sendiri. Jadi Alya mau, Alya menuntaskan segala rangkaian program pendidikanya.  


“Ya!” jawab Ardi mengangguk dengan tenang. Apapun yang membuat Alya bahagia, akan Ardu kabulkan.


Lalu tiba- tiba pintu diketok, perawat memberitahu ada pasien datang. Alya segera keluar dan bekerja lagi, padahal belum ada satu jam mereka beristirahat. Alya bekerja lagi sampai dini hari.


Hati Ardi benar- benar seperti diobrak – abrik mengetahui kenyataan seperti apa istrinya sebenarnya. Dia ingin melarang tapi jika dilakukan sama saja seperti menghentikan semangat Alya. 


“Hah!” Ardi memilih memejamkan matanya. Berharap Tuhan selalu menjaga kesehatan Alya.


Sekitar pukul 03.00 malam barulah Alya kembali masuk ke tempat istirahatnya dan merebahkan badanya lagi. Mereka kemudian istirahat sampai subuh. 


“Kriing” 


Jam menunjukan angka 6.50 wib, yang artinya sebentar lagi Alya pulang. Tapi ponsel Ardi berdering. 


“Ya Hallo” ucap Ardi menjawab telpon.


Alya yang sudah bersiap mau pulanh hanya diam medengarkan.


“Ya benar, saya Ardi Gunawijaya, ada apa?” tanya Ardi lagi.


“Apa?” 


Entah apa yang dikatakan seseorang dibalik telepon. Wajah Ardi langsung berubah dan terlihat panik


“Baik saya akan segera ke sana!” jawab Ardi menutup telepon.


Melihat ekspresi suaminya Alya penasaran.


“Siapa Mas?” tanya Alya lembut.


“Kita ke rumah sakit polisi sekarang!” 


“Rumah sakit Polisi? Ada apa?” tanya Alya menjadi panik.


“Mia” 


“Mia kenapa?” 


“Nanti kita lihat bareng!” jawab Ardi lalu mereka bergegas pergi. Waktu Alya bekerja juga sudah selesai. Mereka menuju ke rumah sakit polisi. Entah apa yang terjadi dengan Mia.


****


Hehe. Makasih udah baca. Semoga suka


 

__ADS_1


__ADS_2