Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
153. Minggu


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Semua menjalani harinya dengan baik. Intan mulai aktif bekerja di butik, berusaha menyesuaikan diri dengan Dara. Dan entah apa yang dia rencanakan.


Sejak pertemuanya dengan Alya dia belum bisa menemui Alya lagi. Kabar dari Mira, Alya susah dihubungi.


Intan memutar otak bagaimana cara menggapai rencana jahatnya. Tapi nihil dia tidak mempunyai ide. Alya berubah menjadi perempuan yang tidak mudah digapai.


Intan kemudian menunggu janji, menunggu waktu yang diceritakan Dara akan bertandang ke rumah Bu Rita. Mengukur mendesain gaun tercantik untuk sang menantu di rumah utama.


Mira dan Gery sejak perdebatan terakhirnya di kantin menjadi saling diam. Gery berusaha berdamai menata hatinya. Dia tidak tau harus berjuang atau menerima keadaan. Gery sendiri terlalu bodoh menyadari perasaanya.


Apa dia mencintai Mira atau hanya sekedar rasa tidak terima. Tidak terima karena nasibnya sekarang begitu menyedihkan. Tidak tahu arah.


Yang pasti perasaan Gery sekarang adalah malu. Malu karena harus merasa sakit saat Mira pergi, padahal dia sendiri yang mengusirnya.


Farid dan Anya masih diam di tempat. Tidak ada kemajuan. Juga tidak ada kemunduran. Anya masih sibuk dengan segala tugas magangnya. Mencari kesenangan melupakan patah hatinya.


Farid sendiri beberapa kali menghubungi Anya tapi selalu diacuhkan. Berusaha mendatangi kos Anya, tapi Anya sedang menunaikan tugasnya. Farid pun memilih menyibukan diri dengan aktivitasnya sendiri.


Dunia Sinta menjadi gelap saat mendengar Farid mempunyai perempuan lain. Berusaha mencari tahu siapa perempuan itu. Tapi jalanya buntu.


Panutan Sinta adalah Intan. Tapi Intan sendiri berada di ambang kekalahan. Sinta seperti kehilangan pegangan.


Sementara Alya menghabiskan waktu cutinya dengan patuh. Alya tidak keluar dari rumah besar suaminya selama beberapa hari. Memilih mensyukuri peranya sebagai istri sang Tuan Muda dan menjalankan peranya dengan bahagia.


Alya menyibukan diri merawat tanaman Bu Rita. Memberi makan koleksi ikan koi mertuanya, berbincang dengan pelayan di rumah Tuan Aryo dan tentunya menyiapkan segala keperluan suaminya dengan baik.


Beberapa kali Mira menghubunginya, menanyakan kabar Alya. Mungkin Mira juga merasa bersalah karena membohonginya. Mira juga penasaran apa reaksi Alya menanggapi Intan. Tapi Alya menjawabnya baik-baik saja.


Pagi itu hari minggu, Ardi libur dari kerjanya. Pagi-pagi meski masih petang, setelah menunaikan sholat subuh Ardi mengajak istrinya menghirup udara segar di ibu kota.


Sesuatu yang jarang terjadi. Belum terjadi malah, ini pertama kalinya Ardi mengajak Alya keluar berolah raga.


Meski perutnya belum menunjukan perubahan yang signifikan, tapi Ardi selalu memprioritaskan kehamilan istrinya. Ardi memilih jalan kecil tidak lari seperti biasanya. Alya sendiri hanya jalan santai.


Mereka berjalan mengelilingi taman terbuka. Menikmati udara yang masih murni, belum terkontaminasi polusi mesin-mesin kendaraan. Buliran embun pagi pun masih menempel manja pada daun yang hijau.


Beberapa lampu penerangan masih menyala. Rupanya Alya dan Ardi memang sengaja mengambil waktu pagi-pagi. Mencari moment sepi agar bisa leluasa menikmati paginya.


"Sayang kalau udah capek bilang ya?" tutur Ardi sambil berlari kecil mengimbangi Alya yang hanya berjalan


"Lian nggak capek mas, Lian seneng banget mas punya waktu buat Lian" jawab Lian tersenyum manis ke suaminya.


Pagi itu Alya memakai setelan baju olahraga muslimah dengan warna abu hitam dan sneakers putih.


"Maaf ya, kalau mas nggak pernah ajakin kamu jalan-jalan"


"Hehe nggak dimaafin" jawab Alya meledek.


"Hemm pelit banget. Ya udah kamu minta apa biar mas dapet maafnya kamu"


"Jalan-jalan ke car free day yuk!" jawab Alya dengan mode imut memohon ke suaminya.


"Nggak! Jangan itu" jawab Ardi spontan tidak mau datang ke kerumunan.


"Kenapa?" tanya Alya sedih.


"Mas nggak suka keramaian Sayang. Kamu juga bajunya ngetat begitu!" jawab Ardi melihat Alya dengan stelan trainingnya.


Sebenarnya di bagian pantat, baju Alya juga ada gelambirnya. Tapi celana nya memang ketat dengan ujung kaki berkerut. Jilbabnya juga tidak panjang seperti biasanya. Padahal karena kehamilan Alya, dada Alya sedikit membesar. Jadi Ardi tidak terima.


"Hemmm. Kenapa tadi pas berangkat mas nggak suruh Lian pakai rok aja. Kenapa nyuruh pakai ini?" jawab Lian tidak terima.


Sebenarnya waktu mau berangkat Alya sudah memakai rok longgar dan kaos panjang. Tapi kata Ardi kaya emak-emak. Ardi menyuruh Alya memakai baju yang sekarang dia pakai. Jadi Alya merasa serba salah, suaminya memang sangat rewel.


"Mas kan ajak kamu jalan petang begini karena belum ada orang, jadi mas aja yang liat kamu! Kalau care free day kan penuh sesak orang. Bahaya! Nggak-nggak!" jawab Ardi beralasan.


"Ishh. Lebay banget sih. Lian yakin di sana banyak orang yang bahkan pakai baju pendek, mereka aman-aman aja kok! Boleh ya. Ayuuk" jawab Lian merayu.


Lian merasa pakaianya normal-normal saja untuk ukuran berolahraga. Memakai jilbab dan baju panjang juga sudah cukup.


"Nggak!" Ardi masih kekeh menolak. Sebenarnya bukan perkara baju saja tapi jaraknya jauh jika harus berjalan saja.


"Apa kita pulang dulu? Lian ganti pakai rok atau pakai celana longgar. Gimana?" jawab Lian menawarkan solusi yang penting jadi jalan. Alya memang sangat ingin menikmati suasana berbeda.


"Nggak. Capek bolak balik" jawab Ardi lagi beralasan.


"Ya ampun Mas, please Lian pengen liat care free day" rengek Alya lagi dengan jurus manjanya.


"Nggak. Emang kamu mau apa sih?"


"Ya banyak. Lian pengen jalan-jalan. Liat-liat, biasanya kan ada yang jualan, terus beli jajanan. Kita santuy bareng kaya pasangan-pasangan muda gitu" tutur Alya membayangkan jalan romantis bersama suaminya.


"Kita kan bukan pasangan muda, kita udah tua. Udah pulang aja!"


"Maaas"


"Pulang!"


"Ishh" jawab Alya kesal, wajahnya manyun dan menghentakkan kakinya ke aspal.


"Pulang ganti kostum kita pakai motor ke sananya" jawab Ardi dingin di luar dugaan Alya.


"Benarkah??" tanya Alya tersenyum manis.


"Hemmm"


"Yeeyy terima kasih sayangkuuh" jawab Alya kegirangan dan memeluk tangan suaminya.


"Bayar!" jawab Ardi menunjuk bibirnya.


"Tempat umum malu!"


"Katanya biar kaya pasangan muda" jawab Ardi mengingat omongan Lian.

__ADS_1


"Katanya kita pasangan tua!" timpal Lian lagi.


"Hemm ya udah nanti di rumah yang banyak ya!"


"Dasar!!!"


Mereka berduapun jalan kaki balik arah menuju ke rumah. Alya mengambil rok dan jilbab yang menutup dada. Kemudian mengambil motor dan menikmati suasana care free day.


Alya menggandeng tangan kekar suaminya berkeliling. Bukan untuk olahraga tapi mencari jajajan pedagang kaki lima. Alya menjatuhkan pilihan membeli kacang rebus, surabi, gorengan, otak-otak, sosis bakar, dan kue pancong.


"Sayang belinya banyak banget" bisik Ardi karena tanganya sudah penuh dengan jajanan Lian.


"Kenapa emangnya. Baru kali ini lhoh Lian jajan sama Mas" jawab Lian membela diri.


"Tapi ini berlebihan sayang. Ini juga nggak ada gizinya" jawab Ardi berbisik melirik isi jajanan Lian.


"Ishh. Ini maunya anak kita. Mas tanya kan Lian ngidam apa?"


"Yaya. Ya udah ayo pulang, harus dihabiskan lho!"


"Bentar masih ada lagi" jawab Lian dengan polos matanya masih berkelana entah mencari apa.


"Apa lagi?" tanya Ardi heran dengan wajah memelasnya.


"Ituu?" tunjuk Alya ke seorang pedagang yang menjual empal gentong tanpa merasa bersalah.


"Yang. Kamu yakin?" tanya Ardi berbisik dan bergidik ngeri bagaimana nanti menghabiskanya.


"Huum. Kayaknya enak Mas, mas mau?" Alya menjawabnya dengan penuh semangat.


"Nggak. Kamu aja"


"Bener nggak mau?"


"Nggak!" jawab Ardi tegas.


Meski Ardi menolak, Lian tetap maju berjalan ke arah penjual empal gentong dan membeli dua bungkus.


"Kok belinya dua sih Yang?" tanya Ardi heran, sudah dibilang nggak mau tetap saja beli dua.


"Udah ayo pulang. Lian nggak sabar mau makan" jawab Alya menggandeng tangan suaminya.


Mereka berduapun pulang ke rumah besar Tuan Aryo. Sesampainya di rumah, Alya menuju ke gazebo dekat kolam. Mengambil piring dan menata semua makanan.


Ardi tau istrinya tidak akan habis memakan semua makanan itu. Ardi berfikir melarikan diri dari ancaman memakan makanan itu.


"Sayang mau kemana? Temani Lian makan" panggil Alya melihat suaminya hendak pergi.


Ardipun menggaruk rambutnya mencari alasan.


"Mas mau renang sayang, mas udah lama nggak fitnes. Kamu nggak mau mas buncit kan?" tanya Ardi beralasan lalu masuk ke kolam renang.


"Ish.. buncit dikit kan imut mas" jawab Lian mendekat ke Ardi dan mendekatkan sepiring serabi.


Mau tidak mau Ardi pun makan padahal badanya masih di air, meski hanya sedikit. Pagi itu Ardi berolah raga renang. Sengaja agar merasa lelah dan makan makanan istrinya dengan lahap.


"Udah ya Yang. Mas kenyang banget" ucap Ardi selesai renang dan sudah memakan seporsi empal gentong, 3 potong surabi, setengah potong sosis bakar dan dua mendoan.


"Hemmm" jawah Alya manyun karen masih ada sepiring kue pancong dan kacang rebus.


"Euuuggh" Ardi bersendawa menunjukan betapa kenyangnya dia.


"Dengarkan? Mas kenyang" ucap Ardi ke Alya.


"Iya ya" jawab Alya mengangguk. Alya memundurkan makanannya.


Lalu mereka berdua bersantai menikmati waktu minggunya di gazebo taman ruang tengah rumah mereka.


Ardi menyadarkan tubuhnya di sisi gazebo dan duduk lesehan. Alya duduk di sampingnya, menyandarkan tubuhnya pada suaminya. Dengan lembut Ardi membelai rambut istrinya.


"Mas bener kan hari ini nggak kerja?"


"Nggak. Tapi Gery ngajak ketemu, Riko juga"


"Dokter Gery? Mau ngapain?"


"Urusan laki-laki"


"Hishhh. Riko itu bukanya yang waktu itu?"


"Iyah yang bikin kamu kabur nggak jelas"


"Hemm"


"Kamu mau ikut? Biar mas kenalin?"


"Nggak"


"Udah nggak cemburu? Nggak curiga? Nanti dikira mas selingkuh lagi?"


"Ya udah Lian ikut tapi jangan salahin Lian kalau dia naksir Lian"


"GR kamu!"


"Lian pengen jalan-jalan Mas"


"Ya ayok mau kemana?"


"Ke pantai"


"Kapan? Besok?"


"Lian kerja"

__ADS_1


"Ya kamu nggak usah kerja, nanti mas ajakin kamu jalan-jalan sepuasnya"


"Ishhh ko gitu sih?"


"Lah kamu libur berapa hari lagi?"


"Nanti Lian jaga malam mas" jawab Lian sendu.


"Kamu udah berangkat? Ini hari minggu lho Yang!" tanya Ardi gusar lalu menegakan badanya menghadap wajah Lian.


"Ya gimana Mas? Libur Lian udah selesai. Cuti Lian aja ini jatah cuti setahun lho!" jawab Lian menerangkan bekerja di rumah sakit apalagi magang memang liburnya terbatas.


"Udah sih kamu keluar aja!" ucap Ardi ketus.


"Kok gitu? Kan kita udah buat perjanjian. Kita udah pernah bahas ini?"


"Yaya, kamu boleh kerja. Tapi hanya untuk selesein magang dan sampai anak kita lahir. Dan..."


"Dan apa?"


"Sebenarnya prioritas kamu apa sih Yang? Semangat banget buat kerja?"


"Kenapa mas tanya gitu? Kan Lian udah jelasin alasanya dulu"


"Tapi mas pingin kamu di rumah, kamu boleh berkegiatan tapi nggak di rumah sakit!?Mas nggak suka kerja malam-malam ninggalin mas. Kamu kan tau mas siang udah sibuk nggak ketemu kamu. Malam masih kamu tinggal. Apa uang yang mas kasih kurang?"


"Bukan gitu Mas?"


"Terus?"


"Ya Lian pingin ibu bangga sama Lian"


"Kamu nggak denger kemarin ibu bilang apa?"


"Bilang apa emang?"


"Ibu itu yang penting kita bahagia. Keluarga kita bahagia. Tugas kamu sekarang jadi istri mas udah cukup! Itu yang terbaik buat kita"


"Mas, meskipun Lian kerja, Lian tetap jadi istri mas. Lian bisa kok jadi istri yang baik dan jadi dokter juga"


"Terus kalau anak kita lahir siapa yang mau rawat?"


"Ya Lian sama Mas lah. Kita rawat bareng?"


"Yakin kamu bisa rawat anak kita sendiri kalau kamu kerja?"


"Ya sama minta bantuan Bibi"


"Terus bagus kalau begitu?"


"Mas... "


"Pikirkan lagi. Mas serius, mas pingin kamu berhenti kerja di rumah sakit. Mas bolehin kamu kerja tapi yang nggak ngeshift malam ataupun ninggalin anak!"


"Mas perut Lian aja masih rata. Belum lahir. Ini kesempatan Lian selesain magang"


"Ya tapi tetep harus dipersiapkan sayang!"


"Mas, selesein magang aja! Ya!"


"Kalau nggak diselesaikan kenapa memangnya?"


"Kalau nggak selesai Lian nggak bisa kerja klinis. Lian nggak ada ijin buat megang pasien lagi"


"Ya udah bagus"


"Kok bagus? Tujuan Lian ke Jakarta kan buat magang"


"Sayang....Mas bisa bangunin rumah sakit buat kamu kalau kamu mau. Kamu cukup jadi ibu dari anak kita dan jadi istri mas. Belanjakan uang mas semau kamu. Patuhi kata mas!"


"Lian juga pingin punya identitas dan nggak bergantung sama Mas"


"Terus maksud kamu kamu mau nyaingin mas gitu?"


"Bukan! Bukan gitu"


"Nggak!"


"Mas, please. Nylesein magang aja. Yah!"


"Hmmm"


"Hiks hiks" Alya mengeluarkan jurusnya mengeluarkan air matanya agar suaminya luluh.


"Ya ya. Tapi pake pengawal"


"Pengawal?"


"Iya. Sekarang mandi ikut Mas"


"Kemana?"


"Jangan banyak tanya! Sekarang mandi siap-siap"


"Ya!"


"Jangan pake baju ketat"


"Iyaa"


"Jangan cantik-cantik"


"Hishhh" Lian mendesis lalu turun dari gazebo dan hendak mandi. Belum meninggalkan kolam Lian berhenti dan menoleh ke suaminya lagi.

__ADS_1


"Mas mau ajak Lian ke pantai yah?" tanya Lian penasaran.


"Nggak usah banyak tanya, buruan mandi!" jawab Ardi memegang ponsel hendak menghubungi seseorang.


__ADS_2