
Alarm ponsel berbunyi keras. Ardi terbangun, meski matannya masih menutup, tapi tanganya bergerak meraih ponsel di nakas samping tempat tidurnya. Ardi membuka matanya melihat angka waktu di ponsel itu.
"Masih jam 4" gumam Ardi.
Tubuhnya masih terkunci dengan tangan mungil dan halus dari istri yang dia cintai itu.
Ardi kemudian membelai rambut Alya yang terhambur. Aroma sampho di rambutnya masih terasa, membuat Ardi ingin menciumnya. Saat tidur begitu Alya juga menjadi sangat imut.
Ardi kemudian menciumi kepala Alya dengan gemas. Meski diperlakuan seperti itu, Alya tidak bangun dan justru memperat pelukanya. Kalau biasanya Ardi yang bangun siang hari ini Alya yang malas bangun.
Ardi melirik jam lagi, belum waktu subuh memang, tapi Ardi tetap ingin bangun. Meski junior Ardi dari tadi sudah protes menginginkan sesuatu, Ardi mengesampingkannya. Ardi tidak ingin membangunkan Alya. Kemarin dia juga sudah mendapatkan haknya.
Ardi memilih melepaskan tangan Alya perlahan. Menuju ke kamar mandi. Mengambil air wudzu dan menunaikan sholat sunah. Entah kerasukan malaikat mana, Ardi menjadi rajin.
Ardi selalu tersentuh saat mengetahui, diam- diam Alya sering terbangun malam jika tidak junub, Alya bangun sholat dan menangis sesenggukan. Entah apa yang membuat Alya menangis di malam petang. Itu sebabnya dia juga ingin begitu.
Ardi selalu menolak saat Alya mengajaknya tadarus bersama, karena Ardi malu, merasa dia tidak lebih baik dari Alya. Dan pagi ini Ardi diam-diam ingin tadarus.
Setelah sholat, Ardi mengelus perut Alya dan menciumnya. Kemudian Ardi membacakan surah seperti yang Alya ajarkan.
Tanpa sepengetahuan Ardi, saat Ardi mengelus perutnya. Alya terbangun, Alya meneteskan air matanya mengetahui perubahan Ardi.
"Terimakasih Tuhan, rasanya seperti mimpi, engkau telah berikan aku suami sempurna seperti Mas ardi. Semoga aku bisa bersyukur dan membahagiakan suamiku. Sehat terus ya Sayang, semoga kehadiranmu buat ayahmu bahagia" batin Alya mengelus perutnya.
Setelah Ardi selesai tadarus, Alya baru menunjukan dirinya kalau dia sudah bangun. Adzan subuh berkumandang, mereka berdua kemudian menunaikan sholat bersama.
"Sreeeek" Alya membuka horden kamar. Dan dilihatnya halaman belakang.
"Maaas" panggil Alya kaget.
"Apa Sayang?" tanya Ardi mendekat dan memeluk Alya dari belakang.
"Itu siapa?" tunjuk Alya ke bawah.
Di dekat kolam renang di lantai kayu tengah-tengah taman. Dua orang perempuan paruh baya memakai pakaian olah raga yang pres body sedang berada di posisi meditasi.
"Ya itu ibu sama mamah, Sayang" jawab Ardi lembut.
"Hooh" Alya terbengong melihat pemandangan memcengangkan itu.
"Kenapa memangnya?"
"Ibu sebulan di sini bisa jadi gaul Mas" ucap Alya.
"Issh, cetuk" sesuai kebiasanya kalau gemas Ardi menyentil kepala Alya.
"Huuuft kebiasaan!" jawab Alya menepis tangan suaminya.
"Ibu berhak bahagia, biar saja ibu di sini, mamah juga seneng kan ada temenya" ucap Ardi.
"Hemmm tapi aku jadi nggak enak sama kamu sama papah, kita ngrepotin nggak sih?"
"Nggak enak kenapa? Kamu hidup mas. Ibu kan ibunya Mas juga" Jawab Ardi mesra menggombali Alya.
"Hemm, papah jadi dicueki mamah gara-gara ada Ibu"
"Kata siapa? Mamah selalu memberikan service excellent kok ke papah. Kalau pagi begini papah biasanya di ruang fitness. Kalau nggak, papah masih terkapar kelelahan gara-gara mamah" jawab Ardi menghibur Alya agar tidak berfikiran buruk tentang keberadaan ibunya.
"Iiih sok tau bnget sih?"
"Beneran. Pembantu di sini aja hafal. Kalau mamah turun ke ruang makan pakai baju kerah tertutup atau ada ungu-ungu di leher, papah bangunya siang"
"Mas emang seumuran mamah sama papah masih aktif ya?"
"Ya kamu kan yang orang medis, malah tanya ke Mas. Harusnya lebih tau"
"Harusnya Mamah udah mulai masuk masa perimenopause sih, tapi ya tergantung juga. mamah masih cantik dan sehat"
"Mamah mungkin udah mulai perimenopause, tapi kan papah belum. Makanya mamah pilih-pilih makanan dan rutin olahraga, kamu juga harus gitu"
"Iyaah"
"Ibu juga masih cantik lho Yang" Ardi memuji mertuanya.
"Hemm, Ibuku memang paling cantik di hati Lian"
"Ibu terlihat lebih segar kalau penampilanya berubah begitu" ucap Ardi lagi.
"Hihihi tapi kok Lian ngrasanya, liatnya aneh ya?"ucap Alya menggunjing orang tua mereka.
"Aneh gimana?"
"Kaya bukan ibu gitu, kaya emak-emak gaul"
"Huuft dasar. Ibu sendiri dikatai emak-emak gaul. Ibu masih pantes punya suami lho Yang"
"Udah pernah Liab bahas, tapi ibu memilih sendiri"
"Hemm ya udah. Mandi yuk!"
"Mas duluan"
"Kamu aja duluan"
"Mas ajalah. Lian mau liatin ibu sama mamah"
"Kenapa nggak ikut aja sana!"
"Lian nanti ada sendiri, Lian ikut senam hamil aja"
"Mas ikut nggak?"
"Nanti kalau hamilnya Lian udah gede"
"Oke. Udah yuuk, mandinya bareng aja" tawar Ardi.
"Nggak mau ah. Mas nggak pernah tepatin janji kalau mandi bareng, bilangnya mandi doang. Tapi pasti mandinha molor lama" jawab Alya menolak halus permintaan suaminya.
"Hehe" jawab Ardi ketawa, karena Ardi memang suka nakal. Tapi pagi ini Ardi baik dan tidak ingin membuat Alya lelah.
"Sana mandi, biar Lian siapin bajunya"
"Hemm ya deh iya"
Lalu Ardi masuk ke kamar mandi, Alya menyiapkan pakaian Ardi. Karena hari ini Alya shift siang, Alya berinisiatif untuk masak.
Sejak Alya terpeleset hampir jatuh, kini Alya hampir selalu menggunakan lift.
"Mia" panggil Alya melihat Mia berputar-putar celingukan di dekat tangga.
__ADS_1
"Eh Non Alya"
"Kamu lagi apa di situ? Yang lain mana?"
"Yang lain sibuk dengan pekerjaanya Non"
"Pak Yang udah berangkat?"
"Katanya hari ini ijin Non. Bu Siti yang sedang masak"
"Benarkah?" tanya Alya kegirangan.
"Iya"
"Waah alhamdulillah kalau gitu. Aku juga lagi pengen masak" jawab Alya bahagia merasa ada lampu hijau.
"Ya Non" jawab Mia.
Lalu Alya segera menghampiri Bu Siti yang sedang memasak.
"Non Alya? Kok di sini?" tanya Bu Siti khawatir.
"Bu aku kangen masakanku sendiri. Kali ini aja boleh ya, buat aku sendiri doang kok"
"Emang Non ingin makan apa?" tanya Bu Siti.
"Aku pengen sambel tempe. Ada kan cabe dan tempenya?" tanya Alya ramah.
"Ada Non. Biar saya masakin aja Non"
"Iih Bu Siti. Ini tuh pengenya dhedhek. Pengen ibunya sendiri yang masak" jawab Alya beralasan
"Baiklah Non. Kalau butuh apa-apa bilang ya Non"
"Iya kita di sini kan bareng. Bu Siti santai aja" jawab Alya.
Dengan ditemani Bu Siti Alya memasak sambel tempe kesukaanya. Mia dan Ida kemudian melanjutkan pekerjaanya.
"Bu Siti kenapa matanya berkeliaran terus sih? Kenapa dia nggak pergi dan biarin Non Alya sendirian" batin Mia dalam hati. Terpaksa Mia pergi dari dapur mengambil cucian dibawa ke temlat cuci.
Dengan semangat 45, Alya sudah menyelesaikan masak menu kesukaanya.
"Bu Siti coba cicipin" tutur Alya ke Bu Siti dengan senyum cerianya.
"Memang boleh saya makan masakan Non Alya"
"Aih Bu Siti ini? Boleh dong!"
"Ya Non" Lalu Bu Siti mengambil dan mencicipinya.
"Enak Non, Non Alya ternyata pintar masak"
"Hihi, dulu Mas Ardi jatuh cintanya ke aku gara-gara sambal ini Bu" ucap Alya tersenyum geli mengingat kenangan di apartemen megayu.
"Enak sih Non. Pak Yang dan Nyonya besar kan nggak pernah kasih menu beginian"
"Ya udah mau nggado ah" jawab Alya tidak sabar memakan sambal tempenya itu.
"Nggak makan bareng Tuan Aryo dan Den Ardi Non?"
"Nggado sedikit, pengen banget soalnya. Kasian dhedhe. Nanti ileran lagi. Hehe"
Setelah selesai mandi Ardi segera memakai baju yang sudah disiapkan istrinya. Tapi Ardi naik pitam, istrinya tidak ada di kamarnya. Ardi pun segera turun mencarinya.
"Sayaang..sayang" panggil Ardi di tangga mencari Alya.
"Non, Den Ardi nyariin tuh!" ucap Bu Siti.
"Ya Bu" jawab Alya menghentikan makanya dan segera menjawab panggilan suaminya.
"Ya Mas, Lian di dapur" jawab Alya bangun.
"Ngapain kamu di situ?" tanya Ardi kaget.
"Aku nyidam Mas. Aku pengen banget makan sambel tempe, Lian suapin Mas?" ucap Alya tersenyum menyodorkan sambel tempe di sendoknya.
"Bener anak kita yang pengen?"
"Iyaah"
"Ya udah sini Mas mau"
Lalu mereka berdua menggado sambel tempe, sampai setengah porsi. Alya hanya memberi sedikir cabai. Jadi rasa sambelnya tidak begitu pedas, cenderung gurih dan lebih enak digado.
"Udah yuuk mandi yuuk!" ajak Ardi ke Alya segera mandi.
"Ayok"
Alya menggandeng tangan suaminya dan kembali ke kamar.
Bu Siti kemudian melanjutkan pekerjaanya menata masakan di meja makan. Menunggu Tuan Aryo Bu Rita dan Bu Mirna turun.
Saat Bu Siti sedang menyiapkan makanan. Mia datang membawa barang titipan dari kakaknya. Lalu Mia segera memberikanya pada sambel tempe buatan Alya.
Mia tau letak cctv di dapur, karena Alya dan Ardi sempat makan, sambel tempe sudah berpindah dari tempat yang tidak terjangkau dari cctv.
****
Gery dan Mira sudah selesai mandi. Dengan telaten dan penuh kasih sayang. Mira menjadi dokter homecare untuk suaminya. Memberikan injeksi sesuai advis si pasien sendiri. Hehe.
Lalu membersihkan balutan luka Gery sendiri juga. Meski sudah menjadi dokter anak keterampilan dasar Mira terhadap perawatan luka masih tetap teruji.
"Sakit nggak?" tanya Mira pelan membersihkan luka jahit Gery.
"Nggak My Queen"
"Udah kering kok. Sabar ya"
"Apa kamu hari ini sudah mulai bekerja?"
"Emem. Aku janji akan pulang cepat"
"Pakai sopir ya"
"Nggak usah aku bisa sendiri. Aku nanti juga mau mampir ke rumah Papah"
"Maaf gue belum bisa nemenemin"
"Nggak apa-apa Ger. Udah lo tenang aja. Aku akan cepet pulang kok"
__ADS_1
Setelah Gery rapih dan mendapatkan perawatan. Mira membantu mendorong Gery ke ruang makan.
Dan di ruang makan Dokter Nando tampak sedang duduk memandangi foto mendiang istrinya.
"Pagi Pah" sapa Gery dan Mira.
"Pagi" sapa Dokter Nando menyambut anaknya dan menantunya.
Melihat Mira dan Gery rambutnya basah. Isi kepala Dokter Nando langsung tersambung ke kejadian kemarin.
"Astaghfirulloh" gumam Dokter Nando.
"Kenapa Pah?" tanya Gery mendengar Dokter Nando istighfar.
"Nggak, nggak apa-apa"
Lalu Gery melihat foto ibunya di ponsel dokter Nando.
"Papa kangen mamah?"
"Kalau kamu sudah bisa berjalan, kita makam mamah ya. Biar istrimu juga tau makam mamahmu"
"Iya Pah"
"Ibumu pasti bahagia jika melihat kamu punya istri yang baik dan cantik"
"Terima kasih Pah Mira juga ingin ke makam Mamah" sahut Mira.
"Iya"
"Pah, setelah Gery sembuh, Gery ingin tinggal di apartemen lagi Pah" ucap Gery sendu tiba-tiba.
"Kenapa begitu? Apa kamu tidak nyaman hidup bareng Papah? Kamu juga belum sembuh" jawan Dokter Nando kecewa.
"Kasian Mira Pah kejauhan"
"Jadi papah sendirian lagi?"
"Mira dan Gery akan sering mampir ke sini Pah"
"Baiklah jika itu membantu kalian. Lebih mudah. Oh iya ini ada titipan dari Nak Ardi dan istrinya" tutur Dokter Nando menyerahkan hamper undangan.
"Titipan? Ardi?"
"Iya kemarin mereka kesini"
"Jam berapa Pah?"
"Jam 3-4 an kalau nggak salah" jawab Dokter Nando.
Lalau Mira dan Gery saling pandang dan menelan ludahnya menunduk . Mereka ingat betul apa yang mereka kerjakan di jam itu.
"Ehm" Gery berdehem malu.
"Sepertinya kalian sedang istirahat, papa ketok pintu nggak dijawab" ucap Dokter Nando tidak ingin mereka malu.
"Uhuk Uhuk" Mira terbatuk tiba-tiba
"Papah ke kamar Gery?" tanya Gery lagi.
"Hanya sebentar! Cepat buka dan lihatlah" tutur Dokter Nando mengalihkan pembicaraan.
Lalu Gery membuka hamper undangan dari Ardi. Desain pilihan Bu Rita memang berkelas. Undangan Ardi berupa secarik kertas yang dicetak dengan desain elegan dan kualitas kertas level tinggi.
Selain itu ada emas batangan, parfum, dan sebuah buku berjudul Pengantin Al-Qur'an sebagai cindera mata.
"Wah cantik banget undanganya" gumam Mira mengagumi hamper dari Alya.
"Nak Ardi pesan agar tidak membawa kado. Acaranya di Resto kafe mereka yang baru"
"Oke makasih ya Pah. Gery pastikan akan datang"
"Oh ya Papah berangkat bareng kita kan?"
"Ya liat besok"
"Papah nggak pengen cari teman kondangan Pah?"
"Hushh kamu ini?"
****
Rumah Sakit.
"Sesuap lagi ya Pah"
Di sebuah ruang rawat. Seorang perempuan dewasa dengan telaten menyuapi ayahnya yang terbaring di bed rawat pasien.
"Baby El sama siapa Nak. Papah bisa sendiri. Pulanglah, kasian dia"
"Baby El dijagain istrinya Pak RT, Papah yang penting makan dulu ya" tutur Intan lembut.
"Maafin Papa ya Nak,buat kamu menderita begini"
"Papah nggak salah kok"
"Seharusnya Papah bisa bertahan dan nggak bangkrut"
"Ini salah Intan Pah. Salah Intan melanggar kepercayaan Ardi. Salah Intan terlalu ambisi dan serakah"
"Sudahlah tidak usah dibahas lagi"
"Apa papah tau siapa dokter yang Papah ceritakan itu?"
"Papah tau dia bernama Alya Berlian Sari"
"Dia istri Ardi Pah" ucap Intan pelan.
"Benarkah?"
"Iya"
"Maafkan papah Nak, jadi kita sekali berhutang pada mereka"
"Kita tidak pernah tau dan mengiranya, semua di luar kehendak kita, Intan hanya malu Pah"
"Ardi pantas mendapatkan perempuan seperti dia. Papah harus menemuinya, bersikap baiklah pada mereka Intan"
"Iya Pah. Intan janji Intan akan baik ke mereka"
__ADS_1