
Persis seperti perkiraan Ardi, Bu Rita sudah duduk di depan ruang TV. Tanganya bersedekap duduk memegang remot. Penampilanya sudah rapih. Bu Rita memang selalu rapih.
Siang itu Bu Rita mengenakan celana kain longgar berwarna krem dan atasan blouse putih, dengan hiasan pita di bawah leher.
Bu Rita mengenakan perhiasan giwang mutiara bulat dan kalung mahal, menambah kesan cantik dan elegan di usia matangnya.
"Siang Mah" sapa Ardi merasa tidak bersalah menghampiri Bu Rita.
"Hmmmm" jawab Bu Rita hanya berdehem menampakan muka kesal ke putranya.
"Kamu tau nggak sekarang jam berapa? Sebenarnya yang mau punya anak, mamah apa kamu sih?" tanya Bu Rita memarahi Ardi.
"Udah sih Mah, nggak usah marah gitu, ayo berangkat" jawab Ardi biasa saja.
"Kamu nggak ngrasa salah sama Mamah? Mamah nunggu kamu lho"
"Ya, I am sorry Mom" jawab Ardi meminta maaf.
"Bahkan Istrimu menjadi berubah gara-gara kamu" tutur Bu Rita membuat Alya dan Ardi kaget.
"Heh, ups" Alya kaget dan menutup mulut karena dirinya di bawa-bawa. Sementara Ardi biasa saja.
"Al, mama minta ke kamu jangan ikutin sifat jelek suamimu. Kamu tetap menjadi kamu yang dulu. Kalau bisa kasih tau dia, masak jam segini kalian baru bangun?" cibir Bu Rita untuk pertama kalinya menegur Alya.
"Alya minta maaf Mah" jawab Alya sopan dan menunduk.
"Jadi periksa nggak nih?" tanya Ardi tidak mau dimarahi dan mengajak segera berangkat.
"Ya jadi. Arlan menunggu kalian dari tadi" jawab Bu Rita mengambil tasnya.
"Ya"
Lalu mereka bertiga masuk ke mobil. Tidak seperti biasanya. Alya duduk bersama Bu Rita, sementara Ardi duduk sendirian.
3 bulan menikah membuat penilaian Alya ke Bu Rita berubah. Ketika sebelum menikah di mata Alya Bu Rita sangat anggun, lembut, penuh kasih sayang dan tampak keibuan. Bahkan Alya mengidolakan Bu Rita.
Tapi setelah menjadi menantu dan melihat keseharian bersama putranya, Bu Rita terlihat seperti ibu-ibu yang lain, malah lebih lucu. Bu Rita hampir setiap bersama Ardi selalu seperti kucing dan tikus.
Meski keduanya sebenarnya saling sayang, tapi mereka berdua selalu berbeda pandangan dan kemauan. Kemauan Ardi dan Bu Rita selalu berbeda. Tapi Bu Rita akan menjadi kompak dan cocok dengan Alya dan menantunya.
"Mungkin, seperti ini juga Mas Ardi dan Mamah pas mau dijodohin sama aku. Ish Mas Ardi sampai ada acara kabur-kaburan. Pantas saja Mas Ardi memilih tinggal di apartemen" gumam Alya melihat adegan ibu dan anak itu.
Kemudian Alya mengelus perutnya.
"Sayang, apapun jenis kelaminmu nanti, tolong jadilah anak yang penurut ya. Baik-baik sama ibu. Jangan seperti ayahmu, sangat cerewet dan suka membuat kesal" batin membayangkan anaknya.
"Sayang, kemarin kalian ke Jogja? Apa kabar ibumu?" tanya Bu Rita membuyarkan lamunan Alya di tengah perjalanan.
"Ah iya Mah. Alhamdulillah ibu sudah sehat dan membaik" jawab Alya.
"Sebentar lagi kan kalian mau resepsi, terus pengajian 4 bulanan. Ajaklah ibumu ke sini Sayang" tutur Bu Rita lembut.
"Baik Mah. Mas Ardi sama Lian juga udah rayu ibu untuk ikut kita, tapi belum mau. Paling nanti kalau sudah mendekati hari H"
"Hemm, ya sudah. Makanya mamah pengen secepatnya resepsi diadain, pasti menyenangkan, sudah lama tidak ada acara keluarga"
"Iya Mah" jawab Alya.
Ardi di depan tampak sibuk dengan ponselnya. Meski dia tidak berangkat ke kantor tapi Ardi masih menerima laporan dari Dino. Ardi juga menghubungi Gery, karena Ardi akan periksa di Rumah Sakit keluarga Gery.
Keluarga Gery mempunyai rumah sakit sendiri, meskipun tidak begitu besar tapi fasilitasnya lengkap dan canggih. Bahkan ada beberapa dokter yang didatangkan dari luar negeri.
Tempatnya jauh lebih nyaman bersih dan bisa dibilang mewah. Kebanyakan pasien yang periksa juga dari kalangan atas. Dan hampir tidak ada yang menggunakan jaminan kesehatan.
Jika sudah menyelesaikan program pendidikan dan mendapatkan ijin, Gery akan kembali ke rumah sakit keluarganya. Dan itu hanya tinggal menghitung hari, mengingat masa wkds Gery sudah mau selesai.
Tidak lama mereka sampai ke rumah sakit yag bangunanya hampir mirip dengan hotel. Kaca, lantai dan furniturnya tampak mengkilap dan bersih. Hiasan dan tamanya juga terlihat cantik dan mewah, berbeda dengan rumah sakit pemerintah tempat Gery dan Alya mengabdi.
"Selamat Pagi Nyonya" sapa pelayan memyambut Bu Rita, Ardi dan Alya.
Rupanya Bu Rita sudah membuat janji dengan ayah Gery. Kebetulan Dokter Kandunganya juga Tante Dokter Gery, yang semuanya adalah sahabat Tuan Aryo dan Bu Rita.
"Pagi" jawab Bu Rita.
"Dokter Agatha sudah menunggu kedatangan Nyonya Gunawijaya" tutur perawat senior yang sudah hafal beberapa pasien vvip.
"Oh ya?"
"Mari saya antar" tutur perawat.
Perawat pun mengantar Ardi, Bu Rita dan Alya melewati jalan khusus. Mereka juga masuk melewati pintu belakang.
"Mohon ditunggu sebentar, karena tadi sudah ada pasien masuk dan sedang berkonsultasi" tutur perawat lagi mempersilahkan Bu Rita dan rombongan duduk di ruangan tunggu khusus.
"Terima kasih Sus" jawab Bu Rita tersenyum. Bu Rita duduk memimpin anak dan menantunya.
Alya hanya diam mengekor dan menggandeng suaminya. Alya diam dengan sikap manisnya menikmati semua kemewahan dari mertuanya. Sementara Ardi tetap pada posisi santuy dan dingin.
"Mas" bisik Lian menarik tangan suaminya.
__ADS_1
"Apa sayang?" jawab Ardi menoleh dan menatap Alya.
"Ini rumah sakit keluarga Dokter Gery?" bisik Lian lagi tidak ingin didengar Bu Rita.
Alya malu kalau Bu Rita tau Alya dan Gery juga pernah ada skandal. Hehe.
"Iya, kenapa?" tanya Ardi santai.
"Bagus banget ya? Lian nggak nyangka" Alya lagi.
"Isshh. Kamu kagum? Terus kamu nyesel nggak pilih dia?" jawab Ardi spontan agak keras membuat Bu Rita menoleh.
"Aihh" keluh Alya merasa malu karena Bu Rita mendengar ucapan Ardi.
Alya mencubit lengan suaminya memberi kode kalau Bu Rita memperhatikan.
"Kalian ngobrolin apa sih?" tanya Bu Rita.
"He, nggak Mah, Lian hanya memuji tempat ini" jawab Alya tidak membiarkan Ardi menjawab.
"Mamah mau kamu rutin check up di sini dan nanti lahiran di sini. Dulu yang mengerjakan pembangunan Rumah Sakit ini perusahaan kita?" tutur Bu Rita memberi tahu kalau ayah Gery dan Tuan Aryo bekerja sama.
"Oh gitu?" jawab Alya mengangguk.
"Suka kan kamu periksa di sini?"
"Suka Mah" jawab Alya mengangguk dan menoleh ke suaminya.
Sementara Ardi hanya membalas dengan kode mata.
"Nggak usah cemburuan sih mas, Lian udah cintaa banget sama Mas Ardi" bisik Lian lagi berusaha membungkam suaminya agar tidak semakin berulah.
"Hemm, harta mas lebih banyak dari Gery. Awas aja kamu masih ingat-ingat dia" jawab Ardi ternyata belum sembuh dan waras.
Mendengat jawaban Ardi, Alya menjadi geram dan mencubit lengan suaminya lebih keras. Bisa-bisanya Ardi berkata begitu, Alya kan tidak pernah membandingkan dari segi harta.
"Auwh uwwh, sakit beneran Yang" ucap Ardi keras membuat Bu Rita kaget lagi tapi tidak menghiraukan.
Dalam hati Bu Rita tersenyum. Anaknya benar-benar menjatuhkan hatinya pada perempuan yang dia pilih.
Dan Alya sendiri sekarang terlihat mencintai anaknya. Tidak ada penolakan seperti dulu, malah terlihat nempel terus.
Tidak lama mereka dipanggil masuk ke dalam. Bu Rita sangat semangat untuk segera melihat cucunya meski masih dalam kandungan.
Begitu juga Ardi. Alya sendiri hanya pasrah dan mengikuti saja, diam dan bersikap tenang mengikuti arahan dokter.
Bu Rita pun bertegur sapa dengan Dokter Agatha dan memperkenalkan Alya. Lalu Alya segera diperiksa.
Ada makhluk kecil, yang sudah mulai ada tangan kaki dan jarinya. Meski belum sempurna dan tampak seperti alien tapi sudah mulai menampakan perkembangan kehidupan untuk makhluk kecil itu.
"Masya Alloh" ucap Bu Rita meneteskan air mata betapa bahagianya dia akan menjadi oma.
"Terima kasih sayang" ucap Bu Rita menatap haru ke Alya.
Entah kenapa diperlakukan istimewa dan melihat Bu Rita menangis Alya tidak nyaman. Alya bukan bahagia, tapi ada rasa khawatir mengecewakan. Ada rasa panik menghampiri.
"Ya Tuhan, Mamah sangat tinggi ekspektasinya terhadap bayiku, beri kesehatan dan perlindungan untukku dan anakku, ijinkan aku membahagiakan keluargaku" ucap Alya dalam hati.
Kemudian dengan detail Dokter menjelaskan perkembangan bayinya. Setelah puas melakukan tanya jawab mereka berpamitan.
Sebagai kawan baik, mendengar rekanya datang Dokter Nando, ayah Gery datang menemui.
"Selamat Siang Bu Rita, Nak Ardi apa kabar?" sapa Dokter Nando ramah.
"Baik Om" jawab Ardi, Bu Rita pun ikut menjawab.
"Oh iya, ini istrimu?" tanya Dokter Nando menatap perempuan berjilbab yang tampak digandeng Ardi.
"Iya Om, kenalkan, Berlian, istri saya" jawab Ardi memperkenalkan istrinya.
Alyapun tersenyum menunduk dan menangkupkan tanganya tanda hormat.
"Wah selamat ya Nak. Om ikut seneng mendengarnya. Tapi kok nggak undang-undang" ucap Ayah Gery.
"Kami memang belum resepsi Dokter" jawab Bu Rita.
"Oh gitu?"
"Sebenarnya sudah 3 bulan pernikahan dilaksanakan di Jogja. Rencana baru akhir bulan ini kita adakan resepsi, soalnya kemarin Mas Aryo ada urusan di Singapore" tutur Bu Rita menjelaskan.
"Oh begitu. Oke oke. Saya tunggu undanganya Nyonya. Oh ya. Selamat sekali lagi, saya ikut berbahagia atas kehamilanya, hebat kamu Nak" ucap Tuan Nando lagi tersenyum riang kemudian tampak diam.
"Terima kasih Om, giliran kita tunggu kabar dari Geri Om" jawab Ardi.
"Haha, entahlah bocah tengik itu, selalu menghindar kalau Om tanya" jawab Tuan Nando tersenyum getir mengingat putranya.
Umur panjang, saat mulai dibicarakan dengan langkah tergesa-gesa Gery datang menyapa.
"Siang Pah, Tante Rita, apa kabar?" sapa Gery menyapa ayah dan sahabatnya.
__ADS_1
"Panjang umur banget Nak, baru diomongin?" tutur Bu Rita.
"Lagi ngomongin Gery ya?" tanya Gery.
"Iya. Kapan lo nikah? Tuh bokap lo udah pengen punya mantu" jawab Ardi meledek Gery.
"Doain Pah, Tante" jawab Gery.
"Tuh, Ardi udah mau jadi bapak. Kamu kapan senengin papah?" jawab Ayah Gery.
Gery garuk-garuk kepala melirik Alya yang tampak tersenyum memeluk tangan Ardi.
"Hehe lagi usaha Pah. Ini Gery mau nemuin Ardi buat usaha"
"Ya ya. Ya udah silahkan dilanjut Nyonya, Nak Ardi, saya pamit, masih ada kerjaan" ucap Dokter Nando pamitan.
"Terima Kasih Dokter" jawab Bu Rita mengangguk sopan begitu juga Ardi dan Alya.
"Mah, Ardi mau ada perlu sama Gery. Sayang kamu pulang sama Mamah ya" pamit Ardi ke mamah dan istrinya.
"Iya Mas" ucap Alya melepas tanganya.
"Memang kalian mau kemana? Nggak mau nyari MUA?" tanya Bu Rita.
"Ardi mau perlu sama Gery Mah, Ardi percayakan sama Mamah, tapi Ardi minta acaranya sederhana saja" ucap Ardi berpamitan
"Hemm" Bu Rita hanya berdehem.
Lalu mereka berpisah. Bu Rita pergi bersama Alya menemui perias wajah yang biasa merias artis-artis. Setelahnya Bu Rita mengajak Alya shopping ke mall.
"Mah, mama belanja barang-barang bayi buat siapa?" tanya Alya heran mertuanya sangat antusias berada di baby shop.
"Buat cucu Mamah dong!"
"Mah, usia kehamilan Lian baru 12 minggu" tutur Lian memperingati mertuanya agar menunda belanja perlengkapan bayi.
"Ya kan nggak ada salahnya nabung barang dulu" jawab Bu Rita tersenyum merasa sah-sah saja toh uang uang Bu Rita. Begitu fikirnya.
Alya hanya bisa menelan ludahnya tidak berani membantah lagi. Biarkan saja yang penting mertuanya bahagia.
Tapi ada rasa tidak nyaman di hati Alya. Mertuanya lebih antusias terhadap kehamilanya melebihi dirinya sendiri. Alya mengelus perutnya.
"Sehat-sehat kamu Nak. Omamu sangat meyayangimu. Semoga Alloh selalu lindungi kamu" batin Alya dalam hati.
"Habis ini kita ke panti ya" tutur Bu Rita.
"Baik Mah"
****
Kafe Serenity
"Lo telpon gue ada apa?" tanya Ardi menatap Gery yang duduk di depanya.
"Lila, apa lo kenal orang ini?" ucap Gery menunjukan foto Lila.
Mendengat pertanyaan Gery. Ardi kaget.
"Lo tau tentang dia? Lo berurusan sama dia?" jawab Ardi balik tanya.
"Beritahu gue apa yang lo tau tentang dia dan kenapa lo berurusan sama dia?" tanya Gery lagi.
"Kenapa tiba-tiba lo tanya gue?" Ardi balik tanya sebelum menjawab pertanyaan Gery.
"Gue lihat berita lo sama artis, ada nama dia"
"Oh, dia anak Tuan Wira, pemilik hotel Wiralila. Gue pernah kerjasama sama mereka, tapi gue nggak suka cara main mereka. Lila patah hati sama gue!"
"Lo tau dia punya kakak?"
"Tau, kenapa?"
"Dia calon tunangan Mira"
"What? Mira?" tanya Ardi
"Ya!"
"Wah bahaya. Lo harus gagalin Ger!" ucap Ardi spontan.
"Makanya gue temuin lo. Apa yang lo tau tentang mereka?"
"Lila dan Tito terlibat dalam perdagangan barang haram, gue sama polisi lagi selidiki dan incer mereka"
"Barang haram?"
"Iya. Mira harus dikasih tau"
"****, anj**n" umpat Gery merasa kecolongan.
__ADS_1
"Kalau emang lo cinta sama Mira. Ambil dia Ger. Lo harus selametin Mira. Tito cuma mau manfaatin keluarga Mira buat panjat sosial. Bokapnya aktif di partai"
"Oke, thanks Bro"