
****
Kosan Anya
"Makasih ya kalian dah repot-repot bawain aku buah ma bunga" ucap Alya ke Anya sambil mengemasi barangnya.
"Ya kan kita sayang sama lo Al. Lo aja yang kadang lupain kita. Nikah nggak bilang-bilang" jawab Anya ketus.
"Iiih dibahas lagi, aku jadi ngrasa bersalah banget kesanya. Iya maaf. Dulu tuh aku bingung sama malu. Oh ya ampun aku belum telp suamiku" tutur Alya ingat ponselnya.
"Buru telpon , aku nggak mau ya kosanku didatengi bodyguard suami lo yang serem kaya waktu itu!" cibir Anya bisa-bisa Alya dari tadi nggak jadi telpon suaminya.
"Iya ya" jawab Alya mengambil ponsel di dekat stop kontak listrik.
"Nanti kalau suami lo pergi lagi, kelabakan, nggak usah jual mahal siih, kangen bilang aja kangen" sahut Anya lagi
"Iya ini aku telpon suamiku" jawab Alya lagi kesal dicerewetin terus.
Lalu Alya menelfon suaminya. Alya pun kaget melihat riwayat panggilan suaminya yang lebih banyak dari dia. Alya terharu dan merasa menang, berarti suaminya juga merindukanya, 11: 12 impas sudah. "Huft salah sendiri" gumam Alya sambil menelfon suaminya.
"Halo Yang" jawab Ardi di telepon langsung menjawab telfon Alya
"Hemmm. Lian udah pulang mas, Mas dimana?" tanya Alya singkat.
"Mas di depan kosan temenmu, cepet keluar ya, ayo pulang!" jawab Ardi membuat Alya melotot udah sampai aja.
"Hah? Kosan Anya?" tanya Alya kaget.
"Iya, buruan! Mas kangen banget sama kamu, ayo pulang"
"Ya bentar" jawab Alya menutup telpon.
Anya hanya diam memperhatikan Alya.
"Apa katanya?" tanya Anya.
"Dia udah di depan" jawab Alya berjalan mengecek ke luar. Alya pun bergegas keluar tanpa membawa apapun.
"Ceklek" Alya membuka pintu kos Anya.
Benar saja di depan pintu sudah berdiri laki-laki tampan, yang bertubuh tinggi atletis dan berkulit putih. Laki-laki itu tersenyum senang melihat Alya membukakan pintu.
Dengan reflek dan tanpa permisi Ardi langsung memeluk Alya erat dan menciumi kepala Alya yang masih tertutup jilbab. Ardi meluapkan segala kekhawatiran dan rasa bersalahnya. Memeluk istrinya adalah obat termanjur menyembuhkan lelah dan penatnya pikiran.
"Maafin mas sayang, mas telat jemputnya" ucap Ardi memeluk Alya.
"Ehm" Anya berdehem melihat Ardi terkesan lebay.
"Sesak mas. Meluknya jangan kenceng-kenceng" ucap Alya berusaha melepas pelukan suaminya.
Ardi melepaskan pelukanya dan beralih meraih dagu Alya dan menciumi pipi dan kening Alya. Ardi tidak bisa menanhanya. Ungkapan Ardi bahagia, istrinya sudah pulang dan sehat.
"Ih malu ih, di kosan orang" jawab Alya menepis Ardi.
"Lebay banget sih kalian, ingat woy kalau mau mesra-mesraan di kamar jangan di depan pintu" cibir Anya kesal dari belakang pintu.
"Iya Mas ih, bikin malu" sambung Alya menoel tangan Ardi.
Ardipun baru sadar kalau ada Anya di belakang pintu. Ardi menggaruk rambut malu, karena ekspresi sayangnya membuat Alya kesal. Padahal menurut Ardi itu sah-sah saja.
"Maaf, Mas khawatir sayang. Terima kasih Dokter Anya. Sudah bantu istri saya" ucap Ardi merasa tidak nyaman.
"Ck. Iya sama-sama. Barang-barang Alya ada di dalam" jawab Anya menunjukan kamarnya. Ardi dengan sigap mengambil tas Alya.
__ADS_1
Arlan di dalam mobil keluar mengambil tas dari Ardi.
"Buah dan parcelnya tinggal aja ya Nya" tutur Alya sambil menggenggam tangan sahabatnya.
"Kok gitu? Banyak banget tau, bawa pulang aja" jawab Anya. Karena Ada 3 parsel buah untuk Alya.
"Kamu kan anak kos buat camilan kamu. Aku bawa bunganya aja. Makasih ya. Aku boleh main lagi kaan?" tanya Alya ramah.
"Ya bolehlah Al, gue kan sahabat lo. Lo baik-baik sama suami lo. Inget pesen gue" jawab Anya menasehati Alya lagi
"Iyah" jawab Alya melepas tangan Anya karena suaminya sudah berdiri di belakangnya.
"Pokoknya gue nggak mau denger lo nangis-nangis lagi" ucap Anya lagi.
"Iya! Daah, assalamu'alaikum" pamit Alya ke Anya lalu berjalan ke arah suaminya.
"Waalaikumsalam" Anya menjawab salam Alya dan mengantarnya sampai ke pagar rumah.
Arlan sudah membukakan pintu mobil. Ardi dan Alyapun masuk dan duduk di bangku tengah.
"Ke rumah Lan" perintah Ardi ke Arlan pulang ke rumah orang tuanya.
"Baik Tuan" jawab Arlan menyalakan mesin mobil.
"Ke rumah Mamah?" tanya Alya ke suaminya.
"Iya sayang" jawab Ardi merangkul pundak Alya untuk mendekat ke Ardi.
"Nggak ke apartemen?" tanya Alya lagi memastikan.
"Nggak"
"Kenapa?"
"Mas nggak mau kamu kabur lagi" jawab Ardi jelas.
"Udah patuh, mulai sekarang tinggal di rumah Mamah dulu"
"Tapi kan rumah Mamah jauh mas dari rumah sakit dan jalan besar"
"Sayang, kamu kan cuti disuruh istirahat. Udah di rumah aja"
"Ck. Hemm pindah-pindah terus" jawab Alya kesal lagi.
"Biar kamu aman, setiap keluar ada satpam yang awasin kamu. Ada sopir juga. Banyak pelayan juga, ada koki juga di rumah. Kamu dan anak kita lebih terjamin"
"Hummm" jawab Alya tidak membantah.
"Di rumah mamah juga halamanya luas, ada banyak tanaman, kamu suka bunga kan? Ada kolam juga kamu bisa ngapain aja di rumah. Patuh ya sama mas" tutur Ardi menggenggam tangan Alya.
"Ya" jawab Alya mengangguk pasrah.
Lalu Ardi menciumi tangan Alya dan meraih kepala Alya untuk bersandar ke bahu Ardi. Alya pasrah dan mengikuti Ardi untuk bersandar ke suaminya. Karena meskipun kesal, tetap saja tubuh Ardi adalah tempat ternyaman buat Alya bersandar dan kembali.
"Maafin mas sayang, mas telat jemputnya" bisik Ardi sambil mencium kepala Alya.
"Nggak maafin" jawab Alya lirih.
"Kenapa?"
"Kesel, telpon nggak diangkat"
"Iya mas tau, mas salah. Tadi mas nemuin beberapa klien. Mas juga tegang, jadi mas harus fokus" jawab Ardi menjelaskan. Alya hanya diam.
__ADS_1
"Sayang juga lama angkat telpon mas" jawab Ardi menimpali.
"Gimana rasanya telpon nggak diangkat?" jawab Alya.
"Mas khawatir banget sama kamu. Jangan marah ya"
"Marah lah, pesanku aja nggak dibaca. Mas ke rumah sakit kan? Padahal Lian udah kirim pesan dari siang kalau Lian minta jemput. Lian udah boleh pulang" jawab Alya meledek suaminya.
"Iya maafin mas. Mas nyesel banget. Udah jangan dibahas lagi. Jangan marah"
"Marahlah" jawab Alya lagi.
"Janganlah, masa marah terus, mas nggak bisa nafas kalau dimarahin kamu Yang" jawab Ardi kembali menciumi kepala Alya tidak malu pada Arlan.
"Halah... apaan? Tiap hari kerjaanya bikin istri naik pitam terus kok! Bohong banget nggak bisa nafas" jawab Alya mencibir suaminya. "Tuh dhek dengerin Ayahmu, sukanya bohong sama ngegombal" ucap Alya mengelus perutnya menyindir suaminya.
"Nggak dhek, ayah nggak pernah bohong. Mamahmu aja, kalau ngambek sering kelewatan" jawab Ardi lagi menimpali.
"Ish, aku nggak akan marah kalau mas tuh jadi suami bisa bener" jawab Alya lagi tidak mau kalah.
"Iya ya, udah sih, sekali-kali jangan berantem. Kamu nggak seneng apa punya suami ganteng kaya mas?"
"Iiih, jadi orang kepedean banget sih!" jawab Alya mencubit paha suaminya.
"Uuh, sakit Yang" jawab Ardi mengusap pahanya. Lalu melihat ke jalanan karena saat itu mereka berada di lampu merah.
"Mamah sama Papah kapan pulang sih mas?" tanya Alya sambil menegakkan badanya dan menjauh dari suaminya.
"Mas nggak tahu pasti, papah masih pingin ngembamgin usaha di sana"
"Di sana punya rumah juga?" tanya Alya polos menebak kekayaan mertuanya.
"Punyalah sayang" jawab Ardi percaya diri. Di sana aja punya usaha masa cuma rumah nggak.
"Ooh. Kenapa? Pengin jalan-jalan ke Singapur juga?" tanya Ardi ke istrinya.
"Alya takut ngebahayain dhedhek kita. Alya kan juga masih magang, susah liburnya" jawab Alya sedih.
"Tuh kan makanya patuh sama mas. Udah keluar aja, nggak usah magang-magang atau kerja-kerja, jadi istri mas yang baik"
"Stop nggak usah berdebat lagi. Lian marah nih"
"Iya ya nggak. Udah mas terserah kamu, yang penting kamu sehat, tetap di sisi mas. Jangan kabur-kabur!"
"Hemmm. Ya Mas juga jangan suka bikin kesel sama marah lah" jawab Alya lagi.
"Udah nggak usah dibahas, sini tiduran lagi" jawab Ardi merangkul Alya lagi, menyuruhnya tiduran di paha Ardi. Karena lampu apil menyala hijau.
"Malu iih" jawab Alya risih ada Arlan.
"Malu sama siapa?"
"Pak Arlan lah" bisik Alya.
"Pak Arlan nggak lihat" jawab Ardi pelan. "Nggak lihat kan Ar?" tanya Ardi.
"Tidak Tuan" jawab Arlan fokus nyetir.
"Denger kan?" bisik Ardi ke Alya. Alya hanya menatap suaminya.
Lalu dengan lembut Ardi meraih dagu Alya, Ardi memajukan wajahnya dan mendaratkan bibirnya ke bibir Alya. Ardi ********** dengan lembut, memainkan lidahnya di dalam, menuangkan segala lelah dan paniknya.
Alya hanya pasrah membiarkan Ardi melakukanya. Karena Alya juga merasa senang dan merindukan suaminya. Padahal cuma sehari nggak bareng.
__ADS_1
Setelah Alya terlihat kehabisan nafas Ardi melepaskanya. Menatap istrinya dengan penuh kehangatan. Melengkapi ciumanya dengan mengecup keningnya. Ardi menepuk pahanya meminta Alya menyandarkan kepalanya lagi. Ardi membelai kepala Alya sampai Alya tertidur dalam perjalanan.
"Udah tidur" bisik Ardi lembut membelai Alya.