
“Saya ke rumah sakit sendiri saja Tuan” tutur Faisal berpamitan mau pulang ke ayahnya sendiri.
“Tidak apa- apa aku antar” jawab Ardi ramah.
“Tidak Tuan, anda kan harus bekerja” tolak Faisal lagi merasa sungkan.
“Apa kau lupa, itu kantorku, aku bisa kerja sesukaku” jawab Ardi sombong, mau memamerkan dan ingin membuat image kalau bos itu enak.
Padahal meski kantor punya sendiri kalau ada agenda penting atau meeting dengan klien penting, Ardi sampai nyuekin istri dan membuat istri bersungut- sungut. Tidak ada waktu dan tidak bisa diganggu gugat.
“Tapi saya tidak mau merepotkan Tuan” ucap Faisal lagi sebenarnya itu karena Faisal sedang sangat patah dan butuh waktu sendiri.
“Ck, baiklah jangan Ge Er kamu, aku ingin mengantarmu bukan karena kamu, tapi aku tidak tahan ingin melihat istriku, dia sekarang sedang menjenguk bapakmu!” ucap Ardi akhirnya berterus terang kenapa dia ingin jemput.
Secara tidak langsung Ardi menunjukan betapa bucinya Ardi ke Alya. Ya, Ardi memang sebucin itu.
Tapi hal yang Ardi tunjukan itu membuat Faisal kagum, sekaligus sedih. Faisal kagum dengan cara Ardi terang- terangan menunjukan cintanya.
Apalagi selama mereka beli mobil kemarin, semua orang melihatnya akan ikut merasakan betapa Ardi sangat memuliakan Alya. Faisal juga ingin kelak menjadi suami yang memuliakan istrinya.
Tapi Faisal juga sedih dan miris, kenapa nasib percintaanya begitu tragis. Padahal Faisal pertama jatuh cinta pada Mia.
Mereka sering bertemu saat Faisal mengantar Mang Adi. Apa salah Faisal? Kenapa Tuhan membiarkan cinta Faisal berlabuh pada perempuan yang mempunyai latar belakang mengerikan.
Faisal menerima Mia apa adanya, tapi kenapa keluarganya begitu jahat. Bahkan menyeret Mia masuk dalam lingkaran se*an, yang akhirnya mencelakakan Mia.
“Ya Tuan!” jawab Faisal akhirnya membiarkan Ardi mengantarnya.
Sepanjang jalan mereka bertiga saling diam. Faisal sangat malu pada Ardi. Hati Faisal juga hancur, Faisal sendiri seperti kehilangan arah.
Faisal ingin bebasin Mia, tapi Faisal sendiri yang sesumbar akan membuat balasan setimpal pada orang yang buat bapaknya sakit. Faisal bisa saja, sekarang cabut tuntutan terhadap Mia, memilih jalan damai.
Tapi semua kejahatan Mia sudah terekam dan jejaknya jelas. Bahkan Mia mengakuinya. Jika tiba- tiba Faisal mencabut tuntutanya dan memilih jalan damai, Faisal menelan ludah sendiri, mau ditaruh dimana muka Faisal.
“Apa kau tetap mencintai Mia?” tanya Ardi membuka pertanyaan lagi.
Faisal diam dan menunduk. Kalau mengingat sesosok Mia yang dulu tentu sangat mencintainya. Mia begitu menyenangkan dan periang. Tapi kalau mengingat sekarang rasanya mengerikan, tapi perasaan sayang itu tetap masih ada.
“Kalau masih sayang perjuangkan, bantu dia bimbing dia. Penjara bukan akhir segalanya kok. Kau bisa sewa pengacara untuk membantunya” tutur Ardi lagi menasehati.
__ADS_1
Dan sekali lagi, perkataan Ardi membuat Faisal tercengang. Kenapa Ardi menyuruhnya begitu, tidakkah Ardi membenci Mia. Sebenarnya orang macam apa Ardi itu.
“Saya akan memikirkanya Tuan” jawab Faisal.
“Jangan pernah salahkan cinta, cinta itu murni, cinta itu hadiah dari Tuhan, jika kamu memilikinya, berjuanglah sebisamu, tapi tentunya bawa dia ke jalan yang benar, selamatkan Mia!” tutur Ardi lagi.
“Terima kasih Tuan” jawab Faisal lagi semakin kagum.
Darimana Ardi bisa mengatakan hal puitis seperti itu, padahal tampangnya seperti orang sombong dan kadang selengekan.
Tidak lama mereka sampai ke tempat dimana Mang Adi dirawat. Benar dugaanya, Fitri masih setia menunggu di mobil, itu artinya Alya dan Bu Rita masih di dalam. Ardi berjalan cepat agar sampai ke ruangan Mang Adi.
Rupanya Bu Rita dan Alya sedang berpamitan mau pergi.
“Lhoh udh mau pergi?” tanya Ardi.
“Mas kok kesini?” tanya Alya kaget.
“Mas kangen sama kamu!” jawab Ardi langsung mendekat ke Alya menelusurkan tanganya ke pinggang Alya dan mencium kepalanya. Padahal masih di ruangan Mang Adi, ada Bu Rita dan yang lain, tapi Ardi memang selebay itu, sampai Alya risih sendiri.
“Ehm” Alya berdehem melihat sekeliling malu.
“Kamu nggak kerja Ar?” tanya Bu Rita sinis ke anaknya.
“Kerja Mah!” jawab Ardi berjalan sambil menggandeng Alya.
“Alya hari ini punya Mamah, dia harus temenin Mamah, kamu kerja, kerja aja nggak usah samper-samperin kita!” tutur Bu Rita galak.
Mendengar hal itu Alya menjadi ingin tertawa, sekaligus tersipu dan terharu. Betapa beruntungnya Alya dianugerahii banyak cinta dalam hidupnya, sampai Alya jadi rebutan begitu. Tapi Alya juga ingin ketawa melihat ekspresi Ardi dimarahi ibunya.
Ardi dan Bu Rita memang lucu, dari dulu anak sama ibu, tapi seperti tom n jery. Kalau ingat dulu Ardi kabur-kaburan pas mau ditemuin sama Alya, Alya juga ingin menertawainya.
“Ya Mah, ya. Sana pergi sepuasnya” jawab Ardi.
Alya memilih diam kalau mereka berdua mulai berdebat.
“Sana ke kantor saja kamu! Nggak usah ganggu mamah dan Alya” usir Bu Rita dengan ekspresi lucu sekali.
Bu Rita merasa kalau ada Ardi Alya seperti dikuasai Ardi, tidak boleh ngobrol sama orang lain, padahal kan Bu Rita juga butuh teman. Yang nemuin dan bawa Alya kan juga bu Rita duluan.
__ADS_1
“Pelit amat. Dia istriku Mah, serah Ardi lah mau kemana dan mau apa?” jawab Ardi tidak mau kalah.
“Ya, ya, udah sana masuk ke mobil, Alya ikut Mamah!” usir Bu Rita.
“Ya Mah” jawab Alya nurut dan melepaskan genggaman tangan Ardi sambil memberi isyarat mengalah dulu.
“Jangan pergi kerja sebelum Mas pulang!” tutur Ardi membiarkan Alya pergi bersama Bu Rita.
****
Adik faisal berpamitan pergi kuliah, kini di ruangan tinggal Faisal dan bapaknya.
“Kenapa mukamu ditekuk begitu?” tanya Mang Adi.
“Orang itu Mia Pak!” tutur Faisal langsung pada pokok intinya.
“Hehh mhahh” Mang Adi hanya menghela nafasya menjatuhkan pandangan entah kemana.
Setelah itu membetulkan posisi tidurnya. Mang Adi berusaha duduk, dia memang sudah hmjauh lebih baik, dan dokter menjajikan esok bisa pulang.
“Apa bapak marah?” tanya Faisal lagi.
Mang Adi justru tersenyum. Menampakan guratan kerutan di wajah tuanya yang menanangkan.
“Bocah nakal itu? Kasian sekali” gumam Mang Adi malah melamunkan Mia di masa kecil. Saat di panti Bu Rita yang dulu, Mang Adi juga ikut merawat Mia.
“Dia melakukan itu agar, bapak dan kakaknya mau jadi wali buat nikahan kita Pak!” tutur Faisal getir mengadu.
Mang Adi masih belum berkomentar.
“Faisal bisa cabut tuntutan Faisal, tapi Faisal malu Pak, Faisal bingung!” keluh Faisal kepada bapaknya, Faisal benar- benar terlihat lemah saat begini.
“Bagaimana dengan Tuan Muda?” tanya Mang Adi.
“Tuan Ardi ingin aku bantu Mia Pak, tapi Faisal malu! Bagaimana bantunya, masa Faisal cabut tuntutan Faisal? Faisal nggak tega liat Mia begitu Pak, tapi Faisal juga nggak nyangka, dia senekat itu, mengerikan Pak” tutur Faisal lagi.
“Biarkan Mia menyadari kesalahanya, biarkan dia menerima kesalahanya. Kalau Tuan Ardi sudah berkata begitu, itu artinya dia pasti akan bantu kalian. Kalau jodoh tidak akan kemana. Jangan jadi orang yang tidak tahu terima kasih!” tutur Mang Adi menasehati.
“Ya Pak!” jawab Faisal mengangguk.
__ADS_1
"Biar kelak Mia tau, apa konsekuensi setiap pilihan yang dia ambil. Bagaiamana akibatnya jika berani melanggar hati nuraninya sendiri. Kalau tidak dihukum, dia akan tau betapa berharganya sebuah kasih sayang" tutur Mang Adi mendukung Mia tetap mengkuti proses hukum dan pengadilan.