Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
169. Guru yang Baik


__ADS_3

Di atas air yang tenang, burung-burung kecil itu mengepakan sayapnya. Beterbangan saling menyanyi, bertasbih mensyukuri nikmat Tuha. Angin bercampur oksige yang terlahir dari tiap celah daun terasa sangat segar dan menenangkan.


Di dalam gazebo kafe dekat danau itu, sang pemilik kafe dan sahabatnya tampak duduk berhadapan. Duduk bersila menghadap satu benda kotak yang genius.


Kalau dari kejauhan seperti orang sedang belajar. Tapi jika mendekat dan melihat raut wajah dewasanya ternyata mereka sedang membahas proyek jangka panjang bernilai milyaran rupiah. Siapa lagi kalau bukan Ardi dan Farid.


Ardi ingin membangun temlat wisata di dekat kafenya. Tapi masih ragu, apa akan merusak lingkungan atau tidak. Siapa yang akan menjaganya.


Itung-itung bekerja mereka berdua juga membahas hal pribadi. Sambil meninati kopi pahit dan mendoan. Semenjak menikah dengan Alya, kini lidah Ardi mulai ketagihan dengan menu-menu Indonesia.


"Lo jangan pasif gitu lah Rid" ucap Ardi selesai membahas pekerjaan. Sekarang waktunya Ardi mengajari Farid menjemput jodohnya.


"Pasif gimana?" tanya Farid nggak mudheng.


"Lo nggak mau kan Anya keburu direbut orang kaya kisah lo sama istri Gue" ucap Ardi mengingatkan kisah Alya dan Farid.


"Hemmm, Alya sama Anya tu beda. Dari awal mang nyokap lo kan emang udah siapin Alya buat lo, gue aja yang nggak tahu diri" jawab Farid membela diri dan merasa tidak enak.


"Lo cinta kan sama Anya?" tanya Ardi memastikan.


"Ya cinta sih. Kita dulu sahabat Ar" jawab Farid teringat masa kecilnya.


"Nah loh apalagi kalian dulu bersahabat. Udah buru halalin!" tutur Ardi menyemangati.


"Gimana caranya orang dia kabur-kabur mulu dari gue" jawab Farid tidak percaya diri, karena Anya selalu meriject telpon Farid.


"Kan semalem udah gue ajarin. Udah lo datengin aja orang tuanya. Sampaiin niat lo kalau lo mau nikah cepet, nggak usah peduliin sikap dia" tutur Ardi lagi memberi solusi.


"Ya masa gue nglamar orang di Bogor sementara orangnyanya ada di Jakarta"


"Hadeeeh. Ya nggak masalahlah. Tentang Anya, itu urusan dia sama orang tuanya. Perempuan baik-baik model mereka nggak akan nolak apa kata orang tua" jawab Ardi menebak.


Ardi saja dulu nikahin Alya tanpa persetujuan Alya. Kalau udah mepet mah, ya ujung-ujunnya mau juga.


"Hemmm kasian gue kalau maksain dia" jawab Farid lirih mengingat Anya. Farid memang berhati lembut tidak seperti Ardi.


"Ck! Kapan lo nikahnya kalau begini terus. Lo liat Alya. Lo pikir dia milih gue? Nggak Bro! " jawab Ardi berdecak dan mencibir Farid diajarin tetap ngeyel. Lalu dia menceritakan kisahnya sendiri.


"Terus kok bisa lo nikah?" tanya Farid bingung.


"Ya gue inisiatif lah" jawab Ardi.

__ADS_1


"Maksud lo?"


"Dia sebenarnya nggak mau nikah sama Gue. Gue bohong sama orang tua gue sama ibunya, gue kepergok nginep di apartemen. Meski gue nggak apa-apain dia. Gue bilang ngapa-ngapain dia" tutur Ardi percaya diri.


"Wah parah lo! Berarti pernikahan lo nggak bener dong?" tanya Farid baru tahu asal muasal Alya bisa tiba-tiba nikah.


"Kan itu awalnya, endingnya ya kita menikah dengan kesadaran masing-masing. Pernikahan gue ditentuin dalam waktu 3 hari, percaya nggak lo?" ucap Ardi lagi menceritakan kisahnya.


"Kok Alya mau sih?" tanya Farid masih menganggap sahabatnya aneh dan keterlaluan.


"Gue tau dia nangis 3 hari 3 malam. Dia benci banget ke gue, dia itu sebenernya suka sama lo" tutur Ardi lagi.


"Gue?" tanya Farid tidak menyangka apa yang dikatakan Ardi.


"Awal-awal sih. Dia baik-baikin lo terus" jawab Ardi sedikit cemburu,


Sebelum nikah dan awal nikah Alya selalu baik-baikin Farid. Alya juga kabur-kabur sama Farid. Itu sebabnya Ardi cemburu dan ingin mendesak agar Farid segera menikah juga.


"Nyatanya kan dia nolak gue" jawab Farid merasa omongan Ardi tidak berdasar.


"Ya sebeneranya dia emang belum mau dan siap nikah" jawab Ardi lagi.


"Tapi gue liat dia cinta sama lo. Gue liat dia nempelin lo terus" jawab Farid lagi.


"Ya iyalah, gue buat dia jatuh cinta sama gue"


"Kok bisa sih? Terus lo tau dia nangis, lo nggak kasian liat dia nangis" tanya Farid lagi sekarang mulai antusias berguru.


"Ya kalau sekarang ada yang buat dia nangis gua bunuhlah, kalau dulu kan nggak ada cara lain, dari pada gue kehilangan dia" jawab Ardi lantang.


"Gimana cara lo buat dia cinta sama lo?"


"Yang penting tu nikah dulu Bro. Urusan cinta belakangan. Lo halalin dulu, dia nggak akan bisa macem-macem. Nggak paham-paham si lo gue kasih tau!" jawab Ardi mengajari Farid.


"Ya gue nggak tega nikahin perempuan yang kepaksa"


"Nggak kepaksa Rid. Itu hanya awalnya saja. Yang penting lo sabar aja ngadepin dia" sambung Ardi lagi.


"Emang dulu Alya waktu awal nikah langsung mau?"


"Ya nggaklah. Lo nggak tahu aja gimana galaknya istri gue" jawab Ardi mengingat masa awal-awal nikahm Alya selalu ketus bahkan mereka selalu berdebat.

__ADS_1


"Alya galak?" tanya Farid kaget.


Setahu Farid Alya tampak keibuan. Alya selalu lembut dan sopan. Itulah sebabnya Farid mengagumi Alya. Farid tidak pernah betapa cerewet dan kekanakanya Alya sebenarnya.


"Banget" jawab Ardi lagi keceplosan. Ardi hanya ingin mengajari Farid untuk mendapatkan istri utamanya Anya harus berjuang menghadapi sifat jeleknya. Harus menerima dan bersabar.


"Masa? Kok gue nggak pernah liat dia galak, setau gue dia lembut dan pendiam" jawab Farid lagi mengungkapkan ketidak percayaanya.


"Ya itu rahasia gue sama dia. Masa sama orang lain nggak ada salah galak. Dia juga dokter Bro!"


"Masa sih Alya galak? Gue liat dia patuh banget sama lo" jawab Farid lagi masih menyanggah berusaha membayangkan Alya galak tapi menurut Farid tetap tidak pantas, sebab Alya dibayangan Farid selalu Alya yang lembut dan menundukan matanya setiap diajak bicara.


"Yang suaminya itu gue! Gue yang tau!" jawab Ardi menegaskan.


Lembut darimananya awal ketemu aja Alya ngegebukin Ardi pakai sapu. Menginjak kakinya mencubit nya, membiarkan Ardi tidur bersama Arlan. Selalu cuek dan berdebat.


"Hemmm" jawab Farid berusaha percaya kata Ardi meski masih tidak mengira.


"Ya, Itu sih awal-awal nikah, lama-lama ya dia nurut. Cuma gue yang tau sisi buruk istri gue. Gue juga nggak protes kalau sifat jeleknya keluar, itu resiko gue milih dia. Gue sadar dia begitu juga karena gue. Yang penting dia ada sisi gue. Itu yang penting buat gue" jawab Ardi lagi memberitahu Farid kalau untuk mencintai harus siap dengan kekurangan pasangan kita.


"Cara lo biar dia mau sama lo?"


"Diulang lagi! Kan udah gue bilang. Sabar! Lo ngadepin makhluk perempuan harus sabar" jawab Ardi tegas.


"Yaya" jawab Farid mengangguk.


"Nih Lian wa, pulang kerja lo jemput dia!" tutur Ardi menunjukan pesan dari istri tercintanya.


Kesepakatan Alya dan Ardi di tempat tidur, mereka berdua harus segera bertindak. Mendengar curhatan Farid di panti kemarin Ardi dan Alya sebagai sahabat merasa perlu ikut campur. Anya gengsian, Farid terlalu baik. Kalau tidak didorong mereka nggak akan jadi-jadi.


"Beneran?" tanya Farid agak heran, kok bisa Anya mau dijemput.


"Ya bener! Siap-siap jangan telat jemputnya!"


"Oke Bro"


"Lo harus semangat, buru nikah!"


"Semangat banget, apa aja yang harus gue siapin besok?" tanya Farid setuju dengan saran Ardi secepatnya Farid harus nekat buat lamar Anya besok pagi.


"Gue nggak ada acara lamar-lamaran gue nggak tahu" jawab Ardi jujur.

__ADS_1


"Hah lo nggak nglamar Alya?"


"Nggak. Gue langsung nikah"


__ADS_2