Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
197. Bukan Halu


__ADS_3

"Ayo masuk!" ajak Farid ke Anya sudah sampai di ruangan Gery.


Anya diam. Anya sangat malu kalau seniornya itu ternyata teman pria yang dijodohkan denganya.


Padahal kan awal magang Dinda dan Anya sering ngecengin, dan curi-curi pandang ke Gery, karena kegantengan Gery.


"Aa duluan aja" jawab Anya malu campur kesal campur cemburu.


Farid pun mengetuk pintu ruangan Gery.


"Siapa? Buka aja pintunya" jawab Gery dari dalam.


Farid membuka pintunya kemudian masuk mendekati Gery.


"Lo Rid? Wah, kebetulan banget lo dateng, lo emang sahabat terbaik gue" ucap Gery masih sambil berbaring dan menahan ngilu di beberapa tempat. Gery sangat bahagia dijenguk sahabatnya.


Farid menoleh ke belakang, Anya masih ngumpet di depan pintu.


"Lo liat siapa sih! Lo kesini sapa siapa?" tanya Gery ke Farid.


Farid malah terlihat gelisah menoleh ke belakang.


"Neng ayo masuk!" ajak Farid ke lembut Anya.


"Neng?" tanya Gery masih dengan muka gesreknya.


Gery sendiri agak heran dan dengan perasaan bercampur-campur.


"Si Farid yang kaku dan kalem, bawa cewek?" gumam Gery penasaran siapa si Eneng yang dipanggil Farid.


"Ehm.. ehm" dengan menundukan kepala dan ragu-ragu, Anya melangkah pelan masuk ke ruangan Gery.


Gery langsung melotot menatap Anya.


"Empt. Dokter Anya?" tanya Gery menahan diri dari kaget dan ingin tertawa.


"He.. Hai Dok, apa kabar?" tanya Anya nyengir.


"Hoh, ck, ck. Yayaya" Gery tersenyum manggut- manggut seperti mengingat sesuatu dan hendak membercandai Farid.


"Apa lo yaya?" tanya Farid kesal melihat ekspresi Gery.


"Kalian jadian? Jadi yang story kalia di Jogja? Kalian triple date, wahhh, tega kalian nggak ajak gue" ucap Gery ke Farid.


"Ehm" Anya menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.


"Anya nggak jadian tapi dijodohin" batin Anya kesal.


"Kenapa emang" tanya Farid ke Gery.


"Ya nggak apa-apa seneng aja liat lo nggak jomblo lagi" ucap Gery meledek Farid.


"Emang lo udah nggak jomblo? Kata Neng Anya, Dokter baru yang lo ceritain itu Si Alya kan?" tanya Farid memergoki.


"Hahahahaha" Gery tertawa malu. Gery tau juga kalau Farid pernah suka sama Alya.


"Kok lo ketawa sih?" tanya Farid.


"Kata Ardi lo juga pernah suka kan sama Alya. Guru ngaji di yayasan Ardi Alya kan?" ucap Gery spontan balas mengejek Farid, Gery dan Farid tidak sadar ada Anya yang sedang terbakar cemburu.


"Lo tau dari siapa?" tanya Farid malu ketahuan menyukai pernah menyukai perempuan yang sama.


"Ardilah, dia tau semuanya, tapi tetep aja dia buntingin Si Alya nggak bilang-bilang. Dia yang paling jahat di antara kita"


"Hahahaha, dasar, itu orang ember emang" jawab Farid mengatai Ardi.


Lalu mereka berdua tertawa bersama dengan wajah malunya.


"Ehm" Anya merasa kupingnya panas, tidak nyaman dan merasa tidak dianggap.


Mendengar Anya berdehem Farid dan Gery menelan salivanya, sadar sudah mengabaikan Anya.


"Lo udah tau kan Dokter Anya?" tanya Gery tanpa bosa basi.


Iyalah Anya tau, kan dulu Gery pedekate ke Alya lewat Dinda dan Anya. Anya kan juga temen deketnya Alya.


"He... iya Dok. Sangat tau!" jawab Anya menatap Farid dengan tatapan cemburu.


"Farid suka sama Alya juga tau?" tanya Gery lagi.


"Tentu saja" jawab Anya lagi.


"Woy itu kan dulu, istri orang woy, sahabat sendiri juga, udah nggak usah dibahas!" jawab Farid mulai merasa tidak enak ke Anya.


"Iya, gue nggak nyangka aja lo bisa sama Dokter Anya, sahabat Alya. Selamat ya Dokter Anya!" ucap Gery lagi membercandai Anya. Padahal calon istri Gery juga sahabat Alya.

__ADS_1


"He... " jawab Anya nyengir.


"Eh tapi kok kalian bisa jadian gini? Gimana ceritanya?" tanya Gery lagi.


"Ehm" Anya berdehem lagi tambah kesal dan rasanya ingin pergi aja.


"Kepo lo" jawab Farid cerdas tau kalau Anya malu.


"Oke oke. Lo nggak mau cerita, masih ada Ardi dan Alya. Gue yakin Ardi pasti tau, gue tanya dia aja entar"


"Dasar kalian ya, biang gosip! Eh lo sendiri sok-sokan ngeledek gue, emang lo udah move on dari Alya?" tanya Farid balik mengejek Gery.


"Gue mau nikah nanti malam" jawab Gery percaya diri.


"Hah? Nikah?" jawab Anya dan Farid berbarengan.


"Iya!" jawab Gery mengangguk mantap.


Farid dan Anya menelan salivanya masih mencoba mencerna perkataan Gery. Lalu Farid menatap Gery penuh tanda tanya.


Memperhatikan selang infus, dan beberapa perban yang masih menjadi aksesoris di tubuh Gery. Gery bahkan belum duduk dengan sempurna.


"Lo sakit karena luka kan Ger? Lo nggak gila kan?" tanya Farid hati-hati.


"Haiish" Gery mendesis lalu melempar makanan yang tadi dia makan sekenanya. "Gue waras kali!"


"Gue tanya serius Cung! Gue khawatir sama lo, masa cuma gara-gara Alya lo jadi gila" jawab Farid dengan bahasa gaulnya.


"Sialan lu, gue bener! Gur nggak gila budur!" jawab Gery lagi.


Melihat Gery dan Farid tampak akrab dan asik Anya sedikit heran.


"Ternyata Aa Farid bisa berbahasa selow" batin Anya masih menjadi pendengar setia.


"Ini nggak beres. Gue perlu panggil Ardi nih, kayaknya lo kebanyakan iri sama Ardi deh! Ingat Bro, Alya itu udah jadi bininya Ardi. Lo harus move on. Mereka udah bahagia, udah bunting juga" jawab Farid sok-sokan lagi.


"Lo yang ngawur, siapa juga yang iri. Gue juga tau Alya dah bahagia sama Ardi!"


"Ya udah lo terima kenyataan, nggak usah ngehalu. Badan lo aja masih begini? Ngehalu nikah, sadar Ger!" jawab Farid lagi.


"Ya gue serius budur, gue sadar gue mau nikah" jawab Gery tambah gemas ke sahabatnya.


"Tuh kan. Aduh parah bangey lo. Lo cerita deh sama gue. Gue Magister Psikologi, bisa dipercaya. Lo nggak usah malu sama gue, gue siap dengerin curhatan lo! Keluarin semua perasaan lo" tutur Farid menganggap Gery sakit jiwa dan siap membantunya.


"Astaghfirulloh Ger. Aduh gawat! Neng panggilin Alya sama Ardi, parah nih Gery" ucap Farid beneran mengira Gery halusinasi.


"Anya telpon Alya ya A'?" tanya Anya ikut merespon serius perkataan Farid.


"Iya, geura! Telpon Alya sama suaminya, suruh kesini" jawab Farid. Anya beneran telpon Anya dan Ardi.


Mendengar perkataan Farid Gery jadi gemas sendiri. Dan geleng-geleng kepala.


"Haiiissh, lo ngapain manggil mereka. Kalian yang gila bukan gua. Woy! Gue beneran mau nikah!" ucap Gery menegaskan


"Sabar ya Ger, apapun keadaan lo, gue tetep sahabat lo"


"Gue mau nikah sama Mira. Ntar malem di hotel Continen, kalau lo nggak percaya lo dateng. Lo dampingi gue!" tutur Gery lagi menekankan.


"Ger sory ya. Gue tau lo sama Mira emang pasangan yang cocok dan pas. Tapi lo juga harus sehat jiwa dan raga. Lo dokter kan? Liat badan lo gini. Udah deh terima kenyataan nggak usah banyak ngehalu dulu, lo harus sehat dulu. Lo ganteng cerdas, sayangi hidup lo" tutur Farid lagi.


"Ck. Haish! Gue bisa gila beneran ngomong sama Lo! Gue beneran mau nikah, Budur! Gue begini buat Mira. Gue mau nikahin dia ntar malem. Gue nggak gila. Lo yang gila" jawab Gery emosi.


Anya hanya bengong mendengarkan kedua sahabat itu bertengkar. Ardi dan Alya yang ditelpon Anya segera datang.


"Ada apa sih?" tanya Ardi heran ke kedua sahabat gesreknya.


"Tuh temen lo gila" ucap Gery dan Farid bebarengan.


"Lo yang gila" ucap Gery


"Gery kena mental Ar, tolongin sahabat lo ini" timpal Farid.


"Kalian sesama gila, nggak usah berebut, emang ada apa?" tanya Ardi dewasa.


Ardi memang ketua geng di antara mereka.


"Ini serius Ar, kayaknya Gery mulai halusinasi gara-gara bini lo" ucap Farid mengadu.


Alya dan Ardi menatap heran ke Farid dan Gery.


"Apa maksudnya? Gara-gara Alya?"


"Jelasin Ar. Farid nggak percaya gue mau nikah sama Mira" ucap Gery sebal.


"Ya gue percaya kalau akhirnya lo bisa terima Mira. Tapi masa mau nikah nanti malam" jawab Farid lagi.

__ADS_1


"Hah? Nikah nanti malam?" tanya Ardi dan Alya ikut kaget. Mereka taunya hanya tunangan.


"Kok kalian ikutan kaget? Kan gue udah bilang, Gue gantiin Tito, jelasin ke Si Budur ini" jawab Gery emosi terhadap temenya nggak ada yang berpihak ke dia.


"Jadi lo serius lo mau datang ke hotel nanti malam?" tanya Ardi meyakinkan


"Seriuslah. Keluarga Mira nggak mungkin batalin hotel, catering, fotografer dan Mua. Kita yang udah batalin Tito, gue yang tanggung jawab. Dan itu kan emang tujuan gue! Lo tau kan?" terang Gery bersemangat.


"Iya gue tau, masalahnya lo udah bisa pergi? Terus ko nikah? Bukanya tunangan doang? Terus Mira sekarang kemana?" tanya Ardi lagi bersikap sok dewasa padahal di antara mereka Ardi paling muda.


"Tunggu, tunggu, ini kalian bahas apa sih?" tanya Farid semakin bingung.


"Lo diam ajalah, yang penting lo entar ikut gue!" jawab Gery kesal ke Farid.


Anya dan Alya diam mode menyimak cantik.


"Mira pulang sama Papa Bayu. Buat persiapan. Daripada tunangan doang, Papa Bayu sama Bokap gue mau kita langsung nikah aja!" tutur Gery percaya diri menyebut Pak Menteri papa.


Ardi dan Alya mengangguk paham. Sementara Farid masih mencoba mencerna, memahami dan menghubung-hubungkan sendiri.


"Dokter Gery yakin dengan keadaan Dokter Gery yang seperti sekarang? Ke hotelnya naik apa? Jam berapa?" tany Alya dewasa, jadi istri Ardi berarti juga harus berperan sebagai Bu Ketua Geng.


"Nah ini, gue ngumpulin kalian buat bantuin Gue" jawab Gery enteng.


"Jadi, ini beneran? Gery mau nikah sama Mira malam ini?" tanya Farid lagi memperjelas.


"Dasar Budurr lo emang. Iya gue mau nikah. Bantuin gue makanya" jawab Gery lagi ngegas.


"Wah, gue kalah start lagi" ucap Farid ngempos lemas lagi, membuat Alya dan Anya berdecak.


"Kalian kan juga besok pagi lamaran, nggak usah iri" timpal Ardi ke Farid dan Anya.


"Oh kalian juga mau lamaran?" tanya Gery ikut antusias mendengar Farid dan Anya mau lamaran.


"Iya" jawab Farid percaya diri.


"Ya udah sekarang pikirin acara Gery dulu, rencananya gimana berangkatnya? Konsepnya mau seperti apa?" tanya Ardi memimpin diskusi sebagai ketua suhu.


"Gue mau naik ambulan, abis itu pake kursi roda" jawab Gery enteng.


"Infus lo, obat-obatan lo, gimana?" tanya Ardi.


"Gue kantongin gue tutup pake jas, gampang itu mah, gue pakai kursi roda"


"Wah luar biasa lo ya Ger, ini rencana pernikahan teraneh yang pernah gue denger" tutur Farid geleng-geleng kepala mendengar diskusi Gery dan Ardi.


"Diem lo Budur! Gue minta di antara kalian ada yang temenin gue diambulan. Kalian jadi pengiring gue" pinta Gery ke sahabatnya.


"Iya pasti, gue usahain dateng. Tapi gue kaki dan pinggang gue masih sakit, gue sama Berlian naik mobil sendiri. Farid aja yang sehat yang dampingi lo" jawab Ardi mengatur.


"Siap Bos! Tapi gue juga harus ke Bogor malam ini" jawab Farid.


"Halah. Bogor Jakarta berapa jam doang. Ke Bogor bareng gue. Anya juga!" jawab Ardi lagi mengatur.


"Oke!" jawab Farid.


"Gue belum beli apa-apa. Jas belum, cincin mas kawin, semuanya belum" curhat Gery lagi mau minta tolong.


"Haishh" Farid dan Ardi menepuk jidat.


Alya dan Anya hanya berdecak, ternyata seniornya sangat parah. Tapi Farid paham dan memaklumi, Gery tidak punya ibu atau saudara.


"Bantuin gue carikan! Dan siapkan!" ucap Gery enteng, tidak ada sungkan-sungkanya ke Farid dan Ardi.


"Ya gue carikan!" jawab Farid.


"Bagus. Temani Farid ya Dokter Anya" ucap Ardi menoleh ke Anya.


Ardi sekalian meledek dan mendekatkan pasangan itu. Sebagai ketua geng Ardi sangat paham seluk beluk kisah semua anggotanya.


"Siap Bos! Mau ya Neng!" jawab Farid lagi sambil menoleh ke Anya. Anya hanya mengangguk.


"Lo ikut si Al" celetuk Anya lirih ke Alya.


"Eh nggak bisa! Lian nggak boleh pergi! Lian harus sama gue, suami lagi sakit juga" jawab Ardi tegas tidak membiarkan Alya menjawab dan pergi.


"He.. sory ya Nya" ucap Alya nyengir sambil menunjuk suaminya.


"Oh iya. Jasnya ambil di butik yayasan aja kali ya?" tanya Farid memberi ide.


"Serah kalian deh. Yang penting beres!" jawab Gery.


"Ya udah, gue kabarin Papa Mamah, Ibu mertua gue juga lagi di jalan mau kesini" ucap Ardi.


"Bu Mirna mau kesini?" tanya Anya bahagia. Anya dan Farid kan sudah kenal Bu Mirna.

__ADS_1


__ADS_2