Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
211. Parfum.


__ADS_3

"Huuuft Hah"


Farid menarik nafasnya dalam lalu menghembuskan nafasnya pelan. Meski udara di bogor begitu dingin bahkan berkabut. Farid dengan semangat mengguyur tubuhnya pagi-pagi.


Dan kini Farid sudah rapih dengan setelan kemeja batik dan celana kain berwarna abu. Farid menyemprotkan minyak wangi keseluruh tubuhnya.


Sampai-sampai satu botol mau habis. Karena botol parfum farid, parfum mahal yang kemasanya kecil. Sebenarnya sedikit saja sudah wangi, karena saking gugupnya membuatnya tak percaya diri dan menyemprotkan berlebihan.


"Iyuuh, bau apa inii?" seru teman Farid yang masih meringkuk di bawah selimut seusai sholat subuh.


Ya itulah kebiasaan jelek Ardi, meski sudah sering diingatkan istrinya tetap saja dilakukan. Jelak memang, dasar.


"Maksud lo apa?" tanya Farid tersinggung.


Kenapa Ardi malah hueek, bukanya dia udah memakai parfum maksimal agar wangi.


"Ini bau apa sih? Nyengat banget gatel idung gue. Jangan-jangan ada hantu lagi" jawab Ardi membau parfum aroma bunga yang begitu menyengat di seluruh ruangan.


"Hantu gimana maksud lo? Udah siang juga, lo kebanyakan tidur sih jadi kumat kan lo, dasarr" cela Farid melihat ke Ardi masih pakai kaos oblong dan celana pendek dan muka kusut.


"Huuh huuh" Ardi bangun dan mendengus.


Lalu merangkak masih di atas tempat tidur ke arah Farid dan kemudian menutup hidungnya.


"Haiish gila lo. Lo pake parfum apa baunya gini amat?" ejek Ardi ke Farid wanginya keterlaluan sehingga justru menyengat.


"Gini amat gimana?"


"Penjual parfum juga nggak gini-gini amat Riid. Haiish" ucap Ardi lagi mengipas-ngipaskan tangan di depan hidungnya.


"Emang nyengat banget ya?" tanya Farid pucat dan tambah minder.


"Iya, buka jendelanya pusing gue bau ginian" jawab Ardi terus terang, karena pada dasarnya Ardi tidak suka bau menyengat.


"Ck. Bener bau gue bikin pusing?" tanya Farid lesu.


"Buru buka jendelanya!" jawab Ardi memerintah seenak jidatnya. Tapi heranya Farid nurut aja.


"Terus gue ganti baju gitu?" tanya Farid benar-benar sedih dan merasa frustasi karena dikatai parfumnya bikin pusing.


"Ehm" melihat Farid berekspresi serius Ardi jadi merasa bersalah.


Padahal kan Ardi memang senang menjatuhkan mental temenya. Kenapa Farid bereaksi berlebihan.


"Hehe" lalu Ardi nyengir membuyarkan kerutan wajah Farid.


"Kok lo malah ketawa gitu sih?"


"Ya gue lucu aja liat wajah lo pucat gitu. Selow bro, selow" ucap Ardi terkekeh.


"Taik lo" ucap Farid melempar barang sekenanya ke Ardi


"Nah kalau jendelanya dibuka gini kan seger, ada udara pagi. Lagian lo lebay banget sih. Tunangan doang juga, rempong amat!" ejek Ardi lagi.


"Lo bilang doang, ini hari bersejarah buat gue, gue mau ngelamar anak orang? Diterima apa nggak? Gue harus tampil maksimal dan buat Anya terkesan. Lo nggak kenal abahnya Anya sih?" jawab Farid membela diri.


"Ya lo nggak usah ngelamar juga lo udah pasti diterima kok, ngapain lo gugup-gugup, ini tuh formalitas doang!" ejek Ardi lagi, sebenarnya omongan Ardi benar, tapi tetep aja Farid merasa dilecehkan.


"Ah lo. Lo kan nggak tau rasanga ngelamar, nikah aja diam-diam" jawab Farid balik menghina Ardi.


Ardi yang memang nikahnya dengan cara sedikit tercela tersinggung dengan perkataan Farid.


"Lo ngatain gue?" jawab Ardi emosi.

__ADS_1


"Loh bener kan, lo bisa aja ngomong enteng gitu. Lo kan nggak pake acara lamaran? Nikah aja hasil nikung dan bohong" jawab Farid lagi semakin mengejek.


"Sialan lu!" jawab Ardi ngambek. Sukanya ngatain orang giliran dikatai tersinggung.


"Gue bener kan? Lo nggak ada lamaran kan? Lo nggak tahu rasanya ngelamar!"


"Ya emang kenapa?"


"Ya diem lu, nggak usah ngomong"


"Oke, gue nggak mau ngomong serah lu deh. Dasar lebay" jawab Ardi benar-benar dia sekarang yang tersinggung.


"Lo ngatain gue lebay?" tanya Farid tidak terima.


"Lo yang ngatain gue duluan, Budurrr"


"Ya abis lo ngomong mulu, nggak tau temenya gugup bukanya bantuin!" omel Farid lagi.


"Bodo gue mau tidur" jawab Ardi pundung.


"Woy... inu udah jam 7. Mandi sono lo"


"Ogah!"


"Terus ngapain lo ikut gue kesini, bentar lagi bokap gue ngajakin sarapan"


"Emang gue pikirin!"


"Dasar lo emang yaa! Woyy bangun!!"


"Ganggu aja lo!"


"Ishhh" Farid mendesis dan menarik selimut Ardi menyuruhnya bersiap-siap.


****


Di istana Tuan Aryo, semua sudah bersiap. Mereka duduk di ruang tamu menunggu Dinda.


Tuan Aryo masih berekspresi misterius sambil memainkan ponselnya. Duduk di samping Bu Rita mendengarkan istrinya berbicara.


Alya ikut duduk menghargai orang tuanya. Tapi fokus Alya bukan ke kapan Dinda datang, melainkan ke tempat sampah tempat Tuan Aryo membuang kado itu.


"Dinda... ayo cepat datang. Aku harus ambil sobekan foto itu" batin Alya dalam hati memilin jarinya sendiri.


Alya harus tau apa isinya. Itu pasti berhubungan dengan suaminya.


"Pah, papah udah siapin belum untuk sambutan nanti mewakili dari pihak Farid?" tanya Bu Rita ke Tuan Aryo.


"Gampang Mah, nggak usah dipikirin" jawab Tuan Aryo enteng. Menyambut dan melamar anak orang sudah menjadi hal kecil untuknya.


"Jeng Mirna maaf ya, kalau dulu pernikahan anak kita sangat sederhana" ucap Bu Rita ke Bu Mirna. Mengingatkan peristiwa memalukan beberapa bulan lalu.


"Nggak apa-apa Jeng. Yang penting anak-anak kita sekarang bahagia" jawab Bu Mirna bijak.


"Sesuai janjiku, setelah ini kita adakan resepsi. Sudah aku siapkan kok. Pokoknya nanti harus meriah" jawab Bu Rita memberitahu Bu Mirna.


"Aduh Jeng, Alya kan udah hamil, apa perlu diadakan resepsi segala?" tanya Bu Mirna.


"Lhoh ya nggak masalah. Toh hamilnya Alya belum terlihat. Makanya jangan dulu balik ke Jogja. Kita persiapkan resepsi anak kita" jawab Bu Rita lagi.


"Kalau Nak Ardi dan Jeng Rita memang ingin itu, aku ikut aja" jawab Bu Mirna.


"Ehm" Alya merasa tidak nyaman dengan percakapan mertua dan ibunya.

__ADS_1


Sebenarnya Alya dan Ardi tidak ingin ada resepsi berlebihan. Hidupnya sekarang sudah sangat bahagia dan terasa sempurna.


"Iya kan Al? Kamu setuju kan kalau Mama adain resepsi?" tanya Bu Rita ke Alya.


"He.. iya Mah" jawab Alya mengangguk


"Udah fiks kan MUA yang kemarin? Tinggal feeting baju, sama sewa tempat, tanggalnya juga udah" jawab Bu Rita menjelaskan ke Bu Mirna.


"Tanggalnya udah ditentuin Mah?" tanya Alya.


"Iya, minggu depan ya!" jawab Bu Rita semangat.


"Minggu depan?" tanya Alya kaget, perasaan kemarin bilangnya masih 1 bulanan, kenapa tiba-tiba minggu depan.


"Iya sayang, udah kamu ikut aja. Pokoknya tinggal nunggu beres" jawab Mama Rita.


"Tapi bajunya belum fitting Mah, Alya pesen sama Mba Intan" jawab Alya merasa mertuanya sedikit curang. Kenapa asal menentukan tanpa persetujuan.


"Batalin aja. Lagian kan kita bisa pilih banyak gaun di butik kita, kalau mau beli di tempat lain juga banyak. Pokoknya kamu tinggal tunggu beres aja!" jawab Bu Rita.


"Ehm, ya Mah" jawab Alya mengangguk.


Untung nggak ada Ardi, kalau Ardi tau bakalan ada perang dunia lagi antara anak dan ibu. Bu Rita mempersiapkan tanpa rundingan lagi.


Lalu dari arah luar datang taxi online masuk.


"Itu sepertinya Dinda Mah" ucap Alya melihat keluar.


"Syukurlah ayo siap-siap" ajak Bu Rita berdiri menenteng tas mahalnya.


Dan benar prediksi Alya. Gadis dewasa memakai gaun bercorak batik, dengan rambut pendek sebahu turun dari taksi. Sesaat Dinda terbengong melihat halaman rumah Tuan Aryo yang sangat luas.


Lalu Dinda berjalan menghampiri 3 orang paruh baya yang berpenampilan rapih.


"Pagi Tante Om" sapa Dinda menangkupkan tangan dan membungkuk menyapa Tuan Aryo, kemudian bersalaman dengan Bu Rita dan Bu Mirna.


"Nak Dinda, cantik sekali, pangling ibu" sapa Bu Mirna yang sudah kenal Dinda.


"Hee.. makasih Bu, Bu Mirna apa kabar, sehay?" sapa Dinda bahagia bertemu Ibu Alya lagi.


"Alhamdulillah sehat" jawab Bu Mirna.


"Lhoh kalian sudah kenal?" tanya Bu Rita.


"Sudah kemarin kan nginep di tempatku?" jawab Bu Mirna meceritakan liburan anaknya.


"Oh gitu?"


Setelah selesai menyapa, Dinda mengerlingkan mata menagih janji Alya mendapatkan nomer Dika.


Alya membahas kerlingan mata, memberi kode nanti pulangnya saja. Dinda pun cemberut dibuatnya.


Tuan Aryo kemudian melirik jam.


"Ayo Mah berangkat!" tutur Tuan Aryo memberi perintah.


Mereka kemudian berangkat.


"Hati-hati yaa" sapa Alya mengantar keluarganya.


"Ya, kamu juga hati-hati kalau kerja" jawab orang tuanya.


Setelah rombongan mobil pergi. Alya bergeas masuk dan memunguti sampah yang dibuang Tuan Aryo.

__ADS_1


__ADS_2