Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
8. JEBAKAN JAHAT


__ADS_3

"Saya antar ya Us" tawar Farid di depan gerbang panti menemani Alya berdiri.


"Terima kasih Kak, saya sudah pesan taxi online" jawab Alya sopan.


"Kan bisa dibatalkan!" jawab Farid merayu.


"He. Terima kasih, lain kali saja" jawab Alya sambil tersenyum sopan.


"Kak Farid, Us Alya" sapa seseorang dari arah belakang, lalu datang meraih tangan Farid.


Alya memperhatikan perempuan itu mendekati Farid dengan kikuk. Sementara Farid terlihat berusaha melepas tangannya.


"Ada apa Sin?" tanya Farid ke Sinta.


"Aku nebeng ya, ban mobilku bocor" jawab Sinta manja.


"Hmmm" Farid tampak bingung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Farid kan ngajaknya Alya untuk pulang bareng bukan Sinta.


"Oh iya, ini ada sisa dari kantin, hasil praktek anak-anak, buat Us Alya dan Kak Farid" ujar Sinta memberikan bungkusan makanan ke Alya dan Farid.


"Terima kasih Kak" jawab Alya senyum. "Oh iya, Kak Sinta panggil saya Alya aja, saya bukan ustadzah kok"


"Oke Alya" jawab Sinta tersenyum penuh arti. Tidak berapa lama taxi online pesanan Alya datang.


"Dengan Nona Alya?" sapa sopir taxi.


"Benar Pak" jawab Alya, lalu membalikan badan. "Kak Farid, Kak Sinta saya duluan, Assalamu'alaikum" pamit Alya masuk ke taxi.


"Wa'alaikumsalam" jawab Farid dan Sinta bersamaan. Alya pun berlalu menaiki taxi. Farid menatap kepergian taxi Alya sambil merutuki kegagalanya mengantar Alya pulang.


"Sial, kenapa cacing kremi ini muncul sih, padahal kan gue baru aja mau pedekate" gerutu Farid dalam hati melihat kesal ke Sinta.


"He, aku nebeng ya Kak" ucap Sinta manja meraih tangan Farid.


"Kenapa nggak naik taxi aja sih? Kaya Alya" jawab Farid ketus meninggalkan Sinta sendirian.


"Sial! Farid nolak gue" Sinta mengepalkan tangan melihat Farid meninggalkan dirinya sendiri.


"Apa gue juga harus pake kerudung buat narik perhatian Farid, kurang ajar! Liat aja apa yang akan aku lakukan ke perempuan munafik itu, rasakan ya gadis sialan!" Sinta menghentakan kakinya ke tanah karena kesal.


*****


Apartemen


"Ahh lelahnya" gumam Alya merenggangkan kepalanya ke kanan dan kiri selesai mandi. Lalu dia duduk di depan TV mengeringkan rambut panjangnya selesai keramas.

__ADS_1


Meskipun selama beraktivitas di luar Alya memakai jilbab tapi di dalam apartemen Alya seperti gadis lain, memakai baju santai terbuka dan cenderung pendek. Apalagi dia sendirian di dalam apartemen. Alya tampak sangat segar dan cantik. Tapi tidak ada yang melihatnya selain dirinya sendiri.


"Mba Sinta bawain aku apa ya?" gumam Alya selesai mengeringkan rambut dan mengoleskan krim. Lalu membuka bingkisan Sinta.


"Waaah pizza, sepertinya enak" gumam Alya dengan mata berbinar lalu mulai menyantap makanan.


"Mba Sinta memang koki handal. Pantas saja Tante Rita mau membayar mahal buat dia berkarya di panti"


"Tapi koki secantik dan sepintar dia kok mau ya bekerja di panti?" Alya bertanya-tanya dalam hati.


"Apa Mba Sinta juga punya pekerjaan tetap di luar seperti aku dan Mas Farid? Ahh mungkin begitu?" Alya menjawab sendiri pertanyaanya.


"Mba Sinta dan Mas Farid baik sekali. Mereka seperti Tante Rita, orang kaya yang berhati mulia" Alya melanjutkan obrolannya sendiri. Lalu menyantap pizza dan menghabiskanya, karena ukuran pizzanya memang tidak besar.


"Thut" Alya pun menyalakan TV, bersandar di sofa bed sambil melihat jadwal kerjanya di rumah sakit.


"Ternyata besok jaga sore, berarti aku nggak ke panti, pagi kan anak-anak sekolah pasti sepi" pikir Alya setelah melihat jadwal piket.


Melihat jadwal kerja, seketika itu Alya teringat kejadian memalukan di rumah sakit. "Aah malu sekali aku, ceroboh bodoh bodoh" Alya mengusap kasar rambutnya dan menghentakan kakinya di atas sofa.


"Cukup sekali saja ketemu dokter cabul dan galak itu, oh my God".


Alya pun mulai memejamkan matanya ditemani televisi.


*****


"Dddrrrrtt"


Ponsel Gery bergetar di atas nakas. Dokter tampan yang masih meringkuk di bawah selimut mengerjapkan matanya mencari ponselnya.


Disibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan dia bangun dari tidur. Diraihnya ponsel di atas nakas dekat tempat tidur dia. Sebelumnya dia melirik jam menunjukan pukul 11 malam.


"Ada apa sih? Jangan bilang ada operasi cito" gumam dr. Gery sambil membuka pesan di ponselnya.


"Selamat malam Dokter Gery. Mau lapor, di IGD ada rencana operasi cito, pasien dengan inpartu kala II lama fetal distress..."


"Hhhh" Gery pun menarik nafas dalam dan menghembuskan nafasnya pelan.


"Ya! Saya segera ke sana" ketik dr. Gery membalas pesan perawat dan bersiap-siap pergi ke rumah sakit.


Gery ingin mengeluh dan protes. Tapi dia menyadari akan profesinya sebagai Dokter Anestesi yang harus stand by 24 jam di hari kerja, selama dia menjalankan WKDS di rumah sakit pemerintah di pinggiran kota itu.


Sebenernya orang tua Gery yang merupakan dokter spesialis bedah mempunyai rumah sakit swasta sendiri. Tetapi karena tuntutan pendidikan profesinya itu, dia harus mengabdi di rumah sakit pemerintah yang tergolong masih berumur muda selama setahun. Sama seperti Alya.


Gery bersiap menuju ke rumah sakit. Gery tinggal di salah satu apartemen agak jauh dari rumah sakit. Berbeda dengan apartemen Ardi. Gery lebih memilih apartemen yang lebih mewah meskipun jauh dari tempat kerjanya.

__ADS_1


*****


Apartemen Megayu


"Kruyuuk kruyuuk, aaaarrrrrgh" Alya terbangun tengah malam.


"Kenapa dengan perutku?" keluh Alya sambil meremas perutnya yang sakit. Lalu dia melihat jam dinding, menunjukan pukul 12 malam.


"Astaghfirulloh sakit sekali, apa aku dismenorhe?" gumam Alya dalam hati menahan rasa sakitnya.


Alya menarik nafas dalam lalu menghembuskan nafas pelan berharap sakitnya berkurang. Tapi ternyata mulesnya semakin bertambah seperti ada dorongan untuk ke kamar mandi.


"Ahh, rupanya aku diare" Alya kembali merebahkan badanya di sofa.


"Apa aku salah makan? Aku makan apa ya?" Alya menggaruk kupingnya yang tidak gatal.


"Aku kan hanya makan pizza dari Kak Sinta, apa jangan-jangan?"


"Kruyuuuu kruyuuuuuk. Haiiishhh mules lagi" Alya merasakan mules di perutnya kembali lagi. Dia setengah berlari ke kamar mandi.


"Alhamdulillah lega, semoga cukup ini saja" Alya menuju ke dapur dan meraih air putih hangat. "Bismillah glek glek"


Alya masuk ke kamar untuk istirahat. Belum sempat merebahkan badan perutnya kembali berontak.


"Ya Alloh, kenapa mules lagi?"


Alya berlari ke kamar mandi lagi, menyadari keadaan tubuhnya tidak beres, Alya mencari obat di kotak p3k.


"Oh Tuhan. Kenapa obat diarenya juga abis, apa yang harus aku lakukan?" gumam Alya kebingungan.


"Larutan oralit" pikir Alya mencari alternatif. Alya menuju ke dapur membuat larutan gula garam berharap dapat membantunya.


"Glek glek. Isssh rasanya aneh sekali" Alya membaringkan tubuhnya di sofa lagi, menyandarkan kepala berharap rasa sakitnya berkurang. Tapi tiba-tiba dia merasakan mual dan pusing


"Hoek hoek" Alya memuntahkan apa yang baru saja dia minum. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin dan kepalanya terasa pusing.


"Ya Tuhan, apa aku akan pingsan? Aku harus minta tolong ke siapa? Aku nggak mau mati sendirian di sini" guman Alya memegang kepalanya yang berputar.


Dengan berjalan sempoyongan dia berjalan menuju kamar dan mencari minyak angin, berharap sedikit membantu mengurangi pusing.


"Aku harus cari bantuan, apa aku ke IGD aja ya?" pikir Alya merasa dirinya tidak kuat lagi menahan pusing.


Dengan tertatih Alya memaksakan diri datang ke IGD. Kebetulan jarak ke rumah sakit dekat. Sesekali di jalan Alya berhenti memijat kepalanya menahan pusing.


Perjuangan Alya berhasil. Samar-samar tulisan pintu masuk IGD tertangkap di mata Alya. Alya mempercepat langkah sambil tersenyum berharap akan segera mendapatkan pertolongan.

__ADS_1


__ADS_2