
Alya menunggu suaminya sambil membaca buku tentang pernikahan. Sebagai perempuan berpendidikan Alya memang gemar membaca. Alya juga merasa pernikahanya yang tanpa persiapan dan masih berumur jagung, masih banyak kekurangan. Jadi Alya mencoba membeli buku best seller sebagai bekal Alya menjadi istri dan ibu.
Alya diam, pikiranya masuk ke dalam pesan yang disampaikan di buku itu. Alya merenungi segala perjalanannya. Mulai dari sebelum dia menikah sampai di titik sekarang. Meskipun awalnya Alya tidak menginginkan pernikahan ini, tapi endingnya Alya sendiri yang mengiyakan. Itu artinya apa yang disampaikan Bu Siti benar, Alya salah.
"Hemm, apa itu sebabnya Mas Ardi tidak memberikan kepercayaan ke aku? Apa Mas Ardi benar-benar tidak melihat perubahanku? Bahkan menyuruh Bu Siti mengikutiku? Kasian Bu Siti?" gumam Alya dalam hati.
"Ah tetap saja seharusnya Mas Ardi bisa bersikap dewasa. Kalau memang aku salah, seharusnya dia berbicara padaku. Kalau dia ingin aku tidak pergi lagi, seharusnya dia berubah, meluangkan banyak waktu untukku, segala sesuatunya didiskusikan. Berarti memang dia yang lebay" gumam Alya lagi berbicara sendiri.
"Buktinya katanya mau pulang cepat, nyatanya belum pulang. Dasar"
Alya membaca kembali kutipan buku yang dia pegang.
"Perkawinan baru dapat sukses bila terjalin antara dua jenis yang berbeda, tak ubahnya seperti arus listrik. Lampu baru akan menyala, jika arus positif dan arus negatif saling berhubungan. Lelaki dan perempuan tidak boleh menyamai sifat-sifat berbeda. Karena itu, di samping perempuan tidak boleh menyamai sifat laki-laki atau sebaliknya. Juga demi lancarnya komunikasi. Masing-masing harus menyadari perbedaan tersebut...." (Buku lentera hati).
Alya sadar, komunikasinya dengan suami sangat kurang. Waktu Ardi yang sedikit, ditambah sifatnya yang egois. Giliran Ardi ada waktu, Alya jaga di rumah sakit. Alya juga masih dipenuhi ego, hanya selalu mengikuti pikiranya. Alya hanya bertindak sesuai apa yang menurutnya benar. Padahal belum tentu benar. Alya berfikir, memang ada yang salah dengan mereka.
"Aku nggak mau mengulangi kesalahan yang sama. Harus yakin cinta Mas Ardi cuma buat aku. Tapi tetap saja menurutku Mas Ardi juga salah. Atau aku yang kurang mengerti? Apa benar kata Anya. Aku harus lebih agresif, agar mas Ardi percaya ke aku? Dan tidak mengekangku lagi?" gumam Alya lagi.
Bu Siti yang menunggu Alya, tidak ada kegiatan akhirnya tertidur sambil duduk di gazebo. Alya menatap Bu Siti dalam-dalam, Alya mengingat perkataan Bu Siti. Sebagai istri Alya harus menjalankan kodratnya, menjaga rumah tangganya dari apapun yang mengancamnya. Termasuk Alya harus memperbaiki komunikasi dengan suaminya.
Alya tersenyum kagum ke Bu Siti. Dengkuran halus Bu Siti seperti kalimat yang menjelaskan kalau dirinya lelah, sangat lelah.
Alya tersadar, bahkan Bu Siti rela mengabdi dan patuh ke keluarga suaminya karena percaya ke keluarga Gunawijaya orang baik. Tapi kenapa Alya sendiri sebagai Nyonya Gunawijaya tidak percaya. Alya menghela nafasnya, melihat jam di ponselnya. Ternyata sudah jam setengah 5.
"Sayang. Ibu janji ibu belajar untuk nggak marah-marah lagi sama ayahmu. Bantu ibu ya untuk bisa lebih bersabar, jadi istri yang baik untuk ayahmu, bantu ibu juga bisa perbaiki sikap ayahmu" ucap Alya dalam hati sambil mengelus perutnya. Lalu Alya membangunkan Bu Siti.
"Bu... Bu Siti" panggil Alya lembut menggoyangkan kaki Bu Siti.
Bu Siti pun terbangun dan membuka matanya.
"Iiya Non" ucap Bu Siti kaget
Alya tersenyum lembut menatap Bu Siti.
"Sudah sore. Makasih yah udah nemenin Alya. Masuk yuk" ajak Alya ke Bu Siti.
"Iya Non, maaf saya ketiduran"
"Nggak apa-apa. Ya udah Alya masuk duluan ya, mau mandi" tutur Alya ramah lalu berdiri membawa buku dan ponselnua masuk. Alya masuk ke kamarnya, mandi sholat dan berdandan.
"Huft... Oke Lian. Sikap Mas Ardi ke Ida dan Mia keterlaluan. Tapi aku juga salah. Aku nggak boleh mengulangi kesalahanku. Mulai sekarang aku harus percaya, bicara baik-baik, dari hati ke hati. Aku pasti bisa" Alya berbicara pada dirinya sendiri.
Alya bertekad, mulai sekarang Alya akan menikmati peranya sebagai istri. Alya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk suaminya. Buku, nasehat dan pesan Anya sangat berarti untuk Alya. Alya tidak mau suaminya tertarik pada perempuan lain apalagi laki-laki. Alya juga ingin agar suaminya betah di rumah.
Alya sudah menempatkan Ardi di hatinya dan memenuhi pikiranya. Sikap Ardi yang agresif dari awal mereka bertemu, membuat Alya terperangkap dalam kebiasaan yang berubah menjadi candu dan cinta. Rasa sakit dan curiganya yang berlebihan menjadi bahasa nyata, kalau Alya sangat mencintai suaminya.
Alya ingin memiliki Ardi seutuhnya. Hanya memperhatikan dirinya, dan tidak rela jika harus berbagi dengan yang lain. Hanya saja cara mengungkapkan Alya selama ini masih salah. Alya tidak bisa menjelaskanya dengan baik, hanya bisa mengungkapkan dengan cemburu dan berfikir pendek.
Alya duduk di hadapan cermin menyisir rambutnya. Memakai parfum, bedak dan lipstik di bibirnya. Alya juga berinisiatif sendiri memakai pakaian yang disukai suaminya. Memakai baju mahal yang Bu Rita belikan, yang selama ini nganggur terpajang di lemari.
Alya mengambil ponselnya. Berharap ada pesan yang masuk dari suaminya. Tapi ternyata nihil. Ardi memang selalu fokus jika sudah bekerja.
"Mungkin itu juga yang membuat mas Ardi sukses, pasti pekerjaanya banyak" gumam Alya berpositif thinking berusaha membuang prasangkanya.
Alya bediri dan berjalan ke balkon, memandang ke halaman istana Tuan Aryo yang luas. Tatapan Alya tertuju pada pintu gerbang megah di ujung halaman. Gerbangnya masih tertutup, satpam rumah juga masih asik mengobrol, menikmati peranya mendapat nasib mujur. Karena bekerja sebagai satpam di Istana Tuan Aryo seperti makan gaji buta. Hanya membukakan pintu sesekali gajinya tinggi.
"Apa ini yang Mama Rita rasakan setiap hari selama bertahun-tahun? Kesepian, dan bercumbu dengan kata menunggu?" gumam Alya dalam hati. Alya tidak tahu mau apalagi sendirian di kamar.
Langit mulai menghitam lagi. Lampu taman dan lampu halaman dinyalakan pelayan. Sayup-sayup suara adzan maghrib terdengar. Alya masuk ke kamarnya dan menutup pintu balkon. Lalu menunaikan sholat maghrib sendirian.
Mengusir rasa kesepian dan jengah menunggu, Alya mengambil Al-Qur'an. Membuka halaman surat yang dia suka. Alya mencoba berdamai dengan hati dan takdirnya, peran kewajiban dan prioritasnya sudah berbeda.
Semua angan Alya untuk marah-marah hilang, berganti semangat menyambut suaminya. Ardi janji akan mengajaknya ngobrol. Alyapun menerka-nerka sendiri, tadi pagi masih membahas Kak Farid. Alya sendiri merasa bersalah dan malu membohongi orang sebaik Kak Farid.
__ADS_1
"Kak Farid orangnya sangat tulus dan lembut. Dia pasti bisa mengerti. Dokter Gery saja bisa dewasa. Dia juga pasti bisa mengerti" gumam Alya lagi. Alya ikut memikirkan baiknya bicara dimana?
Tidak lama Alya duduk, gagang pintu bergerak. Dan pintu terbuka. Alya tersenyum lebar melihat siapa yang datang.
"Mas?" sapa Alya tersenyum dan berdiri mengibaskan rambutnya, berjalan menyambut suaminya, mencium tanganya dan mengambil tasnya.
"Ehm" Ardi berdehem sedikit heran melihat penampilan istrinya.
"Siapa ya?" goda Ardi ke istrinya karena malam ini Alya memakai lipstik dan berdandan.
"Ishh" jawab Alya manyun.
"Hehehe. Rupanya ada bidadari tersesat di kamar mas" ledek Ardi memegang dagu istrinya.
"Apaan sih?" jawab Alya menepis tangan suaminya.
"Kamu mau kemana sayang? Kok tumben pakai dress gaul gini? Belajar darimana? Siapa yang mengajarimu?" ledek Ardi lagi sambil melepas dasi dan kemejanya.
"Tau ah nyebelin. Ck. Nyesel aku!" cibir Alya malu. Alya ragu keputusanya mengikuti saran Anya benar atau salah.
"Iya, nggak, tapi beneran lhoh. Mas pangling, malam ini kamu cantik banget, sini mas cium, cup" jawab Ardi sambil mencium kening Alya yang berdiri cemberut.
"Berarti kemarin-kemarin nggak cantik?"
"Ya bukan, kamu selalu cantik. Tapi mas liat kamu kaya bukan kamu, ada apa gerangan?"
"Kok tanyanya gitu sih?" tanya Alya jengkel dan kesal.
"Ah, kenapa aku berfikir bodoh berdandan begini, apa aku terlihat murahan berdandan untuk suami sendiri? Suamiku benar-benar menyebalkan!" gumam Alya melihat kesal ke suaminya. Karena respon suaminya malah menertawai.
"Mas mau mandi, pilihin baju buat tidur ya. Mas juga laper belum makan" jawab Ardi tidak ingin membahas penampilan lagi.
Alya pun menyiapkan baju tidur untuk suaminya. Setelah mandi dan sholat mereka turun makan malam. Setelah itu mereka kembali ke kamar. Ardi duduk di sofa kamar, memegang ponselnya.
"Mas bales pesan Farid sayang, besok pagi mas ke Danau" bisik Ardi sambil memeluk Alya.
"Oh, Mas mau dateng juga?"
"Nggak ada mamah, jadi mas yang potong pita. Apa mau kamu aja yang potong pita?" tanya Ardi menciumi rambut Alya yang masih berdiri di depan kasur. Alya melepas tangan suaminya lalu duduk di kasur.
"Bercandanya nggak lucu" jawab Alya.
"Lhoh nggak lucu gimana? Akta notarisnya mau mas atas namain kamu"
"Tapi kan punya yayasan"
"Yayasan kan punya Mamah, nanti jadi punya kamu juga" jawab Ardi ikut duduk membuntuti Alya.
"Hemm"
Menyebut nama Farid Alya teringat cerita Farid, tentang Ardi dan perempuan bernama Intan. Alya menatap suaminya, ragu.
"Tanya nggak ya? Kalau Mas Ardi tanya tau darimana nama Intan, jawab apa aku? Aku nggak mau Mas Ardi cemburu aku jalan sama Kak Farid, tapi aku penasaran" gumam Alya dalam hati.
"Kok liatnya gitu? Mas ganteng yah?" tanya Ardi melihat Alya bengong.
"Mas udah bilang ke Kak Farid tentang kita?" tanya Alya spontan.
"Belum, mau sekarang?" tanya Ardi.
"Boleh, lebih cepat lebih baik Mas. Nggak enak backstreet sama sahabat sendiri"
"Hemm, mas telp atau sekarang ke danau? Dia lagi lembur, tapi mas nggak suka ngobrol lewat telpon"
__ADS_1
"Hemmm terserah mas aja"
"Mas kangen sama kamu seharian, mas sibuk. Besok aja lah," jawab Ardi memeluk istrinya lagi.
"Lian mau tanya mas"
"Tanya apa?"
"Banyak!"
"Hem, Mas siap jawab apapun"
"Kenapa mas berhentiin Ida dan Mia? Kenapa mas nyuruh Bu Siti buat buntutin Lian terus. Terus..." Alya berhenti berkata. Alya hendak tanya siapa Intan? Waktu di danau Farid sempat menyebut naman Intan. Tapi Alya bingung kalau ditanya denger dari siapa? Alya tidak biasa berbohong.
"Oh. Itu. Mas minta maaf sayang, pas kamu kabur dari mas, mas nggak bisa mikir apapun. Kemarin kan pas kamu di rumah sakit mas tawarin buat jemlut mereka kamu nggak mau" jawab Ardi.
"Tapi kan mas nggak cerita kalau mas berhentiin mereka. Mas itu keterlaluan tau nggak sih? Mas yang salah tapi marahnya ke orang. Harusnya mas instropeksi diri. Kenapa istriku bisa pergi"
"Cup" Ardi mencium bibir Alya gemas karena mulai mode on. "Iya udah stop. Mas salah besok mas suruh Arlan jemput dan nyuruh balik ke sini" jawab Ardi lalu memeluk Alya erat.
"Terus kenapa Bu Siti harus jadi satpam aku"
"He.. karena mas mau kamu tetap d rumah. Mas mau kerja dengan tenang, mas takut kamu pergi lagi"
"Mas bukan gitu caranya. Mas itu keterlaluan kalau begitu. Kasian Bu Siti, dia juga punya banyak kerjaan. Mas percaya kan sama Lian. Lian nggak mungkin pergi kalau Lian nggak disakiti. Kalau mau Lian tetap di sisi mas. Mas yang baiklah, jujur sama Lian. Perhatian, kasih kabar"
"Yaya mas salah. Mas nggak mau kamu kaya dia. Kamu punya mas yang berharga" jawab Ardi berubah ekspresi teringat masalalunya.
"Dia?" tanya Alya merasa tidak nyaman. Alya menelan salivanya, ada rasa sesak datang. Tapi Alya mencoba menepisnya.
Ardi mengha nafasnya menatap Alya tersenyum. Sekarang saatnya Ardi memberitahu Alya.
"Mas mau, kamu patuh sama Mas. Jaga diri buat mas. Kamu punya mas, cuma punya mas. Mas nggak mau kehilangan kamu"
"Dia siapa Mas?" tanya Alya masih penasaran.
"Intan" jawab Ardi.
"Siapa Intan" tanya Alya singkat.
"Dia masalalu mas. Dia tunangan mas dulu. Teman Mira juga"
"Oh" jawab Alya singkat.
Bibir Alya tercekat, ada rasa sakit di hati Alya saat Ardi menyebut nama mantanya. Sebenarnya Alya ingin bertanya banyak hal. Tapi entah kenapa rasanya kaya ada yang jatuh di dalam hatinya, ada kaya rasa panas dan sesak dan ingin segera mengganti topik. Menceritakan masalalu Ardi otak Alya berkelana membayangkan suaminya dulu mencintai orang lain, berdekatan. Itu sangat menyesakan.
"Apa kamu pernah merasa diikuti seseorang? Atau ditemuin seseorang?" tanya Ardi khawatir.
"Nggak"
"Dengerin mas ya. Pokoknya mulai sekarang, jangan dengerin apapun dari orang yang kamu tidak tahu kebenaranya tentang mas. Percaya sama mas, tanya ke mas apapun yang kamu dengar. Nggak boleh ambil keputusan sendiri apalagi pergi dari mas. Ngerti?"
"Emem" Alya hanya mengangguk polos.
"Ya udah yuk tidur" ajak Ardi tidak ingin mengingat masalalunya.
"Terus jadinya besok gimana?"
"Hemm" Ardi membaringkan tubuhnya di kasur sambil berfikir.
"Kok diam?"
"Kamu di rumah aja ya. Pasti besok rame, banyak orang. Mas juga nggak bisa jagain kamu, mas nggak mau kamu kecapekan"
__ADS_1
"Hemmm" jawab Alya cemberut ingin liat ke acara suaminya.