
Dengan susunan kata yang lembut dan teratur, meski sudah memasuki usia senja. Tapi semangat Bu Mirna masih berapi- api. Menularkan rasa cinta masakan pada anak didiknya, berharap mereka juga akan merasakan cinta yang sama pada resep warisan nenek moyang. Agar kelak nanti meski usia habis dimakan waktu, semua itu bisa terus dikembangkan dan dicintai.
Jika saat bersama Sinta, anak- anak panti diajarkan masakan- masakan modern ala kebarat- baratan, bersama Bu Mirna anak- anak diajari masakan sederhana. Memanfaatkan bahan- bahan hasil kekayaan nusantara di sekitar kita, tapi bisa memanjakan lidah yang menyentuhnya.
Sebagai pengenalan, menyikapi era banyaknya muncul kafe- kafe penyuka pedas. Materi pagi ini, membuat aneka sambal. Mulai dari yang paling sederhana sampai paling aneh. Bu Mirna bisa membuat puluhan macam sambal, tapi siang itu Bu Mirna hanya mengajari 3 macam sambal saja.
Saat praktek membuat sambal yang paling sederhana, sambal bawang, dari 25 siswa saja tercipta 20 rasa sambal yang berbeda, ada yang terlalu pedas, ada yang terlalu asin, ada yang kurang gurih. Dari situ anak- anak tertantang agar bisa membuat sambal yang hanya berbahan sederhana tapi bisa bikin nagih.
“Prang...” saat Bu Mirna berkeliling mencicipi sambel anak didik barunya itu, Bu Mirna menyenggol gelas di ujung meja.
“Astaghfirulloh, ada apa ini, kenapa aku ceroboh” gumam Bu Mirna, kakinya terkena pecahan gelas sedikit, tidak banyak, tapi membuat goresan kecil dan mengeluarkan darah.
Beberapa murid antusias dan membantu membersihkan.
“Eyang hati- hati” ucap salah satu murid kelas satu SMA yang bernama Dewi. Meski sebenarnya Bu Mirna masih cantik jika berdandan, Bu Mirna ingin muridnya memanggilnya Eyang Uti, karena sebentar lagi punya cucu dari Alya dan Ardi.
“Iya, Nak, eyang nggak apa- apa” jawab Bu Mirna.
“Biar Dewi yang bersihkan Eyang” ucap Dewi, lalu berdiri, berjalan mengambil sapu dan pengki.
Setelah bersih Bu Mirna, kemudian berniat mengakhiri, karena hari memang sudah siang.
“Anak- anakku, belajarnya sampai sini dulu ya, besok lanjut lagi”
“Yaah, besok udah mulai sekolah aktif Eyang” jawab anak- anak.
“Ya nanti kita buat jadwal sepulang sekolah ya”
“Iya, Eyang, besok diajarin yang sambal dabu- dabu dan sambal matah ya Eyang”
“Iya siap. Eyang masih punya berlemabar- lembar resep sambal kok” jawab Bu Mirna.
“Yeee” anak- anak tertawa riang dan semangat memasak.
Setelah berdo’a dan mengucap salam Bu Mirna menghampiri Bu Rita di kantor, Bu Rita sedang memeriksa laporan keuangan pembangunan.
“Sudah selesai Jeng, bagaiaman? Suka?” tanya Bu Rita.
“Alhamdulillah, mereka semua sholeh dan sholehah, sopan, pinter dan tertarik bersemangat” jawab Bu Mirna semangat sehingga aura mudanya seakan datang lagi, apalagi baru saja berkumpul bersama anak- anak SMA.
“Habis, ini ke salon yuk! Kita spa, kita facial” tutur Bu Rita centil mulai meracuni Bu Mirna.
“Ehm” Bu Mirna berdehem, merasa canggung dan minder, Bu Rita selalu baik dan menggratisi, Bu Mirna tidak mau dianggap sebagai besan yang jadi benalu, Bu Mirna juga ingin Alya mempunyai harga.
“Nggak lah Jeng, kita pulang saja ya!” jawab Bu Mirna menolak.
“Ngapain pulang? Alya bentar lagi jaga sore, suamiku paling pulang sore, Ardi jug iya. Kita seneng- seneng aja” rayu Bu Rita lagi.
“Tapi Jeng”
“Udah sih, kita tuh perlu tau, memberikan penghargaan ke tubuh kita, kamu selama ini sudh bekerja keras kan dengan tubuhmu itu? Ayo kita bersantai menikmati spa” ajak Bu Rita lagi.
“Aku nggak terbiasa, itu nggak perlu juga, cukup tidur nyenyak maka lelahku hilang”
“Nggak ada penolakan, pokoknya kita mampir ke spa dan salon langgananku” jawab Bu Rita.
“Jeng, tapi saya nggak enak, aku nggak mau terus- terusan ngrepotin kamu dan jadi benalu seperti ini” tutur Bu Mirna merasa tidak nyaman.
“Astaghfirulloh, oh my God, Mirnaa, kamu kok bisa mikir jorok begitu sih, kamu itu besanku, ibunya Ardi, kamu juga sabatku, apa kamu tau? Sebelum bertemu Alya, setiap hari dia pulang malam, bahkan dia main ke klub, dia selalu kasar, bahkan dia nggak mau tidur di rumah, liatlah dia sekarang? Bahkan semua hartaku tidak akan bisa membuat Ardi berubah, semua itu karena anakmu, apalagi jika nanti cucuku sudah lahir, kamu mau minta saham rumah. Pasti aku berikan, dan itu semua tetap tidak cukup, untuk membayar terima kasihku” tutur Bu Rita panjang kali lebar kali tinggi.
“Alya mencintai Ardi karena memang itu fitrah dari Alloh, tidak mengharap semua itu, apalagi anak Jeng, itu amanah, tidak boleh bandingkan dengan harta”
__ADS_1
“Ya iya tau, maka dari itu, cinta kalian yang tulus yang sudah diberikan ke kami, ijinkan aku juga melakukanya, bersenang-senanglah bersamaku, kamu pasti suka, aku akan tersinggung dan sakit hati jika kau menolaknya” jawab Bu Rita.
Bu Mirna masih diam.
“Memang kalau kau tidak ikut denganku kamu bisa pulang? Tau jalan ke rumahku?” tanya Bu Rita lagi, akhirnya Bu Mirna patuh.
Lalu kedua perempuan yang sudah berusia setengah abad itu masuk ke salon, menikmati pelayanan spa. Bu Mirna dan Bu Rita tidak tahu tentang kekisruhan dirumah besarnya.
****
Terkadang jika sesuatu jika belum dilalui akan terbayang seram dan menakutkan, tapi ternyata itu semua hanya karena pikiran kita saja yang sempit dan terlalu banyak menyerap hal negatif.
Ida yang sempat paranoid, berespon lebai dan menangis, kini tampak tenang, ceria dan semangat lagi. Di dalam ruang penyelidikan, Ida menjelaskan dengan gamblang dan apa adanya apa yang dia lakukan dan sangat cepat.
“Hanya seperti itu ya? Penyelidikan di kantor polisi? Padahal aku suka lho lama- lama ditanya, polisinya ganteng” ucap Ida ke Ati dengan centilnya.
“Ishh” teman- teman Ida hanya mendesis.
Sambil menunggu Alya dan Mia. Para pelayan Alya beserta satpam penjaga dan lain sebagainya yang berjumlah belasan orang tampak bercanda. Setelah ditanyai polisi mereka seperti melepas bebannya. Mereka malah asik bercanda, dan itung- itung mengambil jeda waktu dari pekerjaanya.
Berbeda dengan Mia, meski berusaha bersikap netral, tapi Mia berkeringat. Otot bibir dan pipinya seperti kaku. Dia yang sebelumnya sepasang dengan Ida menjadi ART termuda, tercantik dan teraktif, tiba- tiba menjadi murung, seperti ada beban di pundaknya. Mia memang bertarung, antara naluri dan pikiranya.
Farid pun memperhatikan satu persatu,karyawan Ardi. Dia tampak diam memainkan ponsel tapi sebenarnya memperhatikan.
“Lo liat deh nanti polisi yang namanya David, dia ganteng banget, kaya artis india itu lho” bisik Ida ke Mia, Mia mendapat giliran setelah Alya.
“He.. iya iya”jawab Anya berusaha bersikap biasa.
“Non Alya kok lama ya? Apa Non Alya juga betah ngeiatin itu polisi? Hihihi” ujar Ati.
“Hush ngarang kamu, Non Alya kan udah ada Den Ardi, kalau Tuan Muda denger bisa disembelih kamu!” tegur Ida
“Bukan Non Alya yang kebetahan di dalam, tapi polisi yang seneng ngeliatin Non Alya yang imut” bela Fitri.
Karena Alya yang memasak sambel tempenya, dia juga sebagai Nyonya di rumah itu, dia juga yang membawa barang bukti. Alya lebih banyak pertanyaan, diputar- putar diulang- ulang.
Meski Alya istri orang terhormat dan berkuasa, Alya menjadi warga negara yang baik. Dengan sesekali istirahat meminta minum dan mengelus perutnya yang mulai membesar Alya tetap menghargai polisi. Alya menjawab setiap pertanyaan dengan tenang lugas dan jujur.
Polisi yang ternyata jebolan sarjana hukum dari kampus Farid pun melakukan pekerjaanya dengan profesional. Meski dia tau siapa Ardi dan Tuan Aryo, mereka bekerja seperti biasanya, menguas tuntas keterangan sampai mendapatkan hasil pasti kalau Alya bukan pelakunya.
“Kami menikah dengan penuh cinta dan kebahagiaan, anak yang kukandung adalah buah cinta kami yang dirindukan semua keluarga besar, mana mungkin saya mau menggugurkan kandungan saya sendiri Pak. Kalian
juga tahu kan suami saya anak tunggal, sangat mungkin mereka menginginkan nyawa anak saya” tutur Alya menegaskan, sudah bosan dengan pertanyaan polisi yang membulat.
“Apa sebelumnya anda mempunyai masalah dengan karyawan di rumah anda terutama Pak Adi Waluyo?”
“Tidak, kan sudah saya katakan tadi, kok diulang lagi?" jawab Alya mlah mmarahi Polisi.
"Mang Adi adalah pekerja yang sangat rajin dan baik, mertua saya juga selalu menghargai karyawanya dengan baik. Semua urusan gaji sudah ada kepala pelayan yang mengelola. Kami juga jarang berinteraksi, semua berjalan baik- baik saja” jawab Alya lagi.
Polisi manggut- manggut, karena sudah kepalang di kantor polisi tanpa seijin Ardi dan mertuanya, Alya kemudian menyerahkan potongan puzzle kertas yang dia simpan agar, bisa meringankan dirinya. Bukan Alya yang menaruh racun.
“Kami perlu melihat cctv rumah anda Nyonya” ucap polisi.
“Yah, silahkan temui suami saya dan mertua saya, saya hanya menantu”
“Baik Nyonya”
“Aku lelah dan pusing, apa saya sudah selesai dan boleh pulang?” tanya Alya akhirnya.
“Terima kasih atas kerjasamanya” jawab Polisi mempersilahkan Alya keluar.
__ADS_1
Entah karena tegang, stress atau lama duduk. Alya menjadi pucat, Alya berjalan pelan keluar menghampiri Farid dan Anya. Karena pusing, dan kebetulan Farid berdiri reflek Alya meraih Farid sebagai pegangan.
“Minum dulu Al” ucap Farid lembut menyodorkan air mineral.
Farid yang tulus, kemudian memapah Alya duduk. Tapi berbeda respon dengan Anya. Meski Anya yang mengajak Farid membantu dan menemani Alya, tapi hati Anya terbakar. Rasanya sakit melihat Farid perhatian ke Alya. Anya kemudian diam mengalihkan pandangan.
Sementara Alya tidak peka, Alya duduk mengipas- ngipasi wajah dengan tanganya dan mengatur nafasnya. Alya cemberut, rasanya rindu sekali sekali dengan suaminya, di saat lelah seperti ini Alya ingin menghambur ke pelukan Ardi, bermanja dan mencurahkan semua kesalnya.
Farid pun mengerti perubahan ekspresi Anya laluFarid berpindah tempat dan duduk di samping Anya.
“Aa cuma nolongin Alya Neng, Neng mau Aa bantu duduk juga?” bisik Farid menggoda Anya.
“Apa sih?” jawab Anya tengsin mengakui cemburu. Farid berdehem dan senyum- senyum rasanya ingin menoleh Anya dan mencum pipinya dengan gemas. Anya lucu sekali dan sangat pecemburu ternyata.
Lalu sekarang giliran Mia bangun dan masuk ke kantor. Pandangan Farid tidak lepas dari Mia. Mia tampak panik dan depresi.
*****
Para perawakilan negara berjabat tangan, pengusaha besar seperti Tuan Aryo ikut berdiri menghormati kesepakatan pemimpin mereka. Setelah itu mereka menikmati hidangan yang disediakan.
Tapi berbeda dengan Ardi, Ardi melihat jam tanganya. Pokoknya hari ini Ardi mau mengantar jemput Alya jaga sore, jadi Ardi harus segera pulang agar bisa mengantar Alya berangkat kerja.
Ardi melirik jamnya, waktu bekerja Alya satu setengah jam lagi. Ardi harus berburu waktu segera pulang. Ardi pamit ke Tuan Aryo pulang lebih dulu tanpa makan. Ponsel yang disakuinya pun tak dia hiraukan.
“Pulang Pak, cepat ya, istriku menungguku!” ucap Ardi.
“Siap Tuan” jawab Pak Arlan.
Sekitar 20 menit mereka sampai di istana Tuan Aryo. Ardi sedikit menggerutu, satpam yang biasanya membukakan pintu tidak ada, Pak Arlan turun sendiri membuka gerbang.
Mereka masuk ke rumah, karyawan yang biasanya menyambutnya pulang tidak ada.
“Pada kemana sih?” tanya Ardi emosi.
“Kurang tahu Tuan” jawab Arlan.
“Ck” Ardi berdecak mulai merasa ada yang tidak beres. Lalu keluar satu karyawan Ardi yang tertinggal, karena dia bertugas sebagai perawat hewan peliharaan Tuan Aryo dan berangkat siang dia tidak ikut diinterogasi.
“Kok bisa rumah dikosongin?” tanya Ardi emosi merasa karyawanya penjaga rumahnya dan pelayanya parah dalam bekerja.
“Mereka ke kantor polisi Tuan”
“Kantor polisi?” tanya Ardi kaget dengan muka keluar tanduknya. Ardi megulum emosinya pikiranya mulai kacau, ada apa ini, kenapa tidak ada laporan ke dirinya.
“ Persisnya ada apa saya tidak tahu Tuan, tapi tadi polisi ke sini, kemudian semua penghuni rumah datang ke kantor”
“What, ngapain? Emang ada apa? Kenapa kalian patuh pada polisi, siapa yang mengijinkan polisi seenaknya ke rumahku”
“Nyonya Muda, Tuan”
“Istriku?” ardi semakin terhenyak dan menerka- nerka sendiri ada apa ini?
“Non Alya yang menginstruksikan kepada teman- teman pekerja untuk menghargai polisi, dan menunjukan kalau kita kooperatif dan patuh Tuan, jadi mereka semua pergi” jawab karyawan Ardi.
Ardi tidak menjawab dan hanya mengusap kepalanya kasar sambil berdecak.
Istri imutnya itu memang kelewat baik, polos tapi ceroboh, kenapa menghadapi polisi tidak menunggunya. Lalu Ardi datang ke Arlan dan berniat menyusul Alya.
****
Maaf tidak bermaksud memperlama, author hanya
__ADS_1
berusaha menceritakan dengan runtut agar waktunya tidak loncat, semoga tetep suka.