
Pagar gedung besar yang di halamanya terparkir banyak kendaraan yang bertuliskan ambulans terlihat. Ardi memperpelan laju kendaraanya dan menyalakan lampu sen kiri.
Canda tawa dan kehangatan pasangan yang sebentar lagi menjadi orang tua itu, perlahan membuyar. Kini keduanya saling mengatupkan bibir. Aura panik datang menjalar ke pikiran mereka masing-masing.
Entah kenapa begitu mereka sampai parkirkan, jantung Alya berdetak lebih keras. Ardi pun tampak dingin, lalu menatap Alya dengan tatapan teduhnya.
Dengan penuh perhatian Ardi membukakan pintu Alya, menunggunya turun dan mengulurkan tanganya. Kemudian jari jemari mereka saling terpaut, mengikatkan rasa saling menguatkan.
“Apapun yang terjadi, kita hadapi bersama” itulah bahasa yang tersirat meski bibir mereka tak berucap.
Dengan langkah menderu, diiringi deguban jantung yang mulai tak berirama. Mereka berdua menemui petugas resepsionist yang tampak cantik dengan seragam rapihnya.
Lalu Ardi menanyakan nama orang yang sebenarnya dia sayang, sekaligus dia benci, Mia, Teresa Famia.
“Tidak ada pasien bernama Mia, Tuan, tolong sebutkan nama panjangnya!” jawab resepsionist ramah.
“Duh” Ardi mengulum bibirnya dan berfikir, siapa nama panjang Mia. Ardi tidak sedetail itu memperhatikan pelayanya.
“Yang ada foto Mia nggak? Tau nama lengkap Mia nggak?” tanya Ardi ke Alya.
Alya menggeleng tidak tahu nama Mia. Lalu mencari foto dirinya saat di Aerim dulu. Mereka bertiga, Mia, Ida dan Alya kan sering menghabiskan waktu gokil-gokilan.
Meski majikan dan pembantu, saat di apartemen aerim mereka bersahabat seperti girl band.
Apalagi saat Ardi lembur dan Alya libur, mereka bertiga bebas menggila, nonton drakor seharian sampai matanya bengkak. Karaokean, negrujak sampai Mia terus merengek meminta diceritai tentang malam pertama Alya.
“Ini Mas” ucap Alya memberikan ponselnya menemukan foto mereka bertiga.
Entah kenapa, saat Alya melihat foto dirinya dimasalalu itu, seperti ada kilat yang menyayat hatinya. Mata Alya nanar seketika.
Foto itu menjadi saksi, menjadi kenangan yang tidak akan pernah hilang meski tak bisa kembali.
Foto yang tanpa suara, tapi bisa mengisahkan banyak kata dan cerita. Foto yang ketika orang melihatnya bisa memahami meski tanpa harus mendengarnya.
“Kenapa harus Mia?” batin Alya menahan sakit, masih tidak terima kalau orang yang menguntitnya, mengancam dan berniat membunuhnya adalah Mia.
“Ini Sus, pasien ini, dia dibawa kesini 30 menit yang lalu, dari lapas ....” tutur Ardi segera menunjukan foto Mia ke resepsionis.
Resepsionis kemudian mengingatnya dan mencocokan rekam medis di depanya. Itu data pasien yang datang di waktu yang sama seperti yang Ardi perkirakan.
“Teresa Famia? Alamatnya.. usia 20 tahun” tanya Resepsionist.
“Ah iya” jawab Ardi mengangguk.
Mendengar nama panjang Mia yang ternyata begitu indah, Alya melongo. “TF, Teresa Famia, nama yang cantik, kenapa aku baru tau?”
“Oh ya, beliau masih di ruang observasi” tutur petugas resepsionit memberi jawaban dan mengarahkan ruanganya.
“Terima kasih” jawab Ardi mengangguk dan langsung merangkul Alya mengajaknya bergegas mencari Mia.
Meski sempat terlintas ingin mmbunuh Mia, dan meski tidak ada hubungan darah. Tapi dalam lubuk hati kecil Ardi ada rasa sayang ke Mia.
Bahkan Ardi juga memberi pilihan ke Faisal, mencabut tuntutan Mia atau membiarkan Mia dihukum. Ardi sudah membebaskan dan menyerahkan ke Faisal.
Mia adalah salah satu wajah yang yang ikut memenuhi tayangan perjalanan hidup Ardi di masa lalu.
Meski hampir tak pernah ngobrol, Ardi dan Mia hidup selama bertahun- tahun di dalam satu pagar yang sama meski berbeda kasta. Tentu saja Ardi peduli. Apalagi setelah Ardi tahu alasan Mia, Mia ternyata hanya diperdaya.
Mereka sampai di ruangan khusus. Di ruang itu hanya ada dua tempat tidur yang kebetulan satunya kosong dan satunya Mia. Perawat tampak sedang memasukan injeksi ke selang karet sambungan infus yang tertempel di tubuh mungil perempuan yang tampak imut itu.
Seketika hati Alya seperti ditimpuk-timpuk batu kecil tapi banyak, meski sedikit- sedikit tapi sakitnya lama.
Perasaan Alya yang sensitif seperti dikerok- kerok semakin tipis dan begitu ngilu. Alya tau apa alasan alat- alat yang terpasang di tubuh Mia harus digunakan
Alya juga paham, apa arti angka- angka yang muncul di layar alat itu.
“Mia” panggil Alya mendekat dan tetap tidak tega melihat Mia berbaring tak berdaya. Semua benci dan sakitnya hilang berubah menjadi rasa kasih yang dalam.
Ardi hanya diam menatap tanpa kata.
“Mia ini aku, Alya, Nona mu, sahabatmu, bertahanlah Mia, Aku tahu kamu kuat” bisik Alya lalu menggenggam tangan Mia.
__ADS_1
Alya menatap ke layar monitor beberapa angka yang tadinya berjumlah sedikit mulai naik. Alya tersenyum, berharap obat- obatan yang baru saja dimasukan suster mulai bereaksi.
“Mia... kenapa bisa seperti ini? Bangunlah! Bertahanlah! Bukankah kamu bilang kamu ingin mengasuh putra putriku nanti, mendengar tawanya? Penuhi janjimu"
"Aku memaafkanmu, aku tahu, kamu ingin anakku tumbuh dengan sehat kan? Kamu tidak mungkin mau melukainya kan? Aku yakin kemari itu kamu hanya bercanda dan bermain-main kan? Itu bukan kamu kan?”
"Kamu berjanji menjadi sahabat setiaku. Menjaga anak-anakku. Aku percaya itu"
Tanpa mengingat apa yang terjadi, tanpa membuat kerangka dan membangun pikiran normalnya, Alya berbicara asal dan semaunya. Semua katanya keluar begitu saja. Ya itulah isi hati Alya yang sebenarnya.
Tiba- tiba, air mata Mia keluar membasahi sudut mata Mia yang masih terpejam. Seperti magnet alam, air mata Mia yang terlihat di pandangan Alya memancing kelenjar air mata Alya juga untuk keluar.
Mereka berdua kemudian sama-sama menangis. Seperti bersua meski tanpa balas kata. Tapi seakan mereka saling memahami apa yang dirasa.
“Hikks, hiks, kamu mendengarku? Mia aku memaafkanmu, teruslah hidup menjadi keluargaku!"
"Aapun alasanmu melakukan itu, berjanjilah, kamu akan menjaga anakku, bertahanlah Mia!” bisik Alya lagi sambil sesenggukan sangat berharap angka-angka di layar monitor terus bertahan stabil.
Alya menatap wajah Mia, meski terpejam dan terpasang banyak alat, air mata Mia masih terus menetes.
Alya tidak tahan melihatnya, Alya sudah tidak bisa berkata- kata lagi. Seiring keluar airmatanya, seakan mengunci tenggorokan Alya, rasanya sesak tidak tau harus berkata apalagi.
Bahasa termudah bagi wanita dalam mengungkapkan perasaanya memang hanya menangis. Itu memang ciri khasnya.
Alya menunduk lama hanyut dalam isakanya sambil memegang tangan Mia. Yang di situ juga terpasang banyak alat.
Alya melirik ke bed set monitor. Kenapa angka- angka yang tadi stabil kini berubah menjadi turun lagi. Alya bangun membetulkan jilbabnya dan mengelap air matanya.
“Mas panggil dokter!” seru Alya mengetahui apa arti angka itu.
Bahkan alarm hight alert dari alat itu berbunyi keras. Deguban jantung Alya ikut semakin keras memompa.
Lalu Alya menggenggam tangan Mia kencang.
“Mia, dengarkan aku, aku sayang kamu, aku menyayangimu sebagai adiku, kau tau kan aku ingin punya saudara? Bertahanlah Mia, bertahanlah, please bertahanlah” bisik Alya lagi, sambil melirik ke bed set monitor.
Angka yang menunjukan saturasi oksigen naik turun tidak beraturan. Alya sempat tenang saat naik lagi. Tapi tiba- tiba turun drastis, bahkan nadi tensi dan respirasinya ikut drop. Hal itu membuat Alya semakin putus asa dan hanya bisa menangis.
Entah apa yang akan terjadi. Tapi hanya itu kalimat pamungkas yang langsung keluar di otak Alya sebagai ujud kasih sayangnya pada Mia.
Berharap pesan kata itu bisa menolong Mia. Entah untuk kembali sehat atau bekal dalam perjalanan abadi Mia.
Saat Alya terus berbisik lembut. Dokter yang dipanggil Ardi langsung datang bersama dua asistenya.
Secepat kilat para dokter mengambil tindakan saat mendengar alarm yang berbunyi keras dan melihat deretan angka yang tidak stabil.
“Siapkan ET!” ucap dokter yang berjaga, berupaya melakukan pertolongan terakhir untuk Mia.
Asisten dokter itu dengan cekatan mengeluarkan alat tempur mereka. Tidak ada yang kurang. Alya melihat teman sejawatnya bekerja sesuia SOP, begitu lincah.
Bahkan dalam benak hati Alya, Alya ingin menirunya, belajar dari dokter yang terlihat lebih hebat dan lebih senior darinya. Alya percaya semua sudah bekerja maksimal untuk menolong Mia.
Tapi, harapan tetaplah harapan, tidak ada yang bisa memastikan, apakah berpihak pada kita atau dengan jahat meninggalkan kita tanpa perasaan. Meski kita sudah memupuknya banyak.
Angka di bed set monitor Mia tidak berubah. Bahkan belum sempat dokter itu menyelesaikan tugasnya. Angka- angka itu kompak menunjukan zero, garis panjang, nol.
“Hagh... hagh....Mia tidak, Mia” tangis Alya pecah, sampai sudah tidak mengeluarkan suara lagi. Alya limbung dan Ardi langsung meraihnya, merengkuh bahu Alya dengan tangan kekarnya.
“Miaa... hiks. Miaaa” isak Alya lirih dalam dekapan Ardi. Mereka menyingkir ke pinggir membiarkan dokter dan perawat melakukan pertolongan terakhir dan kemudian melakukan EKG untuk memastikan.
“Tanggal 28- 11- 20..., pukul 07. 40 WIB, pasien atas nama Nona Teresa Famia, dinyatakan meninggal” tutur dokter itu mendeklarasikan, waktu dan kepastian kepulangan Mia menghadap sang pencipta.
Ya. Mia pulang ke dekapan Tuhan yang Maha mengasihi. Semoga Mia di sana mendapatkan kehidupan abadi dengan penuh cinta dan kasih.
“Innalillahi wa inna ilaiahi rojiun” lirih Ardi mencoba tetap tegar.
Tapi warna matanya tetap memerah. Ardi merangkul Alya kuat.
“Tidaak Mas, Mia nggak boleh pergi..., Mia...hiks hiks” Alya terus menangis meratapi kepergian Mia.
Ardi terus merengkuh istrinya. Tubuh Alya melemas tak berdaya, rasanya kepalanya seperti berputar. Alya hanya berdiri bertumpu pada tubuh kekar suaminya.
__ADS_1
“Yakin ini sudah takdirnya, doakan dia Sayang, Mia akan bahagia di sana” lirih Ardi menguatkan istrinya.
Ardi laki- laki, apapun yang terjadi, dia pelindung Alya tameng dan penenangnya. Ardi tetap pada diri dan pandanganya yang tenang.
Para perawat dan dokter membereskan jenazah Mia. Memberikan waktu ke Alya dan Ardi sejenak.
“Anda wali almarhumah?” tanya Dokter menghampiri Ardi.
"Iya. Kami keluarganya" jawab Ardi.
“Kami ikut berduka cita. Biar petugas kami melakukan perawatan jenazahnya. Bapak dan ibu, mari ikut kami” ucap Sang Dokter pelan.
“Baik” jawab Ardi mengangguk.
Lalu Ardi mengajak Alya yang bersandar pada rengkuhanya.
“Kita temui Dokter ya Sayang, biar segera kita urus Mia” bisik Ardi.
“Miaaa...” ucap Alya begitu lirih dan lama-lama tangisan Alya tak terdengar. Tiba- tiba Ardi merasa tubuh Alya sangat berat.
“Sayang..” panggil Ardi panik menoleh ke Alya sudah memejamkan matanya.
Rupanya Alya pingsan. Dengan wajah gusar Ardi berteriak meminta pertolongan. Para perawat langsung menolong Alya. Sambil menunggu Alya ditangani, Ardi menelpon keluarganya.
****
Rumah Tuan Aryo
“Astaghfirulloh, Innalillahi”
Bu Rita dan Bu Mirna langsung kaget mendengar penuturan Tuan Aryo, dan.
Praang
Seorang pelayan yang hendak membereskan piring menjatuhkan barang itu. Para majikan langsung menoleh ke arahnya.
Air mata Ida mengucur deras, saat tidak sengaja mendengar sesuatu yang tidak bisa diterimanya dengan akal sehat.
Entahh sejahat apapun Mia. Dan entah apa saja yang sudah dilakukan Mia, semua masih mengingat Mia, seorang Mia yang dulu.
Hanya Ardi dan Alya yang menyaksikanya dengan kedua mata telanjangnya sisi buruk Mia. Ida tidak bisa menahan pedih kehilangan sahabatnya, dan teman tidurnya selama bertahun-tahun.
Mendengar piring jatuh , Bu Siti dan pelayan lain langsung antusias mendekat. Karena sudah berkumpul, Tuan Aryo mengumumkan sekalian kepergian Mia. Seketika tangis pecah memenuhi salah satu ruangan di rumah Tuan Aryo pagi itu.
“Kita akan cari tahu penyebabnya. Segera saya akan kesana. Persiapkan segala keperluan pemakaman” ucap Tuan Aryo memberi perintah lalu mengajak Bu Rita ke rumah sakit.
Siapun Mia sebenanrnya. Tapi saat ini wali Mia dan keluarganya adalah Tuan Aryo dan keluarga Gunawijaya.
Tuan Aryo pun dengan lapang dada bersedia mengurus segala keperluan pemakaman dan penghormatan terakhir Mia.
“Jeng, saya di sini saja, menyiapkan di rumah” tutur Bu Mirna tidak ikut ke rumah sakit.
“Iya nggak apa- apa” jawab Bu Rita lemah.
“Tuan Nyonya, apa saya boleh ikut?” tanya Ida nyemplong memberanikan diri. Ida ingin melihat sahabatnya di hari terakhirnya.
Bu Rita mengangguk. Mereka kemudian berbagi tugas.
Tuan Aryo mendengar Alya pingsan dari Ardi. Mengingat Alya sedang hamil, Tuan Aryo menyuruh Ardi mengurus Alya.
Dan Tuan Aryo beserta anak buah mengurus keperluan upacara pemakaman Mia. Termasuk mencari tahu apa yang terjadi dan mengusutnya.
*****
Di sebuah rumah kontrakan kecil, kakek, anak dan cucu sudah rapih berdandan.
“Apa dia mau menemui ayah ya Tan? Ayah kok malah jadi kepikiran, kasian dokter Alya, kalau gara- gara kita, Ardi malah memarahi istrinya”
“Dokter Alya bilang akan ijin ke Ardi, dan akan merayu Ardi agar mau menemui kita. Intan yakin Ardi akan mengerti istrinya, cinta Ardi ke Alya begitu besar, mereka akan selalu berbaikan, kan papah yang bilang ke Intan. Niat kita baik, harus yakin, jangan berfikir buruk”
“Ya. Ayo berangkat!”
__ADS_1