Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
200. Menikah


__ADS_3

Setelah diberitahu Tuan Bayu. Mamah Mira, Nenek, Tante dan sepupu Mira syok dan terjadi kehebohan di rumah Mira.


"Jadi kita nggak jadi batalin acara Pah?" tanya Mama Mira.


"Nggak Mah, malah kita mau langsung dapat anak laki!" jawab Tuan Bayu bangga.


"Oh dokter nakal itu? Sungguh akan jadi menantuku?" tanya Mama Mira lagi yang sudah tau kisah cinta anaknya semasa SMA dulu.


"Mamah udah kenal?" tanya Tuan Bayu.


"Bagaimana tidak kenal. Dia laki-laki yang selalu membuat anakmu menangis setiap pulang sekolah. Sampai Mamah pusing bagaimana merayu anakmu mau makan?" tutur Mama Mira mengingat Mira sering dibuat patah hati sama Gery.


"Mamah!!" seru Mira malu ke keluarganya, kenapa diingatkan.


"Oh jadi, pacar kakak, calon suami kakak. Anak band yang dulu Kak Mira sering curhat di diary itu?" celetuk sepupu Mira.


"Iyaah" jawab Mira tidak menatap menunjukan wajah malu.


"Benarkah Nak, anak Si Cungkring itu, teman SMA mu yang kamu idolakan Nak? Wah papah harus kasih pelajaran nanti" tanya Tuan Bayu baru tahu.


"Papah dia Dokter Nando, calon mertua Mira Pah, masa dikatain gitu" jawab Mira membela mertuanya.


"Lihatlah Mah anak kita, belum jadi nikah dia sudah membela mertuanya dibanding kita" jawab Tuan Bayu jeoleus.


"Lhoh Om kenal sama caloh mertuanya Kak Mira?" tanya Sepupu Mira.


"Musuh Om pas kuliah"


"Waaah, keren dong kisahnya Kak Mira. Mau aku buat cerita novel ah" celetuk sepupu Mira.


"Iiish apa sih? Nggak usahlah" jawab Mira malu.


"Ya sudah jangan pada ribut. Kalau udah fiks Mira mau nikah malam ini, kita siap-siapin semuanya" lerai Oma Mira.


"Ah iya benar" celetuk Tante Mira akhirnya buka suara, setelah dari tadi diam menyimak.


"Tapi kan ini nikah siri, terus abis nikah Mira tinggal dimana?" tanya Mama Rita mulai rempong.


Semua ikut memperhatikan pertanyaan Mama Mira yang seharusnya dipikirkan nanti.


"Mira ke rumah sakit Mah" jawab Mira.


"Ke rumah sakit? " tanya keluarga Mira kompak belum tahu keadaan Gery.


Masa abis nikah ke rumah sakit, harusnya kan ke hotel atau ke rumah salah satu mempelai.


"Gery kan masih harus lanjutin perawatan untuk pemulihan" jawab Mira memberitahu.


"Whats? Gue nggak salah denger kan? Berarti Kak Gery masih sakit" tanya sepupu Mira.


"Iya. Kan tadi papah udah cerita daripada batalin undangan?"


"Ya, yang penting uang om nggak kebuang sia-sia. Om sama tante nggak malu. Anak Papa jadi nikah" jawab Tuan Bayu menimpali.


"Ooh gitu".


"Ya udah kita siap-siap buat acara nanti, apa aja yang mau dibawa ke hotel?" ucap Mira.


"Ya benar kalian siap-siap. Biar papah hubungi penghulunya, untuk di hotel semua udah diatur kok" jawab Tuan Bayu.


"Yes. Jadi nih kepake kebaya gue, gue harus dandan maksimal nih" ucap sepupu Mira senang.


Lalu keluarga Mira dengan suka cita mempersiapkan acara tunangan yang berganti menjadi pernikahan siri.


****


Farid dan Anya


"Ini butiknya A'?" tanya Anya di depan gedung dua lantai ada logo Gunawijaya.


"Iya, turun yuk!"


"Ini punya Kak Ardi?" tanya Anya mengagumi kemewahan butik Gunawijaya.


Halamanya luas, terparkir beberapa mobil mewah dan beberapa motor pengunjung. Bangunanya juga terlihat estetik dan megah.


"Iya, lebih tepatnya punya yayasan Gunawijaya. Karena anak Tuan Aryo Ardi aja, ya ini akan jadi miliknya" Farid menjelaskan.


"Waah, Alya punya butik sebagus ini, tapi penampilanya sederhana banget ya?" ucap Anya sekarang gantian dia sendiri yang membahas kebaikan Alya.


"Ya bagus, perlu dicontoh, nggak semua orang harus memamerkan kekayaanya" jawab Farid bijak.


Farid sendiri keluarganya juga sangat kaya, meski masih lebih kaya Ardi. Keluarga Farid punya universitas yang akreditasinya tidak diragukan.


"Iya ya" jawab Anya kali ini setuju, Alya memang low profil.


Meski sudah menjadi penguasa hati sang pewaris, Alya tetap menjadi Alya apa adanya.


"Ya udah ayok turun!" ajak Farid ke Anya.


"Anya pengen ke kamar mandi A'"

__ADS_1


"Tuh kamar mandinya sebelah situ!" jawab Farid menunjukan arah kamar mandi di sebelah kiri parkiran.


"Oke. Aa masuk duluan geh, Anya nyusul!" ucap Anya


"Siap!" jawab Farid


Farid dan Anya turun, Farid masuk ke butik terlebih dulu. Sementara Anya ke kamar mandi.


Farid langsung menuju stand jas. Memilah satu persatu jas yang terpajang rapih. Mencari dan menyesuaikan ukuran dan selera Gery.


"Kak Farid" panggil perempuan cantik berambut pirang dengan menenteng tas mahal.


Farid menoleh ke sumber suara.


"Sinta, di sini juga rupanya" jawab Farid datar.


"Kak Farid nyari apa?" tanya Sinta.


Belum Farid menjawab Intan keluar dari ruanganya.


"Wah kedatangan tamu besar sepertinya" sapa Intan berlagak berkuasa. Padahal kalau Dara udah lulus kuliah, mending dicut aja si Intan.


"Kalian masih sama ya!" ucap Farid tersenyum getir, menatap dua perempuan di depanya itu.


"Selamat datang Farid, ada yang bisa saya bantu? Tangan kanan bos ada di sini? Kenapa nggak kasih kabar" sindir Intan dengan nada menyebalkan.


Farid hanya mendengus kesal mendengar sapaan Intan


"Bisa-bisanya Ardi terima dia di sini lagi sih" gerutu Farid dalam hati.


"Gue mau nyari jas buat Gery, nggak usah lebay" jawab Farid malas menanggapi Sinta dan Intan


"Gery?" tanya Intan penasaran.


"Oh iya, kalian belum diundang ya? Gery sama Mira nikah nanti malam" tutur Farid lagi.


"Tunggu tunggu, lo nggak salah kan Rid?" tanya Intan berbahasa santai dengan Farid, karena mereka memang seumuran.


Intan dan Sinta belum sempat melihat berita. Jadi dia tidak tahu berita tentang Tito.


"Lo nggak tuli kan?" jawab Farid sarkasme.


"Bukanya Mira mau tunangan sama Tito nanti malam?" tanya Intan percaya diri.


Tito dan Mira kan udah pesan batik dan kebaya couple ke Intan.


"Lo dateng aja biar percaya. Acara masih di tempat yang sama kok!" jawab Farid tenang.


Sementara Intan menatap menelisik. Siapa perempuan ini.


Sinta yang sudah pernah bertemu dengan Anya dan mengetahui siapa dia langsung memerah. Dadanya bergemuruh dan tidak terima.


"Perempuan ini lagi, jadi Kak Farid benar-benar akan menikah. Jadi sungguh tidak ada harapan lagi buat gue?" batin Sinta mengepalkan tangan dan menahan bara panas di dadanya.


"Udah selesai Neng?" tanya Farid ramah ke Anya.


Anya berjalan kikuk, memandangi kedua perempuan cantik yang tampak lebih dewasa darinya.


"Ini kan perempuan sundel yang waktu itu pegang-pegang Aa Farid" batin Anya saat mereka saling bertatapan.


"Udah A" jawab Anya mendekat ke Farid.


"Iyuuuh panggilanya Aa, bete banget sih, pengen muntah gue" batin Sinta dalam hati


"Adek lo Rid?" tanya Intan sinis.


Farid memang punya adik perempuan tapi sedang kuliah di luar negeri.


Mengetahui dirinya ditatap sinis ke kedua perempuan itu. Dengan berani Anya berinisiatif meraih tangan Farid, memasukan jari jemarinya sehingga saling menggenggam.


Mendapat perlakuan itu Farid sendiri kaget. Untuk yang kedua kalinya Anya agresif, semoga sih tidak berasalan untuk abahnya. Tapi memang Anya merasa terancam.


Farid pun menyambut hangat tangan Anya. Farid ikut menggenggam erat tangan Anya.


"Dia caloh istriku, kenalin Dokter Anya" jawab Farid percaya diri.


"Hai Kak, saya Anya" jawab Anya memperkenalkan diri.


Tatapan Sinta tidak lepas dari tangan Farid. Untuk yang kedua kalinya dunia Sinta dibuat hancur luluh berantakan. Kini percuma mengikuti apapun yang Intan katakan. Sinta sudah game over.


Sementara Intan menjawab perkenalan Anya dengan senyum masamnya.


"Intan"


Sinta yang dibakar cemburu dan sakit hati tidak mampu menjawab dan membendung rasa sakitnya. Tanpa Anya berkata apapun. Tepat di depan Anya dan Farid, air mata Sinta lolos. Sinta langsung berlari keluar butik, meninggalkan Farid, Anya dan Intan.


Intan yang juga merasa akan kalah, nyalinya menciut. Dia hanya menelan salivanya dan kemudian pergi menyusul Sinta. Rupanya sore itu mereka berdua memang janjian mau pergi ke club.


Anya dan Farid sendiri menatap heran ke Sinta dan Intan.


"Sebenarnya mereka siapa sih A'? Kok dia nangis?" tanya Anya tanganya masih digenggam Farid.

__ADS_1


"Penggemarnya Aa" jawab Farid dengan senyum nakalnya mengeratkan genggaman tangan Anya. Meski baru bisa menggenggam tangan, tapi Farid sangat senang.


"Oh" jawab Anya berusaha melepaskan tanganya.


"Duh kenapa gue jadi agresif gini sih?" batin Anya menyesal menyadari dirinya menempel pada Farid.


"Cantik kan?" ledek Farid mempererat tanganya lagi.


"Apa sih? A" tanya Anya malu-malu dan melepaskan tanganya.


"Jangan dilepas, begini kan enak dilihat" jawab Farid lagi mulai nakal.


"Apa sih, Anya mau lihat-lihat kebaya" jawab Anya melepaskan dan pergi karena wajahnya sudah memerah karena malu.


Lalu mereka berdua berbelanja di butik Ardi. Anya yang jatuh cinta ke produk butik, yang tadinya tidak ingin beli malah ngeborong pakaian. Kemeja untuk bekerja, kebaya dan beberapa gamis panjang.


Mungkin nanti Anya akan ikut-ikutan Alya memakai jilbab. Sekarang nyicil beli baju panjang. Soalnya yang terpajang di butik cantik-cantik semua.


Dan Farid pun mengeluarkan kartu saktinya membayar jas nikah untuk Gery, pakaian couple dan baju pilihan Anya.


****


Bu Mirna tiba di stasiun tujuan. Bu Mirna segera menelpon putrinya minta dijemput dan ingin segera melihat menantu nakalnya yang katanya lagi sakit.


Bu Mirna sangat khawatir. Bayangan Bu Mirna Alya sedang hamil muda, suaminya dirawat, pasti sangat menyedihkan.


Tidak tahu saja Bu Mirna, anak dan menantunya berada dalam keadaan baik-baik saja malah mau kondangan.


"Ibu udah sampai stasiun Mas" tutur Alya ke suaminya yang sedang tiduran manja di paha Alya.


"Telpon Mamah aja. Pak Rudi yang mau jemput kok" jawab Ardi enteng.


"Berarti ibu pulang ke rumah?"


"Iya"


"Ibu kan mau jenguk kamu Mas" jawab Alya membelai rambut suaminya lembut.


"Kasian ibu kalau kesini. Abis magrib kan kita keluar dari sini. Abis acara Gery, mas juga mau langsung ikut Farid"


"Terus ngapain ibu kesini? Tujuanya kan ketemu Mas"


"Besok pulang dari Bogor juga ketemu" jawab Ardi enteng.


"Ish nggak mau nemuin ibu dulu?" tanya Alya manyun.


"Nggak, biar ibu istirahat di rumah. Besok kita ajak ibu piknik, dah mana hapenya, sini Mas telpon Pak Rudi" jawab Ardi mengambil ponsel lalu menghubungi Pak Rudi.


Setelah memastikan Pak Rudi siap menjemput Bu Mirna. Alya dan Ardi kembali menikmati waktu bersamanya menunggu malam.


Pak Arlan kemudian datang membawakan seperangkat baju kondangan dan tongmat kruk pesanan Ardi.


Pak Arlan juga membawa salah satu mobil Ardi yang sudah disetting agar bisa dinaiki dengan cara berbaring. Jadi Ardi bisa bepergian dengan nyaman meski belum sembuh sempurna.


Waktu terus berlalu. Adzan maghrib tiba. Alya dan Ardi sholat berjamaah bersama di ruangan. Setelah itu mereka berdua bersiap-siap kondangan.


Meski berdandan dari rumah sakit, Alya berdandan maksimal. Menggunakan gamis berwarna emas dengan hiasan renda dan payet manis.


Ardi menggunakan batik dengan warna senada. Itu semua produk sentuhan tangan Dara.


Di tempat lain, Farid sudah siap di depan kos Anya. Saat di mobil perjalanan ke butik, Anya dan Alya sempat komunikasi memakai baju warna apa. Jadi mereka menggunakan warna senada.


Anya juga menelpon Dinda untuk ikut, sayangnya Dinda kebagian jaga sore, dan tidak ada yang menggantikan.


Kasian sekali sebenarnya, Dinda selalu ketinggalan. Tapi mau bagaimana lagi, resiko jadi dokter magang. Dinda juga tidak sesultan Ardi.


Sementara di hotel tempat diselengarakan acara. Bunga-bunga mahal sudah tersusun rapih menghiasi pelaminan, memagari karpet dan tersaji di meja-meja tamu undangan ataupun tempat makanan.


Lampu-lampu hias yang indah tampak menghiasi ruangan menambah kesan meriah dan mewah. Mama Mira yang memesanya, dan ingin acara anaknya tidak memalukan.


Meski undanganya hanya kerabat dekat dan rekan kerja Tuan Bayu. Tapi Nyonya bayu mempersiapkan maksimal. Nama mempelai prianya pun sudah diganti.


Meski baru tadi pagi mengabari. Tapi WO sewaan Mama Mira memang profesional. Kini di dinding pelaminan, nama mempelai sama-sama di awali dengan gelar. dr., dan di belakang Sp. A dan Sp. An. Gery dan Mira memang serasi.


Di salah satu ruangan di hotel bintang lima itu. Mira duduk menatap cermin dengan hati yang berbunga. Para perias pun mengayuhkan kuas magicnya. Hendak menyulap Mira menjadi putri cantik untuk Gery.


****


"Lo yakin baik-baik aja" tanya Farid ke Gery.


Ardi yang memutuskan memakai tongkat kruk bersedekap menyandarkan tubuhnya, memilih melihat saja Farid mendandani Gery.


"Udah lo berisik tanya terus, mana parfumnya" ucap Gery tidak tahu terimakasih asal perintah ke Farid.


Malam ini Farid mendadak jadi tukang rias penganten pria. Sementara Anya dan Alya menunggu di depan ruang rawat Gery.


"Makanya lo mandi. Baru kali ini gue nemuin orang mau nikah nggak mandi" ucap Farid mengatai Gery.


"Udah yang penting nikah. Lo nggak liat kaki gue masih di perban. Emang lo mau mandiin gue" jawab Gery tidak terima.


Meski sambil marah-marah Farid tetap setia mendandani Gery. Dan kini Gery sudah siap berangkat ke hotel.

__ADS_1


__ADS_2