
****
Jakarta
Sebagai pria yang serius menerima perjodohan. Setelah pulang dinas, Tito gencar mendekati Mira. Apalagi waktu pernikahan yang dijanjikan keluarga Mira tidak lama lagi. Setelah WKDS (masa pengabdian Mira sebagai spesialis) selesai. Masa wkds Mira hanya tinggal dua bulan lagi.
Selesai sholat maghrib Tito bersiap ke rumah Mira. Sementara Mira bersiap memenuhi undangan atasanya. Entah apa yang akan disampaikan Dokter Stefan, itung-itung sebagai perpisahan sebelum Mira meninggalkan RS Pemerintah itu, Mira harus datang.
"Thok thok, sayang ini Mamah" Mama Mira menyela Mira saat Mira sedang berdandan.
"Iya Mah, masuk aja pintunya nggak dikunci" jawab Mira.
Mama Mira pun masuk. Mama Mira tampak sumringah mendapati putri cantiknya sudah berdandan.
"Mama seneng liat kamu bersemangat begini. Tito sudah nunggu tuh di bawah" tutur Mama Mira mengira Mira berdandan untuk Tito.
"Tito Mah?" tanya Mira heran.
"Iya, kalian mau jalan kan? Mama seneng liat perubahan kamu, sepertinya kamu sudah benar-benar melupakan dokter berandalan itu" ucap Mama Mira sumringah.
Mira menelan salivanya. Mira berdandan bukan untuk Tito tapi untuk makan malam bertermu dengan rekan kerjanya.
"Mira mau ada acara rumah sakit Mah" jawab Mira menunduk.
"Rumah sakit? Ngapain malem-malem? Ada operasi mendadak lagi? Kamu kan Dokter anak sayang bukan dokter bedah atau anestesi, atau kandungan?" protes Mama Rita.
"Mira mau makan malam Mah" jawab Mira lembut.
"Sama siapa?" tanya Mama Mira mengintimidasi.
Mira tahu kalau Mira jawab sama Dokter Gery Mama Mira marah, karena mama Mira sudah lama membujuk Mira untuk melupakan Gery. Apalagi pas tau anaknya ditolak.
"Sama Dokter Stefan, sama Dokter Siska juga. Kemarin kita baru menangani anak Dokter Stefan yang kritis"
"Ya udah, karena Tito udah sampai sini. Diantar Tito ya" ucap Mama Mira.
"Ya Mah" jawab Mira singkat. Lalu Mira keluar, benar saja Tito sudah menunggu.
"Hai Mir" sapa Tito ramah.
"Hai Mas, udah lama nunggunya?"
"Belum. Jalan yuk! Kemarin kan baru nonton" ajak Tito dengan lembut.
"Maaf Mas, Mira ada undangan makan malam bareng atasan"
"Ya udah, gue antar" ucap Tito semangat.
"Ok" jawab Mira.
"Kemana?" tanya Tito ramah.
"Kafe 11: 12" jawab Mira.
Tito mengangguk, malam itu Mira pergi diantar Tito. Sesekali Tito mengajak Mira ngobrol. Mira menjawab obrolanya dengan ramah menggenapi kewajibanya sebagai perempuan dewasa menghargai orang lain. Tidak lama mereka sampai di tempat yang mereka tuju.
5 menit sebelumnya Gery sampai di parkiran, Tito memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Gery. Masih di dalam mobil Gery merapihkan rambutnya. Dan menambahkan sedikit parfum.
Di saat yang bersamaan Tito keluar membukakan pintu mobil untuk Mira. Mira keluar dengan anggun, berjalan menenteng tas mahal sambil mengibaskan rambutnya.
Tepat di depan mata Gery, meski terhalang kaca, mobil Gery melihat Mira berdua dengan Tito. Tito tampak mengantar Mira dan memberi pesan jika sudah selesai kabari Tito. Gery mengeratkan rahangnya dari dalam mobil, memperhatikan perempuan yang selama ini menguntitnya.
"Itu kan laki-laki yang sama" gumam Gery mengingat waktu Gery membuntuti Mira. "Jadi benar dia calon suami Mira?" Gery pun keluar berniat menyapa dan bertemu secara langsung.
"Gery?" panggil Mira kaget dan merasa tidak nyaman.
"Hai Mir" jawab Gery berusaha biasa saja. Lalu Gery menatap Tito dengan tatapan cemburu.
" Oh iya Mas kenalin, dia Gery, Dokter Anestesi, kita sama-sama wkds" ucap Mira mengenalkan Gery ke Tito.
Tito tersenyum mengulurkan tangan ke Gery. Tito memperkenalkan dirinya. Gery pun membalasnya dengan senyum.
Tidak lama Dokter Siska datang. Tito pun mengundurkan diri berpamitan tidak mau mengganggu calon tunanganya.
Mereka bertiga masuk ke kafe. Di ruang VIP kafe sudah dipersiapkan satu meja khusus. Di sana sudah duduk Dokter Stefan. Mereka bertiga langsung menempatkan diri. Berbasa-basi lalu menyantap hidangan yang di siapkan Dokter Stefan.
"Ehm" Dokter Stefan berdehem setelah selesai makan. Lalu menatap ke Gery dan Mira.
"Ngomong- ngomong Dokter Gery dan Dokter Mira, setelah masa wkds selesai apa sudah ada pandangan bekerja di rumah sakit mana?" tanya Dokter Stefan.
Gery dan Mira saling pandang. Sementara Dokter Siska hanya menyimak. Karena Dokter Siska sudah menjadi Dokter tetap di RS daerah itu.
"Saya kembali ke Rumah Sakit keluarga saya Dok" jawab Gery mantap lalu menatap Mira.
__ADS_1
Mira menelan salivanya. Mira belum punya pandangan kerja dimana, tapi koneksi ayahnya sudah pasti membuka banyak ruang, termasuk di RS Besar ataupun pusat.
"Saya, saya mau menikah, semua diputuskan setelah saya menikah nanti Dok, mau buka klinik sendiri atau bergabung dengan rumah sakit lain" jawab Mira menunduk.
Dokter Stefan dan Dokter Siska tampak tersenyum, berbeda dengan Gery, dadanya rasanya sesak. Seperti ada yang hilang.
"Wah selamat kalau begitu. Kami tunggu undanganya. Yang pasti pintu rumah sakit kami terbuka lebar, jika Dokter Mira atau Dokter Gery bersedia bergabung bersama kami" ucap Dokter Stefan ramah. Gery dan Mira mengangguk senyum.
RS Daerah yang mereka tempati memang RS baru sehingga beberapa posisi Dokter Spesialis kosong. Tapi yang pasti Gery tidak akan menjadi dokter tetap di situ. Karena Gery punya rumah sakit sendiri.
Setelah berbosa-basi Gery dan Mira pamit duluan. Mereka pun berjalan bersama menuju parkiran. Mira tampak memegang ponselnya menghubungi Tito.
"Mir" panggil Gery.
"Ya Ger" jawab Mira lembut.
"Calon suamimu, Tito?"
"Iyah" jawab Mira mengangguk sayu, mengeratkan rahang dan membuang pandangan.
"Kamu sungguh sudah melupakan aku?" tanya Gery tiba-tiba dan menghentikan langkah.
Mira menunduk menelan salivanya. Gery menatap Mira dengan tajam.
"Gue capek Ger, Gue sadar gue bodoh. Hati lo bukan buat gue" jawab Mira menatap Gery menghela nafas.
"Gue udah lupain Lo. Bukankah seterusnya kita akan jadi sahabat? Bulan depan gue tunangan" Lanjut Mira mantap sambil menelan ludahnya. Mira membohongi perasaanya.
Gery mengangguk kecewa menatap Mira. Lalu menghela nafasnya dan memandang ke langit.
"Selamat ya" ucap Gery sendu. "Semoga lo bahagia. Maafin gue"
Tiba-tiba dari belakang Dokter Siska berlari.
"Dokter Gery, Dokter Mira jangan pulang dulu. Kita ke rumah sakit sekarang. Aku butuh kalian"
"Ada apa dok?" tanya Mira panik.
"Di VK dan IGD ada dua pasien inpartu. Jelek semua, harus operasi. Butuh Dokter Mira juga, satu suspek ruptur uteri, satu gamelli dan fetal distress. Gue nggak bawa mobil tadi diantar suami. Kita berangkat bareng" tutur Dokter Siska selaku kandungan.
Dokter Gery sebagai dokter anestesi mengangguk. Dalam penanganan dua kasus ini memang harus ada dia. Dokter Mira juga mengangguk, itu berarti 3 bayi akan butuh bantuan Mira dan menjadi tanggung jawabnya. Apalagi keadaanya tidak baik. Mereka bertiga pun menggguk dan bergegas ke rumah sakit.
"Pakai mobil gue" ucap Gery.
****
Jogja
Sekitar 40an menit, Ardi dan rombongan menikmati perjalanan malam dari stasiun menuju ke rumah sakit tempat Bu Mirna di rawat. Kebetulan rumah Bu Mirna di daerah pegunungan lereng merapi. Bu Mirna juga dirawat di rumah sakit terdekat.
Ardi duduk di depan menemani supir yang entah darimana kenalnya, tapi mereka tampak akrab. Untung saja Anya ikut, jadi Alya duduk di tengah bersama Anya.
Anya yang asli Bogor dan tidak pernah ke Jogja tampak asik menikmati perjalanan. Anya tampak antusias saat melewati malioboro dan tempat-tempat fenomenal di Jogja.
"Kayaknya gue harus nambah libur gue deh" ucap Anya waktu melihat musisi jalanan asik bermain musik.
"Hemm?" tanya Alya menoleh.
"Malam ini kan jenguk ibu lo. Gue pengen jalan-jalan bareng Agung besok" ucap Anya dengan tatapan mupeng, pengen bilang berhenti Pak Supir gue mau jalan. Tapi semua ditahan, tujuan utama jenguk Bu Mirna dulu.
"Kamu udah kabarin Agung?" tanya Alya serius.
"Udah, dia jaga, dia bilang jemput gue besok" jawab Anya.
"Hemmm. Kamu yakin sama Agung? Nggak takut dia melipir ke cewe lain" tanya Alya meledek, Alya berharap Anya sama Farid bukan Agung.
"Dari dulu gue yang minta putus kalau berantem, tapi dia nggak mau. Dia minta gue nunggu dia selesai residence. Dia bakal lamar gue" jawab Anya berapi-api.
"Hemmm residen kapan selesainya Anya, kenapa nggak sama Farid aja sih?" tanya Alya mulai merayu lagi
"Sssshhh, diam nggak usah bahas dia" jawab Anya ketus.
"Ish" jawab Alya mendesis manyun. Lalu mereka berdua kembali diam menikmati perjalanan.
Sekitar jam 10 malam mereka sampai di rumah sakit swasta di kabupaten Sleman. Alya, Ardi dan Anya segera masuk mencari ruangan tempat Bu Mirna dirawat. Sementara kawan Ardi menunggu di luar.
Ardi dan rombongan menemukan ruangan tempat Bu Mirna dirawat, setelah sempat ada sedikit ketegangan dengan satpam. Ardi membuka pintu kamar yang ditunjukan, Ardi menelan ludahnya saat masuk ke bangsal itu. Wajahnya menatap getir, begitu juga Alya.
Rumah sakitnya memang bersih, tapi Bu Mirna dirawat di kamar kelas tiga. Dalam satu ruangan berjajar dan berdampingan dengan pasien lain, hanya berbatas tirai tirai hijau. Di setiap tempat tidur hanya ada satu kursi penunggu, tidak ada sofa, kulkas apalagi tv. Aroma makanan dan keringat bercampur menjadi satu.
Alya meneteskan air mata saat melihat perempuan yang sudah mempertaruhkan hidup untuknya. Dia berada di pojok ruang dekat pintu dengan tirai sedikit tersingkap.
Perempuan beruban itu memakai ciput di kepalanya, memejamkan matanya, dengan satu tangan memegang tasbih dan satu tangan tampak membengkok khas orang terkena struk. Tampak satu perempuan muda memainkan ponsel duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Ibu" ucap Alya meneteskan air mata.
Ardi menatap getir melihat istrinya. Sementara Anya menelan ludahnya. Memandang iba dan penuh tanda tanya. Seperti apa latar belakang teman intershipnya itu. Kenapa ibunya terlihat menyedihkan. Jauh berbeda dengan kehidupan Ardi.
"Mba Alya" ucap Lastri bangun dari duduknya menyadari Alya datang.
Alya langsung memeluk ibunya yang masih memejamkan mata. Menelungkupkan wajahnya sambil terisak di ketiak ibunya.
"Ibu maafin Alya"
Ardi dan Anya membuang pandangan tidak tega melihat Alya menangis. Anya tau Alya sudah 2 bulan tidak bertemu ibunya. Berada di tempat yang jauh dan meninggalkan ibunya sendirian.
Menyadari ada yang berat di tubuhnya, Bu Mirna membuka matanya perlahan. Bibirnya merekah tersenyum saat melihat putrinya terisak menyandarkan kepalanya. Lalu melirik dan melihat menantu tampanya berdiri.
"Abot to Nduk. Ibu sesak nek ngunu" *Berat Nak ibu sesak kalau kamu peluk ibu begini*
Alya bangun menyeka air matanya. Ardi dan Anya lalu menyapa Bu Mirna dan mencium tanganya.
"Ibu maafin Alya. Maafin Alya Bu" ucap Alya lagi masih menangis dan memegang tangan ibunya.
Ardi berdiri di belakang Alya menepuk punggung istrinya. Anya dan Lastri berdiri sebagai penonton.
"Nopo minta maaf Nduk? Kan nggak ada salah" ucap Mirna tersenyum.
"Maafkan kami baru pulang dan jenguk ibu" tutur Ardi menunduk.
"Wes ra popo. Kalian sampai sini ibu suenenge banget banget" jawab Bu Mirna tersenyum.
"Alya janji temenin ibu sampai sembuh" jawab Alya.
"Lhoh, mang kalian nggak pada kerja?" tanya Bu Mirna
"Bisa diatur Bu" jawab Ardi menenangkan, padahal sebenarnya 1 hari lagi Ardi harus sudah balik ke Jakarta.
"Oh ya, iki sopo Nduk? Cah ayu iki?" tanya Bu Mirna melihat Anya.
"Saya Anya Bu, teman kerjanya Alya" tutur Anya tersenyum mengenalkan diri.
"Oh. Dhaleme pundi Mbak?" *Rumahmu mana Mbak?* tanya Bu Mirna sopan.
"Dia asli Bogor Bu. Nggak bisa bahasa Jawa" jawab Alya menimpali.
"Oh" jawab Bu Mirna.
Lalu Anya dan Bu Mirna mengobrol.
Ardi tampak gusar dan memikirkan sesuatu. Lalu Ardi mengkode Alya untuk berbicara sebentar.
"Ibu harus pindah kelas Yang, di sini ada kelas Vip kan?" ucap Ardi.
"Iya, kita tanya perawat sekarang ya" jawab Alya lembut.
"Kamu pulang yah, udah malem, biar mas yang urus"
"Kok pulang sih Mas?" tanya Alya tidak terima mulai meninggi.
"Dika di parkiran, pulanglah istirahat. Mas yang nunggu ibu"
"Nggak!" jawab Alya tegas, kambuh keras kepalanya. Ardi menelan salivanya bersiap-siap lagi menghadapi kepala batu istrinya itu.
"Sayang, mengertilah. Mas yang tunggu ibu, kamu pulang dulu istirahat"
"Mas! Anaknya ibu aku, Alya kangen sama ibu!"
"Mas tau"
"Ya kalau tau kenapa nyuruh Alya pulang?"
"Sayang, ini rumah sakit, kamu baru perjalanan, kamu harus istirahat"
"Lian juga tahu ini rumah sakit. Lian jauh-jauh ke sini buat nunggu Ibu. Lian mau di sini"
"Lian!" Ardi sedikit emosi dan mengeraskan suaranya sehingga Bu Mirna mendengar. Alya menahan emosi dan diam.
"Pulang sekarang, ajak Anya dan Lastri. Mas yang disini!" ucap Ardi memelankan suara.
"Nggak Mas!" jawab Alya ngeyel.
"Lian ingat kamu lagi hamil"
"Nggak Mas, dia ibu Lian" jawab Alya lagi masih keras kepala.
"Lian!" bentak Ardi lagi tidak sabar. "Aku suamimu!" tegas Ardi mengeratkan rahangnya.
__ADS_1
Bu Mirna, Anya dan Lastri yang berada di balik tirai, mendengar perdebatan pasangan yang baru berbaikan itu. Pasien lain di dekat Bu Mirna juga ikut mendengar. Bu Mirna mengelus dada dan meminta Lastri memanggil Alya.