
Sore itu dua insan suami istri keluar kamar dengan rambut basah semua, tapi Alya tetap menutupi dengan jilbab instanya. Ardi tampak sangat cerah dan segar seperti habis melepaskan beban berat di punggungnya dan seperti habis isi daya.
Sementara Alya jalan di belakangnya dengan jalan sedikit pelan seperti menahan sesuatu. Mungkin karena Ardi terlalu bersemangat dan buru- buru sehingga sedikit menyakiti istrinya yang belum siap.
Mereka berdua keluar kamar hendak mencari makan. Merasa bersalah dengan istrinya, Ardi mengimbangi langkah Alya, dan menuntunya.
“Sakit banget apa?”
“Nggak, nggak apa-apa kok! Cuma pedes karena lecet dikit, nggak apa-apa”
“Kayak gadis aja sih? Kan udah sering?”
“Ishh. Bukan gitu, biasaain mikirin orang lain juga Mas. Tetap aja, kalau buru-buru tuh nyakitin. Ya makanya lain kali sabar, tunggu dulu, jadi iritasi nih, meski dikit tapi perih”
“Hmmmm, ya Maaf”
"Janji nggak boleh diulangi"
"Ya!" jawab Ardi terpojokan dan terkesan jahat sama istrinya.
Saat mereka hendak memencet Lift rumah Ida datang menghentikan langkah mereka.
“Permisi, Tuan Nyonya, ada tamu!” ucap Ida.
“Tamu siapa? Kan ada ibu, papah sama mamah” jawab Ardi dengan nada sedikit ketus dan mimik cemberut. Ardi paling tidak suka kalau lagi berdua dengan Alya dan ingin melakukan sesuatu diganggu.
“Beliau mencari Tuan Ardi. Katanya dari Jogja, sekarang sedang mengobrol dengan Ibu Mirna di teras samping” jawab Ida.
“Jogja?” tanya Alya dan Ardi.
“Iya Tuan!” jawab Ida.
Ardi dan Alya saling pandang memberi kode saling bertanya. Kemudian menatap Ida lagi.
“Oke, aku temui sekarang!” ucap Ardi.
Ida kemudian kembali bergabung ke acara pengajian membantu membagi- bagikan makanan karena acara sudah selesai.
“Siapa ya Mas?” tanya Alya di dalam lift menggandeng Ardi.
“Entahlah” jawab Ardi sambil melangkahkan kaki, karena pintu lift terbuka. Mereka bergehas menuju ke teras samping.
Seorang pemuda tampan tampak mengobrol dengan santun bersama Bu Mirna. Alya dan Ardi kemudian menyunggingkan senyum.
“Woy Bro, apa kabar sehat?” sap Ardi ramah ke sahabat beda umurnya itu.
Bu Mirna dan Dika menoleh. Dika kemudian bangun dari duduknya memberikan hormat dan bersalaman dengan Ardi, sementara ke Alya hanya mengangguk sebentar. Karena Ardi melarang istrinya bersentuhan dengan semua laki- laki kecuali saudara dan atas sepengetahuanya atau keperluan tindakan medis pekerjaanya.
“Alhamdulillah sehat Mas, eh Pak” jawab Dika gerogi bingung mau panggil Ardi apa.
“Duduk, duduk, silahkan duduk!” ucap Ardi mempersilahkan duduk lagi.
Lalu mereka berempat duduk di teras rumah Ardi untuk bercengkerama dan mengobrol dengan hangat. Sebelumnya Bu Mirna sudah menjelaskan ke Dika kalau keluarga Ardi sedang berkabung karena salah satu ART nya berpulang. Dika kemudian merasa salah waktu.
“Kamu ke sini naik apa? Sama siapa?” tanya Ardi.
“Dengan rombongan anak- anak tambak Pak! Naik mobil” jawab Dika sopan.
“Lah terus mereka kemana?” tanya Ardi lagi.
“Sedang kirim ikan ke lokasi Pak, tadi sudah kontekan dengan Pak Farid”
“Oh ya, ya, sip sip... jangan langsung pulang ya!” ucap Ardi lagi.
__ADS_1
“Ah iya Pak!” jawab Dika ragu- ragu mengelus tengkuknya seperti ingin menyampaikan sesuatu.
“Rombongan bereapa orang? Dua hari lagi resepsiku, kalian datanglah jangan cepat kembali. Menginaplah, di hotel kami. Biar nanti sekertariku yang urus” tutur Ardi memberi tahu.
“Ehm!” Dika kemuidan berdehem menata kata dan hati ingin menyampaikan sesuatu.
“Anu Pak, Bu!” tutur Dika ragu.
“Kenapa?” tanya Ardi penasaran.
Sementara Alya dan Bu Mirna yang sudah tahu arah gelagat Dika diam menunggu dengan tenang.
“Saya, saya mau minta tolong Pak” tutur Dika kemudian.
“Minta tolong apa?” tanya Ardi mulai gusar.
“Ehm” Alya mulai tersenyum dan mencubit pinggang suaminya.
“Anu, saya, saya mau”
“Mau apa?” tanya Ardi lagi.
“Saya mau ke rumah Mba Dinda”
“Heh?” Ardi langsung terperanjak.
Lalu menoleh ke istrinya dan Alya spontan memberikan senyum termanisnya ke suaminya.
"Iya. Saya ingin silaturrahim ke rumah Mba Dinda. Dan saya butuh teman" ucap Dika lagi.
“Ehm.. ya sudah datanglah ke sana. Kenapa minta tolong ke saya, kan kamu bareng temen-temen tambakmu” jawab Ardi kurang peka.
Lalu Alya mencubit pinggang Ardi lagi.
“Maaf, mungkin saya salah waktu karena sepertinya anda sedang berkabung, biar saya minta tolong ke Pak Farid saja” tutur Dika lagi mengurungkan meminta tolong ke Ardi.
“Saya mau menemui orang tua Dokter Dinda” tutur Dika.
“Apa?” Ardi kaget dan tidak mengira. Bu Mirna dan Alya tersenyum puas dan segera menjawab.
“Suami saya akan temenin kamu Mas Dika. Acara pengajianya udah selesai kok, mau jam berapa?” jawab Alya melancangi Ardi, membuat Ardi melotot ke Alya. Dan Alya tersenyum mengangguk memberi kode agar Ardi setuju.
“Sebentar- sebentar. Kamu mau nemuin orang tua Dinda? Untuk apa?” tanya Ardi masih tidak menyangka meski sebenarnya sudah tau, tapi tidak puas jika tidak mendengar secara gamblang.
“Saya ingin mengkhitbah, Dokter Dinda, Pak” tutur Dika tegas.
Ardi langsung menelan ludahnya, lalu melirik ke istrinya. Sejujurnya Ardi merasa kalah, kalah berdebat dengan istrinya waktu itu.
Dan Ardi juga kalah tidak menyangka, lelaki seumuran Dika begitu mantap dan beritikad baik, dengan cara yang baik, tidak seperti dirinya dulu.
“Kamu yakin mau lamar Dinda?” tanya Ardi lagi.
“Insya Alloh yakin Pak!”
“Kamu masih kuliah lho, usiamu juga masih muda? Sudah siap diterima?”
“Saya siap dan yakin Pak. Kuliah bukan sesuatu halangan untuk kami menunaikan ibadah. Kami yakin bisa menjalaninya bersama” jawab Dika mantap. Ardi semakin minder sebagai laki-laki mendengarnya, dirinya dulu tak sehebar Dika.
“Apa kau sudah ijin dengan orang tuamu?”
“Sudah Pak, justru umi dan abi saya yang menyarankan saya, jika saya sudah yakin dengan Dokter Dinda, sebaiknya segerakan temui orang tuanya”
“Kenapa orang tuamu tidak ikut?”
__ADS_1
“Mereka sedang ada keperluan, saya disuruh menanyakan dan berkanalan lebih dulu terhadap orang tua Dokter Dinda, jika mereka ACC secepatnya saya ajak orang tua saya kemari lagi”
“Woaah, luar biasa kalian” tutur Ardi akhirnya memuji Dika.
“Jadi bagaimana? Apa Pak Ardi bisa meluangkan waktu menemani saya? Kebetulan saya belum tahu rumahnya” tanya Dika lagi.
“Bisa, bisa banget, iya kan Mas? Kalu diijinkan aku juga ingin ikut” justru Alya yang menjawab sambil mencubit Ardi.
“Hmm yaya bisa” jawab Ardi tidak bisa menolak istrinya.
“Alhamdulillah, terima kasih sebelumnya Pak” tutur Dika tersenyum lega.
“Mau jam berapa?”
“Habis maghrib Pak, menunggu teman- teman dan Pak Farid selesai nurunin barang”
“Oke. Tapi kan ini udah mau maghrib”
“Sudah dari tadi kok Pak. Insya Alloh mereka sedang dalam perjalanan kesini. Kami sampai sini sudah dari siang kok” jawab Dika lagi.
“Oh yaya. Berapa orang temenmu? Biar saya siapkan kamar hotel?” tanya Ardi masih peduli dan menghargai tamunya.
“Terima kasih sebelumnya atas kebaikan Pak Ardi, tapi saya sudah memesan penginapan” jawab Dika menolak penawaran Ardi. Karena Dika sudah menyiapkan semuanya.
“Ohh ya sudah”
“Semoga niat baikmu diberi kelancaran sama Gusti Alloh yo Le” tutur Bu Mirna kemudian.
“Enggih, aamiin, matursuwun Bu” jawab Dika.
“Yo wes, silahkan dilanjut aku tak masuk dulu yo!” tutur Bu Mirna lega.
“Nggeh Bu” jawab Dika.
Bu Mirna meninggalkan anak- anaknya. Kini hanya tinggal mereka bertiga.
"Ibu tunggu" panggil Alya teringat Tuan Didik.
"Ada apa Nduk?"
"Lian ingin bicarakan sesuatu" ucap Alya.
"Apa?" tanya Bu Mirna.
Kemudian Alya menoleh ke Ardi dan Dika. Lalu mengurungkan niatnya.
"Sepulang dari rumah Dinda nanti Alya ke kamar ibu" ucap Alya.
"Ya. Ya sudah ibu mau bantu mertuamu. Monggo dilanjut ngobrolnya" ucap Bu Mirna.
“Udah makan?” tanya Ardi bosa basi setelah Bu Mirna pergi.
“Ehm, sudah Pak” jawab Dika sopan, sudah makan tapi tadi siang.
“Makan lagi, yuk!” ajak Ardi.
Dika kemudian hanya menatap sungkan.
“Udah yuk makan dulu! Nggak pernah makan di rumahku kan?” ajak Ardi lalu mereka berdiri dan mengajak Dika makan.
Mereka bertiga kemudian masuk ke rumah besar Tuan Aryo. Ardi mengajak Dika masuk ke ruang makan yang besar dan bersih.
Ardi tahu orang tua mereka sudah makan bersama tamu- tamu pengajian. Jadi Ardi dan Alya makan sendiri karena tidak ikut mengaji. Alya mengirim doa sendiri seusai sholat.
__ADS_1
Mau tidak mau, Dika menghormati Ardi dan makan bersama. Padahal di rumah Dinda, Dinda sudah menyiapkan jamuan juga.