Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
76. Ketemu Anya


__ADS_3

"Mas, please bantu Lian ya" pinta Alya panik, buru-buru turun dari kasur mengambil pakaian. "Auw" pekik Alya merasakan perih saat berjalan.


"Hati-hati!" tegur Ardi khawatir langsung ikut turun memapah Alya. "Bantuin gimana? Emang siapa sih? Malem-malem ganggu aja" tanya Ardi menggerutu.


"Lian nggak apa-apa mas, cepat pakai bajunya, malu tau telanjang gitu" tutur Alya melihat kelakuan suaminya.


"Suka apa malu? Mas khawatir sama kamu, maafin mas kalau bikin sakit ya, cup" tutur Ardi mencium kepala Alya.


"Ck, dasar! Dibilang buruan ganti malah" decak Alya mencubit perut suaminya.


"Siap-siap, pura-pura jadi sepupuku!" tutur Alya menepis tangan Ardi dan segera memakai pakaianya kesal.


"Maksudnya apa? Nggak! Nggak mau! Aku bukan sepupumu aku suamimu, enak aja!" jawab Ardi kesal.


"Lagian ngapain sih temenmu, perempuan malem-malem kelayapan?" imbuh Ardi kesal.


"Dia nggak kelayapan, dia pulang kerja, dia mau nginep di sini, aku yang minta! Lagian mas yang salah. Kenapa pulang nggak kasih kabar?" omel Alya merapihkan bajunya.


"Terus nanti mas tidur dimana?"


"Di depan lah. Aku sama Anya di sini?"


"Yakin?" tanya Ardi melirik ke seprai yang terdapat noda merah dari Alya.


"Hah, ya ampun! Pokoknya aku nggak mau tau, mas yang udah buat kaya gini, jadi mas harus tanggung jawab! Ganti spreinya! Aku temuin Anya dulu"


"Enak aja! Nggak"


"Ya udah kalau nggak mau, tinggal pilih, rapihin kamar atau sekarang aku pergi ke kos Anya, jangan sentuh-sentuh aku lagi, jangan cium-cium aku lagi, dan jangan harap dapat itu lagi!"


"Sukanya ngancem, iya iya gue rapihin, buat temenmu jangan masuk dulu. Satu lagi, kapanpun aku mau itu kamu harus patuh" jawab Ardi membalas ancaman.


"Hemmm. Aku mau temuin Anya, nggak mau tau, pokoknya harus rapih" jawab Alya buru-buru keluar.


*****


Ruang Tamu


"Lama banget bukanya, gue kira lo dah tidur" cibir Anya masuk setelah dibukain pintu. "Gue udah mau balik lhoh!"


"Sory" jawab Alya lemas.


"Lo sakit Al?"tanya Anya melihat Alya tampak lesu dan jalanya aneh.


"Duduk dulu geh sini" ajak Alya menepuk bangku ruang tamu tidak menjawab pertanyaan Anya.


"Lo sakit? Jalan lo aneh banget sih"


"Nggak, aku baik-baik aja, cuma laper dikiit" jawab Alya berbohong. Iya jalanya aneh menahan perih akibat ulah suaminya.


"Laper? Makanlah!"


"Aku pengen lamongan depan rumah sakit, tapi males banget mau keluar" jawab Alya memancing Anya biar keluar dulu sambil nunggu suaminya menyembunyikan jejak petualanganya.


"Kenapa nggak bilang sih? Tau gitu kan gue beliin".


"Lupa" jawab Alya singkat.


"Eh gue belum mandi, tadi di rumah sakit antri, numpang mandi yah, nanti kita beli bareng"


"Ya udah sana mandi, tapi pake kamar mandi dapur ya"


"Kenapa nggak yang di kamar? Kan enakan yang di kamar?"


"Anak tanteku lagi di sini"

__ADS_1


"What? Kita nginep bertiga? Cwo apa cwe?"


"Cwo" jawab Alya lirih.


"Hah, serius Lo?"


"Iya makanya biar nggak canggung kamu temenin aku, oke? Nanti kita tidur di dalem kok, biar dia yang di sini" jawab Alya berbohong lagi.


"Hmmmm, umur berapa emangnya sepupu Lo?"


"Berapa ya?" jawab Alya berfikir mengingat usia suaminya pas disebutin sama penghulu di desanya. "Kalau nggak salah 29 tahun"


"Udah dewasa dong! Udah nikah belum?"


"Menurut kamu?"


"Harusnya sih umur segitu udah nikah, tapi ngapain nginep di sini kalo dah punya istri? Berarti belum ya?"


"Huum" jawab Alya mengangguk berbohong.


"Ya udah gue mandi dulu" jawab Anya lalu masuk ke kamar mandi dapur


Alya menghela nafas dan bersyukur, dia berhasil mengulur waktu Anya tidak ke kamar. Membiarkan suaminya berganti pakaian dan merapihkan tempat tidur. Tidak menyia -nyiakan kesempatan Alya masuk, memastikan kerjaan suaminya.


****


"Udah beres mas?" tanya Alya melihat sekeliling. Seprei bersejarahnya sudah diganti.


"Udah sayang" jawab Ardi mendekat ke Alya


"Jangan panggil sayang kalau ada Anya"


"Hmmm, terus apa dong?" tanya Ardi melingkarkan tangan ke pinggul Alya dari belakang, menempelkan senjatanya ke tubuh Alya dan meletakan dagunya di bahu Alya.


"Panggil Alya aja" jawab Alya setengah bergidik merasakan sesuatu menempel di tubuh belakangnya.


"Kan aku bilang kalau ada Anya aja, lepasin mas, sesak tau dipeluk begini, sukanya iih, maksa terus!" jawab Alya melepaskan tangan suaminya takut Anya lihat. Alya juga mulai tidak nyaman, merasakan hawa panas menjalar.


"Kenapa harus ada tamu sih? Mas kan mau lagi, tadi baru sebentar, biar mandinya sekalian" tutur Ardi nakal melepas tanganya.


"Ish, nggak! Sakitnya aja masih kerasa mas, besok lagi" jawab Alya manyun melihat suaminya.


Lalu Alya mengambil selimut dan bantal. "Nih, mas tidur di sofa, nggak boleh masuk-masuk selama Anya di sini!"


"Ck, sedih banget sih, baru aja, berhasil baikan sama istri udah harus tidur di luar lagi" gerutu Ardi menerima selimut Alya.


"Makanya kalau pergi tuh bilang-bilang, kemana? Berapa lama? Kapan pulang? Salah sendiri" jawab Alya kesal.


Ardi diam tidak berkutik melihat istrinya mode on lagi.


"Udah ayo keluar nanti Anya curiga" ajak Alya ke suaminya keluar. Lalu mereka duduk di depan tivi menunggu Anya.


"Temenmu belum keluar" bisik Ardi mendekat ke Alya


"Ih apa sih? Nggak! No deket-deket! Kita lagi jadi sepupu, ngerti!" jawab Alya mendorong Ardi "Ck, bener-bener ya, dasar mesum" cibir Alya kesal.


"Hemm" jawab Ardi manyun. "Kalau begini ceritanya. Gue harus cari apartemen lagi kalau nggak pindah rumah " gumam Ardi menahan hasratnya sambil melihat istrinya.


Tidak berapa lama dari kamar mandi keluar Anya membawa handuk di kepala, rambutnya masih basah. Dengan baju santai, celana hotpan di atas lutut dan t-shirt ketat. Anya berjalan menundukan kepala menghampiri Alya.


Ardi mendengus kesal karena waktu bermesraan dengan Alya diganggu. Anya menatap pria yang katanya sepupu temanya dengan takjup, mengagumi ketampananya. Sementara Alya melihat pakaian Anya sedikit khawatir, Alya tahu betul suaminya sangat mesum. Bahkan Alya sampai dipaksa memakai pakaian pendek. Nah ini Anya dengan santainya berjalan di depan suaminya dan Anya memakai baju yang lebih pendek dari Alya.


"Anyaa, kenalin sepupuku, Mas Ardi" ucap Alya mengenalkan Ardi.


"Hai Kak, Anya" jawab Anya memperkenalkan diri. Ardi hanya menoleh sebentar tidak peduli, kemudian memainkan ponsel dengan wajah dingin.

__ADS_1


Anya menelan salivanya, menjadi canggung dan kikuk. Lalu duduk di dekat Alya.


"Kita ke kamar yuuk" ajak Alya tidak ingin Anya lama-lama di depan suaminya. Dan menyadari suaminya marah.


"Jadi beli makan nggak?" tanya Anya mengingat rencana awal.


"Aku nggak laper lagi. Udah tidur aja yuk"


"Ayuk" jawab Anya mengangguk, mereka berdua masuk ke kamar dan bersiap-siap tidur.


*****


"Al... "


"Iya, kenapa?"


"Lo berduaan dengan laki-laki seganteng dia, nggak jatuh cinta" tanya Anya tiba-tiba .


"Heh? Berdua gimana? Kan kita bertiga"


"Ya kali, dia sering ke sini?"


"Ehm" Alya bingung mau jawab apa. "Nggak kok, hari ini kebetulan aja" lanjut Alya berbohong lagi.


"Hemm, ck, ganteng sih, badanya perfect, tapi sombong banget, kesel gue liatnya, apa emang dia pendiam?" ucap Anya lagi.


"Ehm" Alya berdehem padahal tenggorokanya tidak gatal. "Dua-duanya" jawab Alya dingin. "Dia cerewet banget Anya, duh bisa dibulli aku kalau Anya tau dia suamiku" gerutu Alya menarik selimut.


"Gue ngrasa kaya pernah ketemu deh sama sepupu lo" ucap Anya belum mau tidur.


"Oh iya?" jawab Alya antusias dan penasaran kalau suaminya pernah ketemu Anya. "Dimana?"


"Lupa, tapi pernah liat dia, kalau nggak salah di rumah sakit" jawab Anya lagi mencoba mengingat waktu itu Ardi yang nganterin handphone buat Gery.


"Tapi kalau yang di rumah sakit orangnya tuh ramah, kalau nggak salah temenya Dokter Gery. Kalau sepupu lo tuh amit-amit tampangnya doang ganteng, tapi ketus gitu" ucap Anya mencoba membandingkan dan mengingat.


"Kalau orang yang kamu maksud itu ramah, 100 persen bukan su-, em bukan sepupuku" timpal Alya hampir keceplosan. Karena memang suaminya tidak ramah sama sekali dengan orang lain.


"Tapi wajahnya kaya mirip beda penampilan aja, coba ada Dinda mungkin dia bisa pastiin" jawab Anya lagi.


"Hemm, udah nggak usah bahas sepupuku, dia orangnya rese dan nyebelin, dah gitu aja, tidur aja yuuk, besok jaga kaan?" ajak Alya mengalihkan pembicaraan.


"Iya, eh Lo tidur pakai jilbab?" tanya Anya heran.


"Nggak kok ni mau aku lepas" jawab Alya bangun mematikan lampu lalu melepas jilbabnya. Alya takut Anya melihat hasil karya suaminya.


Mereka berdua pun beranjak tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Tiba-tiba lampu ponsel Alya menyala.


"Temenmu udah tidur belum? Temenin mas, cepet keluar"


"Haish ngapain sih ganggu aja" gerutu Alya kesal lalu membalas pesan suaminya.


"Lian mau tidur mas, udah, tidur yaa!"


"Mas, nggak bisa tidur kalau nggak peluk kamu"


"Lebay banget sih, jijik tau! Biasanya juga tidur sendiri! Udah aku matiin nih ponselnya" jawab Alya lagi


"Ingat perjanjian tadi, mas udah rapihin kamar"


"Serah, aku mau tidur!!!!!"


"Oke, jangan salahin mas, kalau besok mas hukum!"


"TERSERAH!!!! Aku besok jaga, aku mau tidur!" jawab Alya mengakhiri pesan lalu menutup pintu kamar dengan kasar dan mengunci dari dalam.

__ADS_1


"Lo chattingan sama siapa sih? Katanya mau tidur?" tanya Anya terbangun.


"Sama temen, maaf ya ganggu, udah yuk tidur lagi".


__ADS_2