Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
147. Pertemuan Menyebalkan.


__ADS_3

"Mas, Lian boleh keluar nggak?" tanya Lian lirih ke suaminya sambil berjalan.


Lian menggandeng tangan kekar suaminya menuju ke ruang makan. Pagi itu mereka berdua sudah tampak segar. Ardi sudah tampak gagah dengan balutan jas mahal dan dasinya.


Tidur semalam cukup mengobati lelahnya perjalanan. Mereka bangun pagi-pagi, menunaikan sholat subuh, mandi dan siap menyambut hari yang bahagia.


Lian pun semakin hari semakin beradaptasi dengan takdirnya. Takdir menjadi istri Ardi Gunawijaya. Lian lebih rajin mempercantik diri di hadapan suaminya.


Memakai baju yang Bu Rita sediakan. Beberapa baju dari butik Gunawijaya. Sebagian lain baju yang mempunyai bandrol merek dengan trend masa kini, tapi tetap berjilbab dan syar'i.


Alya sekarang lebih memilih memakai tunik dengan model kekinian. Bukan lagi gamis polos dengan brand lokal. Alya juga menggunakan jilbab voal sehingga wajah manis dan anggunya semakin terpancar.


Lian kini juga membiasakan diri memakai riasan wajah meski hanya sebatas pewarna bibir dan pemerah pipi. Tanpa pensil alis apalagi sulam alis, karena alis Lian cukup tebal.


"Keluar?" tanya Ardi.


"Iya" jawab Lian mengangguk dengan wajah imutnya.


"Kemana? Kamu kan masih libur?" tanya Ardi gusar menatap istri manisnya, sambil mengambil kursi di meja makan.


"Ketemu Dokter Mira. Katanya ada yang mau ketemu Lian?" jawab Lian mengingat pesan selulernya. Dokter Mira menanyakan kabar Lian dan mengajaknya keluar.


"Mira suruh ke sini aja!" jawab Ardi berat mengijinkan istrinya pergi.


"Hemm" Lian diam kemudian ikut duduk bersiap sarapan pagi.


Lian tidak melanjutkan permintaan perginya. Jika mendengar perkataan suaminya. Jawaban Ardi sudah bisa ditebak, Ardi masih saja ingin Alya tetap di rumah.


Kalau Lian tetap menawar yang ada nanti suaminya tidak jadi sarapan dan terlambat ke kantor. Padahal dari penuturan suaminya saat di kamar tadi, hari ini jadwal Ardi padat.


Lian pun memilih menjalankan kewajibanya sebagai istri. Melayani suaminya sarapan pagi. Dan menjaga mood suaminya tetap baik. Tapi Lian tidak mudah menyerah.


"Mas mau makan apa? Lian ambilin yah. Lian suapi atau makan sendiri?"


Lian mencoba mengambil hati suaminya dengan sikap manisnya. Lian membiarkan suaminya makan dengan kenyang. Setelah selesai makan, Lian akan coba bicara lagi agar diijinkan keluar rumah.


Lian merasa sudah libur panjang, lama tidak ke rumah sakit dan bertemu Dokter Mira. Hari ini Dokter Mira mengajak bertemu di kafe. Lian berfikir ini kesempatan baik untuk melepas rindu dan berbagi cerita.


"Roti aja sama telur, biasa! Mas aja yang suapin kamu" jawab Ardi hangat menyambut kebaikan Lian.


"Baik Lian ambilin. Lian makan sendiri aja, Lian kan minum susu" jawab Alya tersenyum.


Alya mengambilkan sarapan untuk suaminya. Roti gandum dengan taburan keju dan telur mata sapi.


Sementara Alya sudah siap dengan segelas susu hamil dan sepiring buah. Tidak lupa multivitamin untuk anak mereka yang masih belum terlihat. Pasangan suami istri itu pun menikmati sarapan, lebih dekat dan lebih hangat.


Bu Siti dan semua pelayan bisa bernafas lega melihat Tuan Muda mereka berwajah tenang dan bernafas dengan teratur. Tidak ada kegelisahan atau kemarahan.


Semua berdoa rumah tangga tuan mudanya akan selalu diliputi kebahagiaan. Mereka pun tidak sabar segera melihat perut Alya membesar. Kemudian terdengar tangisan bayi dan disusul anak kecil berlarian.


"Sayang beneran kamu nggak ngidam atau pengen sesuatu?" tanya Ardi menatap istrinya selesai sarapan.


Ardi benar-benar merasa menjadi suami tidak berguna, karena hamil Lian biasa-biasa saja sekarang.


"Nggak ada. Lian cuma pengen di deket mas terus" jawab Lian baik-baikin suaminya , Lian ingin Ardi luluh dan ijinin dia pergi.


"Pinter merayu sekarang ya kamu!" jawab Ardi sedikit GR.


"Lian beneran Mas. Kan mas sendiri yang bilang kalau anak kita maunya kita baikan terus"


"Ya udah, ikut mas ke kantor yah!"


"Sekarang?"


"Tahun depan"


"Ishh. Katanya jadwal mas padat. Nanti Lian ganggu lagi"


"Ya nggak apa-apa. Kamu temani mas kerja"


"Katanya ada meeting, emang Lian boleh ikut?"


"Ya kalau lagi meeting kamu istirahat aja"


"Hehe. Kalau Dokter Mira jemput Lian ke kantor boleh nggak? Cuma pas selama mas meeting aja. Boleh yaa!" tutur Lian memasang muka memohon akhirnya ada celah untuknya merayu suaminya.


Lian merasa sehat jadi tidak ada salahnya memenuhi ajakan seniornya itu.


"Hemm" Ardi diam dan berfikir menatap istrinya.


Lian pun membalas tatapan suaminya dengan kedipan mata dan anggukan kepalanya. Memohon agar dijinkan keluar rumah, menikmati waktu liburnya pergi jalan-jalan sebelum kembali bekerja.


Ardi menghela nafasnya. Dan memberi keputusan. Sepertinya tidak buruk membiarkan istrinya bersosialisasi dan menikmati suasana luar. Toh Ardi mengenal Mira dengan baik.


"Hanya ketika mas meeting" jawab Ardi dingin.

__ADS_1


"Sungguh Lian boleh keluar? Makasih suamiku sayang. Cup" jawab Lian kegirangan memegang tangan suaminya dan mencium pipinya.


Lian yang sekarang benar-benar berani dan agresif. Ardipun merasa sangat bahagia melihat banyak perubahan pada istrinya.


"Ya udah ayo berangkat" ajak Ardi memberikan tanganya. Alya menyambutnya dengan hangat.


"Lian ambil ponsel Lian dan tas mas dulu"


"Nggak usah. Mas aja yang ambil"


"Hemm, makasih ya!"


Dengan diantar Arlan mereka berdua menuju ke kantor Gunawijaya. Ini adalah kali kedua Lian ikut Ardi ke kantor.


Dengan percaya diri dan penuh kelembutan Ardi menggandeng tangan Lian. Menunjukan ke semua pegawainya kalau perempuan berjilbab di sisinya itu istrinya. Ibu dari anak-anaknya nanti.


Di lantai ruangan kerja Ardi, Dino dan Risa sudah menunggu. Ya hanya mereka berdua pegawai Ardi yang Lian kenali. Lian pun tersenyum ramah ke mereka.


"Selamat pagi Tuan, Nyonya!" sapa Dino dan Risa.


"Pagi, mana berkas-berkas yang harus ku periksa! bawa ke sini, oh iya Ris sediakan makanan kecil untuk istriku, jangan lupa jus mangga!"


"Baik Tuan!" jawab Dino.


Dino segera undur diri mengambil berkas-berkasnya, semenyara Risa berjalan ke pantry. Menyediakan makanan untuk Nyonyanya.


"Mas pesenin Lian jus mangga?" tanya Lian mendengar perkataan suaminya.


"Iya. Biar kamu betah di sini. Mas mau fokus kerja" jawab Ardi melingkarkan tanganya ke pinggul istrinya yang masih berdiri, sehingga mereka berpelukan.


"Santai Lian nggak akan ganggu mas kok!" jawab Lian membalas mengalungkan tangan ke leher suaminya.


"Kamu duduk tenang di sana, itu udah bantu Mas" tutur Ardi menunjuk sofa


"Iya kah?"


"Iya, mas jadi tenang istri mas tetap aman dalam jangkauan Mas"


"Iih emang kalau Lian nggak ikut ke sini nggak aman?"


"Mas akan kepikiran terus kalau kamu jauh dari mas, istri mas ini kan sukanya kabur nggak jelas!"


"Ish"Lian mendesisi manyun karena Ardi mengungkit kesalahanya.


Ardi tidak menyia-nyiakan kesempatan. Melihat bibir Lian manyun segera dia lahap dengan lembut. Lian pun sudah semakin pintar membalasnya. Sehingga perkataan Ardi dan Lian untuk fokus bekerja hanya menjadi bualan saja.


Tapi Lian dan Ardi mengalah menyudahi kegiatanya. Memanggil Dino meneruskan pekerjaan. Ardi dan Dino pun kembali bekerja.


Lian memilih merapihkan jilbab dan bajunya, masuk ke kamar kecil yang Ardi sediakan. Sekitar 4 jam Lian menunggu Ardi. Sampai menghbiskan 2 bungkus snack ringan berasa coklat. Ponsel Lian berdering.


"Halo Dok" sapa Alya.


"Jadi kan ketemu? Gue jemput ya!"


"Sebentar ya Dok. Lian tanya suami Lian dulu" jawab Lian.


"Oke gue tunggu"


Lian pun keluar meminta ijin ke suaminya. Kebetulan Ardi dan Dino ada jadwal undangan makan siang oleh rekanya sekalian meeting. Ardi mengangguk memperbolehkan istrinya pergi. Dan mereka turun ke lobi bersama.


"Sayang jangan lama-lama keluarnya" tutur Ardi ketika sampai di lobi menunggu Dokter Mira.


"Iyah, Lian makan bentar kok" jawab Lian. Tidak lama mobil Mira datang. Lian tersenyum menyambutnya. Tapi rasanya berbeda, Mira menatap dingin ke Ardi.


"Mir, titip istri gue ya! Kalau ada apa-apa kabarin gue" tutur Ardi ramah merasa akrab dengan Mira. Tapi sayangnya Mira hanya mengangguk dan tersenyum kecut.


"Lian pergi dulu yah" ucap Lian mencium tangan suaminya.


Mereka berduapun pergi menuju ke sebuah kafe.


"Dokter Mira udah selesai praktek polinya?" tanya Lian membuka pembicaraan, karena merasa ada yang beda dengan Mira hari ini.


"Udah, gimana liburanya, gue liat di strory Anya kalian bersenang- senang?"


"Oh itu, saya nggak liburan Dok. Ibu saya sakit, kebetulan Dinda dan Anya libur jadi mereka ikut" jawab Alya sopan.


"Oh. Gue kira kalian sengaja liburan soalnya ada Farid juga"


"Lhoh Dokter Mira kenal Kak Farid juga?"


"Kenalah. Gery, Farid dan Ardi kan temen gue juga" jawab Mira bercerita.


Tidak lama mereka sampai ke tempat yang dituju. Sebuah kafe tertutup, tampak elit. Parkir pendatangnya pun dipenuhi mobil-mobil mengkilap. Bisa ditebak kalau pengunjungnya bukan sembarang orang.


Mira pun mengajak Alya masuk ke ruangan kecil. Tatanan sofa yang terletak di balik pohon hias. Di situ ternyata sudah duduk perempuan cantik dengan rambut panjang hitam legam dibiarkan menjuntai ke bawah.

__ADS_1


Alya sedikit gugup sambil berjalan.


"Siapa perempuan itu? Itukah teman Dokter Mira yang ingin menemuiku? Untuk apa?" Lian berjalan sesekali menatap Mira yang tampak serius.


"Dheg!"


Alya tercengang melihat wajah dibalik rambut hitam legam itu.


"Bukankah dia perempuan yang menabrakku di kafe danau? Dia kan yang menguntit suamiku? Iya tidak salah lagi dia Mba Intan" batin Alya mengusir rasa gugupnya.


"Hai" sapa Intan ramah, berdiri dari duduknya menyambut kedatangan Mira dan Alya. Alya sedikit berdecak, jauh sekali ekspresinya dengan saat bertabrakan waktu itu.


"Maaf ya, lama nunggunya yah?" jawab Mira.


"Nggak kok!" jawab Intan kemudian menatap dalam ke Alya. Alyapun mengangguk tersenyum canggung.


"Duduk Al" sapa Mira mempersilahkan duduk.


"Iya Dok" jawab Alya mengangguk.


"Kenalin temen gue. Intan, dia orang gue ceritain mau ketemu lo" tutur Mira ramah. Alyapun menoleh ke Intan mengangguk.


"Aku udah tau Dok kalau dia Mba Intan. Terus kenapa Dokter Mira nggak kasih tau lebih dulu? Kalau Mas Ardi tau, dia pasti marah" Lian memainkan jarinnya merasa kecewa dengan Dokter Mira.


"Hai kenalkan gue Intan" sapa Intan mengulurkan tangan ke Alya dengan senyum smirknya.


"Alya" sambut Alya membalas dan mereka berjabat tangan.


"Kalian terusin ngobrolnya. Gue belum visit ke ruangan. Gue balik ke rumah sakit ya" pamit Mira ramah. Intan tersenyum senang, sementara Alya sedikit syok.


"Jadi Dokter Mira bukan mengajaku melepas rindu, jalan-jalan dan bersenang-senang. Isshh males banget ketemu mantan Mas Ardi" batin Alya gemas menggigit bibir bawahnya.


Intan memperhatikan Alya dengan seksama, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Membuat Alya merasa terintimidasi. Apa tujuan dan maksudnya Intan menemuinya.


"Mba Intan mencari saya? Ada perlu apa ya?" tanya Alya memberanikan diri.


"Ah iya, saya ingin berkenalan dengan mu, boleh kan?"


"Tentu saja boleh" jawab Alya singkat dan berhati-hati.


"Terima kasih ya, sudah meluangkan waktu untukku"


"Ah iya, kebetulan saya masih cuti"


"Oh gitu, kamu tau siapa saya?"


"Tentu saja. Kan baru saja mba mengenalkan diri, Mba Intan kan?"


"Ah hahaha, benar, tapi maksud saya bukan itu"


"Terus?" jawab Alya sengaja ingin mengerjai Intan.


"Apa suamimu tidak pernah cerita tentang masalalunya?" tanya Intan mulai memancing.


"Mas Ardi maksudnya? Maaf, kami tidak suka membahas masalalu yang tidak penting" jawab Alya lembut tapi penuh penekanan.


"Ah iya benar. Memang tidak penting" jawab Intan mulai geram "Sialan" batin Intan dalam hati.


"Aku mendengar pernikahan kalian. Aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian" sambung Intan lagi.


"Oh gitu? Terima kasih atas ucapanya, Mba Intan bisa menyimpanya di acara resepsi nanti. Mertua saya akan mengadakan resepsi untuk kami" jawab Alya lagi.


Jawaban Alya semakin membuat Intan semakin geram, padahal Intan juga sudah tahu.


"Oh ternyata belum resepsi? Memang kapan? Berarti kalian menikah belum lama?"


"Ini bulan ketiga pernikahan kami"


"Oh baru bulan ketiga, pasti sedang hangat-hangat nya. Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?"


"Apa maksud Mba Intan, tentu saja kami bahagia" jawab Alya mulai terpancing.


"Saya ikut berbahagia mendengarnya, tapi apa kamu sudah mengenal baik suamimu? Saya ingin memperingatimu" tutur Intan mulai mengeluarkan niat jahatnya.


"Maaf Mba Intan, langsung saja pada intinya. Apa maksud anda mengajak bertemu? Kenapa anda menanyai suami saya?"


"Tidak, maafkan saya jika saya lancang. Saya hanya terbawa perasaan mengingat bagaimana suamimu memperlakukan aku dengan istimewa. Bahkan dia akan selalu mengikuti keinginanku. Ternyata dia sudah menikah" jawab Intan mulai memprovokasi Alya.


Alya menelan salivanya dan mengepalkan tanganya.


"Oh gitu. Ada lagi yang mau disampaikan? Suami saya menunggu saja untuk makan siang. Kalau sudah selesai saya akan pergi"


"Oh, maaf kalau mengganggu. Saya jadi ingat, Ardi selalu menyuapiku beef steak di restoran D'Stiv Bar n Steak. Dia paling tidak suka jika ada daun bawang" sambung Intan lagi.


"Maaf, semua cerita anda saya tidak tertarik. Selamat siang" jawab Alya tidak tahan dan beranjak pergi. "Menyebalkan" gumam Alya berdiri.

__ADS_1


"Satu lagi, saya sangat suka dengan tahi lalat di atas pantat suamimu"


__ADS_2