Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
79. Teka-teki


__ADS_3

Ardi mengulurkan tanganya seusai mengakhiri do'a. Alya tetap mencium tangan suaminya meski wajahnya tampak manyun dan siap menancapkan taring ke suaminya. Ardi yang mulai hafal sifat istrinya hanya tersenyum bersiap mendapat semburan luapan api emosi Alya.


"Abis beribadah kok mukanya ditekuk gitu sih?" tanya Ardi lembut berusaha menetralkan emosi Alya.


"Mas suka eskpresi kamu yang di kamar mandi tadi?" ledek Ardi membuat Alya malu mengingat permainan panasnya.


"Bete!" jawab Alya singkat.


"Kenapa sih? Mas sukanya ambil keputusan sendiri, nggak ada rundingan dulu, tanya dulu, katanya aku istrinya mas. Tapi mas selalu bertindak sesuka hati, tanpa persetujuanku!" lanjut Alya kesal ke suaminya.


"Kemarin kan mas udah bilang, jangan salahin mas ya, kalau mas kasih hukuman ke kamu!" jawab Ardi bangun dari tempat sholatnya.


"Hah? Hukuman? Emang aku salah? Aku salah apa?"


"Sini yuk, sini ngobrol sini" ajak Ardi melipat sajadahnya dan mengajak Alya duduk di sofa.


"Lian nggak suka mas tinggal di sini? Lian udah nyaman di Megayu" protes Alya kesal


"Kenapa? Ada yang kurang di sini?" tanya Ardi datar.


"Terlalu luas mas, kita kan keluarga kecil, ini juga terlalu mewah untukku, aku nggak nyaman!"


"Ck" Ardi berdecak kemudian mendekat dan mengusap kepala Alya yang masih menggunakan mukenah.


Saat marah wajah Alya menjadi sangat lucu menurut Ardi. Rata-rata perempuan akan excited dan bahagia dihadiahi hunian mewah. Tapi istrinya malah sebaliknya.


"Nggak usah pegang-pegang kepalaku" jawab Alya menepis tangan Ardi. Alya sadar, ketika Ardi menyentuhnya pertahanan emosi Alya pasti akan runtuh.


"Kan ada Ida dan Mia sayang, masih untung lhoh mas cuma kasih kamu hukuman begini!" jawab Ardi santai.


"Emang aku salah apa dihukum?"


"Ck, pikir sendiri apa salahmu?" jawab Ardi berdecak.


"Huh" Alya manyun tidak mengira suaminya begitu otoriter, Alya masih ngerasa tidak punya salah. Alya menghela nafas mencari celah bagaiamana bisa berkompromi dengan suaminya.


"Tapi bener Mia dan Ida tinggal di sini?" tanya Alya tiba-tiba.


"Besok mas minta mereka berkemas"


"Terus sekarang mereka dimana?"


"Udah pulang. Mereka di sini kalau mas kerja, kalau mas pulang Arlan antar mereka balik, mereka kerja bareng Arlan"


"Kenapa nggak nginep sini terus?"


"Mas nggak suka!"


"Haish, tuh kan? Begini nih, aku pikir mas udah berubah, mas bisa lebih fleksibel dan terbuka sama aku, mau bahas sesuatu yang akan jadi keputusan mas, mas tanya pendapatku, inginku, mana? Alya udah kasih yang mas mau, Alya udah usaha jadi istri beneran tapi mas tetep aja gitu?"


"Ya kan emang udah kewajiban kamu patuh sama mas dan kasih itu, emang kamu mau mas sama orang lain padahal mas punya istri?" jawab Ardi ngeles.

__ADS_1


"Ishhh" jawab Alya kesal mencubit keras paha Ardi.


"Auw, sakit Yang"


"Nyesel aku, kenapa mudah banget aku ikutin mas sih?"


"Nggak usah bilang gitu, kamu suka kan?" jawab Ardi tersenyum mengejek mengingatkan betapa Alya menikmati permainanya.


"Mas janji lho mau baik sama aku, aku udah kasih yang mas pingin, Lian udah kasih semua yang mas mau, tapi mana? Tetap aja! Balik ke Megayu kalau nggak biarin Mia dan Ida tinggal di sini"


"Nggak!" tolak Ardi tegas,


"Alya Berlian Sari istriku, Mas usaha baik ke kamu. Mas sediain tempat tinggal yang lebih bagus buat kamu, ini lebih layak dari apartemen Megayu" tutur Ardi pelan penuh penekanan.


"Ya tapi aku nggak suka mas, harusnya mas ngomong dulu!"


"Mas juga nggak suka di Megayu"


"Kenapa? Bukanya itu punya mas juga?"


"Udah nggak usah berantem, bentar lagi maghrib. Keputusan mas bulat, tinggal di sini atau ke rumah papa" jawab Ardi ingin menyudahi debatnya.


"Nggak mas, kita balik ke Megayu aja. Di sini Lian bingung nggak tau arah, teman-teman Lian gimana? Pasti mereka bingung, Lian pengin bisa main dan akrab sama temen-temen. Di sini mana bisa, Lian nggak punya temen"


"Ya emang itu tujuan mas"


"Maksudnya?"


"Lian harus bikin mas seneng bagaimana lagi? Anak kan Alloh yang kasih mas, kalau mau hidup bersama ya harus ada timbal balik lah mas"


"Dengerin mas! Kamu hanya perlu, selalu ada buat mas! Tinggal di sini, jangan pergi selain seijin mas, jangan ketemu sembarangan orang tanpa seijin mas".


"Ya ampun, ketemu orang aja harus ijin? Sebenernya aku pemuas nafsumu? Istri? Atau apa sih mas?"


"Nanti kamu tahu, kenapa mas begini?"


"Nggak nanti, sekarang buat aku mengerti kenapa mas otoriter begini! Aku udah dewasa! Kalau mas begini terus aku nggak kuat, kita hidup bersama tapi dikekang, aku juga punya kehidupan"


"Harus kuat! Percayalah ini yang terbaik buat kamu, di Megayu tidak baik ke depanya buat kita, 1 bulan ke depan Mas akan sering kerja di luar"


"Ya justru Mas, karena mas akan sibuk, Lian di Megayu aja, Lian bisa ajak Dinda dan Anya"


"Mas nggak suka sama temenmu itu? Mas juga nggak kenal mereka. Mas nggak yakin mereka akan berpengaruh baik buat kamu"


"Astaghfirulloh, Mas! Suka atau nggak suka, kenal atau nggak kenal, tapi dia temenku. Lian tau kok Anya anak yang baik, dia sahabatku" tutur Alya meyakinkan Ardi.


"Tetap saja mas nggak suka tempat tinggal mas dimasuki orang lain"


"Ya aku minta maaf tentang kejadian kemarin, tapi kan itu salah mas, kenapa mas pergi nggak kasih tau, pulang nggak kasih tau, dipikirnya aku nggak stress apa? Mas nggak pulang - pulang. " Alya mengomel tidak menyadari kalau Alya mengungkapkan kekhawatiranya saat Ardi pergi. Ardi merasa menang dan tersenyum lagi melihat istrinya.


"Coba ulangi lagi? Kamu nungguin mas? Kamu stress mikirin mas?"

__ADS_1


"Ehm... " mulut Alya tercekat, pipinya memerah. Alya malu ketahuan merindukan suaminya selama ini. Dirinya sendiri tidak menyadari entah mulai kapan suaminya menempati otak dan pikiranya. Sampai-sampai Alya dengan mudahnya memberikan kesucianya tempo hari.


"Makanya jadi istri itu jangan jaim, kalau kangen telpon! Kalau nggak mau ditinggal ya bilang aja, nggak usah sok-sokan! 2 minggu lagi, nanti kamu tahu kemana mas pergi seminggu kemarin" jawab Ardi dewasa menatap istrinya dengan perasaan lega.


"Kenapa nggak sekarang aja sih kasih taunya!" dengus Alya kesal.


"Udah maghrib sholat yuk! Abis itu siap-siap, kita makan di luar" jawab Ardi mengabaiakan pertanyaan Alya.


Alya masih menahan dongkol, semua pertanyaan yang memenuhi otaknya, meski sudah dilontarkan tidak juga mendapatkan jawaban. Alya benar-benar tidak habis fikir lelaki seperti apa sebenarnya si Ardi ini. Alarm sholat di ponsel Alya berbunyi, Alya bangun menyusul Ardi ke kamar mandi mengambil air wudzu.


****


Serenity Gunawijaya Kafe


Di pojokan salah satu kafe besutan yayasan Gunawijaya Grup yang melejit sukses, duduk dua perempuan tinggi semampai dengan pakaian modis saling bercengkerama. Mereka memilih tempat di dlantai dua.


"Lo yakin dia masih cinta sama Lo?" tanya perempuan cantik menyibakkan rambut panjangnya.


"Itu semua udah nggak penting buat gue, gue cuma mau di balik ke pelukan gue" jawab perempuan berlisptik merah menyala dengan dress coklatnya.


"Orang-orangan panti bilang, dia datang ke panti tempo hari"


"Oh ya?"


"Yah, sayang gue cabut duluan"


"Gimana kabar perempuan tua bodoh itu?"


"Dia udah jarang ke panti" tutur Sinta menyeruput minuman di depanya.


"Sayang sekali, padahal dia jembatanku" jawab perempuan berlisptik merah itu.


"Dia lagi ke Singapore kalau nggak salah?"


"Well, gue bisa dateng ke rumahnya dong?"


"Tapi lo harus waspada deh Tan, Bu Rita udah nggak kaya dulu lagi, terakhir ke panti Bu Rita bawa gadis. Gue ragu siapa dia sebenarnya, yang jelas Bu Rita sayang banget sama dia, meskipun dia bukan dari kalangan kita"


"Oh iya?" jawab Intan penasaran. "Lo udah selidiki dia?"


"Dari orangku, dia katanya dokter, awalnya gue benci sama dia karena dia deket-deket sama Farid"


"Farid?"


"Gue kira dia deketin Farid, jadi gue nyuruh anak buah gue buntutin dia, dia tinggal di apartemen Ardi, dan anak buah gue liat dia bareng Ardi" jawab Sinta cerita menunjukan foto saat Ardi berjalan meninggalkan Alya di belakang memasuki apartemen tempo hari.


"Wah, menarik!" jawab Intan dengan ekspresi tertawa menantang menemukan teka teki Sinta.


"Tapi mereka terlihat asing dan saling menjaga jarak" tutur Sinta lagi. "Sepertinya mereka tidak dekat, entah apa hubungan mereka?"


"Siapapun dan apapun rintanganya, bakal gue singkirin! Gue cuma mau dia balik ke gue" jawab Intan geram.

__ADS_1


__ADS_2