Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
26. Anak Pak Mentri


__ADS_3

"Ck ck" Ardi berdecak dan menggelengkan kepalanya melihat dr. Gery lari buru-buru karena seorang perempuan.


Gery sang play boy sewaktu di SMA. Setelah tua malah menjadi bucin dan tertolak cintanya. Ardi melihat di dashboard mobil, hp yang hendak di berikan ke gadis incaran Gery ketinggalan. Lalu Ardi turun mengikuti arah berlarinya Gery.


"Permisi" sapa Ardi ke kedua perempuan muda memakai seragam dokter.


Mendengar sapaan lelaki asing, kedua perempuan itu terperanjak.


"Kenal dengan Dokter Gery?" tanya Ardi ke kedua perempuan yang sedang duduk.


"I-iya Kak, kenal" jawab dr. Anya terbata karena nerveous berhadapan dengan laki-laki tampan.


"Oh syukurlah, saya nitip ini, barang dia ketinggalan minta tolong ya sampaikan ke Dokter Gery" Ardi menyerahkan bungkusan handphone.


"Iya Pak, Eh Kak" jawab dr. Anya menerima bungkusan dari Ardi.


"Oh iya dengan Dokter siapa ya?" tanya Ardi yang menebak dua orang di depanya dokter, karena memakai jas putih.


"Saya Anya"


"Saya Dinda" jawab dr. Dinda dan dr. Anya memberitahu identitasnya.


"Terima kasih Dokter Anya, Dokter Dinda, mari" pamit Ardi meninggalkan mereka berdua.


Anya dan Dindapun terpana, matanya mengikuti kepergian Ardi menuju parkiran.


"Ya ampun wangi bangeet" ucap dr. Anya.


"Mobilnya asa kaya pernah liat" ucap dr. Dinda melihat mobil Ardi. Ya Dinda memang pernah melihatnya saat Pak Rudi mengantar Alya.


"Lihat dimana?"


"Dimana ya?" dr. Dinda menggaruk kepalanya mencoba mengingat.


****


Apartemen Megayu


"2 tahun gue nggak ke apartemen, apa kabarnya ya?" Ardi memarkirkan Ferarinya di parkiran apartemen. Ardi tidak menyangka kalau tempat praktek Gery dekat dengan apartemen yang hampir dilupakanya.


Ardi turun lalu menghampiri satpam. Sahabat Ardi sewaktu kuliah dan tinggal di apartemen.


"Selamat pagi Pak Yon" sapa Ardi.


"Den Ardi?" Pak Yon mengucek matanya memastikan bukan mimpi.


"Iya Pak, ini saya" jawab Ardi menepuk lengan Pak Yon.


"Bener ini Den Ardi? Ya Ampun meni jadi ganteng pisan yaak? Tambah keker badanya?" puji Pak Yon.


"Pak Yon apa kabar? Sehat?"


"Sehat Den, saya kira Den Ardi nggak ke sini lagi".


"Saya emang nggak berniat tinggal di sini lagi Pak, cuma mau mampir bentar" jawab Ardi.


Tiba-tiba handphone Ardi berbunyi.


"Sebentar ya Pak Yon" pamit Ardi ke Pak Yon mengangkat telepon.

__ADS_1


"Halo Pah"


"Meeting sebentar lagi dimulai, kamu dimana, cepat kesini"


"Iya Pah, Ardi segera kesana" Ardi menutup telepon, dan segera pamit ke Pak Yon.


"Pak Yon saya harus pergi, lain kali saja mampirnya, mari Pak Yon".


"Hati-hati Den" jawab Pak Yon.


Ardi bergegas menuju ke kantornya.


*****


Rumah Sakit


"Huuuufftt" Alya menghembuskan nafas sambil memanyunkan bibir dan duduk di samping Anya dan Dinda.


"Gimana-gimana? Apa kata Dokter Mira? Nggak ada revisi kan? Apa ada masalah? Gue liat dr. Gery tadi lari-lari" dr. Anya langsung menyerbu dr. Alya dengan pertanyaan.


Tapi seperti biasanya, mulut Dokter Alya terkunci. Dia hanya diam sambil menarik nafas dalam dan menghembuskanya. Memandang kosong ke depan entah melihat apa.


"Apa Dokter Mira menyakitimu?" tanya dr. Dinda menebak ekspresi Alya.


Alya masih menatap kosong ke depan.


"Cerita dong Al" pinta dr. Anya sambil menggoyangkan lengan dr. Alya.


"Bapaknya Dokter Mira itu siapa sih?" tanya dr. Alya tiba-tiba.


"Ups" dr. Dinda menutup mulut.


"Kenapa lo tanya gitu?" tanya dr. Anya terkejut


"Dia anaknya Pak Menteri" jawab dr. Dinda nyeplos.


Alya dan Anya melongo mendengar perkataan Dinda.


"Hmmm" Alya bergumam, lalu menundukan kepalanya. Air matanya menetes tanpa disadari. Alya meratapi nasibnya, kenapa magangnya di Jakarta harus menghadapi hal-hal seperti ini.


"Lo kenapa Al?" tanya Dinda.


"Nggak!" Alya menggelengkan kepalanya. "Aku kangen sama ibuku, hiks hiks" jawab Alya berbohong menutupi kesedihanya. Tapi dia tetap menangis lalu spontan memeluk Anya.


"Puk puk puk" Dokter Anya menepuk pundak Alya yang tertutup jilbab. Dia membiarkan Alya menangis di bahunya.


"Menangislah Al, agar bebanmu berkurang" Dokter Dinda ikut menggenggam tangan Alya.


****


Ruang Dokter Mira


"Gue capek ngadepin lo Mir" kata dr. Gery putus asa.


"Tapi gue nggak akan capek buat dapetin yang gue mau!" jawab dr. Mira.


"Kenapa lo nggak priksa ke psikiater sih!" bentak dr. Gery kasar.


Dokter Mira diam. Menelan salivanya.

__ADS_1


"Sudah cukup kamu mengikutiku praktek ke rumah sakit ini, tapi jangan sakiti orang yang nggak bersalah"


"Dia salah!" jawab dr. Mira.


"Ya Tuhaan, Miraa, dimana letak salahnya?" Dokter Gery mengacak-acak rambutnya. Menatap gemas kesal ingin mencincang-cincang dan menghempaskan perempuan di hadapanya.


"Bahkan kamu pernah berjanji padaku, kamu tidak akan mengganggu hidupku lagi asal aku tidak mengundurkan diri dari rumah sakit ini, kenapa kamu berulah lagi, aku tidak mencintaimu Mira, kamu tau itu? Hidupmu akan tetap menderita jika menikah denganku! Sadarlah Miir, apa salah Alya?"


"Putuskan dia!" jawab Dokter Mira singkat.


"Apa?"


"Putuskan dia, aku tidak akan menyakitinya".


"Ya ampun! Aku bahkan belum jadian denganya!" jawab Dokter Gery kesal.


Mendengar perkataan Dokter Gery, Dokter Mira lega dan tersenyum. "Berarti apa yang dikatakan Dokter Alya bisa dipercaya"


"Semua orang membicarakan kalian, bahkan kalian bermesraan di kamar UGD" dr. Mira melanjutkan cemburu butanya.


"Itu bukan urusanmu Mira. Gue dah nggak ngerti lagi! Berhadapan denganmu membuatku pusing. Secepatnya gue undur diri dari WKDS ini, dan jangan pernah menguntitku lagi, aku akan ke luar negeri atau ke tempat yang kamu tidak menggangguku" ancam dr. Gery sudah tidak tahan dengan dr. Mira.


"Jangan...." potong dr. Mira.


"Kasianilah Dokter Alya. Dia tidak melakukan apapun, jangan ganggu dia" dr. Gery. memelankan suaranya melihat mata dr. Mira nanar.


Dokter Gery tau, Dokter Mira anak tunggal orang penting di negaranya, dia sangat manja, selalu gigih dan selalu mendapatkan apa yang dia ingin. Tapi di sisi lain sebagai manusia dan wanita, dr. Mira mempunyai hati yang sangat lembut dan sensitif. Sayangnya dia terlalu obsesi pada dr. Gery.


"Aku tidak tahan mendengarnya" jawab dr. Mira mulai meneteskan airmata.


Melihat Dokter Mira menangis, hati Dokter Gery sedikit iba. Tapi dia bingung mau melakukan apa. Lalu dia hanya diam salah tingkah. Mau tetap duduk di situ atau keluar saja.


"Jangan mudah percaya omongan orang. Aku hanya menolongnya" ucap dr. Gery menjelaskan kenyataan sebenarya, berharap dr. Mira berhenti menangis. Padahal sebelumnya Dokter Gery bahagia digosipkan pacaran dengan dokter Alya, meski kenyataanya tidak.


"Sebentar lagi jam poli buka, hapus airmatamu, tidak enak dilihat pasien" sambung dr. Gery mencoba menghibur Mira.


Mendengar perkataan dr. Gery sedikit baik padanya, dr. Mira berhenti menangis dan mengambil tissu di pojok meja. Lalu dibersihkan airmatanya sambil menunduk.


"Ya sudah aku mau bekerja. Aku harus visit ke ruangan. Ada banyak operasi juga! Ingat kataku, jangan sakiti Alya" pamit dr. Gery meninggalkan ruangan dr. Mira.


****


"Dokter Gery" panggil dr. Anya mendekat ke dr. Gery.


"Iya, Dokter Anya ya? Ada apa?"


"Tadi ada yang nyari Dokter, dia menitipkan ini!" kata dr. Anya memberikan bungkusan handphone.


"Astaga gue lupa. Makasih ya, oh iya Dokter Alya kemana?"


"Dokter Alya sama Dokter Dinda Dok, mereka sepertinya ke perpustakaan".


"Titip ya, bingkisan ini buat Dokter Alya. Sampaikan salam maafku padanya. Sampaikan juga jangan banyak berfikir macam-macam, semua baik-baik saja!"


"Ya Dok!" jawab dr. Anya menerima kembali bingkisan itu.


"Sampaikan juga, kalau marahnya sudah selesai suruh dia hubungi aku. Nomerku ada di situ. Aku sungguh ingin minta maaf, sampaikan ya!" pesan dr. Gery baik-baik.


"Banyak sekali pesanya" gerutu dr. Anya manyun.

__ADS_1


"Please!" dr. Gery tersenyum sambil menangkupkan kedua tanganya.


Dokter Anya mengangguk. Lalu mereka berpisah dan melanjutkan aktivitas masing-masing. Dokter Gery menuju ke ruang ICU untuk visit pasien, dan Dokter Anya mencari kedua sahabatnya yang tadi pamit ke perpustakaan.


__ADS_2