Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
150. Ayah baby El


__ADS_3

****


Tbc....


Rumah Sakit


Mira memundurkan kursinya, berdiri dan meninggalkan Gery dengan kesal. Sebenarnya point kesalnya Mira bukan tentang Gery tidak setuju dengan tindakanya.


Mira kesal kenapa Gery masih saja sangat peduli dengan Alya. Bahkan ketika Alya sudah menikah. Tatapan Gery selalu saja tulus jika membahas Alya.


Gery juga menyatakan mendukung pertunanganya. Kenapa tidak mencegahnya. Lalu untuk apa Gery membuntuti Tito dan mengkhawatirkanya.


Kenapa Gery tidak mengungkapkan keberatan atau menyatakan cinta. Tapi selalu muncul di hadapanya, bersikap baik terhadapnya. Hal itu membuat Mira terombang ambing dengan perasaanya.


Sebenarnya semakin dekat dengan hari pertunanganya, Mira merasa takut dan ragu. Tapi tidak ada alasan untuk menghindarinya. Pertanyaan Gery benar, Mira memikirkan umurnya. Tapi terlalu memalukan untuk diakui.


Mira memutuskan pulang kerumah. Tanpa peduli Alya yang dia tinggalkan di kafe. Atau pun Gery yang baru beradu pendapat denganya.


Gery sendiri diam menatap perempuan cantik di depanya pergi. Gery membiarkan Mira bersikukuh mempertahankan pendapat dan perbuatannya benar. Semua sudah terjadi, semoga semua baik-baik saja. Begiu fikirnya.


Gery menghela nafasnya. Gery tahu meskipun Mira sering jutek, terlihat angkuh dan semaunya sendiri, tapi hati Mira baik. Gery juga yakin dengan identifikasinya terhadap Ardi adalah benar.


Ardi adalah orang baik dan bertanggung jawab. Ardi juga pernah curhat ke Gery tentang anak Intan meski sudah lama dan sekilas. Meski Gery tidak tahu sedetail Dino.


Gery diam. Terbayang wajah perempuan yang pernah dia taksir. Perempuan yang sekarang jadi adik perempuanya. Perempuan yang perkataanya jutek kadang cerewet tapi tingkahnya membuat dia gemas.


Perempuan dengan wajah polos dan manis, apalagi jika melihat Alya tersenyum. Sangat tidak tega jika harus melihatnya menangis. Alya harus bahagia. Dan Ardi harus mewujudkanya.


Itulah sebabnya Gery ikhlas dengan Alya. Gery hanya mau Alya dan sahabatnya bahagia.


Berbeda dengan perasaannya terhadap Mira. Gery ingin Mira tetap di sisinya, mencintainya dan mengejarnya, tapi Gery tidak tahu harus berbuat apa. Gery merasa malu karena selama ini sudah menolaknya.


"Huuuuufh" Gery mengacak-acak rambutnya frustasi. Lalu memegang ponselnya.


"Sebaiknya gue peringati Ardi kalau Intan menemui Alya" gumam Gery menggaruk pelipisnya teringat Alya.


Gery mengambil ponselnya, mencari kontak pribadi Ardi. Sebagai sahabat yang baik Gery mengkhawatirkan rumah tangga sahabatnya. Gery juga mengupayakan yang terbaik.


Sekali menelpon, tidak diangkat, dua kali telp masih tidak diangkat. Untuk yang ketiga kalinya Gery menelpon masih saja hanya berdering tanpa tanggapan.


Seperti biasa ketika bekerja Ardi menyimpan ponsel pribadinya. Apalagi istrinya baru saja dia antarkan pulang, Ardi menjadi tenang dan yakin istrinya baik-baik saja. Ardi jadi lebih fokus dalam bekerja.


Merasa dicueki, Gery memilih menyimpan ponselnya kembali, menunda bercerita tentang pertemuan Intan dan Alya. Gery hanya sahabat. Ada rasa peduli dan mempunyai niat baik juga sudah nilai plus.


Gery juga laki-laki, emosinya tidak selabil Alya. Kalau saja Alya yang menelpon 3 kali tidak diangkat, pasti akan pundung, dan melanjutkan memborbardir dengan puluhan panggilan.

__ADS_1


"Semoga kalian baik-baik saja" gumam Gery menyerah, kemudian Gery memilih pulang.


****


Kafe Starlight.


Intan mengeraskan rahangnya dan meremas tisu di depanya selepas Alya pergi.


"Brengsek, berani dia menghinaku, punya nyali juga dia" gumam Intan.


Intan benar-benar dibuat kelabakan dengan perkataan Alya. Tidak menyangka kalau Alya berani melawanya. Intan kira Alya perempuan lembut seperti yang Sinta ceritakan.


Merasa dipermalukan, Intan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah Intan melampiaskan kekesalanya.


"Praangggg"


Intan melempar semua kometik di meja riasnya. Bahkan botol parfum mahalnya ikut pecah.


"Dia menantangku, oke. Itu artinya dia mengibarkan bendera perang terhadapku" batin Intan seperti orang kesetanan.


Pembantu Intan yang sedang mengasuk anak Intan ikut kaget mendengar benda jatuh dan pecah. Tapi mereka memilih tidak mendekat dan menjauhkan anak Intan dari ibunya.


Intan kemudian membuka lacinya.


Kemudian Intan mengambil bungkusan obat yang kemarin dikasihkan dari Sinta. Sesaat kemudian Intan tertawa sendiri memegang kedua benda itu.


"Lo harus mati. Nggak ada yang boleh miliki Ardi selain gue" batin Intan lagi.


Kemudian Intan memasukan benda yang ada di tanganya itu ke dalam tasnya.


Tidak memperdulikan bagaimana keadaan kamarnya sekarang. Intan mengambil kunci mobilnya. Intan melangakah keluar lagi.


"Mom mom" panggil anak Intan meracau saat Intan lewat di depan anaknya.


Intan menghentikan langkahnya. Kemudian Intan berbalik, berjongkok dan mencium anaknya.


"Ya sayang, sini mama cium anak ganteng Mama" jawab Intan membelai lembut anaknya.


Sesaat Intan terlihat seperti manusia normal dan baik. Anak Intan yang merindukan ibunya pun meraih tangan Intan. Bergelayut ingin digendong dan didekap ibunya.


Pengasuh pun diam membiarkan Baby El bersama ibunya sejenak. Intan meletakan tas mahalnya, menyempatkan waktunya menimang anaknya.


Tidak diketahui orang lain Intan meneteskan air matanya sambil menidurkan Baby El.


"Mama nggak akan biarkan si ****** pengangguran itu jadi ayahmu. Ayahmu adalah Ardi Gunawijaya. Kamu harus hidup dengan layak, kamu tidak boleh menderita" gumam Intan membelai kepala anaknya.

__ADS_1


*Flashback


Intan terbayang sesosok laki-laki yang menidurinya waktu itu. Dia teman kuliah Intan, dia juga kenal dengan Ardi. Hanya saja nasib dan kastanya berbeda.


Namanya Yogi, dia bukan pengusaha atau pun orang kaya. Yogi seorang pelukis rendahan. Yang karyanya di jual serabutan. Kadang laku kadang tidak hanya cukup untuk makan.


Hidup Yogi juga seperti anak jalanan, tidak punya rumah. Dan tidak jelas arahnya. Yogi lebih sering menghabiskan waktu bersama komunitasnya. Berpindah-pindah tempat membuka event pameran.


Tentu saja tidak ada jaminan kemapanan. Apalagi memuaskan dan memenuhi gaya hidup mewahnya Intan.


Jika lukisanya laku ya Yogi dapat uang. Jika tidak ya Yogi menghabiskan waktunya mengalir apa adanya. Tapi Yogi tetap menekuni hobinya dan yakin bisa sukses.


Sejak lama Yogi memang naksir Intan. Tapi Intan tidak mengindahkan Yogi. Jelas karena faktor ekonomi dan strata sosial. Bahkan kerap kali Intan menghina Yogi. Memakinya dengan kasar.


Hal itu membuat Yogi sakit hati. Saat ada acara reuni bersama teman-teman. Yogi berniat membalas sakit hatinya. Yogi membuat Intan mabuk. Dan Yogi berhasil menjalankan misinya. Menikmati keindahan setiap inci tubuh Intan.


Yogi sendiri juga yang membuat video mesumnya. Yogi juga yang mengakui perbuatanya terhadap Ardi. Hal itu yang membuat Ardi murka.


Lebih murkanya lagi, sebelum pergi, Ardi sudah melarang Intan untuk ikut acara-acara yang tidak penting itu menurut Ardi. Tapi Intan kekeh mau ikut. Intan ingin bersenang-senang bersama teman-temanya.


Bahkan mereka bertengkar, Intan melawan perintah Ardi. Itu yang membuat Ardi sangat kecewa dan menganggap Intan bukanlah calon istri yang baik. Ardi memutuskan untuk mengakhiri hubungan.


Sementara Intan. Merasa dirinya tidur karena dijebak dan di luar keinginanya, Intan menganggap dirinya tidak bersalah. Intan merasa tidak menghianati Ardi. Intan tetap bersikeras berada di samping Ardi. Dan tidak menerima Yogi.


Bahkan Intan mencoba melakukan hal serupa seperti yang Yogi lakukan. Agar Ardi mengakuinya dan menjadi miliknya. Intan menjebak Ardi, dan mengaku seolah-olah Ardi menidurinya. Meski sayangnya rencananya gagal.


Dan justru Ardi semakin benci terhadap Intan. Ardi memutuskan pergi dari Indonesia. Sementara benih Yogi tetap tumbuh di rahim Intan. Dan sekarang anaknya lahir menjadi seorang Baby Natanel atau Baby El.


****


Tidak lama Intan menimang, baby El tertidur. Intan pun merebahkan anaknya di tempat tidurnya.


"Bi saya kerja dulu, jaga El ya!"


"Iya Nyonya"


"Kalau bangun dimandikan dan beri dia makan"


"Baik Nyonya"


"Oh iya bersihkan kamarku"


"Baik Nyonya"


Intan kembali mengambil tasnya dan melajukan mobilnya ke butik..

__ADS_1


__ADS_2