
Meski sedang tidak bekerja dan datang ke rumah sakit dengan baju bebas, Anya dan Alya memarkirkan motornya di parkiran karyawan. Karena Alya kenal dengan pegawai dan suster Alya sudah mendaftar antrian secara online. Sehingga Alya tidak perlu antri dan langsung masuk ke tempat periksa.
"Pasienya masih banyak nggak Sus? Udah giliranku belum ya?" tanya Alya ke perawat.
"Udah ditunggu dari tadi Dok. Silahkan masuk Dok" ucap perawat mempersilahkan Alya dan Anya masuk. Di dalam ruangan masih ada satu pasien yang hampir selesai ditangani. Setelah pasien keluar Alya duduk ditemani Anya.
"Pagi Dok" sapa Alya.
"Pagi, Dokter Alya, gimana? Ada keluhan apa? Kok datengnya sama Dokter Anya? Suaminya mana?" tanya Dokter Siska.
Alya menunduk malu. Sementara Anya menatap Alya seperti ingin bilang. "Nah lo, ditanyain kan?" tapi hanya dibatin.
"Suami masih kerja Dok" jawab Alya beralasan.
"Gimana ada keluhan apa?" tanya Dokter Siska ramah.
"Alhamdulillah udah nggak ada keluhan sih Dok. Malah lebih baik. Tapi, Alya mau ke Jogja Dok. Ibu Alya sakit, Alya anak satu-satunya, gimana ya Dok?"
"Hemmm, gimana ya?" jawab Dokter Siska mengembalikan pertanyaan ke Alya. Sebenarnya Dokter Siska tau kalau Alya juga paham apa yang seharusnya Alya lakukan.
Alya menunduk tidak menjawab, Alya memilih menunggu jawaban Dokter Siska, sebenarnya Alya datang ke Dokter Siska hanya untuk menggenapi psikisnya. Tanpa tanya Alya sudah punya jawaban sendiri. Tapi juga Alya tetap punya pilihan sendiri.
Dokter Siska menghela nafas tersenyum pada Alya.
"Sebenarnya tidak dianjurkan ya, berpegian jauh. Apalagi usia kehamilanmu masih di bawah 14 minggu. Resikonya terlalu tinggi. Kalau yakin kamu sehat dan kuat tidak masalah. Hanya saja, kamu harus siap dengan segala resikonya itu".
"Ya Dok saya mengerti. Tapi saya harus ke Jogja dok, butuh obat untuk antisipasi nggak Dok?" jawab Alya.
"Obat yang kemarin masih?"
"Masih Dok"
"Oke. Lanjutin obat yang kemarin. Pesan pentingnya hati-hati ya, nggak boleh kecapekan! Semoga bayimu kuat. Salam buat ibumu. Sampai sana tetap kontrol"
"Baik Dok, terima kasih"
"Oke sama-sama, ada lagi?"
"Nggak Dok"
"Japri aja kalau mau tanya-tanya lagi" ucap Dokter Siska ramah.
"Baik Dok terima kasih" jawab Alya menunduk. Lalu mereka undur diri. Alya dan Anya pun tersenyum keluar dari ruang periksa.
"Udah gitu doang?" tanya Anya kesal sambil berjalan menuju ke parkiran.
"Ya kan yang penting aku udah konsul" jawab Alya membela diri.
"Tapi jawabanya tetap terserah kamu kan?" tanya Anya lagi.
"Bismillah, Ibuk yakin kamu kuat ya dhek, kasian eyang uti" ucap Alya mengelus perutnya.
"Hemmm, gue pengen ikut Al" ucap Anya lirih, tiba-tiba melow.
"Ngapain ikut? Jauh tau, rumah ibuku di pelosok" tanya Alya kaget. Lalu Alya menunduk sendu membayangkan rumah sederhananya. Kontrakan Bu Mirna memprihatinkan berbeda dengan rumah Alya bersama suaminya sekarang.
"Gue kangen Agung. Gue ikut lo yah. Please, gue pengen ke Jogja" pinta Anya memelas.
"Ish" jawab Alya memandang Anya dengan tatapan aneh. Ternyata alasanya Agung. Alya pun penasaran, apa Agung lebih baik dari Kak Farid. Sampai Anya tergila-gila dengan Agung.
Alya berjalan sambil berfikir apa Anya bisa tinggal di rumah reotnya di kampung. Alya tidak tahu kalau Ardi sudah merenovasi rumah Alya.
1 minggu setelah nikah saat Ardi pergi tanpa kabar, Ardi menepati janjinya merenovasi rumah mertuanya. Ardi pergi ke Jogja mengurus kepemilikan tanah tempat Bu Mirna ngontrak. Ardi tidak cerita ke Alya karena ingin memberinya kejutan. Dan sekarang sudah jadi.
"Ikut ya Al" pinta Anya lagi merayu Alya.
"Ibuku tuh di rumah sakit Anya. Nanti kamu nginep dimana? Terus emang kamu nggak kerja?" jawab Alya mencari alasan.
"Gue libur dua hari. Gue kan bisa nginep di hotel"
__ADS_1
"Hush kamu mau nginep di hotel sama Agung? Nggak. Nggak boleh"
"Siapa juga yang bilang mau nginep bareng Agung nggak lah. Yang penting aku ikut ya. Eh tapi suami lo gimana?" tanya Anya ingat Ardi.
Alya diam dengan sifat pundung dan kekanak-kanakanya. Mereka sampai ke parkiran. Alya manyun tidak menjawab pertanyaan Anya, Alya mengambil helm dan memakainya tidak melihat ke Anya. Anya pun menatap Alya garang bersiap jadi emaknya Alya. Anya tau dari ekspresi Alya, Alya enggan membahas suaminya.
"Gue laper sama haus. Kita mampir ke tukang bakso di sebrang perumahan yak! Baru kita ke stasiun" ucap Anya ikut memakai helm. Anya bersiap menceramahi Alya saat di tukang bakso nanti.
"Siap!" jawab Alya tersenyum melupakan pertanyaan Anya.
Alya pun di depan membonceng Anya menuju ke tukang bakso. Mereka sampai di tukang bakso. Meski katanya tidak sehat tetap saja Alya yang sedang hamil muda sangat menyukai makanan yang kuahnya segar itu. Padahal sebelum hamil Alya selalu menghindari jajan. Lalu mereka berdua memilih tempat dipojokan yang sepi.
"Ehm" Anya berdehem bersiap memulai peranya sebagai emak Alya. Anya sudah gemas melihat kelakuan Alya. Alya duduk memandangi ponselnya yang dia matikan.
"Jawab pertanyaan gue!" ucap Anya meneruskan pembicaraanya yang tertunda.
"Apa?" jawab Alya tanpa berdosa.
"Lo udah ijin belum sama suami lo mau ke Jogja? Lo udah kasih tau belum ke suami lo. masalah lo apa?" tanya Anya cerewet.
Alya menelan salivanya tidak menjawab. Alya tahu Alya salah. Tapi sifat Alya memang keras kepala dan kekanak-kanakan. Entah kapan berubahnya. Tapi tetap saja membuat suaminya gemas dan tambah cinta.
"Al, ingat ya, gue bukan Emak lo. Bosen gue lama-lama kasih tau lo. Ini udah yang ketiga kalinya lo ngambek-ngambekan gitu. Sebbel gue sama Lo" sambung Anya jujur karena melihat Alya diam.
"Kalau lo masih sama bersikap kaya anak abg baru pacaran kek gini. Gue nggak akan bukain pintu kos gue buat Lo! Seperti apapun alasan lo nikah. Kenyataanya lo dan nikah. Lo nggak bodoh kan?"
"Kok kamu bilangnya kasar gitu sih Nya?" jawab Alya tersinggung. Anya memang perkataanya bar bar. Tapi Anya sayang ke Alya.
"Abis aku bener-bener kesel. Kamu pernah pacaran nggak sih? Kamu kaya abg tau nggak?"
"Nggak!" jawab Alya polos. Ardi memang yang pertama dan terakhir buat Alya.
"Pantes! Nih ya, sekali lagi gue kasih tau. Lo kan udah jadi istri Ardi. Lo udah dewasa, tau kan seharusnya lo gimana? Masalah ibu lo itu penting buat dikomunikasiin" tutur Anya menasehati
"Aku beneran kesel Anya. Dia deketan sama mantanya, tapi dia nggak pernah kasih tau aku. Dia pengen aku dirumah terus, sementara dia? Ternyata ketemu mantanya. Semua pengurus panti baik-baikin tunanganya, aku bisa apa? Mas Ardi tuh nggak kasih tau ke orang-orang kalau aku istrinya. Kamu ngerti kan perasaan aku?"
"Iya. Bilangnya, secepatnya resepsi"
"Ya udah terus apalagi masalahnya? Tinggal nunggu resepsi. Kamu ngambek karena cemburu?" tanya Anya lagi.
Alya diam.
"Lo jangan sampe ulangi kesalahan lo Al. Kalau lo cemburu, tanya dulu ke suami lo. Cari bukti. Baru lo ambil tindakan. Gue yakin dari tatapan dan sikap suami lo, dia cinta banget sama lo"
"Latian percaya. Kalaupun ada perempuan yang mau gangguin suami lo. Kepret lah dia! Hajar, jangan ditinggal pergi. Gue tau lo cinta sama suami lo, nggak usah jual mahal gitu" tutur Anya menasehati lagi.
Alya mendengarkan Anya. Perkataan Anya memang kasar, tapi benar. Alya harus banyak belajar dari Anya yang sudah gonta ganti pacar. Meskipun belum menikah, pengalaman Anya lebih banyak.
Pesanan bakso datang merekapun menyantap es teh dan bakso di depanya. Alya menyalakan ponselnya. Dan benar saja suaminya menelponya berkali-kali. Alya meletakan ponselnya, berniat menghabiskan makananya dulu baru menghubungi suaminya.
Belum habis bakso Alya. Ponsel Alya berdering, panggilan dari suaminya lagi. Alya mengambilnya dan menjawab panggilan itu.
"Assalamu'alaikum. Halo Mas" jawab Alya lembut.
"Sayang kamu dimana? Kamu sehat kan? Kamu baik-baik aja kan?" tanya Ardi panik.
"Lian lagi makan bakso sama Anya" jawab Alya jujur. Saat ini makanan kesukaan Alya bakso.
"Bakso?" jawab Ardi merasa diprank.
Ardi sudah sangat khawatir menghubungi Alya dari tadi. Katanya Alya ke rumah sakit. Ardi berfikir macam-macam. Eh istrinya malah lagi makan bakso.
"Iya. Lian di sebrang pintu masuk kos Anya. Kenapa?"
"Syukurlah. Mas kesitu sekarang sebentar lagi sampai" ucap Ardi menutup telepon.
Alya pun meletakan ponselnya dan melanjutkan makan.
"Gimana?" tanya Anya selesai makan.
__ADS_1
"Dia mau jemput kesini" jawab Alya lirih.
"Ingat. Gue nggak mau denger lo ngambek-ngambekan lagi. Ini udah yang ketiga kali. Dan terakhir. Gue nggak akan buka pintu kos gue buat lo kalau lo ngambek lagi" tutur Alya memperingati.
"Ish galak banget sih" cibir Alya.
"Ilangin tuh sifat kamu yang ngambekan. Malu tau sama anak lo. Emaknya kaya anak kecil, masa mau saingan sama anak lo nanti, nangis bareng"
"Hiiish nggak lah. Iya ya aku baikan"
"Al. Aku ikut ya. Aku pengen banget ke Jogja. Please" pinya Anya lagi. Alya diam menatap Anya. Anya benar-benar ingin ke Jogja.
"Baiklah. Tapi tunggu suami aku ya!" jawab Alya tersenyum.
"Oke" jawab Anya bahagia.
Tidak lama menunggu. Mobil mewah Ardi tiba di depan warung bakso. Pak Rudi turun dan membukakan pintu mobil. Ardi keluar, celingukan mencari istrinya. Lalu membuka ponselanya.
"Sayang, mas udah di depan tukang bakso" ucap Ardi di telepon.
Alya dan Anya bangun dan menghampiri suaminya. Meski dalam hati masih menyimpan banyak pertanyaan. Muka Ardi yang dari tadi kusut menjadi cerah. Rasa cemburu dan paniknya hilang. Ardi melihat istrinya baik-baik saja membuat hormon bahagianya bekerja.
Begitu juga Alya. Meski masih merasa punya hutang omelan dan menyerbu dengan banyak pertanyaan yang akan dia lampiaskan entah kapan. Untuk saat ini Alya merasa lega dan bahagia suaminya mencarinya. Menjemputnya dan masih dengan tatapan yang sama. Alya tersenyum dan mencium tangan suaminya. Anya dan Pak Rudi menatap pasangan aneh itu lega.
"Lian bayar dulu ya Mas" pamit Alya kembali masuk.
"Mas aja yang bayar" jawab Ardi masuk lalu memberi tukang bakso uang seratus ribuan 5 lembar.
"Ini kebanyakan Tuan" ucap tukang bakso.
"Ambil aja" jawab Ardi dingin lalu keluar.
Ardi merasa sangat bahagia istrinya baik-baik saja. Setelah sepanjang jalan dibuat khawatir. Ardi memberi hadiah uang ke tukang bakso sebagai ujud rasa senangnya.
Saat keluar Ardi terkejut melihat istrinya sudah memakai helm dan duduk di atas motor.
"Sayang kamu ngapain naik motor begitu?"
"Kenapa memangnya?" tanya Alya merasa biasa aja Alya naik motor dan tidak ada yang salah.
"Turun. Lepas helmnya. Masuk ke mobil" perintah Ardi dingin.
"Kasian Anya sendirian Mas. Lian temenin Anya naik motor ya" jawab Alya beralasan.
"Anya ikut masuk ke mobil. Biar Pak Rudi yang bawa motor, masuk" jawab Ardi memberi solusi. Ardi tidak mau istrinya kena debu dan panas.
"Yaya" jawab Alya manyun lalu melepas helemnya. Anya yang cerewet diam saja mengikuti Alya. Kunci motornya pun diserahkan ke Pak Rudi. Kini Ardi yang nyetir.
Alya masuk ke kursi tengah hendak duduk bareng Anya.
"Sayang ko kamu di situ?" protes Ardi melihat Alya duduk di samping Anya.
"Iya ya, Lian ke depan" jawab Alya tau kesalahanya. Lalu duduk di samping suaminya dan membiarkan Anya duduk sendiri. Anya diam saja tidak berkomentar.
"Mau kemana kita?" tanya Ardi belum tanya apa yang terjadi sebenarnya.
"Ke stasiun Mas"
"Ngapain?" tanya Ardi kaget.
"Ibu sakit. Lian mau ke Jogja, Anya ikut. Boleh ya?" ucap Alya menatap suaminya meminta ijin.
"Ibu sakit? Sakit apa?"
"Lastri telp, ibu jatuh di mushola. Ibu masuk rumah sakit"
"Anak kita gimana?" tanya Ardi melihat perut Alya.
"Lian udah konsultasi ke Dokter Siska. Lian sehat Mas. Insya Alloh akan baik-baik aja. Yang penting sekarang ketemu ibu dulu" jawab Alya menjelaskan.
__ADS_1