
"Aquagenic urtikaria" gumam Alya memandangi Ardi yang masih terlelap di sampingnya.
"Ternyata Mas Ardi penderita aquagenic urtikaria, kukira dia hanya berbohong" Alya mencoba menelisik ruam-ruam merah di wajah Ardi.
"Sudah sembuh, syukurlah" gumam Alya bangkit.
Alya bangun masih lengkap dan utuh dengan piyama panjang dan jilbabnya. Listrik dan lampu aparetemen juga sudah menyala. Meski tidur berdua di satu ranjang, mereka berdua benar-benar menepati janjinya untuk tidak saling menyentuh. Meski Ardi ada rasa dengan Lian, dia laki-laki dewasa yang bertanggung jawab.
Jadwal jaga Alya di rumah sakit hari itu, pagi. Alya bergegas ke dapur setelah sholat subuh. Pagi itu Alya membuat bubur, sengaja disediakan untuk tamunya yang sedang sakit.
"Mas Ardi sholat subuh nggak ya? Aku bangunin apa biarin?" gumam Alya saat mengambil bajunya di kamar.
Alya melihat Ardi masih tidur sangat nyenyak. Sementara waktu menunjukan pukul 06.00. Ragu-ragu alya menggoyangkan kaki Ardi.
"Mas, bangun! Sholat dulu" ucap Alya membangunkan Ardi. Tapi Ardi tidak menggubris. Merasa bukan siapa-siapanya. Alya menghentikan usahanya untuk membangunkan Ardi.
"Aku kan bukan istrinya, dengan menolongnya aku sudah cukup baik, untuk apa aku peduli, dia sholat atau nggak? Terserahlah dia mau apa? Sepertinya setelah gajian, aku akan cari kos aja!"
Alya berbicara sendiri berlalu meninggalkan kamar menuju ke dapur. Alya mulai merasa tidak nyaman tinggal di apartemen, karena Ardi sering berkunjung. Meskipun mereka mulai dekat dan akrab, tapi Alya merasa ada yang salah jika Ardi berkunjung dan menginap. Alya tidak ingin kedekatan dan keakrabanya menjadi terlewat batas.
Semenjak Ardi datang, Alya juga lebih sering menggunakan kamar mandi di dapur. Pagi itu juga Alya bersiap-siap dan dandan di meja makan mengingat di kamar ada Ardi.
Selesai siap-siap, Alya menuliskan memo untuk Ardi, dia meletakanya di atas kemeja Ardi yang sudah disetrika. Alya mohon maaf karena tidak percaya alergi Ardi, Alya meminta Ardi meminum obat dan sarapan bubur yang sudah dia siapkan.
Alya berangkat ke rumah sakit seperti biasa.
****
Ardi tersenyum membaca memo Lian. Lalu Ardi melakukan apa yang Lian tulis. Ardi sarapan dan meminum obat. Ardi melirik jam tangannya menunjukan jam 09.00 pagi. Setelah mandi dan berganti pakaian kerja, Ardi turun dari apartemen bersiap ke kantor.
"Den Ardi baru mau berangkat?" tanya Pak Yon heran.
"Iya Pak Yon" jawab Ardi membuka pintu mobil.
"Bos ini ya Den, berangkatnya suka-suka" jawab p
Pak Yon lagi.
"Saya kesiangan Pak" jawab Ardi, menegaskan meski kenyataanya Ardi berangkat di jam sesukanya, tapi kalau tanpa alasan itu tidak dibenarkan.
"Bermalam lagi Den?" tanya Pak Yon lagi.
"Iya, semalem hujan"
Ardi melajukan mobilnya menuju ke kantor tanpa pulang ke kediaman Tuan Aryo.
"Apa gue jujur aja ya sama Lian kalau gue pengen nikahin dia. Apa Lian mau? Apa gue bilang sama papa mama aja?" gumam Ardi sambil nyetir.
*****
Rumah Sakit
"Sendirian aja nih?"
"Iya Dok, Dokter sendiri udah selesai prakteknya?" tanya Alya.
__ADS_1
"Udah, hari ini nggak begitu banyak jadi cepet selesai, udah makanya?" tanya Dokter Mira melihat meja Alya hanya ada jus mangga.
"Saya bawa bekel udah dimakan, kesini ngadem aja" jawab Alya. Tiba-tiba dari luar datang Dokter Gery.
"Hai.. udah pada makan?" tanya Dokter Gery ikut nimbrung.
"Belum" jawab Dokter Mira. Lalu Gery dan Mira memesan makanan, sementara Alya yang duluan ke kantin memilih menghabiskan jus mangga.
Dokter Gery dan Dokter Mira mulai makan bersama. Alya tersenyum bahagia melihat Dokter Mira semakin dekat dengan Dokter Gery.
"Ehm, Dok, jus saya sudah habis, saya duluan ya, Dokter Mira sama Dokter Gery dilanjut aja makan dan ngobrolnya" pamit Alya sengaja meninggalkan Dokter Gery dan Dokter Mira.
"Lhoh kenapa buru-buru Al? Kerjaan udah selesai kan?" tanya Dokter Mira.
"Mau sholat Dok, sekalian siap-siap pulang" jawab Alya.
"Nyebelin ahh, ditemenin malah pergi" imbuh Dokter Gery yang memang sengaja ikut nimbrung karena ada Alya.
"Lain kali makan bareng lagi, permisi. Daah" pamit Alya sudah merasa dekat dengan seniornya.
Setelah pertemuan malam itu Alya, Gery dan Mira memang menjadi lebih dekat dan terbuka. Meskipun perasaan dari masing-masing mereka masih tetap sama. Tapi mereka bertekad lebih mengutamakan persahabatan. Meskipun di sela-sela itu Gery masih berusaha mengambil kesempatan. Begitu juga Mira, masih berharap Gery membuka hati untuknya. Alyapun tetap kokoh pada pendirianya, semua teman magang, tidak lebih.
"Drrrrt drrrrt" ponsel Alya menyala.
"Halo Mah" jawab Alya terhadap seseorang di telepon.
"Sayang, kamu jaga apa hari ini. Besok jaga apa?"
"Alya jaga pagi, Mah, ini satu jam lagi pulang".
"Oke, Pak Rudi nunggu di depan rumah sakit ya. Kamu pulang ke mamah ya"
"Pokoknya Pak Rudi jemput kamu sekarang. Udah otewe".
"Ya, Mah"
Alya menutup ponselnya lagi. Alya duduk memegang tas menunggu jadwal pulang karena pekerjaanya sudah selesai.
"Kok aneh banget ya Tante Rita, kenapa firasatku nggak baik" gumam Alya dalam hati
"Woi... jangan ngelamun" tegur Dinda. "Ditungguin Dokter Gery tuh di depan"
"Hah? Dokter Gery nungguin?"
"Iya, tadi tanya ke gue. Lo dah balik belon?"
"Ehm, mang mau apa dia? "
"Tau! Ngajak kencan kali, apa jalan, udah sana Lo, pulang Lo!" jawab Dinda mengusir, mendukung Alya untuk kencan dengan dokter idola di rumah sakit.
"Ya aku pulang. Tapi katanya, aku dijemput sopir tanteku"
"Posesif banget tante Lo, bilang aja, Lo mau kencan gitu?" Dinda mengajari Alya, berharap temanya segera mengakhiri status jomblonya.
"Nggaklah, dia udah baik, sediain apartemen gratis buat aku. Yaudah aku pulang dulu ya" jawab Alya membela Bu Rita.
__ADS_1
"Ya, hati-hati, penurut banget sih jadi orang" cibir Dinda melihat Alya pergi.
Alya keluar rumah sakit, berencana menunggu Pak Rudi di halte depan rumah sakit. Seperti kata Dinda, ternyata Dokter Gery menunggu Alya duduk di kap mobil.
"Hai, Dokter Alya" sapa Gery.
"Hai, Dok" jawab Alya tersenyum membalas sapaan Dokter Gery.
"Mau pulang?" tanya Dokter Gery. Alya tersenyum menggeleng.
"Saya mau pergi" jawab Alya jujur.
"Pergi kemana? Gue anter ya?" tawar Gery ramah berharap punya kesempatan kencan.
"Saya dijemput Dok" jawab Alya untuk yang pertama kali jujur.
"Ini udah yang ketiga kali lho, kamu tolak aku dengan jawaban yang sama"
"Hehe. Sungguh kali ini saya jujur Dok, sopir tante saya yang jemput, saya mau ke rumah tante saya" jawab Alya jujur.
"Ya udah aku nungguin sopir tantemu"
"Boleh, tapi Dokter Gery nunggunya di sini aja, aku di sana" jawab Alya menunjuk bangku halte yang letaknya di depan mobil Gery hanya berbatas pagar.
"Oke" jawab Gery setuju.
Sekitar 15 menit Alya duduk, Pak Rudi datang, turun dan membukakan pintu untuk Alya. Gery yang duduk di mobil memperhatikan Alya.
"Kali ini dia beneran dijemput, kaya pernah liat sopir itu, dimana ya?" gumam Gery melihat Alya pergi.
Tiba-tiba, Gery mendengar seseorang menstater mobil tapi nggak nyala-nyala. Akhirnya pengemudi mobil yang tidak menyala itu keluar. Dengan emosi menendang ban mobil itu sambil mengumpat.
"Mir, mobil Lo kenapa?" tanya Gery keluar menghampiri perempuan itu.
"Mobil nyokap gue. Nggak tau macet nih"
"Gue liat dulu sinih" jawab Gery. Gery mencoba membantu Dokter Mira, tapi tidak berhasil, lalu siang itu mereka berdua pulang bersama.
****
Kediaman Tuan Aryo
"Thok thok! Bangun Non, sudah sampai" Pak Rudi mengetok kaca mobil membangunkan Alya.
"Oh iya Pak" jawab Alya reflek setengah sadar.
"Silahkan Non" Pak Rudi membukakan pintu mobil.
"Terima kasih Pak, lain kali saya bisa kok buka pintu sendiri" tutur Alya ramah.
"Sudah ditunggu Tuan dan Nyonya di ruang keluarga Non"
"Oh ya? Baiklah aku segera kesana" jawab Alya bergegas masuk ke ruang tamu.
Pak Rudi mengangguk dan mempersilahkan. Alya merasa ada yang aneh. Datang dijemput sopir, ditunggu di ruang keluarga. Rasanya membuat Alya berdebar-debar. Ada apa ya?
__ADS_1
Alya masuk ke ruang tamu. Sudah ada 4 orang duduk behadap-hadapan. Mata Alya terbelalak melihatnya. Jantungnya seperti mau copot, kaget, malu, terharu, bahagia, tapi juga penasaran.
"Ibu?" pekik Alya dengan tatapan nanar. Lalu Alya menghambur ke perempuan tua itu. Meraih tanganya menciumnya dan memeluk tubuhnya.