Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
106. Kelemahan Ardi


__ADS_3

****


Kantor Gunawijaya


Dengan muka kusam dan menahan lelah. Ardi turun dari mobilnya. Di otaknya dipenuhi wajah istrinya yang manis dan imut. Rasanya ingin segera ke rumah sakit melepas lelahnya dengan memeluk hangat istrinya. Tapi semua itu harus dia tunda.


Meski dengan rasa malas. Ardi berjalan ke ruangan Risa. Karena Intan nekat masuk ke ruangan Risa saat Ardi tidak ada. Ardi membuka pintu ruang kerja Risa. Dan benar saja, di ruangan itu duduk dua perempuan cantik yang saling diam.


Mendengar suara pintu dibuka, Intan langsung menoleh girang. Wajah intan berseri dan bibirnya merekah. Intan langsung berdiri berjalan menyambut Ardi dan meraih tangan Ardi dengan tidak tahu malu. Dino dan Risa pun tampak sangat muak melihatnya.


"Sayang, akhirnya kamu datang juga" ucap Intan merasa masih seperti dulu. Padahal Ardi sudah berulang kali menghinanya.


Merasa dipegang tanganya, Ardi berhenti. Ardi menatap kesal ke Intan. Tangan Intan yang selalu inisiatif dari dulu melingkar di tanganya, mungkin dulu bisa membuatnya hangat, kini terasa sangat menjijikan. Berbeda dengan Alya, tidak pernah berinisiatif memegang Ardi duluan. Selalu Ardi yang ingin menyentuhnya dan selalu berdekatan denganya. Bahkan Ardi seringkali memeluk Alya dengan paksa.


"Siapa yang mengijinkanmu menyentuhku! Lepas!" bentak Ardi dingin ke Intan. Intanpun melepaskan tangannya.


Paham dengan situasi bosnya Dino dan Risa undur diri meninggalkan ruangan.


"Katakan apa mau kamu?" tanya Ardi duduk di kursi Risa.


"Ehm" Intan berdehem, bersiap mengeluarkan penampilan aktingnya.


"Katakan waktuku tidak banyak" ucap Ardi berbaik hati.


"Gue kesini cuma mau minta maaf" ucap Intan menghaluskan suaranya.


"Aku sudah lama memaafkanmu, cukup jauhi aku dan keluargaku dan urus kehidupanmu sendiri"


"Ardi, gue tahu, gue udah banyak nyakitin kamu, mungkin gue juga nggak tahu diri. Tapi apa tidak ada sedikitpun di hatimu tersisa memory tentang kita dulu. gur masih sama seperti yang dulu. Gue masih cinta sama lo, Ardi. Gue tulus"


"Jika itu yang ingin kamu sampaikan. Saya rasa cukup. Saya lelah saya butuh istirahat, silahkan pergi" jawab Ardi dengan bahasa sopan. Berniat menjaga jarak dan merasa tidak penting membahas tentang masalalu.


"Ardi, baiklah jika kamu tidak mau kembali padaku dan memaafkan aku, tapi tidak bisakah kita berdamai sebagai teman?" tanya Intan mulai melancarkan aksinya dan membuat penawaran.


Sebelum Intan mendengar resepsionist membicarakan tentang Berlian. Intan berencana menekan Ardi terang-terangan untuk mengakui anaknya. Intan juga akan mengancam Ardi, jika tidak mau akan menghancurkan pembukaan kafe.


Intan mengancam, dengan mengaku kalau Ardi meninggalkan Intan saat hamil karena Ardi kelaianan. Intan akan mengaku pada saat pembukaan restokafe danau, agat reputasi yayasan panti tercoreng. Tapi jika Ardi mengakuinya, Intan akan bantu membantah gosip tentang Riko. Intan mengira Ardi akan merasa terbantu.


Tapi setelah mendengar gosip Ardi sudah mempunyai wanita baru. Intan mengubah rencananya. Intan berencana kembali ke kehidupan Ardi dan Bu Rita dengan cara halus dan pelan-pelan. Intan tau jika Ardi mempunyai pacar, rencana pertamanya pasti gagal. Rencana keduanya Intan berniat kembali aktif di yayasan bersama Sinta.


"Apa mau kamu?" jawab Ardi curiga ke Intan.


"Aku memang mempunyai kesalahan terhadapmu, dan aku sudah menerima hukuman dengan gagalnya pernikahan kita. Tapi aku tidak ada salah ke panti dan butik. Ijinkan aku kembali bekerja" ucap Intan merayu.


Mendengar kata panti Ardi langsung kaget. Bagaimana mungkin membiarkan Intan mengurus panti lagi, jika Berlian pujaan hatinya juga sangat menyukai tempat itu. Ardi tidak mungkin membiarkan Intan bertemu dengan istri tercintanya.

__ADS_1


"Panti sudah tidak membutuhkanmu" jawab Ardi singkat.


"Kenapa? Sinta tidak bilang demikian, aku sungguh ingin meminta maaf dan tulus Ardi"


"Tidak, pengajar dan pengurus panti sudah cukup" jawab Ardi dingin.


"Perusahaan ayahku masih belum stabil. Aku ingin mengisi waktuku dan mengembangkan bakatku lagi. Apa sungguh kamu tidak ingin membantuku?" tanya Intan memelas berharap diperbolehkan.


"Kamu bisa mencari kerja di tempat lain!" jawab Ardi mulai kasian ke Intan.


"Aku nyaman bekerja di butikmu. Aku merasa itu rumah keduaku. Bukan kah dulu aku juga yang membuatnya maju. Tidak ingatkah bagaimana perjuanganku?" rayu Intan lagi.


"Intan, saya bilang tidak!" jawab Ardi tidak ingin mengingat masalalu.


"Ardi, saya butuh pekerjaan ini, saya single parents. Perusahaan orang tuaku sedang tidak baik" tutur Intan berakting memohon dan menangis.


Ardi diam, menatap perempuan cantik yang pernah mengisi hari-harinya dulu. Apa benar Intan sungguh menderita dan butuh pekerjaan. Apa benar Intan benar-benar berubah.


Sementara Intan menangis mengiba pada Ardi untuk tetap bisa diijinkan kembali beraktivitas di butik dan panti milik yayasan Gunawijaya.


Ardi tetap tidak mau mengambil resiko. Alya sangat susah dilarang jika berurusan dengan panti. Ardi tidak ingin kelak Alya berurusan dengan mantan tunangaya yang licik itu.


"Maaf Intan, saya tidak bisa menerimamu lagi. Kamu bisa membuka usaha sendiri, atau mencari pekerjaan lain. Kalau kamu butuh pinjaman aku bisa membantumu, kamu bisa datang ke Risa besok" tutur Ardi sedikit berempati tapi tetap menolak.


"Aku nggak yakin bisa mengembalikan pinjaman dari mu. Itu juga butuh waktu lama dan kerja keras jika harus berjuang dari awal. Ijinkan aku kembali mengurus butik Ardi" pinta Intan lagi.


"Kenapa nggak boleh? Apa semua ini karena perempuan yang bernama Berlian?"ucap Intan melancarkan serangan.


Ardi terhenyak mendengar nama istrinya disebut. Bagaimana Intan bisa membawa nama Berlian. Simpati Ardipun hilang, rasa khawatirnya kembali datang dan menghinggapi hatinya. Bagaimana Intan tau tentang Berlian.


"Apa maksud kamu?" tanya Ardi mulai panik dan berubah pikiran.


"Sepertinya dia perempuan yang istimewa buatmu, sampai pegawaimu begitu suka memujinya, apa dia sering kesini?" jawab Intan memancing Ardi.


"Sudah cukup aku bicara denganmu, masih ada yang harus aku kerjakan. Pergilah!" jawab Ardi tidak ingin terpancing.


"Syukurlah kalau kamu sudah menemukan perempuan lain. Itu berarti tidak ada masalah kan jika aku kembali ke panti, aku akan bekerja profesional dengan mu, bagaimana?" jawab Intan lagi melanjutkan sandiwaranya.


"Saya bilang cukup dan tidak! Pergi dari sini sekarang!" ucap Ardi mengarahkan jari telunjukna ke pintu.


"Apa benar perempuan bernama Berlian itu calon istrimu?" tanya Intan lagi, dengan ekspresi mulai berbeda.


"Saya bilang pergi! Jangan campuri urusanku" ucap Ardi menegaskan perintahnya.


"Baiklah! Aku jadi penasaran seperti apa perempuan bernama Berlian itu?" Intan tidak bangun dari duduknya dan tetap lanjut memanasi Ardi.

__ADS_1


Ardi semakin geram mendengar Intan selalu menyebut nama perempuan yang sedang mengandung anaknya itu.


"Jangan melewati batasmu Intan" ucap Ardi geram.


"Ardi aku hanya ingin baik padamu, aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita. Kalaupun kita tidak menikah, kita bisa berteman kan?" ucap Intan masih berusaha.


"Intan, hubungan kita sudah berakhir, sebagai teman atau apapun itu. Stop sampai di sini. Kalau kamu kekurangan uang aku bisa bantu kamu!"


"Ardi aku tidak butuh itu. Aku berniat baik. Apa kamu ingin mengubah pikiranku? Aku menyerah memaksamu mengakui anak kita. Aku menyerah membuatmu mengijinkan anak kita memanggilmu Dady, aku hanya ingin kita berdamai dan aku menemukan duniaku di butik"


"Cih!" Ardi meludah tidak percaya ada perempuan senyebelin Intan. "Cukup Intan. Dia bukan bayiku, dan kamu tau itu, ada banyak tempat untukmu bekerja, carilah tempat kerja lain" ucap Ardi geram.


"Kenapa kamu tidak melihat niat baikku. Atau kamu ingin aku menjadi jahat? Aku masih punya semua foto-foto kita dulu, kalau aku mau jahat, aku bisa perlihatkannya ke perempuan bernama Berlian itu" jawab Intan lagi mengancam Ardi dengan cara halus.


Ardi menelan salivanya menahan emosi ingin memukul perempuan licik di depanya. Bisa-bisanya dulu Ardi menjalin hubungan dengan perempuan di depanya ini. Ardi tau dibalik sikap Intan pasti ada rencana licik.


"Jangan macam-macam kamu Intan, tidak ada yang terjadi di malam itu. Aku tidur dan kamu menjebakku. Aku tidak bersimpati terhadap sandiwaramu ini. Keluar atau aku panggil satpam!"


"Orang lain hanya melihat foto Ardi, hanya kita yang tahu sesungguhnya. Kamu bisa memilih, membiarkan aku bekerja di panti lagi atau aku menjadi perempuan jahat seperti yang kamu tuduhkan"


Ardi menghela nafasnya kasar. Di depan mata Ardi tampak jelas bayangan Alya menangis tersedu-sedu saat di kamar mandi. Alya sedang sangat cemburuan.


Ardi tidak bisa membayangkan bagaiamana respon Alya melihat foto rekayasa Intan. Foto bersama Riko yang hanya terlihat minum bersama dan berjalan memapah Ardi saja, Alya langsung kabur. Bagaimana kalau foto tidur diranjang. Meski posisi Ardi tidur tapi pasti membuat Alya naik pitam


"Ardi, aku kesini dengan niat baik. Aku cuma pengen balik ke yayasan, duniaku yang dulu" rayu Intan lagi dengan sandiwaranya merasa berhasil memprovokasi Ardi.


"Darimana kamu tahu tentang Berlian?" tanya Ardi gusar dan tidak bisa menyembunyikan paniknya. Hal itu membuat Intan senang dan membuat Intan menjadikannya kelemahan Ardi.


"Santai Ardi. Aku tidak akan melakukan apapun terhadap Nona Berlian itu. Aku hanya ingin kamu ijinkan aku bekerja lagi di butik" jawab Intan lagi merasa usahanya pasti berhasil.


Ardi diam menatap Intan. Apa bisa dipercaya perempuan di depanya ini.


"Kapan kamu bertemu dengan Berlian?" tanya Ardi terpancing dengan Intan


"Kamu tidak perlu tahu. Kamu hanya perlu mengijinkan aku kembali mengelola butik"


"Kamu memang licik Intan" ucap Ardi lagi.


"Aku akan mengelola butikmu dengan baik. Aku akan membuat karya yang bagus. Itu menguntungkanmu. Kamu tidak ingin aku menemui Nona Berlian kan?" jawab Intan lagi semakin menekan dan sudah tidak akting menangis lagi.


Mendengar nama Berlian Ardi semakin terpancing. Pikiran Ardi buntu. Merayu Alya untuk bisa mengerti kesibukanya saja itu bukan hal yang mudah. Bagaimana cara menjelaskan ke Alya tentang masalalunya jika melihat foto yang Intan bawa. Ardi hanya berfikir yang penting Intan tidak menemui Alya. Sampai Ardi memberi pengertian ke Alya dulu.


"Baiklah, aku ijinkan kamu ke butik. Untuk bekerja. Hanya bekerja. Ingat itu!" ucap Ardi tanpa pikir panjang.


Mendengar perkataan Ardi, Intan tersenyum lega. Satu step dari rencananya berhasil. Yang penting sekarang dia bisa kembali ke kehidupan Ardi dulu. Selebihnya bisa diatur lagi.

__ADS_1


"Terima kasih" jawab Intan tersenyum lega.


__ADS_2