
"Alhamdulillah selesai" ucap Alya menyelesaikan pekerjaanya. Setelah itu Alya menuju ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Pegawai rumah sakit selalu membersihkan dirinya sebelum pulang ke rumah. Hal itu memang prosedur agar kuman-kuman dari rumah sakit tidak dibawa ke rumah. Alya mengganti pakaian dinasnya dengan tunik bunga-bunga dan jilbab warna coklat muda. Alya tampil sangat anggun dan trendi. Meski pakaianya bukan pakaian branded.
Setelah selesai membersihkan diri, Alya meraih tasnya. Mengambil tas kosmetik pemberian Mama Rita. Alya mulai belajar bermake up dan merawat diri. Waktu yang lumayan telat untuk memulai perawatan mengingat usia Alya sudah 25 tahun.
"Tumben dandan" ucap Dokter Dinda masuk ke kamar dokter.
"Heee" jawab Alya tersenyum menyambut kedatangan temanya.
"Bener deh, Lo tambah seger banget, cantik lagi. Tambah tergila-gila tuh Dokter Gery!" sambung dr. Dinda meledek Alya yang sudah berubah ceria dari hari kemarin.
"Ishhh apa sih kamu tuh, aku latian dandan untuk diriku sendiri dan suamiku nanti, bukan buat dia!" jawab Alya.
"Ya siapa tau jodoh lo dia. Gue bersyukur Al, lo dah ceria lagi. Tapi gue bingung sama lo, gue nggak bisa nebak lo, kadang sedih kadang senyum-senyum sendiri" ungkap dr. Dinda.
"Dokter Mira semalem ngomong sama aku, dia minta maaf dan ngajakin kita berteman"
"What? Gue nggak salah denger?"
"Tanya aja Anya!"
"Hah" Dinda menghembuskan nafasnya. "Syukurlah kita nggak usah jadi mahasiswa lagi, kita kan udah kerja di sini, meski statusnya magang"
"Ya udah operan sama perawat ya, aku mau pulang, oh iya ada inpartu "
"Hemmm, mang mau kemana sih? Buru-buru amat!"
"Oh iya. Aku mau minta tolong boleh nggak?"
"Apa?"
"He.... nitip buat Dokter Gery"
"Handphone yang kemarin?" tanya Dinda menebak.
Alya tersenyum menganggukan kepala dengan wajah imutnya.
"Ogah, sana lo ketemu sendiri. Lo bodoh banget sih" gerutu Dinda.
"Aku nggak mau berhutang atau berurusan sama dia"
"Lo nggak berhutang sama dia, justru dia yang berhutang sama lo, dia kan yang jatuhin hp lo. Dan takdir dah buat lo berurusan sama dia, nggak bisa lo hindari"
Alya diam melihat Dinda ngomel kaya emak-emak. Tapi apa yang disampaikan Dinda benar adanya.
"Lo butuh kan hape itu? Gaji kita di sini cukup buat makan, udah nggak usah sok-sokan nolak" lanjut Dinda.
"Uangku masih cukup kok buat beli hp second atau yang murahan" jawab Alya membela diri.
"Iiiihh kessel gue sama lo Al, eh tapi ngomong-ngomong lo tinggal dimana sih? Denger-denger lo kan dari Jogja?"
__ADS_1
"Aku numpang sama tanteku"
"Ooh jadi yang mobil mewah waktu itu nganter kamu, tante kamu?" tanya Dinda.
"Iya"
"Orang tua lo?" tanya Dinda menelisik melihat penampilan Alya yang memang biasa saja. Bahkan pakain Alya tidak ada yang bermerek atau branded.
"Hem. Ibu aku di Jogja. Bapakku udah meninggal sejak usiaku 7 tahun" cerita Alya mulai terbuka dengan Dinda.
"Sory ya Al, gue nggak tahu"
"Iyah nggak apa-apa"
"Ya udah lo terima aja tuh ponsel. Kata Anya dr. Gery udah kasih nomer juga ke Lo. Udah diaktifin datanya, udah ada nomer Dokter Gery. Dokter Gery nungguin lo hubungi dia, kalau lo udah maafin dia" sambung Dinda panjang kali lebar kali tinggi.
"Aku nggak biasa pake barang mahal Din" jawab Alya singkat.
"Ya ampun. Gemesh banget gue sama lo, barang udah di tangan tinggal make juga banyak alasan, udahlah terserah lo pusing gue, gue mau kerja!" omel Dinda pergi ke Nurse Station.
"Kok dia yang sewot sih!" gerutu Alya melihat Dinda ngomel.
Lalu Dokter Alya bersiap pulang dan berencana ke rumah Mama Rita. Alya berjalan dengan langkah riang. Matanya berseri, kecantikan dari wajah Alya semakin terpancar saat dia tersenyum menyapa rekan kerjanya.
Saat sampai di tepi jalan Alya berhenti. Di tatapnya zebra cross di depanya. Terlintas peristiwa menyebalkan malam itu. Alya diam, memikirkan cara datang ke rumah Mama Rita.
"Bagaimana aku pesan taxi online ya kalau aku tidak pegang hp" gumam Alya dalam hati. Lalu Alya meraih tas punggungnya. Dipandanginya isi tas Alya. Alya berputar balik menuju ke bangku halte tempat Gery duduk malam itu.
Dibukanya tas Alya. Lalu diambilnya bungkusan kotak hp. Alya mengambilnya dengan ragu-ragu. Dipandanginya benda tersebut.
"Apa Dokter Gila itu akan berfikir aku menyukainya kalau aku menerimanya? Kata ibu aku tidak boleh kebiasaan menerima barang dari laki-laki"
Alya meletakan lagi bungkusan handphone itu. "Tapi bahkan saat ini aku sangat membutuhkanya"
Alya duduk di halte sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Istana Tuan Aryo Gunawijaya terletak di kawasan khusus yang bahkan tidak mempunyai tetangga. Rumahnya agak masuk dari jalan raya. Tidak ada angkutan umum selain taxi online yang bisa mengantarkan kesana.
"Apa aku tidak usah datang kesana ya? Bahkan aku ngantuk sekali, bayi-bayi itu membuatku tidak tidur semalaman"
"Tapi bagaimana kalau Mama Rita marah dan kecewa? Ah biar saja aku jelaskan alasanya pasti Mama Rita mengerti"
Alyapun bangkit berjalan menuju ke apartemen memutuskan untuk tetap tidak menerima pemberian Gery. Dan juga tidak memenuhi permintaan Mama Rita.
Alya masuk ke apartemen mengganti gamisnya yang baru ia kenakan saat mandi tadi pagi. Alya memilih tidur dengan T-Shirt dan hotpant berwara peach tipis. Alya menikmati tidur cantiknya setelah semalaman berjaga menunaikan tugasnya, Alya tidur sampai siang.
*****
Kediaman Tuan Aryo
Mama Rita berjalan mondar mandir di balkon depan kamarnya. Mama Rita tampak gelisah memandang ke gerbang pintu masuk istananya. Kenapa tidak kunjung ada tamu. Lalu Mama Rita turun ke lantai bawah mencari teman ngobrol.
"Ida" panggil Mama Rita.
__ADS_1
"Iya Nyonya" jawab Ida.
"Apa ada tamu untukku?"
"Tidak ada tamu Nyonya"
"Hhhhh, apa dia tidak datang? Apa aku gagal lagi?"
"Saya tidak mengerti maksud Nyonya?" tanya Ida mendengar Bu Rita bergumam.
"Hhhh, apa aku salah lagi ya?" tanya Bu Rita sambil duduk di bangku dapur bersama ART nya.
"Memang apa yang Nyonya lakukan?" tanya Ida penasaran dengan Nyonya centilnya.
"Saya ingin mengenalkan Alya ke Ardi" jawab Bu Rita membuat Ida melongo lalu tersenyum mengangguk.
"Menurut saya tidak salah Nyonya, saya juga sangat menyukai Non Alya jadi Nyonya di sini" ungkap Ida.
"Apa menurutmu mereka berdua serasi?" tanya Bu Rita.
"Sangat serasi Nyonya. Saling melengkapi, Non Alya yang cantik, baik, pintar dan ramah. Sementara Tuan Muda, ganteng, galak dan ups" Ida menutup mulut menyadari perempuan di depanya itu ibu dari tuan muda yang dia gunjing.
"Iya memang, putraku itu galak, keras kepala, kekanakan membuatku pusing, entah siapa yang bisa merubahnya" imbuh Bu Rita membela Ida menjelekan anaknya sendiri.
"Mungkin nanti setelah menikah, Tuan Muda berubah Nyonya"
"Hhhhhhh" Bu Rita menarik nafas pelan "Semoga saja Ardi menemukan jodoh yang tepat, bahkan umurnya sudah hampir 30 tahun, tapi dia keras kepala, selalu menolak usahaku"
"Sabar Nyonya, kata orang, do'a ibu itu, doa yang mustajab, Nyonya harus banyak berdoa"
"Aku ingin Ardi jatuh cinta dengan Alya, tapi bahkan Ardi menolaknya sebelum aku memberitahu" curhat Bu Rita ke ARTnya.
"Tapi apa Tuan Muda sudah memiliki kekasih Nyonya?" tanya Ida hati-hati.
"Aku tidak yakin. Apa ada yang mau dengan putraku yang keras kepala itu? Aku ragu ada yang tulus berpacaran denganya apalagi kalau tau dia pewaris Gunawijaya"
"Iya sih Nyonya, perempuan jaman sekarang nyari hartanya aja"
"Nah itu dia, makanya aku pengen kenalin dia dengan Alya saja"
"Semoga berhasil Nyonya" Ida menyemangati majikanya.
"Tapi bahkan aku selalu gagal mempertemukan Alya" Bu Rita mengeluh lagi "Aku menyuruh Alya malam ini tidur rumah, tapi sampai sekarang belum juga datang".
"Mungkin non Alya sibuk Nyonya"
"Iya sih kemarin bilang dia hari ini turun jaga, besok jaga pagi"
"Nah iya, pasti sangat capek Nyonya, kasihan kalau bolak balik ke sini Nyonya"
"Berarti Alya tidak datang?" tanya Bu Rita.
__ADS_1
"Kalau besok pagi Non Alya harus bekerja, sepertinya akan melelahkan kalau bermalam di sini Nyonya"
"Iya ya, aduh saya jadi merasa bersalah mengajak dia tidur di sini, semoga dia tidak jadi kesini kalau begitu"