Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
120. Diumumkan


__ADS_3

Tepat pukul 09.00 pagi, acara dimulai. Pembawa acara membacakan susunan acara siang itu. Selanjutnya membuka acara dengan bacaan bismillah. Dilanjutkan sambutan-sambutan.


Ardi mendapat giliran menyampaikan sambutan setelah ketua panitia, yang nanti akan disampaikan oleh Niko. Sekarang Niko sudah berada di depan menyampaiakan sambutanya.


Ardi pun mulai gusar. Seharusnya yang maju itu Farid bukan Niko. Tapi kenapa Farid tidak berada di sampingnya. Ardi pun mengambil ponsel di sakunya ingin bertanya kenapa Niko yang maju. Saat membuka ponsel, Ardi melotot. Ada 10 panggilan tak terjawab dari istrinya dan ada 15 pesan belum terbaca.


Ardi membaca pesan istrinya. Wajahnya memerah. Tanganya mengepal, Ardi menggigit bibirnya menahan dilema. Mencari istrinya atau tetap menjalankan kewajibannya.


Ardi geram membaca pesan Alya. Farid menjemput Alya, Alya bertanya dan meminta ijin ke Ardi untuk ikut ke danau. Ardi mengetuk-ngetuk tangan dan ponselnya. Ardi ingin segera berdiri, keluar dan mencari istrinya. Rasanya dada dan otaknya mau meledak membaca pesan Farid menjemput Alya.


Ardi tidak bisa membayangkan, Farid selalu menatap dalam ke istriya. Sejak awal Alya datang Farid sudah jujur dan mengungkapkan perasaanya ke Ardi. Bahkan saat Farid ingin melamar Alya Farid curhat ke Ardi.


Dan sampai detik ini perasaan Farid tidak berubah sedikitpun. Bahkan sekarang mereka sedang bersama. Ardi mengepalkan tanganya gelisah. Berharap sambutan segera selesai.


Tapi Ardi tidak bisa marah atau menonjok Farid seperri menonjok Gery, semua itu salah Ardi. Seharusnya Ardi sebagai laki-laki yang baik, datang dengan gentle dari sebelum menikah, bilang baik-baik ke Farid atau setelah tiba dari Jogja. Pantasnya Ardi pamit menikahi Alya. Jujur kalau Ardi mencintai perempuan yang sama dengan Farid.


Tapi Ardi tetaplah Ardi, nasibnya terlahir sebagai anak tunggal yang dimanjakan semua orang, menjadikan dia egois. Pergaulan Ardi yang sangat dibatasi dan diawasi, dituntut hanya memikirkan usaha ayahnya membuat dia tidak bijak dalam beberapa hal.


Ardi emosian, dan berfikir pendek. Tapi sekarang Ardi akan menjadi seorang ayah. Ardi harus berubah.


Sambutan Niko selesai, tiba waktunya Ardi naik menyampaikan sambutan. Ardi tidak mungkin pergi meniggalkan acara begitu saja. Apalagi di sampingnya ada Walikota dan tamu udangan lain.


Sebagai pemilik, Ardi tidak mungkin mempermalukan diri sendiri, orang tua, yayasan dan anak-anak yang bekerja keras menyusun acara. Ardi memilih mengirim pesan ke istrinya dan ke Farid. Ardi berharap istri dan sahabatnya mendengar apa yang akan dia sampaikan.


Ardi naik ke podium, menyampaikan sambutan. Mengungkapkan rasa terima kasihnya ke semua pihak yang mendukung dan membantu pembangunan restokafe danau. Ardi juga menyampaikan harapanya. Dan di akhir sambutan, dengan tekad dan keberanian Ardi menambahkan.


"Dan kepada semua saudara, sahabat panti, tamu undangan yang saya hormati. Selain bersyukur dengan dibukanya restokafe ini, saya juga sangat bahagia, karena di bulan yang sama dibangunya kafe ini, saya juga mendapatkan istri" ucap Ardi mantap. Ardi tersenyum dan mengedarkan pandangan mencari Alya. Tapi karena pengunjung banyak Ardi tidak melihatnya. Ardi melanjutkan sambutanya.


"Dan di bulan ini juga, restokafe ini dibuka istri saya hamil. Karena itu restokafe ini saya berinama Restokafe Berlian. Karena istri saya bernama Alya Berlian Sari" lanjut Ardi tegas dan bahagia. Ardi melanjutkan sambutanya dengan harapan dan doa.


Ardi tidak lagi memikirkan apa yang akan Intan lakukan. Niat menyelamatkan Alya, pada akhirnya justru membuat masalah baru. Ardi juga berharap Intan benar-benar berubah. Jadi Ardi matang mengumumkan pernikahanya.


Semua hadirin tampak antusias mendengarkan sambutan Ardi sampai selesai. Semu ikut berbahagia.


Semua yang mendengarnya akan mengambil kesimpulan kalau Ardi sangat mencintai istrinya. Tidak terkecuali Bu Salma, Us Zahra, Bu Via dan pengurus lain. Pengurus panti sampai tersedak saat minum.


"Uhuk uhuk" Bu Salma memuncratkan minumanya.


"Saya nggak salah dengar kan?" tanya Us Zahra.


"Hah! Us Alya, benar kan? Alya Berlian Sari itu Us Alya?" tanya Via.


"Saya nggak tahu nama panjangnya Bu" jawab Bu Salma.


"Pantas saja Us Alya langsung pergi dan mukanya pucat sekali tadi, astghfirulloh. Bahaya ini kita" sahut Us Zahra.


"Atuh kumaha? Us Alya nya nggak pernah cerita. Saya kira mah, dia sama Pak Farid. Tadi juga Pak Farid nyariin" jawab Bu Via.


"Jangan-jangan gara-gara perkataan kita, Us Alya cemburu, mereka berantem gara-gara kita? Terus kita dipecat. Lah Non Intan sendiri kan ngapain deket-deket Tuan Ardi?" jawab Bu Salma menerka-nerka.


"Jangan kejauhan mikirnya Bu. Kita harus bicara baik-baik ke Us Alya, kita minta maaf baik-baik" jawab Us Zahra.


"Us Alyanya tadi kemana coba?" tanya Bu Via.


"Saya liat, Us Alya pergi bareng Pak Farid"jawab Bu Salma.


Mereka berempatpun terdiam memikirkan kesalahanya. Mereka juga kaget dan syok. Ternyata Alya adalah bos mereka.


*****


Setelah bicara dengan Sinta. Farid menyusul Alya. Farid yang mempunyai sifat berjasa di balik layar, merasa tidak perlu ikut tampil di depan. Setelah memastikan semua lancar Farid menyerahkan tugasnya ke pengurus yayasan yang lain.


Sinta dan Intan juga meninggalkan acara karena kesal. Sehingga mereka tidak mendengarkan sambutan Ardi. Intan merasa dirinya tidak dianggap dan dikacangin jadi memutuskan pergi ke kota mencari alkohol untuk menjernihkan otak versi Intan.


****


"Lo kenapa nangis?" tanya Intan melihat Sinta nangis setelah mereka sampai di bar kota.

__ADS_1


"Lo sendiri kenapa kesal dan ngajakin pergi. Bukanya lo berhasil ngedeketin Ardi?" jawab Sinta heran ke senior dalam kejahatanya itu.


"Ardi udah merid, istrinya lagi hamil"


"What?" tanya Sinta kaget, lalu Sinta teringat sikap Alya yang berani dan menjawab Sinta.


"Jangan-jangan Alya emang istrinya Ardi" ucap Sinta.


"Maksud lo?"


"Gue kesel sama dia. Farid berduaan di mobil bareng Alya. Gue samperin dia di kamar mandi. Farid mergokin gue" tutur Sinta bercerita.


"Ah Lo. Payah banget sih" jawab Intan menanggapi.


"Ya gue nggak tahu kalau Farid buntutin Alya. Cuma Alya bilang ke gue. Kalau dia bilang, dia udah punya suami tapi bukan Farid, anak buah gue kan lihat mereka satu mobil masuk ke apartemen megayu" tutur Sinta melanjutkan cerita dan berusaha menghubungkan.


"Siapa nama panjang si Alya itu?"


"Gue nggak tahu" jawab Sinta.


"Ck. Menarik! Sepertinya memang dia istri Ardi.Tapi Ardi bilang istrinya di rumah"


"Dan gue juga keselnya. Kenapa dia bareng Farid?"


"Anak buah gue bilang, kos-kosan yang di datengi Ardi, penghuninya ternyata dokter. Gue harus tanya Mira, gue harus pastiin lewat dia" jawab Intan.


"Dokter? Mira? Apa Alya seorang dokter? Dia terlihat seperti guru TK kampungan" sahut Sinta tidak tahu jati diri Alya sebenarnya.


"Iya gue kemarin ketemu Mira di mall. Dia praktek di rumah sakit yang sama dengan penghuni kos yang didatangi Ardi. Gue harus pastiin dulu"


"Wah, kok bisa ya? Gue yakin sih istri Ardi itu Alya. Rumah sakitnya kan di sebrang apartemen Ardi, sangat mungkin kan?" ucap Sinta berspekulasi dan tidak menyangka.


"Gue nggak akan biarin Ardi dan istrinya bahagia. Setelah mempermalukan keluargaku, gue akan buat perhitungan lewat istrinya. Dia udah hancurin perusahaan bokap gue. Dia harus bayar sakit dan malu yang keluarga gue rasain" ucap Intan geram dan meneguk alkohol di depanya.


****


"Permisi Bu. Us Zahra, Bu Salma, liat Alya nggak?" sapa Farid.


"Us Alya barusan keluar. Nggak tahu kemana?" jawab Us Zahra.


"Tapi tadi kesini?" tanya Farid takut Alya kesasar dan nggak punya teman.


"Iya tadi di sini" jawab Bu Salma.


Farid mengangguk lalu keluar mencari Alya. Farid merasa sangat bersalah dan iba ke Alya setelah tahu selama ini Sinta sudah jahatin Alya. Sayangnya Farid tidak mendengar perkataan sebelumnya kalau Alya sudah bersuami.


"Alya" panggil Farid melihat Alya berjongkok dan menangis di belakang tembok meghadap ke semak-semak hutan. Alya menoleh ke Farid dan mengelap air matanya.


"Kamu ngapain di sini? Ayo masuk!" tanya Farid merasa kasian.


"Nggak apa-apa Kak, Alya pingin nyari angin segar aja"


"Di sini kotor. Bahaya, nanti ada uler lho! Masuk yuk!"


"Ehm, Kak Farid masuk duluan aja. Alya nyusul"


"Kamu udah makan? Makan Yuk! Apa mau ku ambilin?"


"Nggak Kak, Alya pusing liat keramaian begitu" jawab Alya lagi, Alya ingin sendiri.


"Hemm, ya udah Kak Farid temenin ya" ucap Farid merasa kasian dengan Alya dan ingin memanfaatkan kesempatan.


"Ehm" Alya berdehem. Merasa ada yang salah. Nggak mungkin Farid akan bersikap seperhatian ini kalau sudah tahu dia perempuan bersuami. Alyapun tidak menyia nyiakan kesempatan, mengorek tentang Intan kemudian akan jelaskan sendiri ke Farid.


"Kak Farid, tau Intan?" tanya Alya masih dongkol dan penasaran.


"Dia mantannya Ardi. Tadi dia datang, Gue juga nggak ngira, dia berani nongol, emang kenapa? Dia jahatin kamu?"

__ADS_1


"Apa Mas Ardi masih ada hubungan sama Mba Intan?" tanya Alya menahan emosi.


"Mana gue tahu. Dua bulan ini Ardi sibuk, kita udah jarang nongkrong dan ngobrol. Setau gue sih, Ardi marah banget sama Intan, Bu Rita juga nggak. Tapi gue juga nggak tahu. Nyatanya dia balik kesini"


"Oh gitu? Tapi mereka tampak dekat" jawab Alya lagi.


"Ya gue nggak tahu, tapi Intan tadi pergi kok" jawab Farid lagi sempat berpapasan dengan Intan.


"Kak, Alya pengin sampaiin sesuatu" ucap Alya ingin nekat menjelaskan tentang statusnya.


Alya sudah tidak percaya dengan Ardi akan jujur cepat. Marahnya Anya membuat Alya berfikir menyembunyikan kenyataan sangat salah.


Tapi belum jadi Alya bicara, ponsel Alya berdering, nomer yang dari pagi ditelpon tidak diangkat sekarang menelpon. Alyapun membatalkan niatnya. Alya memilih mengangkat telepon lebih dulu.


"Ibu" jawab Alya mengangkat telpon


"Mba Lian, ini Lastri" jawab seseorang di balik telpon.


"Iya Lastri, Ibuku dimana?" tanya Alya panik.


"Anu Mba, nyuwun sewu, lastri teng rumah sakit"


"Rumah sakit?" tanya Alya panik dan berkeringat. "Siapa yang sakit?" lanjut Alya dengan nafas memburu.


"Bu Mirna, kena struk mba, tadi subuh jatuh di mushola" jawab Lastri.


Alya langsung lemas.


"Apa? Ibu sakit? Kabari rumah sakit mana ruang apa? Secepatnya aku ke Jogja, titip ibu ya Las" ucap Alya panik lalu mematikan telepon dan memasukanya tanpa melihat pesan yang lain.


Farid di samping Alya memperhatikan dengan seksama. Kening Alya berkeringat dan gelagapan. Di tempat acara, Alya mendengar suara suaminya mengucapkan salam.


Alya tahu suaminya sedang mengucapkan sambutan. Alya yang masih marahpun merasa tidak perlu menyampaiakan kabar ibunya ke suaminya yang sedang berbicara di podium. Biar saja, Alya ingin tahu bagaiamana suaminya akan peduli. Alya merasa, Alya berhutang marah ke suaminya.


"Kak Farid antarkan saya ke terminal atau stasiun, terserah mana yang terdekat" pinta Alya panik.


"Tenang Alya, tenang. Ada apa?"


"Alya nggak bisa tenang Kak, Alya harus ke Jogja. Ayo antar Alya sekarang, Alya jelasin di mobil" Alya berdiri dan ingin segera pergi.


Farid yang memang mencintai Alya mengikuti mau Alya. Mereka berduapun berjalan setengah berlari menuju parkiran menjauhi tenda acara. Farid langsung menyalakan mesin dan pergi, sehingga Farid dan Alya tidak mendengarkan sambutan dari Ardi.


"Coba kamu cek jadwal kereta. Kalau terminal seringnya malam Al. Nggak nyaman juga naik bus" ucap Farid memberitahu.


"Baik Kak" Alya mengecek jadwal kereta, ternyata jadwak berangkatnya setelah dzuhur semua baik kereta ataupun pesawat. Alya mengehela nafasnya, mengatur emosi dan pikiranya.


"Ada apa? Cerita sama Kak Farid? Ibumu sehat kan?" tutur Farid ingin menenangkan Alya.


"Ibuku stroke Kak, dari kemarin Alya kepikiran ibu, Alya harus pulang" jawab Alya meneteskan airmata lagi.


Faridpun memberikan tisu ke Alya.


"Sabar yah. Berdoa ibumu baik-baik aja, kamu yang tenang" ucap Farid kalem.


Alya diam lalu mengelus perutnya. Alya ingat dia baru saja sembuh. Dia harus antisipasi obat jika mau pulang ke Jogja agar janinya aman. Alya juga meninggalkan barang di kos Anya. Sekarang masih jam 10 pagi, sementara jadwal kereta masih jam 13.00 Wib.


"Kak, jadwal kereta masih jam satu. Kita ke kosan temen Alya dulu. Kebetulan rumah sakit deket stasiun, Alya naik dari situ aja" ucap Alya ke Farid memberitahu untuk datang ke kos Anya.


"Oke. Kamu yakin ke Jogja sendiri? Apa mau Kak Farid anter pake mobil?"


"Nggak usah Kak. Lian butuh waktu cepet"jawab Alya tidak mau merepotkan Farid. Dan Alya juga berfikir naik mobil lebih lama, naik kereta lebih cepat. Padahal kalau Alya bisa dewasa sedikit, sabar sedikit, Tuan Aryo punya pesawat pribadi. Alya bisa pergi bareng suaminya.


"Oke" jawab Farid mengangguk mengencangan laju mobilnya menuju kos Anya.


Alya diam melihat keluar jendela. Tatapanya kosong, program pengabdianya di rumah sakit kacau. Alya menikah tiba-tiba. Kini Alya hamil, rumah tangganya tidak tertata dengan baik. Dan sekarang ibunya sakit.


Apa sebaiknya Alya memang harus menunda magangnya? Alya menghela nafasnya berharap ibunya baik-baik saja. Alya menepis masalah rumah tangganya yang membuat Alya pusing.

__ADS_1


__ADS_2