Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
122. Impas


__ADS_3

"Kak Farid" panggil Alya ragu-ragu.


"Iya, kamu mau ngomong apa sih? Dari tadi nggak jelas kepotong terus" jawab Farid ke Alya.


Mereka berdua duduk di teras kos-kosan Anya. Sementara Anya menunggu di dalam. Alya harus jelasin ke Farid secepatnya. Apalagi sekarang Alya tahu kalau perempuan yang dijodohkan dengan Farid itu Anya.


"Maafin Alya dan Mas Ardi. Sebenarnya saya dan Mas Ardi udah menikah" ucap Alya menunduk.


"Menikah?" tanya Farid kaget. Tenggorokan Farid seperti tercekat. Farid menatap Alya lekat-lekat.


"Iya, apa Mas Ardi udah sampaikan ini ke Kak Farid?" tanya Alya merasa bersalah.


"Kamu nggak bercanda kan Al?" tanya Farid lagi dengan wajah memucat.


Farid merasa sakit, ingin marah, tapi tidak bisa, Farid merasa dihianati bukan dari Alya, tapi Ardi. Farid menelan ludahnya, duduknya yang tegak menjadi lemas.


"Maafin Alya ya Kak. Alya nggak jujur sama Kak Farid. Sebenarnya kita nikah udah dua bulan"


"Dua bulan?" tanya Farid lagi semakin tidak mengerti. Farid benar-benar merasa Ardi tega dan tidak beres.


"Kita nikah dadakan Kak, Alya nggak bisa cerita kenapa Alya dan Mas Ardi nikah" jawab Alya mencari alasan dan pembelaan kenapa tidak memberi tahu Farid.


"Kenapa kalian tega rahasiain ini dari Kak Farid Al. Waktu Ardi datang ke panti berarti kalian udah nikah? Terus kemarin kenapa kamu bawa tas besar dan bilang mau kos di sini? Berarti kalian?"


"Itu Alya bohong Kak. Alya minta maaf, Alya ada masalah dengan Mas Ardi"


"Kenapa kalian berpura-pura di depanku Al?"


"Maafih Alya ya Kak"


"Kak Farid kecewa sama kalian?"


"Maaf. Hubungan kami memang tidak sebaik, suami istri yang lain. Alya minta maaf"


"Terus sekarang? Jadi kamu tanya-tanya tentang Intan? Karena kamu?"


"Makasih Kak Farid udah kasih tau Alya tentang masalalu Mas Ardi. Alya masih belum tahu apa-apa tentang suami Alya"


"Kak Farid nggak ngerti pernikahan seperti apa yang kalian jalani. Kenapa kalian bohong ke Kak Farid"


"Maafin Kak. Biar nanti waktu yang ajarin kami buat tentuin rumah tangga kami mau bagaimana. Makasih Kak Farid udah jemput Alya dan antar Alya. Alya jadi tahu Mba Intan. Sebenarnya Mas Ardi nggak ijinin Alya dateng ke danau, ternyata karena Mba Intan"


"Kalian lagi marahan?"


Alya menunduk tidak menjawab. Sebenarnya bukan marahan, tapi Alya yang marah dan cemburu.


"Sory gue nggak tahu, tentang Intan, lo tanya langsung aja ke suami lo. Gue nggak tau apa-apa" jawab Farid lagi kecewa.


"Jujur Kak Farid sakit hati dan kecewa Al. Tapi kalau begini, gue yang salah. Gue bawa istri orang, Ardi pasti marah" sambung Farid mencoba berfikir dewasa.


"Alya yang salah Kak, bukan Kak Farid. Ini maksud Alya kenapa Alya tanya ke Kak Farid apa Kak Farid udah ketemu dan ngobrol ma Ardi?"

__ADS_1


"Oke. Yang salah bukan cuma lo. Gue salah paham. Gue juga salah. Gue yang maksa lo pergi. Terus sekarang gimana? Lo nggak bilang ke Ardi lo ke sini?"


"Iya" jawab Alya menunduk.


"Lo jangan bikin masalah baru. Seperti apapun hubungan kalian. Kasih tau Ardi, dia suami lo" jawab Farid dewasa menahan kecewa.


"Iya"


"Lo jadi ke Jogja?"


"Iya"


"Telpon suamimu dulu!" ucap Farid berusaha tetap tenang.


Alya diam. Sifat pundungnya masih tinggi, melihat ponsel rasanya mau pecahin. Alya tahu Alya salah dan kekanak-kanakan. Tapi rasa jengkelnya benar-benar ingin membuat suaminya kesal dan ngrasain bete ditinggal pergi. Alya ingin Ardi tau rasa.


Alya hanya mengangguk ke Farid tapi tidak melakukan saranya. Alya hanya mengambil ponselnya tanpa membukanya. Alya ingin balas dendam ke Ardi, biar saja Ardi tau rasanya, gimana kesalnya Alya telpon berkali-kali tidak diangkat.


Rasa jengkel Alya melupakan semua materi dari buku yang dia baca. Alya juga lupa kalau dia sedang belajar menjadi istri yang baik. Alya merasa Ardi sudah membuatnya kesal. Jadi Ardi harus membayarnya juga dengan rasa yang sama.


"Alya mau ke rumah sakit dulu Kak, ada yang harus Alya konsultasikan dan siapkan sebelum Alya ke Jogja" jawab Alya tidak ingin bahas Ardi lagi.


"Ok, Kak Farid antar ya?" pinta Farid berbaik hati dan tetap berusaha tenang.


"Nggak usah. Alya bisa pergi sendiri"


"Oke" jawab Farid mengangguk.


"Kenapa?"


"Semangat deketin Anya ya!" bisik Alya iseng.


Farid diam salah tingkah dengan tatapan tidak nyaman. Farid nggak suka sama Anya. Farid sukanya sama Alya. Malah Alya semangatin begitu.


"Kamu tahu?" jawab Farid gelagapan.


"Anya udah cerita semuanya, Alya juga nggak nyangka, dunia sempit ya Kak, tapi Alya seneng. Semangat ya Kak!"


"Ehm" Farid hanya berdehem malu. "Ya udah Kak Farid pulang" jawab Farid berdiri merasa patah hati.


"Kok pulang? Kan udah di kos Anya. Main dulu sama Anya" jawab Alya ingin membuat Farid dan Anya dekat.


Farid menelan salivanya. Nggak penting banget ngapelin Anya yang jelas-jelas, Anya bilang ke Farid udah punya pacar. Anya di dalam kosan juga ikut geram melihat usaha Alya. Anya sangat tidak nyaman jika harus ngobrol dengan Farid yang kalem dan dewasa.


"Kak Farid mau ke kampus" jawab Farid mencari alasan. Lalu Farid pergi tanpa pamitan ke Anya.


"Ish" desis Alya manyun.


Sambil ngintip di jendela. Anya bernafas lega mengelus dada. "Huft akhirnya si kaku dan serius itu pulang" ucap Anya.


Alya masuk ke dalam setelah farid pergi. Alya merasa lega sudah jujur. Seperti perkiraanya, Farid orang yang dewasa. Farid pasti mengerti dan berlapang dada. Kenapa nggak dari dulu Ardi jujur.

__ADS_1


Alya masuk mengambil tas dan dompet. Alya mau ke rumah sakit, konsultasi kehamilanya ke Dokter Kandungan. Alya tau kehamilan di bawah usia 14 minggu tidak boleh bepergian jauh. Tapi buat Alya nyawa ibunya lebih penting dari apapun. Jadi Alya mencoba mempersiapkan obat untuk antisipasi.


"Anya? Kamu dari tadi nguping?" tanya Alya heran ketika melihat Anya ternyata duduk di dekat jendela.


"Hemm"


"Kamu cemburu ya?" goda Alya ke Anya.


"Ih ngapain cemburu. Sono deh jauh-jauh. Gue juga nggak tahu kenapa ortu gue suka banget sama tu dosen kaku" jawab Anya manyun dituduh cemburu


"Anya, Kak Farid orang yang baik. Sangat baik. Udah sih kamu terima aja. Agung tuh nggak jelas. Biar kita tetep sahabatan terus. Kak Farid tuh sahabatnya Mas Ardi juga" tutur Alya bergantian menasehati Anya.


"Ih ngeri-ngeri. Udah stop jangan bahas dia. Ayo buru ke rumah sakit keburu Dokter Siska pergi!" jawab Anya mengakhiri perkataan Alya.


Lalu Alya dan Anya pergi ke rumah sakit mengendarai sepeda motor. Anya dengan setia menemani Alya. Alya sangat bersyukur mempunyai sahabat sebaik Anya. Meski terkesan bar bar, perkataan Anya selalu benar. Anya juga tulus menyayangi Alya. Meskipun Alya kekanak-kanakan dan sering bertindak bodoh. Tapi Anya tahu Alya sahabat yang baik.


****


Ardi dan Pak Rudi mengendarai mobilnya meninggalkan acara menuju ke rumah. Ardi berharap istrinya sudah di rumah lagi.


Tapi Ardi juga tidak mengerti. Pesan terakhir Alya, Alya sangat ingin ke danau. Tapi setelah sampai di danau kenapa buru-buru pergi, tidak menemui suaminya atau menghubungi suaminya lagi. Bahkan sekarang dihubungi berkali-kali tidak menjawab. Apa yang terjadi dengan istrinya.


"Haduh, salah apa lagi gue? Lian lian? Kenapa mas jadi salah terus sih!" batin Ardi di dalam mobil sambil mengusap rambutnya kasar. Telponya tidak kunjung diangkat.


Padahal rencana Ardi, sepulang dari acara dan ngobrol sama Farid. Ardi ingin mengajak Alya jalan- jalan ke pantai. Ardi ingin menginap di resort dekat pantai, menikmati diner dan pagi harinya jalan-jalan menikmati udara sejuk.


"Farid, gue telpon Farid aja!" ucap Ardi lalu menelpon Farid.


"Halo" jawab Farid lemas ke Ardi dan kesal ke Ardi. Farid tau Ardi telpon menanyakan istrinya.


"Lo dimana?" tanya Ardi menahan marah tapi juga merasa malu dan bersalah.


Meskipun Ardi atasan Farid di yayasan dan usianya seumuran. Tapi orang yang Ardi segani selain Tuan Aryo adalah Farid. Bahkan Ardi lebih takut ke Farid ketimbang ke Mama Rita. Jadi Ardi tidak bisa melampiaskan marahnya ke Farid seperti Ardi melampiaskan ke Gery.


"Istri lo ke rumah sakit sama Anya" jawab Farid singkat dan to the point sebelum Ardi bertanya.


Ardi gelagapan dan tidak menyangka Farid udah tau status mereka. Dan sekarang lebih mengejutkan Alya di rumah sakit. Apa yang terjadi dengan istrinya.


"Lo apain istri gue? Dia kenapa?" tanya Ardi panik dan tidak tahu terima kasih ke Farid.


"Ck. Lo tanya aja sendiri" jawab Farid malas lalu mematikan telpon Ardi. Farid tidak menghiraukan Ardi lagi, Farid melanjutkan mengendarai mobilnya.


Farid merasa sangat kecewa terhadap Ardi. Sifat Farid yang dewasa tidak bisa melampiaskanya dengan marah-marah seperti Gery. Farid hanya diam menahan sakitnya.


Walau bagaimanapun Ardi sahabatnya sejak kecil. Farid juga tahu betul betapa nakalnya Ardi dulu. Keras kepala, maunya menang sendiri dan semua keinginanya harus dipenuhi. Tapi di sisi lain Ardi sangat perhatian, Ardi akan memukul orang yang nyakitin Farid. Dan Kini Ardi sendiri yang nyakitin Farid.


"Maksud lo apa Rid. Halo. Halo" tanya Ardi lagi ditelpon dengan gusar, tapi telponya malah dimatikan.


"Aih, mati. Pak puter balik ke arah megayu. Kita ke rumah sakit" ucap Ardi ke Pak Rudi.


Ardi dan Pak Rudi pun menyusul Alya. Pikiran Ardi kemana-mana, marah, khawatir, kecewa dan sedih. Seharusnya Alya patuh di rumah saja, pasti tidak akan terjadi apa-apa. Ardi mengira Alya pendarahan lagi.

__ADS_1


"Lebih cepat Pak" ucap Ardi ke Pak Rudi.


__ADS_2