
****
di rumah sakit
"Kalau Dokter mau tau, Dokter bisa tanya ke suami Alya, Alya nggak bisa jelasin Dok. Sebagai temen, Alya minta Kak Mira batalin pertunangan Dokter"
"Gue nggak mungkin batalin gitu aja! Nggak bisa ngomong dengan mudahnya ke bokap nyokap gue kalau nggak ada bukti Al"
"Diundur nggak bisa Dok?"
"Orang tua gue udah siapin semuanya. Bahkan Oma gue dari Turki udah dateng ke sini"
"Huft, gimana ya?" Alya menghela nafas berfikir mencari solusi.
"Alya tanya sama dokter, tolong jawab pertanyaan Alya jujur"
"Ya gue jawab, tapi jangan di sini"
"Terus mau dimana?"
"Terserah"
"Dokter bawa mobil?"
"Nggak kebetulan tadi pagi gue dianter Tito"
"Oke. Ke rumah Alya mau? Biar sekalian ngobrol sama suami Alya"
"Boleh deh"
"Alhamdulillah" jawab Alya tersenyum.
"Ayo Mba Fit" ajak Alya ke asistenya.
Mereka bertiga kemudian masuk ke mobil. Mira menggenggam tasnya dengan gemetar, kepalanya benar-benar seperti berputar-putar. Untung saja Mira masih berteman dan tidak memusuhi Alya.
Niat Mira menikah baik. Mira tidak ingin menyia-nyiakan waktunya menunggu Gery. Mira ingin membahagiakan orang tuanya. Mira juga ingin mencintai laki-laki setelah menikah seperti Alya.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan niat dan pilihan Mira. Hanya saja memang jalanya harus seperti itu, bertemu dengan Tito. Menyadarkan Gery agar bisa menatapnya, menyadarkan Gery bagaimana rasanya kehilangan. Menyadarkan Gery bagaimana rasanya berjuang.
"Entah karena hamil atau kenyang, atau kebiasaan, Alya ngantuk Dok, Alya ijin tidur ya Dok" tutur Alya polos menyandarkan kepalanya di jok mobil.
Fitri dan Mira tersenyum mendengar Nyonya Muda yang ramah itu. Dasar Alya, sukanya tidur di perjalanan.
"Iya, sory ya gue ganggu lo" ucap Mira.
"Nggak apa-apa Dok, Dokter Mira akan menjadi teman pertamaku yang main ke rumah, Alya bangga, hehe" jawab Alya nyengir dan tidak ada 10 menit Alya benar-benar tertidur.
Mira menatap lekat-lekat ke Alya. Mata Alya terpejam dengan nafas yang tenang dan damai, tanganya memeluk perutnya. Sekali lagi Mira mendapatkan pelajaran.
Alya memang lebih muda darinya. Tapi Alya mengajarkan dia tentang arti ketulusan, berkali-kali Mira menyakitinya, mencemburuinya dan memprovokasinya. Alya tidak marah, Alya tetap sayang, sopan dan baik ke Mira.
Kemudian Mira ikut merebahkan badanya ke jok mobil. Tatapan Mira menatap jalanan dengan banyak mobil berlalu lalang. Mira merenungi perjalananya, ternyata bukan hanya umur yang mendewasakan seseorang tapi pengalaman.
Setelah beberapa menit perjalanan, Fitri masuk ke halaman rumah besar dengan pagar tinggi. Halamanya sangat luas dan melewati pepohonan rindang, sehingga jika hanya dilihat dari pagar, rumah utama tidak terlihat jelas. Meski Mira bertahun-tahun mengenal Ardi ini pertama kalinya Mira berkunjung.
"Pantas Intan susah move on" batin Mira dalam hati mengagumi Istana Tuan Aryo.
"Al, udah sampai" panggil Mira ke Alya.
Alya membuka matanya, menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Alhamdulillah, ayok masuk Dok" ucap Alya mengajak Mira turun dan memasuki Istana Tuan Aryo.
"Mba Ida"
Seperti selayaknya Nyonya. Alya memanggil pelayan menyiapkan makanan dan minuman untuk tamunya.
__ADS_1
"Ayo Dok" ajak Alya ke Mira menuju taman rumah Ardi.
Mereka duduk di gazebo dekat kolam tempat Ardi dan Alya biasa pacaran. Tidak lama Mia datang membawa salad buah kesukaan Alya, ditambah kacang almond, air mineral dan jus mangga.
"Maaf ya Dok, Alya ajak main di rumah. Insya Alloh di sini lebih nyaman buat cerita dan nenangin pikiran" tutur Alya sambil memberikan segelas minuman ke Mira.
"Iyah, nyaman banget, di kafe malah berisik. Gue baru tau rumah Ardi juga sekarang Al, maaf ya gue udah berfikir buruk tentang Ardi"
"Nggak apa-apa, Alya aja yang istrinya, awal nikah nggak percaya sama Mas Ardi. Itu normal kok"
"Kamu baik banget Al, beruntung Ardi punya lo dan milih lo"
"Ah Dokter Mira berlebihan. Alya banyak kurangnya kok! Alya yang beruntung dapet Mas Ardi. Suami Dokter Mira nanti juga beruntung dapet Dokter Mira"
"Gue kira lo sama Ardi matre, tapi ternyata setelah gue liat penampilan lo dibanding apa yang Ardi punya jauh, lo seperti nggak mencerminkan apa yang Ardi punya" tutur Mira tulus.
"Hehe, buat Lian barang mahal atau murah itu sama aja, yang penting tepat fungsi. Apa yang Mas Ardi punya, itu tidak sepenuhnya punya dia kok. Alya tidak memandang itu. Memiliki cinta Mas Ardi itu harta termahal buat Alya"
"Gue salut sama lo Al. Sekali lagi gue minta maaf yah"
"Iyaaah, minta maaf terus dari tadi, monggo Dok dimakan. Sejak hamil Alya suka banget makan salad" tutur Alya sambil nyengir.
"Iyah"
Mereka berdua kemudian makan camilan sehat di depanya itu.
"Oh ya Al, lo mau tanya apa?"
"Sebenarnya Alya pernah tanya ini ke dokter berulang kali. Tapi Alya minta kali ini Dokter Mira jujur. Apa tujuan Dokter Mira menerima perjodohan dengan Tito?"
"Ya gue pengen nikah Al, gue mau bahagiain orang tua gue, gue pengen bahagia, gue juga capek Al nunggu Gery" jawab Mira getir mengeluarkan isi hatinya.
Mira menyebutkan nama Gery dengan mata berkaca-kaca.
Alya menatap tulus ke Mira, Alya mengusap telapak tangan Mira dengan lembut sambil tersenyum.
"Jadi karena Dokter Mira lelah menunggu Dokter Gery?"
"Sampai sekarang apa Kak Gery masih ada di hati Kak Mira?"
"Gue nggak tau"
"Apa Dokter Mira cinta sama Tito?"
"Gue juga nggak tahu"
"Dok, menikah itu untuk seumur hidup. Alya pernah kan kasih tau, pikirkan matang-matang. Alya tanya sekali lagi, dokter udah yakin belum dengan Tito?"
"Belum, gue kemarin sempat denger dia ngomong kasar di telepon. Gue takut Al denger dia begitu. Gue kira dia pria yang lembut dan sopan"
"Bersyukur Dok kalau Alloh tunjukin kelemahan calon suami kita, sebelum terlanjur. Alya tanya sekali lagi, Dokter Mira masih cinta ke Dokter Gery? Apa Dokter Mira beneran udah lupain Dokter Gery?"
"Gue nggak tahu, ini cinta apa bukan. Gue capek Al mencintai sebelah pihak, gue cemburu waktu Gery ngejar lo, gue pengen lupain Gery, gue pengen move on dan ikhlasin dia. Tapi di saat gue mau lepasin dia, dia jadi baik ke gue, gue nggak memungkiri, gue bahagia dengan sikap dia yang berubah ke gue. Bahkan dia bilang cinta ke gue"
"Ups, emppt" Alya tersenyum mendengar curhatan Mira. "Dokter Gery bilang begitu?"
"Iya, tadi pagi, dia juga nyuruh gue batalin pertunangan gue, dia bilang Tito orang jahat"
"Hoh, Dokter Gery udah tau?"
"Udah"
"Tau darimana?"
"Gue juga nggak ngerti, sejak awal gue kenal sama Tito, beberapa kali Gery berada di kafe yang sama. Kadang gue rasa, apa Gery buntuti gue? Ah tapi gue ke GRAn"
"Nggak Dok. Menurut Alya nggsk ke GR an Dok. Dia emang nggak rela Dokter berpaling sama yang lain"
__ADS_1
"Benarkah?"
"Huum"
"Dia kan cintanya sama Lo"
"Dia penasaran aja sama Alya Dok. Bukan cinta. Beda. Cinta sama penasaran itu beda"
"Terus gue harus gimana?"
"Mantepin hati Dokter Mira. Kalau emang Dokter Mira nggak cinta dan ragu sama Tito, apalagi di hati Dokter Mira ada Kak Gery. Ya pilih Dokter Gery lah. Nggak baik untuk rumah tangga dokter ke depan. Masa iya Dokter Mira berhubungan badan sama Tito kepikiran Dokter Gery. Itu sih point dasar"
"Iyah"
"Ditambah satu lagi"
"Apa?"
"Mereka bukan orang baik-baik, perusahaan Wiralila dan Gunawijaya itu bersitegang. Di agama kita juga ajarin kita untu memilih yang paling baik akhlaknya Dok. Biar nanti Mas Ardi yang berhak kasih tau Dokter Mira"
"Iya, gue akan tunggu suami lo"
"Bentar lagi pulang kok, eh apa itu ya?" ucap Alya melihat jam di ponselnya dan di dari dinding kaca Alya melihat pantulan langkah laki-laki.
Dan benar saja, panjang umur cinta. Ardi datang di waktu yang tepat.
"Sayang Mas pulang" panggil Ardi ke taman menghampiri Alya setelah diberitahu Mia kalau Alya di taman.
"Lian di sini Mas" tutur Alya turun dari gazebo menghampiri suaminya.
Alya tersenyum manis menyambut suaminya pulang. Kemudian mencium tanganya dengan penuh tanda hormat.
"Cup" Ardi mencium kening Alya lembut.
"Mas kangen sama kamu? Gimana kabar hari ini?" tutur Ardi membelai kepala Alya yang tertutup jilbab.
"Kan tadi siang Lian udah cerita. Ada Kak Mira tuh" ucap Alya menunjuk ke gazebo.
"Mira?"
"Iya"
Ardi tersenyum melirik ke Mira. Lalu beralih menoleh ke ruang tamu.
"Wah jodoh" ucap Ardi.
"Jodoh?" tanya Alya mengernyitkan dahi.
"Mas pulang bareng Gery juga, ada yang mau dia ceritain katanya" bisik Ardi.
"Hoh benarkah?"
"Huum, biar mas panggil dia"
Ardipun ke ruang tamu memanggil Gery masuk ke halaman belakang. Gery dan Mira kemudian saling tatap.
"Gery?" gumam Mira melirik ke Alya. Kok bisa Gery juga datang.
"Sumpah Alya nggak tahu Dok, katanya mereka abis pergi" bisik Alya sambil mengeluarkan jari tanda "Suer"
"Ehm, Ehm" Ardi hanya berdehem menggaruk kepala.
Sementara Gery tampak bahagia, seperti mendapat keberuntungan.
"Sayang" panggil Ardi memeluk pinggang istrinya.
"Iyah, badan mas lengket banget siapin air buat mandi ya"
__ADS_1
"Iya"
"Ger, Mir, kita mandi dulu ya. Silahkan dilanjut dulu ngobrolnya!"