
Setelah imam mengucapkan salam, Alya segera melepas dan melipat mukenahnya. Alya berharap berhasil menghindari Farid dan menunggu Ardi di luar gerbang.
"Kak Alya" panggil Vivi lirih mendekat dan duduk di pangkuan Alya.
"Duh, Vivi, Kak Alya mau pulang cepat" batin Alya menelan salivanya memaksakan tersenyum.
"Iya sayang"
"Kakak makan di panti ya, terus mampir ke kamarku sebentar" pinta Vivi manja ke Alya.
"Kak Alya ada janji sama temen, udah ditunggu, makan di sininya lain kali aja gimana?" jawab Alya pelan takut mengganggu pengurus panti lain yang sedang dzikir.
"Hum...ya udah, tapi mampir ke kamar bentar ya, Vivi ada sesuatu buat Kak Alya" bisik Vivi pelan tetap meminta Alya mampir ke kamar.
Alya menatap Vivi, mata Vivi mengiba dan penuh harap dengan ketulusan. Akhirnya Alya mengangguk. Setelah doa selesai Alya menggandheng Vivi menuju ke kamar.
"Kakak duduk dulu ya" pinta Vivi lalu membuka loker dan mencari sesuatu di kotak kecil. Saat Vivi mencari barang teman sekamar Vivi ikut masuk dan menghampiri Alya dan mengajak cerita Alya. Waktu Alya semakin molor, Alya tampak gelisah dan memaksakan tersenyum
"Ini buat Kak Alya" ucap Vivi memberikan gelang cantik.
"Wah cantik banget Sayang?" ucap Alya kagum.
"Itu Vivi yang buat kemarin belajar" jawab Vivi tersenyum. Lalu Alya memeluk Vivi, anak-anak yang lain pun ikut senang dan menjelaskan kalau Vivi memang kreatif dan telaten. Setelah itu Alya langsung memakai gelang itu dan berpamitan pulang.
"Us Alya" panggil Bu Salma.
"Iya Bu" jawab Alya berhenti.
"Bantuin Bu Asrama, siapin makanan, Non Sinta udah pulang, Den Bagus mau datang katanya pengen makan di sini bareng anak-anak" tutur Bu Salma.
"Deg" mulut Alya tercekat "Apa itu artinya Mas Ardi?"
"Ayo!" ajak Bu Salma lalu mereka ke dapur menyiapkan makanan.
"Tapi saya mau pulang, saya buru-buru".
"Sebentar aja Us, Us Alya belum pernah kan ketemu sama beliau, beliau kan nggak pernah kesini" jawab Bu Salma merayu. Lalu menggandeng Alya masuk ke dapur.
"Duh... kenapa aku malah jadi kejebak di sini?" gumam Alya lalu mengambil ponsel. Ternyata tidak ada pesan masuk dari suaminya. "Apa jangan-jangan beneran dia yang kesini?" Alya dheg-dhegan harap-harap cemas lalu memasukan ponsel ke sakunya.
Dari arah luar terdengar suara beberapa langkah laki-laki berjalan masuk ke asrama. Alya langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata benar dugaanya. Ardi terlihat berjalan mendengarkan penuturan Pak Agus pengurus panti diikuti Farid dan Pak Anton.
"Silahkan Tuan Ardi" tutur Pak Agus mempersilahkan Ardi duduk di sofa yang sudah disiapkan beberapa buah dan camilan.
"Saya bukan Ayah Pak, biasa saja, saya ingin merasakan suasana makan bersama anak-anak panti" jawab Ardi melirik ke Alya yang berada di dalam ruang makan besar.
Farid dan pengurus panti sedikit terperanjak, Ardi hampir tidak pernah peduli dengan panti, tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan datang tidak memberi tahu Ardi tiba di panti. Mungkin kalau donatur lain tidak akan membuat pengurus gelagapan, tapi ini anak pemilik panti.
"Baik Tuan" pengurus panti dan Bu Asrama segera pergi mengumpulkan anak-anak ke ruang makan, membiarkan Ardi bersama Farid. Alya mengikuti Bu Salma memanggil anak-anak. Farid menarik tangan Alya untuk tetep di ruangan. Ardi melirik ke Alya mengeraskan rahang.
"Ar kenalin ni Alya" tutur Farid menarik Alya. "Yang gue ceritain ke Lo".
__ADS_1
Alya menelan salivanya, menundukan kepala, berusaha melepas tangan Farid.
"Oh" jawab Ardi menatap ke Alya.
"Apa sebelumnya kalian udah ketemu?" tanya Farid melihat eskpresi Alya menunduk.
"Belum" jawab Alya lirih.
"Dia, anak Tante Rita Al, waktu itu aku kira kalian saling kenal, yang aku tanyain ke kamu" jawab Farid lagi mengingat dulu Farid mengira Alya saudaranya Ardi.
"Oh..iya" jawab Alya tersenyum kaku. Menahan kesal ke suaminya, kenapa harus menempatkan Alya ke situasi yang menyebalkan.
Lalu Farid mengajak Alya dan Ardi masuk ke ruang makan, Farid berjalan mensejajari Alya, dan membiarkan Ardi berjalan duluan. Setelah sampai di ruang makan Farid juga memilihkan tempat duduk untuk Alya di dekatnya.
Ardi terus memperhatikan Alya yang tampak menundukan kepala dengan penuh arti. Sementara Farid tampak senang bisa memperhatikan Alya di depan Ardi, perempuan yang selama ini dia ceritakan.
Tidak lama anak-anak panti datang beserta pengurus yang lain. Vivi yang melihat Alya langsung mengambil kursi di dekat Alya. Lalu semuanya mengambil makanan. Pak Agus pun memperkenalkan Ardi ke anak-anak panti, Ardi dan keluarganya yang sudah menghidupi anak-anak panti selama ini. Mereka pun mulai menyantap makanan.
"Kak Alya nggak jadi ketemu temanya? Tadi katanya buru-buru mau pergi?" tanya Vivi polos di sela-sela makan. Ardi dan Farid yang berada di dekat Alya, memperlambat mengunyah makanan menoleh ke Alya.
Alya menelan salivanya. "Teman Kakak sekarang ada di depan kamu Vivi" batin Alya diam.
"Tapi Vivi seneng Kakak di sini" lanjut Vivi lagi.
"Iya sayang, teman kakak nggak kasih kabar, dia menyebalkan, jadi kakak bisa makan di sini" jawab Alya lembut, melirik ke Ardi.
"Emang kamu mau buru-buru kemana Al? Siapa yang nyebelin? Nanti aku antar kamu ya?" tanya Farid lembut. Alya langsung gelagapan melirik ke suaminya. Ardi tampak cuek dn melanjutkan mengunyah makanan di depanya. Belum Alya menjawab Farid, Vivi menyela lagi.
"Kak Alya tidur sini aja kalau nggak jadi ketemu temenya" celetuk Vivi membuat Ardi tersedak.
"Oh iya, aku belum tahu kamu kerja dimana sih?" tanya Farid lagi menoleh ke Alya.
"Ehm", Alya meletakan sendoknya. "Alya magang di rumah sakit Kak" jawab Alya sopan.
"Kamu Dokter?" tanya Farid sedikit terkejut.
"Iyah"
"Wah, Kenapa nggak pernah cerita sih, kamu kerja dimana? Berarti kalau ada yang sakit, bisa hubungin kamu dong" tutur Farid antusias.
"Sebenernya Alya masih magang Kak, boleh panggil aku, tapi kalau darurat aja!" jawab Alya lembut.
"Ehm" Ardi beredehem menghentikan makanya. "Gue lupa ada janji sama seseorang Rid, gue cabut ya" bisik Ardi ke Farid dengan nada dingin. Ardi geram melihat dua orang di depanya tidak makan malah ngobrol.
Farid hanya mengangguk dan mempersilahkan Ardi pergi. Pengurus panti yang melihat Ardi bangun langsung ikut bangun dan menyusul berbosa basi mencegah Ardi pergi.
"Nggak apa-apa Pak, saya kebetulan lewat, jadi mampir lihat anak-anak panti, saya masih ada urusan lain," jawab Ardi berbohong, berharap Pak Agus tidak bertanya lagi.
Ardi bergegas keluar asrama dan masuk ke mobil dan mengambil ponselnya.
"Cepat keluar, pulang sekarang, 5 menit sampai di bawah pohon ketapang" ketik Ardi ditujukan ke Alya.
__ADS_1
Masih di tempat makan Alya menghabiskan makanya. Ponselnya berbunyi, Alya segera membukanya. Alya menggigit bibirnya karena kesal.
"Kenapa Al?" tanya Farid menatap ke Alya.
"Maaf Kak, temanku jadinya jemput, aku harus keluar sekarang, maaf ya, anter dan mainya lain kali aja" ucap Alya ke Farid. "Vivi sayang, Kak Alya pulang dulu ya" bisik Alya ke Vivi, lalu berpamitan ke pengurus panti dan anak-anak yang lain. Farid dan Vivi hanya bisa mengangguk setuju. Alya berjalan setengah berlari menghampiri suaminya.
"Masuk" ucap Ardi dari dalam.
Alya mengikuti Ardi, setelah Alya memakai sabuk pengaman Ardi langsung mengemudikan mobilnya kencang.
"Mas, pelan" tegur Alya melihat suaminya dingin. Ardi hanya diam.
Ardi diam mengeraskan rahangnya dan memperlambat laju mobilnya.
"Jadi, selama aku pergi kamu begini?" tanya Ardi dingin. "Bahkan menanyakan kabarku saja tidak? Malah keganjenan "
"Hah? Begini gimana maksudnya? Apa maksudnya keganjenan?" tanya Alya marah.
"Segitu sukanya ya kamu sama Farid, kenapa nggak dari awal kamu terima dia?" sindir Ardi gemas.
"Maksudnya apa sih mas? Aku nggak suka sama Kak Farid, aneh banget sih"
"Aku sudah peringatkan kamu, nggak usah ke panti, tapi sepertinya hasratmu itu nggak bisa ditahan" ucap Ardi mencengkeram stir mobil.
"Mas!" bentak Alya menatap suaminya kesal. "Mas ngomong apa sih? Nggak jelas banget"
"Ngapain aja kamu sama Farid? Apa kamu selalu tidur di panti sampai lupa nanyain suamimu" tanya Ardi tambah ngelantur.
"Ngapain gimana maksudnya? Cukup ya mas, kamu bener-bener gila tau nggak? Kamu selalu bilang kamu suamiku, tapi bahkan sikapmu nggak ada mencerminkan suami"
"Seperti apapun sikapku, selama aku belum mengucapkan talak, aku tetap suamimu. Aku tidak menyangka, ditinggal suami malah nginep di tempat lain, asik-asikan sama laki-laki lain"
"Astaghfirulloh mas, jaga ya mas omongan kamu! Harusnya aku yang marah. Kalau emang mas suamiku, harusnya mas mikir, mas pergi seminggu nggak ada kabar, nggak tahu kemana nginep sama siapa? Sukanya pulang malam bau alkohol, dan sekarang nuduh aku? Hah, nggak bisa dipercaya!"
Ardi membelokan mobilnya dan menghentikan di pinggir jalan karena kesal. Ardi membanting stir dan menghela nafas. Wajah Ardi memerah mendengarkan istrinya berbicara kasar.
Alya menelan salivanya menahan kesal. Alya tau tidak seharusnya Alya berbicara kasar. Tapi Alya lega meluapkan emosinya. Kini mereka saling diam di dalam mobil. Alya menatap suaminya diam dengan wajah memerah. Suasana menjadi canggung dan membuat Alya dheg-dhegan.
"Apa aku salah omong, aku benar kok, tapi kenapa dia sangat marah dan kenapa kita berhenti di sini?" gumam Alya sedikit takut.
"Alya tuh baru datang ke panti, Alya juga baru ketemu Kak Farid" lanjut Alya dengan nada lebih pelan.
Ardi diam, menghela nafas mencengkeram Stir mobil. Ardi menoleh ke Alya menatapnya tajam. Membuat Alya semakin tercekat dan gugup.
Tiba-tiba Ardi mendekat meraih tengkuk Alya dan mendaratkan bibirnya di bibir Alya. Ardi melepaskan semua kerinduan dan kekesalanya. Alya diam dan pasrah membiarkan Ardi ******* bibirnya. Dadanya bergemuruh. Sejujurnya Alya juga merindukan Ardi, tapi Alya tidak menyadarinya. Ardi melepaskan bibirnya setelah Alya terlihat gelagapan kehabisan nafas.
"Mas nggak suka kamu ke panti" bisik Ardi ke Alya lembut.
"Sebenernya, beberapa hari ini mas kemana?" tanya Alya pelan.
"Kapan kamu libur jaga?" tanya Ardi menyalakan mobilnya lagi.
__ADS_1
"Lusa"
"Nanti kamu tahu" jawab Ardi, melajukan mobilnya ke apartemen.