Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
252. Paparazi.


__ADS_3

Jika sebelumnya mereka berangkat sendiri- sendiri dengan dua mobil, bertemu di parkiran. Kadang saling menyapa, atau sebelumnya hanya saling pandang dari kejauhan, dengan salah satu memperhatikan satunya cuek dan pergi tanpa menghiraukan, kini dua dokter yang sudah berusia dewasa itu berangkat bersama, bergandengan tangan. 


Apalagi Gery  belum bisa berdiri sempurna seperti sedia kala, Gery sesekali masih butuh Mira. Saat Mira menggandeng dan memapahnya, tukang parkir, satpam dan perawat yang berjaga di depan melihatnya sebagai pemandangan yang menyenangkan. 


“Alhamdulillah udah sembuh Dok?” sapa security. 


“Iya Bang, alhamdulillah!” jawab Gery ramah. 


“Selamat ya Dok atas pernikahanya. Till jannah ya Dok” ucap beberapa securty.


"Aamiin. Makasih Bang!"


Mira dan Gery melemparkan senyum hangatnya. Menghargai dan menghormati rekan kerjanya.


Setelah mencuci tangan mereka masuk ke ruang praktek Mira dulu. Karena ruang poli kan di depan dekat parkiran.


Dan duerr..


Para perawat asisten Mira sehari- hari menyiapkan surprise untuk mereka berdua. Ruang poli anak didekor dengan ucapan happy wedding dokter Gery dan dokter Mira di tembok. Di pintu masuknya juga dihias dengan pita. 


“Aaah, kalian so sweet sekali” ucap Mira tertegun. Mereka berdua terhenti di depan ruang poli anak. Saking terharunya Mira meneteskan air mata. Air mata bahagia dan merasa tidak enak. 


Gery sebagai laki- laki hanya senyum- senyum mengelus bahu Mira. 


Pertama bahagia, meski Mira sering marah- marah karena pekerjaan perawat terkadang tidak seperti maunya dia, tapi ternyata mereka tetap perhatian.


Tidak enaknya, tidak satupun karyawan rumah sakit mereka undang, hanya direktur dan istrinya saja. Alya dan Anya itu karena pasangan mereka gengnya Gery dan merupakan orang dibalik pernikahan mereka. 


“Barakallah ya Dok! Semoga bahagia till jannah” ucap perawat keluar membawa kue. 


“Aduuh kok bawa kue segala sih? Kan bukan ulang tahun” ucap Mira


Lalu mencicipi sedikit kue dari perawat.


“Nggak apa- apa Dok. Kue kecil ini Dok!” jawab perawat. 


“Enak kok. Entar gue abisin. Bentar ya, gue taruh tas dulu!” jawab Mira masuk ke tempat mereka menaruh loker, sementara Gery duduk di ruang periksa sambil melanjutkan makan potongan coklat dikue tersebut.


“Dok moga cepet berhasil ya Dok!” ledek salah satu perawat ke Gery. 


“Berhasil apanya?” tanya Gery pura- pura bloon. 


“Berhasil bawa baby kalau ke sini Dok!” jawab perawat lagi. 


“Lahh, kan kerjaan kalian tiap hari udah urusin Baby” jawab Gery masih suka bercanda.


“Ya beda atuh Dok!  Baby-nya Dokter Gery dan Dokter Mira dong!” 


“Ya.. ya.. siap. Doain ya!” 


“Ya, pokoknya gaspoll ya Dok!"


"Beress" jawab Gery lagi.


Di saat Gery sedang mengobrol mereka mendengan Mira berteriak. 


“Oh my God” 


Gery pun menoleh tercengang, ingin menyusul ke dalam, sementara perawat cekikikan. 


“Ada apa Sayang?” tanya Gery bangun dan ingin lihat. 


Mira berdiri dengan menutup mulutnya tidak percaya, separuh ruangan markas pegawai yang bekerja di poli berisikan kado. Sampai disusun ke atas hampir setinggi atap. 


“Wuah..” Gery hanya menggeleng- gelengkan kepala sambil menggaruk pelipisnya. Tentu saja dengan gaya coolnya bersandar ke tembok memasukan satu tangan ke saku. 

__ADS_1


“Di ruang IBS dan ICU masih banyak dok katanya. Katanya kenang- kenangan patah hati dari penggemar Dokter Gery Dok!” ledek perawat. 


"Kalian memang ya! Is the best!" puji Gery sok akrab ke bawahanya.


"Tapi banyak yang patah hati Dok!"


“Gue memang sekeren itu!” ucap Gery menegakan berdirinya dan sok ganteng. 


“Ish..." Mira mencubit pinggang Gery. Seisi rumah sakiy kini tau Gery milik Mira seorang titik.


"Tapi kita juga bahagia dan ikhlas kok Dok. Dokter Gery dan Dokter Mira the best couple di rumah sakit ini" puji perawat lagi.


"Kalian niii, gue speechless tau, makasih ya sayang- sayangkuh!” ucap Mira lalu berpelukan dengan kedua asistenya itu.


“Ini baru dari dokter, perawat poli dan IGD, Dok. Untuk yang dari perawat belakang, di ruang ICU dan IBS. Pesan mereka buruan diambil, soalnya bikin sesak tempat sholat mereka” tutur perawat bercanda. 


“Hemmm yaya! Emang seberapa banyak sih apalagi isinya?” jawab Gery. 


"Rahasia lah Dok. Nanti buka sendiri aja. Pokokoknya out of the box nggak bisa ditebak. Kita kan perawat ketjeh" jawab perawat nyengir.


"Dasarr kalian. Tapi makasih lho ya!" ucap Gery.


“Tapi ngomong- ngomong kalian bikin dekor gitu, kalau pasien liat gimana?"’ tanya Mira. 


“Kemarin kan libur Dok!” jawab Perawat membela diri.


“Ya udah bentar lagi kan buka praktek, beresin geh! Nggak enak diliat pasien” 


“Siap Dok!” 


“Oh ya entar bantuin gue susun acara buat makan bareng ya. Sama minta data karyawan sini! Kita belum syukuran sama kalian!” tutur Gery tiba- tiba. 


Gery berfikir mau kasih bingkisan syukuran nikahan ke semua pegawai rumah sakit. Gery juga mau ajak family gathering ke tim mereka.


“Maksudnya Dok?” tanya perawat pura- pura tidak paham. 


“Kita mau diajak liburan gitu Dok?” tanya perawat pura-pura jaim.


“Hmmm” jawab Gery berdehem, perawat saling tatap kegirangan. Mira sendiri memandang Gery kagum dan bangga. Suaminya memang keren dan baik.


Wajar Gery dan Mira banyak yang sayang. Pertama Gery tampan, banyak perawat perempuan yang suka. Kedua, Gery suka mencairkan suasana, bahkan ke petugas kebersihan Gery tidak sungkan menyapa. 


Ketiga Gery tidak pelit ilmu, dan mudah untuk konsultasi. Keempat, jam berapapun ada operasi dan butuh anestesi , selain di waktu libur Dokter Gery, dia langsung tancap gas ke rumah sakit.


Saat bersama timnya Dokter Gery juga berbahasa santai dan akrab, jadi nyaman dijadikan partner kerja meski dia seorang dokter spesialis.


Kelima, Gery tidak pelit terhadap uang, apalagi kalau uang jasa medis baru keluar. Perawat ruang bedah dan icu sering kecipratan makanan. Dokter Gery kan udah punya rumah sakit sendiri jadi gaji wkds untuk bersenang-senang.


Begitu juga Mira, meski dari luar tampangnya tegas dan galak. Tapi Mira penyayang anak-anak.


Dibalik tampang disiplinya ada hati yang lembut dan manis. Mira juga mengajarkan sesuatu yang benar buat perawatnya. Mira juga perhatian ke pasien dan bersedia pulang melebihi jam kerja. 


Jadi semua bawahan sayang ke mereka berdua. Apalagi waktu wkds mereka hampir selesai. Para perawat dengan suka rela ingin memberikan kenang-kenangan terindah untuk Gery dan Mira.


Sambil menunggu perawat membereskan ruang. Gery dan Mira berjalan ke bangsal belakang.  Dan benar, kata perawat, di ruang istirahat Gery kado menumpuk.


Karena merasa tidak enak dengan dokter dan rekan lain. Gery saat itu juga meminta pembantunya untuk sewa mobil bak membawa kado- kadonya diantar ke rumah papahnya.


Kenapa nggak diantar ke apartemen ya itulah Gery, sukanya ngerjain papahnya. Gery di apartemen tidak punya pembantu, di rumah papanya akan banyak pelayan yang mengurusnya. 


Setelah semua beres, mereka kembali mejalani rutinitas kedupanya. Gery sudah berganti dengan pakaian scrub di ruang bedah, bergelut dengan jarum dan obat- obatan. 


Mira sendiri sudah cantik dengan jasnya, stetoskop imut pun menggantung di lehernya. Mira siap melemparkan senyum cantiknya, membuat agar pasien anaknya tidak trauma dan semangat untuk sembuh. 


*****

__ADS_1


Dengan mengendarai mobil Dinda, Anya dan Dinda yang sama- sama libur pergi berkencan. Sebelumnya mereka akan berkencan bertiga bersama Alya. Tapi sekarang Alya sudah hamil dan menikah, susah diajak keluar. Apalagi suaminya sangat over protektif dan bucin parah.


Setelah mereka mengantar pakaian Anya yang berantakan ke tempat setrikaan mereka menuju ke mall besar.


Perbuatan gadis yang tidak baik untuk dicontoh sih kelakuan Anya, tapi kan mereka punya uang. Jadi memberikan rejeki ke orang lain agar mensetrika baju yang dia acak- acak sendiri tidak terlalu buruk. Toh tukang setrikanya bersenang hati mendapatkan pelanggan. 


Mereka langsung menuju gerai pakaian muslim. Anya berjalan malas karena memang belum terketuk untuk berhijrah. Anya masih suka melirik sepatu dan dress cantik.


Sementara Dinda membulatkan matanya. Karena baju Dinda masih banyak yang pendek, rasanya Dinda ingin memborong semuanya model pakaian muslim di depanya.


“Kok lo milihnya yang model begitu sih Din?” tanya Anya melihat Dinda memilih gamis besar dengan setelen hijab besar juga.


“Emang kenapa?” tanya Dinda enteng. 


“Perasaan Alya nggak gitu- gitu amat, kaya ibu-ibu tau!” jawab Anya lagi sirik. 


“Ya serah gue dong. Gue kan bukan Alya. Emang siapa yang bilang mau niru Alya, gue ya gue. Gue juga punya idola sendiri , punya keinginan sendiri” jawab Dinda lagi dengan percaya diri.


“Hemm” Anya hanya manyun tidak komentar lagi.


“Gue tuh suka liat selebgram itu lho.... yang orangnya cantik mualaf yang matanya sipit dan anggun, yang baru aja cerai itu, cantik banget!" jawab Dinda. Ternyata Dinda punya idola sendiri.


“Lo mau kaya dia? Makanya lo mau nikah sama Dika? Nasib dia tragis gaes” jawab Anya menasehati.


“Nggaklah, enak aja, gue ngefans karena cantik dan anggunya di. Nasibnya ya enggaklah, dari segi pekerjaan aja kita beda. Dika juga beda kali, Dika orangnya ulet dan bekerja keras, dari orang biasa. Jangan samain!” jawab Dinda tidak terima.


“Hemm ya kali, kamu cuma ikut-ikutan tren, nikah itu untuk selamanya, dan nggak mudah, lo jangan sampai ngebet nikah karena tren doang! Tren nikah muda” ejek Anya lagi.


“Nggak Anya... tante- tante gue juga berhijab kok. Gue emang udah lama pengen berjilbab. Ditambah gue liat Alya juga nyaman. Dan tentang rencana nikah gue. Setelah gue nikah, gue tetep akan lanjut spesialis, Dika juga selesein kuliahnya. Jadi biar nanti kita kuliah bareng!” jawab Dinda lagi. Ternyata Dinda sudah berfikir jauh ke depan.


“Lo mau tinggal di Jogja?” tanya Anya tidak percaya.


“Yes you are right!” jawab Dinda mengangguk pasti dan sangat mantap.


“Beneran?"


"Di Jogja kan gudangnya universitas Babyy, emang dari dulu bokap gue juga nyuruhnya gue kuliah di sana!” jawab Dinda lagi. Menurut Dinda kuliah di Jogja akan sangat menyenangkan, Dinda juga ingin merasakan hidup di zona yang berbeda.


Anya diam dan tertegun tidak bisa berkata apa-apa. Rupanya Dinda memang lebih matang berfikirnya. Semoga itu pilihan terbaik Dindam


Saat mereka ngobrol tiba- tiba pandangan Anya jatuh ke suatu tempat tidak jauh dari mereka memilih-milih baju.


“Eh tunggu, itu emaknya Alya bukan sih?” ucap Anya matanya terfokus pada seorang perempuan paruh baya berkerudung sedang berhadapan dengan seorang laki- laki yang tak terlihat wajahnya. 


Lalu Dinda yang sedang meneliti detail gamis ikut menoleh dan memperhatikanya. 


“Iya deh itu emaknya Alya, Bu Mirna, kok bisa di sini? Siapa laki- laki yang ngobrol dengannya?” guman Dinda yakin itu Bu Mirna.


“Empt” tetiba Anya menutup mulutnya menahan tawa. Pupilnya berputar memikirkan sesuatu. 


“Kenapa?” tanya Dinda. 


“Bu Mirna tambah cantik nggak sih?” tanya Anya sambil tersenyum penuh arti.


“Huum beda banget sama yang kita temui di Jogja” jawab Dinda setuju.


“Jangan – jangan!” ucap Anya lagi.


“Eh foto- foto, buru foto kita kasih tau Alya!” perintah Dinda iseng.


“Oke!” jawab Anya mebgeluarkan ponselnya lalu mereka berdua berlagak seperti paparazi ibunya Alya.


****


Makasih yang udah mau baca.

__ADS_1


pokoknya author cuma nulis yang author suka dan ingini. Semoga disukai dan bermanfaat. Ya meskipun isinya nggak jelas.


__ADS_2