
"Ini Ger. I_phone terbaru" Ardi menunjukan Hp keluaran terbaru ke Gery.
"Berapa duit?" tanya Gery.
"Lo mau dapetin dia nggak? Kalau lo pengen dapetin dia, kasihlah yang terbaik" Ardi menasehati Gery di konter hape di salah satu Mall.
"Gue ragu dia nerima barang mahal dari gue" jawab Gery sambil ngeliat harga Hp dibandrol 32juta.
"Ger... mana Gery yang gue kenal, lo harus yakinlah, jangan ragu gitu" jawab Ardi sok menasehati padahal dirinya jomblo.
"Dari dulu gue nggak pernah ngejar cewek, cewek yang ngejar-ngejar gue, jadi sedikit gugup gue" jawab Gery sombong, tapi itu memang kenyataanya.
"Bilang aja lo pelit. Bingung gue mau bantuin lo" jawab Ardi menyerah menasehati, karena Gery punya pertimbangan sendiri.
"Ya elo mah tuan muda pewaris tahta, gue kan cuma pegawai, kayaknya selera dokter ceroboh itu bukan ini deh!" jawab Gery meletakan I-phone terbaru itu.
"Ya sory, gue yang bayar deh!" jawab Ardi merasa tidak enak.
"Ogah, ini kan buat calon istri gue bukan calon istri lo, gue bayar sendiri, gue juga pilih sendiri" jawab Gery tidak mau menuruti kata Ardi.
Lalu Gery memilih hp samsung dengan harga yang tidak kalah mahal tapi jauh lebih murah dari hp pilihan Ardi.
Mereka pun membayar hp itu lalu menuju ke parkiran. Dan melanjutkan perjalanan.
"Drrrttt ddrrt" ponsel Gery bergetar. Gery langsung meraih ponselnya, wajahnya langsung berubah.
"Siapa?" tanya Ardi melihat raut wajah Gery berubah.
"Sial! Mira!" gerutu Gery mengepalkan tangan.
"Mira? Si Penguntit?" tanya Ardi yang kenal Dokter Mira saat SMA.
"Siapa lagi, gadis ceroboh itu lagi sama dia. Lebih cepat Ar!" pinta Gery panik.
Ardi langsung menambah kecepatan mobilnya. Gery menggenggam Hp_nya setengah meremas. Membukanya lagi ketika ada pesan masuk.
"Kalau mau gadis cantik ini baik-baik aja, terima tawaran gue!"
"Lo gila ya Mir"
"Ya gue gila karena lo, 30 menit lo nggak sampai, jangan salahin gue kalau lo nggak bisa liat dia di Rumah Sakit ini"
"Brengsek!" gerutu Gery lagi mematikan hp.
"Dia satu rumah sakit sama elo?" tanya Ardi sambil mengendarai mobilnya.
"Iya, dia nyusulin gue setelah 1 minggu gue praktek dan tanda tangan, siapa lagi kalau bukan bapaknya yang atur semuanya"
"Gila ya tuh cewe, dari SMA masih aja nguber lo"
__ADS_1
"Agak cepat Ar, gue khawatir"
"Tenang Bro, Mira anaknya nggak senekad itu, dia main gertak doang wataknya"
"Perjuangan gue bakan lebih berat Ar"
"Semangat dong!" Ardi menyemangati sahabatnya mendapatkan pujaan hatinya. Sementara dirinya kenalan aja masih abu-abu.
******
Rumah sakit
"Lo yakin mau sendiri?" tanya dr. Dinda.
"Iyaah, percaya sama aku, aku baik-baik aja!" jawab Alya tersenyum meyakinkan temanya.
"Positif thinking! Dokter Mira itu senior yang baik, nyatanya dia ambil Spesialis Anak, itu tandanya hatinya lembut penuh dengan kasih sayang ke anak-anak" jawab dr. Alya positif thinking.
"Yaya, kalau gitu, gue tunggu di sini ya" jawab dr. Anya menunjuk bangku di dekat parkiran dan ruang dokter spesialis.
"Doain nggak ada revisi-revisi lagi ya! Berdoa tugas kita di ruang bayi dan anak segera terlewat dengan baik" ucap dr. Alya lembut ke kedua temanya.
"Fightiiing" Dokter Dinda menyemangati.
"Oke" Dokter Alya melingkarkan ibu jarinya tanda setuju. Lalu dia menuju ke ruang dr. Mira.
"Thok thok. Assalamu'alaikum Dok" Alya memberikan salam, lalu membetulkan jilbabnya.
"Cekleek" Alya membuka pintu dengan hati-hati. Lalu melangkah masuk dengan membawa makalah dan laporan 3 pasien kelolaan.
Alya berdiri di depan meja menyerahkan makalah dan laporan.
"Duduk" perintah dokter cantik berwajah blesteran. Alya mengikutinya dan duduk di depan dr. Mira.
"Ini pasien yang mana ya?" tanya dr. Mira sambil membolak balikan kertas laporan Alya.
"Pasien yang masuk pas jaga malam setelah presentasi Dok, semua data, tempat dan waktu sudah saya tulis di situ" jawab Alya tenang.
"Oke baik. Tugas saya terima, saya koreksi besok, hari ini saya sibuk" jawab dr. Mira ketus.
Mendengar jawaban dr. Mira Alya pun tahu kalau dr Mira hanya ingin membuatnya kesal. Kenapa harus dikoreksi besok? Padahal jam praktek masih lama. Bahkan kelompok lain tidak ada yang diberi tugas tambahan.
Padahal jelas sekali presentasi Alya berjalan dengan sangat baik. Dan ketidak berangkatan Alya bukan kesalahan fatal, pertama karena Alya sakit, kedua itu pekerjaan kelompok. Alya menelan salivanya geram. Lalu menarik nafas dalam mengumpulkan keberanian, dan menata kata.
"Kenapa diam? Silahkan pergi!" tanya dr. Mira mengisyaratkan Alya untuk keluar.
"Mohon maaf Dok, ada yang ingin saya sampaikan!" ucap Alya memberanikan diri.
"Silahkan" jawab dr. Mira ketus penuh telisik.
__ADS_1
"Apa salah kami Dok? Kami di sini magang, bukan mahasiswa, saat presentasi kami tidak ada kesalahan. Dan bukankah ini tugas kelompok, teman-teman saya sudah melakukan pengkajian dan tindakan dengan benar. Saya sakit, itu sebabnya saya bertugas presentasi, karena itu wujud kerja saya!" Alya berusaha menanyakan unek-uneknya dengan tenang.
Dokter Mira duduk bersedekap melihat sinis ke dr. Alya. Tanpa menjawab.
"Terus kenapa hanya kelompok saya yang diberi tugas tambahan. Padahal kelompok lain punya kesalahan juga?" lanjut Alya berani.
"Terus kamu iri?" tanya dr. Mira geram.
"Saya tidak iri Dok, sebenarnya ini baik karena menambah pengetahuan saya, saya hanya ingin tanya apa alasan dokter melakukan ini? Karena menurut saya ini tidak adil" jawab Alya.
"Adil? Di sini yang senior siapa? Pembimbing kalian siapa?" jawab dr. Mira menantang.
"Apa ini semua karena Dokter Gery?" tanya dr Alya langsung pada intinya.
Dokter Mira pun terbelalak mendengar perkataan Alya. Wajahnya memerah menahan marah. Tidak menyangka Alya seberani ini.
"Kalau iya karena Dokter Gery, sungguh saya sangat kecewa karena Dokter Mira terlalu kekanakan dan tidak profesional" kata Alya lantang membuat dr. Mira semakin geram.
"Apa kamu bilang? Kamu mengataiku?" tanya dr. Mira tersinggung
Lalu dr. Mira meraih hp, menghubungi Gery dan mengancamnya.
"Saya tidak pernah menantang atau membuat permasalahan dengan Dokter. Apalagi di sini Dokter sebagai pembimbing yang harus saya hormati" jawab Alya bijak.
"Apa maksud perkataanmu?" tanya dr. Mira.
"Kalau benar karena Dokter Gery. Saya sampaikan ke Dokter Mira, kalau anda salah melampiaskan kekesalan dan kecemburuan ke saya. Saya tidak tertarik sama sekali dengan Dokter Gery" jawab Alya tegas.
"Apa hal yang membuatku percaya kalau kamu tidak tertarik dengan Dokter Gery" tanya dr. Mira menahan rasa minder.
Dokter Mira malu ketahuan sudah cemburu buta. Seakan kalah saing dengan Alya, karena Gerylah yang mengejar Alya. Bahkan seantero rumah sakit mengatakan dr. Alya pacar dr. Gery. Tapi di depan Dokter Mira, dr. Alya mengatakan tidak tertarik sama sekali.
Dokter Alya tersenyum menang. Terdiam sejenak. Dokter Alya berfikir jawaban apa yang meyakinkan dr. Mira kalau dia tidak menyukai dr. Gery.
"Kamu tau apa konsekuensinya jika kamu tidak bisa mempertanggungjawabkan omonganmu, bukan hanya tugas yang aku bebankan ke kamu. Bahkan aku bisa membuat STR mu tidak berlaku dimanapun!" Ancam dr. Mira sombong karena bapaknya seorang Menteri.
Alya terdiam mendengar ancaman dr. Mira. Mulutnya tercekat, bukan karena takut, tapi dr. Alya tidak mengira akan bertemu dengan manusia busuk seperti dr. Mira. Bisa-bisanya hanya karena cemburu buta tidak beralasan mengancam seseorang.
"Saya akan buktikan ke Dokter, saya... !" jawab dr. Alya terpotong,
"Braak" suara pintu terdorong. Dokter Gery masuk dengan nafas terengah-engah karena lari. Lalu dr Gery menundukan badannya mengatur nafas.
Melihat Dokter Gery datang dengan nafas terengah-engah Alya kaget tidak mengira. Sementara dr. Mira tampak kecewa.
"Segitu cintanya kah dr. Gery ke dr. Alya? Bahkan dia beneran datang ke rumah sakit setelah membaca pesanku?" gumam dr. Mira menatap nanar ke Gery.
"Dokter Alya silahkan keluar, saya perlu bicara empat mata dengan dr. Mira" ucap dr. Gery meraih bangku setelah nafasnya terkontrol.
Dokter Alya yang notabenya lebih muda, anak baru dan junior, dia mengikuti perintah dr. Gery. Orang yang membuatnya menangisnya semalaman. Dokter Alya berdiri dan tidak melanjutkan percakapan dengan seniornya.
__ADS_1
Dokter Alya membuka pintu dengan hati-hati. Lalu matanya berkeliling mencari temanya.