
Jogja
Sebagai istri yang sedang berusaha memperbaiki hubungan dan menebus kesalahan. Dan sebagai sahabat yang empati terhadap sahabatnya, Alya berusaha netral.
Meski Ardi tidak bersedia diajak negosiasi Alya tidak marah dan tetap mengikuti perintahnya. Alya juga menenangkan Anya. Dan bertindak seolah mengerti perasaan Anya.
"Anya..." panggil Alya terhadap Anya yang masih di meja makan mengotak atik ponselnya.
"Suami lo gila ya Al" cibir Anya kesal sambil menggoyang-goyangkan ponsel karena signalnya hilang timbul.
"Maafin suamiku ya. Suamiku emang gitu. Kita ikutin dulu maunya dia yaa! Aku tahu suamiku emang nyebelin, tapi buat kebaikan kamu kok" tutur Alya lembut ke Anya.
"Kebaikan? Kebaikan apa? Gue kan kesini mau ketemu Agung. Siapa suami lo nglarang-nglarang gue. Nggak! Gue nggak bisa ikutin dia! Tau gini gue nginep di hotel" gerutu Anya masih kesal.
Alya menunduk. Alya sangat memahami perasaan Anya. Alya juga paham maksud suaminya. Alya mulai mengerti sisi baik suaminya meskipun cara pandang mereka berbeda.
"Anya.. dengerin aku dulu" tutur Alya lembut mencoba merayu Anya. Alya duduk di samping Anya, memegang tanganya dan menghadap ke Anya.
"Aku tau suamiku seharusnya nggak bersikap seperti itu. Aku minta maaf atas nama suamiku. Tapi, untuk sekarang sebaiknya kita nurut sama dia dulu sebentar aja. Setidaknya sekarang kita ke rumah sakit dulu. Nanti dipikirin lagi" Alya berbicara lembut berusaha menenangkan Anya.
"Nurut-nurut, lo aja sana. Illfeel gue sama dia. Buat apa gue nurut? Dia kan suami lo. Ogah gue ikutin mau suami lo yang gila itu!" jawab Anya masih kesal. Pantas saja Alya dan Ardi berantem terus.
"Ehm. Teruus? Kalau kamu nggak nurut sama suamiku, kamu mau gimana? Emang kamu udah bisa pesen taksi online?" tanya Alya memberikan pilihan.
Alya tahu signal di kampungnya susah. Tidak ada pilihan untuk Anya membangkang Ardi.
"Belum sih. Signal nya susah banget sih? Agung juga ditelpon nggak angkat-angkat" jawab Anya setengah malu curhat kekesalanya. Sok-sokan nolak tapi endingnya tetap akan ikut Alya.
"Ya udah. Kita ke rumah sakit sekarang, yaa! Nanti aku coba bilang lagi ke suamiku. Sekarang tenangin diri dulu. Coba hubungi pacarmu, kasih tau alamat rumah sakit, sekarang siap-siap ke rumah sakit, oke?" tutur Alya ke Anya.
"Oke" jawab Anya masih manyun. Lalu mereka masing-masing ke kamar mengambil bekal. Alyapun menghampiri suaminya.
"Maas" panggil Alya dengan malu-malu manja ke suaminya. Ardi tampak dibteras sedang menghubungi seseorang tapi tidak berhasil.
"Iya sayang" jawab Ardi lembut menatap hangat istri mungilnya itu. Lalu Ardi memasukan ponselnya ke saku.
"Anya marah lho mas" bisik Alya menatap suaminya, mencoba merayu Ardi memberi kelonggaran ke Anya.
"Biarin" jawab Ardi santai.
"Ish" Alya mendesis manyun.
"Maas? Apa kita nggak salah ngatur-ngatur Anya begitu? Lian takut Anya marah ke kita. Terus nggak mau temenan sama Lian lagi" tutur Alya menunduk masih ingin memberitahu Ardi agar tidak kaku.
"Ck" Ardi berdecak dan tersenyum melihat istri polosnya.
Ardi tidak menjawab, tapi justri meraih dagu Alya, menengadahkanya agar tidak menunduk. Lalu Ardi menurunkan wajahnya mendekatkan pada wajah istrinya. Bersiap melahap istrinya.
"Cup, cup cup cup" Ardi menciumi bibir, pipi dan kening Alya dengan lembut dan penuh cinta.
"Ish" Alya mendesis lagi menatap heran ke suaminya. Susah banget digoyahkan pendirianya.
"Anya akan baik-baik saja. Ini urusan laki-laki. Kamu nggak usah khawatir!"
"Kalau Kak Farid nggak nikah sama Anya gimana? Apa kita nggak salah larang Anya ketemu Agung? Kita kan cuma teman"
"Sayangkuh. Mas nggak larang, mas cuma nggak ingin Anya dibawa pergi sama Agung. Terus terjadi hal yang nggak diinginkan. Boleh kok ketemu. Mas juga yakin. Bentar lagi Farid dan Anya segera menikah. Liat aja!" tutur Farid lembut dan percaya diri.
"Benarkah?"
"Mas kenal bagaiamana sifat Tuan Handoko. Kalau Anya pilihan orang tua Farid. Bisa mas pastikan pernikahan mereka sebentar lagi"
"Mas kok kaya peramal?"
"Kenapa? Nggak percaya? Kamu cemburu Farid nikah?"
"Ya nggaklah mas. Mas iih, Lian kan udah punya mas, Lian cuma cinta sama Mas" tutur Alya meyakinkan Ardi. Ardi tersenyum mendengarnya. Alya benar-benar banyak perubahan.
"I love you" bisik Ardi ke Alya dan merangkul Alya.
"He, i love you too" jawab Lian malu-malu. Lalu dari kejauhan tampak mobil Fatan.
"Udah tenang ya. Ikuti kata Mas! Tuh Dika udah dateng. Yuk berangkat. Kasian ibu sendirian" tutur Ardi dewasa lalu Ardi mengambil bekal masakan Alya. Membiarkan Alya hanya membawa tas slempang kecil.
Karena barang-barang sudah dibawa suaminya Alya tinggal memanggil Anya.
"Anya ayo berangkat" panggil Alya ke Anya. Meski masih dengan wajah cemberut Anya keluar kamar membawa tas punggungnya.
"Kok kamu bawa tas besar?" tanya Alya sedih.
"Gue mau nyari hotel aja, biar besok gue naik kereta sendiri" jawab Anya ketus lalu mereka berdua berjalan ke mobil. Sementara Ardi dan Dika sudah asik mengobrol.
"Kok gitu sih Nya? Nggak nginep sini lagi?"
"Nggak. Di sini susah signal, harus keluar rumah. Udah lo biasa aja. Gue nggak marah sama lo kok. Gue sebelnya sama suami lo. Udah yuk berangkat!"
__ADS_1
Mereka berempat pun masuk ke mobil dan menuju ke tempat Bu Mirna. Alya dan Anya duduk di tengah. Ardi dan Dika duduk di depan.
Dari obrolan Ardi dan Dika, Alya mengambil kesimpulan kalau pemuda di depanya itu ternyata mahasiswa U*M jurusan biologi. Dika bukan sopir kaleng-kaleng, pantas saja akrab dengan Ardi. Dia juga bercerita ke Ardi kalau di rumah sedang merintis ternak sapi yang bekerja sama dengan Fatan. Ardi pun sangat antusias dan tertarik dengan pemuda dan sopir dadakanya itu.
Anya masih di posisi nya dengan memakai headset tidak peduli karena kesal. Sementara Alya ikut mendengarkan obrolan suaminya dan sopir dadakan yang ganteng itu. Setelah beberapa saat mereka sampai.
"Tunggu jangan pergi-pergi dulu" ucap Ardi ke Dika.
"Nggeh Mas, siap" jawab Dika sopan dengan bahasa jawa.
Dengan sigap Ardi membawa barang-barang istri dan mertuanya. Mereka menuju ke bangsal Vip. Lalu masuk ke ruangan tempar Bu Mirna dirawat.
Dengan wajah tenang, Bu Mirna berada di posisi setengah duduk memakai mukenah. Bu Mirna tampak memegang Al-Qur'an dan sedang membacanya.
Ya Bu Mirna memang sesosok ibu yang tegas, bijak, penyayang dan taat. Mungkin karena kebaikan dan amal Bu Mirna yang membuat Alya mendapatkan jodoh setampan, sebaik dan sekaya Ardi. Bu Mirna yang selalu mendoakan Alya disepertiga malamnya. Meminta agar hidup Alya bahagia dan tidak sepertinya.
"Assalamu'alaikum Bu" sapa Alya sopan dan ramah.
"Waalaikumsalam" jawab Bu Mirna mengakhiri tadarusnya. Lalu Ardi, Alya dan Anya mencium tangan ibunya.
"Alya lama ya ninggalin ibu? Maaf nggeh Buk" tutur Alya lembut.
"Ndak popo" jawab Bu Mirna lembut.
"Gimana kabarnya Bu? Udah baikan? Sekarang yang dirasa apa?" tanya Anya ramah.
"Ibu sudah sangat baik Nak. Yang dirasa ibu sekarang seneng. Anak, mantu ibu dan temanya ada bersama Ibu. Apalagi ibu bentar lagi mau punya cucu"
"Abis ini ikut ke Jakarta aja Bu" celetuk Ardi.
"Iya Bu" jawab Alya dan Anya bersamaan.
"Yang penting ibu pulang dari sini dulu. Nanti dibahas lagi" jawab Mirna bijak.
"Bu. Ardi mau ada perlu. Ardi keluar dulu ya Bu. Dokter Anya temani istriku dulu ya!" pamit Ardi dan memerintah.
Bu Mirna mengangguk. Anya menggerutu kesal tidak menjawab. Sementara Alya langsung menoleh dan meraih tangan suaminya.
"Mas mau kemana? Mas lupa?" bisik Alya dengan ekspresi manja. Tadi pagi mereka sudah janjian priksa.
Ardi menggaruk kepalanya. Mencoba mengingat.
"Lupa ya?" tanya Lian lalu mennyeret tangan suaminya keluar.
Bu Mirna dan Anya menatapnya dengan geleng-geleng kepala, pasangan suami istri itu memang suka aneh, kadang juga overdosis dalam segala hal.
"Mas lupa priksa?"
"Kamu nggak sakit kan? Nggak ngeflek lagi kan?"
"Nggak"
"Ya udah ngapain priksa? Berarti kan aman sayang, udah santai aja. Kamu juga seneng kan?"
"Ya udah kalau mas nggak mau perika. Lian nggak kasih lagi. Lian nggak mau lagi" ancam Lian manyun.
"Hemm. Yaya. Ya udah cepetan priksa. Tapi abis ini mas ke peternakan Dika ya" tutur Ardi mengalah.
"Ya" jawab Alya.
Ardi dan Alya berpamitan ke Anya dan Bu Mirna. Mereka berdua menuju ke pendafataran poli kandungan. Sambil jalan dan mengunggu antrian Ardi menjelaskan niatnya berbisnis dengan Dika dan Fatan. Lian yang tidak paham dengan bisnis hanya iya iya aja.
"Lama nggak ya Yang? Mas nyuruh Dika nunggu mas" tutur Ardi duduk di bangku antrian.
"Ya udah dikabarin aja, 5 nomer lagi sih" jawab Lian menatap suaminya.
"Oke bentar" jawab Ardi mengambil ponsel dan mengabari Dika.
Setelah beberapa saat mereka dipanggil masuk. Kali ini dokternya laki-laki, padahal namanya mirip nama perempuan, "dr. Andriana, Sp. Og" Ardi dan Alya sedikit risih, tapi mengingat perjuangan waktu tunggu mereka, mereka tetap lanjut periksa.
Hasil pemeriksaan, semua bagus. Ardi dan Alya tersenyum lebar. Saat Ardi menanyakan kepentinganya, jawaban dokter membolehkan. Malah dokternya memberi tahu tips-tips aman untuk itu.
"Denger kan Yang? Jadi orang jangan negatif thingking mulu makanya!" tutur Ardi setelah selesai dipriksa.
"Hemmm, ya ya" jawab Alya sambil berjalan ke arah ruangan Bu Mirna.
"Mas abis ini pergi yah! Kamu di sini sama ibu sama Anya"
"Kalau Anya pergi gimana?"
"Hemmm" Ardi tampak berfikir, tapi ternyata pucuk dicinta ulam pun tiba' di hadapan mereka tampak Anya sedang duduk menerima telepon di dekat tiang teras. Ardi dan Alyapun berhenti, mencari tempat menguping.
"Honey, gue dari Jakarta nempuh perjalanan 8 jam lhoh. Masa kamu cuma perjalanan 30 menit bilang jauh" omel Anya di telepon.
"Bukan tentang jauhnya Baby. Tapi gue ada ujian presentasi, profesornya galak banget" jawab Agung di telepon.
__ADS_1
"Terus kapan bisa jemput?" tanya Anya mencoba memahami pacarnya.
"Siang atau sore, nanti gue kabarin lagi. Kalau nggak lo ke kosan gue. Gue kirim alamatnya"
"Ogah, gue maunya dijemput"
"Oke. Wait ya!"
" Ya!" jawab Anya kesal lalu mematikan ponsel.
Di belakang Anya, Ardi dan Alya berpandangan tersenyum. Ternyata pacar Anya sibuk. Mereka berdua pun masuk ke ruangan Bu Mirna pura-pura tidak mendengar. Bu Mirna tampak terlelap.
"Mas" panggil Alya lembut.
"Hemm"
"Dinda lagi dalam perjalanan mau kesini"
"Benarkah? Seneng nih kamu!"
"Nanti Dika yang jemput nggak apa-apa kan?"
"Iya. Kabari aja lo dah sampai. Mas pergi ya" pamit Ardi ke Lian mencium keningnya.
"Hati-hati" tutur Lian lembut.
Tiba-tiba ponsel Ardi berbunyi.
"Siapa Mas?" tanya Lian mulai kepo urusan suaminya.
"Farid" bisik Ardi hati-hati. Lalu menggeser jawab panggilan.
"Ya Rid. Gimana? Lo dimana?"
"Gue baru turun dari pesawat, gue di Bandara, ada apa?"
"Emang lo mau kemana? Lo baca pesan gue kan? Gue punya temen, dia ternak sapi. Gue sih yakin prospeknya bagus" jawab Ardi ternyata mereka berdua sedang membahas kerja sama terkait restoran yayasan.
"Sory, gue lagi mau seminar di Jogja" jawab Farid lesu.
Farid berniat menjauh dari Ardi, menetralkan perasaanya. Farid ikut seminar mencari udara segar dan meninggalkan rutinitas Jakarta. Farid ingin mengobati sakitnya dengan rutinitas berbeda.
"Jogja?" tanya Ardi histeris bahagia.
"Ya!" jawab Farid tegas ingin bilang ke Ardi. "Ya gue di Jogja jangan ganggu gue, terserah lo urusan yayasan mau gimana" kira-kira seperti itu.
"Oke. Lo tunggu di situ. Gue sama temen gue otewe jemput lo, kita ke lokasi peternakan sekarang" jawab Ardi semangat.
Sementara Farid syok dan kaget. "Jemput? Emang Lo dimana?"
"Gue di Jogja juga. Lo tau kan mertua gue sakit. Ada Anya juga. Lo seminar kapan?"
"Oh. Gue seminar besok pagi" jawab Farid berdecak. Ternyata Farid tidak bisa menghindar dari Ardi.
"Oke. Gue otewe jemput lo. Kasih tau lo dimana!"
"Ya" jawab Farid pasrah.
Ardi menghela nafas lega sambil tersenyum. Kemudian mengantongi ponselnya lagi, mendekat ke istrinya memeluknya sebentar dan mencium kepalanya.
"Bahagia banget sih?"
"Farid ternyata di Jogja"
"Benarkah?"
"Biar jadi kejutan Anya" bisik Ardi duduk di sofa tunggu pasien.
Dengan muka ditekuk, Anya masuk ke ruangan. Ardi dan Alya memandang Anya tersenyum.
"Dari mana Nya?" tanya Alya.
"Dari depan" jawab Anya datar menunjuk kursi taman di teras bangsal.
Ardi yang membatasi ngobrol dengan teman wanita istrinya itu mengangguk. Lalu berdiri dan pamitan hendak pergi. Tapi tidak menjelaskan mau jemput Farid.
Alyapun tersenyum memcium tangan suaminya dan mengantar sampai depan bangsal. Sementara Anya tidak peduli, justru bahagia Ardi pergi, dan berharap lama agar Anya bisa kabur.
Bu Mirna masih terlelap. Anya dan Alya kemudian menunggu Bu Mirna sambil nonton tv dan mengobrol.
"Dinda udah sampai mana?" tanya Anya ke Alya.
"Masih di Jawa Barat"
"Telpon sih!"
__ADS_1
"Jangan, biarin dia tidur! Jadi sampai sini dia sehat dan Fit" jawab Alya.