
Ruang Rawat
"Sini Lo, duduk!" panggil Dinda ke Alya.
"Apa siih?"
"Lo berhutang sama gue"
"Utang? Apaan?" tanya Alya heran.
"Utang cerita!"
Alya diam berfikir, mengingat- ingat cerita apa yang dijanjikan ke temen tengilnya ini.
"Cerita apa sih Diin? Aku mau kerja mau ikut operan. Nggak enak sama perawat" jawab Alya menghindar dari serangan kekepoan temannya.
"Itu bukan tugas kita, sekarang lo ceritain ke gueh, kenapa sampai orang-orang anggap lo pacaran sama Dokter Gery?"
"Ya ampun" Alya menepuk jidat. "Nggak penting banget tau nggak sih" jawab Alya berdiri hendak meninggalkan Dinda.
"Ya udah kalau gitu nomer kamu aku kasihin ke dokter ganteng itu" celetuk dr. Dinda membuat Alya berhenti dan berbalik arah ke dr. Dinda.
"Hissh jangan! Enak aja, jangan jangan!" jawab Alya menolak keras.
"Ya udah lo cerita!" perintah dr. Dinda.
Dokter Alya terdiam. "Aku harus cerita darimana? Nggak mungkin kan, aku cerita kalau dr. Gery liat aku ganti baju? Terus aku tidak mungkin juga cerita tentang Mba Sinta. Ya Ampun kenapa dr. Dinda kepo dan cerewet sekali " gumam Alya berfikir.
"Oke aku cerita" dr Alya memutuskan untuk buka suara.
"Waktu itu aku salah makan, aku diare, aku dehidrasi, aku pingsan di parkiran, terus ditolongin sama Dokter Gery, terus aku juga nggak ngerti kenapa aku digosipin" dr Alya menyelesaikan cerita dengan malas.
"Udah segitu aja?" tanya dr. Dinda tidak percaya.
"Iiisshh, gila aku lama-lama, kenapa kalian selalu bawel sih?" jawab Alya jengkel lalu bangun.
"Eiiits tunggu! Ya kirain abis itu ada kelanjutanya" Dinda menarik tangan Alya lagi. Alya pun kembali duduk.
"Oke gue percaya. Tadi Gue ketemu Dokter Gery dan Dokter Mira di kantin, Dokter Gery nyariin elu, nanyain elu. Menurutku dia suka sama elu" dr. Dinda menceritakan kejadianya ke dr. Alya.
"Haah? Dokter Gila itu nyariin aku? Suka sama aku?" tanya dr. Alya nggak percaya. Alya ngrasanya Dokter Gery selalu jahilin dia bukan suka.
"Iyah, dan parahnya lagi, Dokter Mira sepertinya tuh cemburu sama kamu, makanya kasih kita tugas tambahan, sebenernya kita nggak salah apapun, dia ngomong sendiri. Nyebelin nggak tuh!" cerita Dinda menggebu-gebu memprovokasi Alya untuk tidak patuh ke Dokter Mira.
"Kenapa bisa jadi gini sih?" jawab Alya bingung.
"Iya, sebbel gue satu bulan pulak bareng dia, udah tugasnya nggak usah dikerjain" imbuh dr. Dinda lagi.
"Ya udah nggak usah dipikirin, makalahnya udah selesai kok, tinggal ngumpulin. Udah ya aku mau kerja!" pamit Alya sambil menenangkan Dinda kalau tugasnya udah selesai.
"Lo harus tegesin ke Dokter Mira, kalau lo nggak ada apa-apa sama Dokter Gery. Gue nggak mau diginiin, kekanakan, nggak profesional"
"Iya beres! Udah sana pulang. Jangan marah -marah!" jawab dr. Alya dewasa.
"Kamu udan bikin laporan pasien kelolaan lagi?" tanya dr. Dinda kembali peduli tentang tugas.
"Udah, aku kirim lewat email. Nunggu laporan Anya, kita kumpulin, oke" jawab Alya semangat tugasnya beres.
"Iyah besok kita ke ruangan Dokter Mira, aku juga pengen cepet-cepet selese".
"Ya udah aku kerja ya. Nggak enak sama yang lain".
__ADS_1
Setelah lega dr. Dinda pun berpamitan pulang, dr. Alya melanjutkan shift sorenya dengan baik.
*****
"Mari ibu-ibu saya pulang duluan" pamit dr. Alya ke perawat.
"Ya Dok, hati-hati" jawab perawat kompak mempersilahkan.
Seperti biasa dr. Alya pulang sendiri jalan kaki, menuju apartemen tumpanganya itu. Dia melewati lorong rumah sakit dan keluar menuju parkiran.
"Thiin thiin" suara klakson mobil terdengar di belakang dr. Alya. Dia pun bergerak minggir mengira dia menghalangi jalan mobil itu. Setelah minggir mobil itu bukan berlalu tapi justru berhenti.
"Hai...", pemilik mobil itu keluar menghampiri dr. Alya.
"Ya ampun Dokter Gila ini mau ngapain lagi?" gumam Alya dalam hati sambil celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri takut ada yang lihat.
"Sendirian?" tanya Dokter Gery.
Dokter Alya diam melihat kesal ke Dokter Gery.
"Kok diam?" tanya dr. Gery mencondongkan wajahnya melihat wajah dr. Alya.
"Udah tau nanya!" jawab dr. Alya kesal lalu beranjak pergi.
"Eiits tunggu!" dr. Gery meraih tangan Alya.
"Apa siih, lepas nggak!" dr. Alya membentak berusaha melepaskan tangan dr. Gery. Tapi dr. Gery justru menggenggamnya semakin erat.
"Jangan galak-galak sama senior, aku hanya ingin mengantarmu" ucap dr. Gery lirih. "Aku harus tau rumahmu" guman dr. Gery dalam hati
"Tapi aku menolak" jawab dr. Alya ketus.
"Apa kamu dijemput? Ini sudah malam lho, bahaya, aku antar saja, oke?" dr. Gery menawarkan setengah memaksa.
"Iya saya dijemput" jawab dr. Alya bohong.
"Oke kalau memang dijemput, maaf deh" jawab dr. Gery.
Lalu dr. Gery melepaskan tangan dr. Alya dan membiarkanya berlalu. Tapi bukan Dokter Gery namanya jika mudah menyerah, apalagi setelah dia memproklamirkan akan menikahi gadis ini ke kedua sahabatnya. Seperti dugaan dr. Alya, dr. Gery mengikuti dr. Alya.
"Ya Tuhan, dia mengikutiku beneran" gumam Alya melirik ke belakang.
"Kalau aku terus berjalan, aku akan ketahuan kalau aku tidak dijemput, bagaimana ini?" dr. Alya terus melangkah meninggalkan rumah sakit, dan dr. Gery masih membuntutinya dengan jalan kaki juga.
Setelah sampai zebra kros dr. Alya berhenti, dr. Gery pun ikut berhenti.
"Hhhh huuuft" dr. Alya menarik nafas dalam menoleh ke dr. Gery.
"Dokter menguntitku?" tanya dr. Alya mendekat ke dr. Gery, dan menatapnya kesal.
"Nggak!" jawab dr. Gery datar menggoyang-goyangkan kakinya.
"Kenapa nggak pergi?" tanya Alya mengusir.
"Suka-suka gue lah"
"Ssshhhh heh!" dr. Alya mendesah gemas melihat lelaki tengil di depanya itu. Lalu dr. Alya menelan salivanya.
Dokter Alya diam, melihat gedung di arah kiri sebrang. Ya gedung apartemen punya Den Ardi anak Bu Rita, tempat tinggal dr. Alya sementara. Dia hanya tinggal nyebrang lalu jalan 50 meteran ke arah kiri dia akan sampai.
Tapi kalau dia menyebrang dan jalan sekarang, pasti ketahuan jika dia berbohong, dr. Alya juga tidak mau dr. Gery tau tempat tinggalnya.
__ADS_1
"Jalanan sudah sepi, kenapa nggak nyebrang?" tanya dr. Gery iseng melihat Alya kebingungan.
"Suka -suka akulah mau nyebrang atau nggak" jawab dr. Alya ketus.
"Berdiri di zebra cross aku kira mau nyebrang" sindir dr. Gery.
"Aku kan lagi nunggu jemputan" jawab dr.Alya berbohong.
"Ooh, jadi jemputnya di sini?" tanya dr. Gery menyindir. Lalu dia duduk di bangku halte 2 meter di belakang dr. Alya.
Dokter Alya berdiri mematung di zebra cross merutuki kebodohanya. Dia terus berdiri seakan-akan sedang menunggu jemputan. Padahal tidak ada yang jemput.
"Sial sial siaall", gerutu dr. Alya meremas gagang tasnya. Sementara dr. Gery terlihat santuy duduk di halte sambil senyum-senyum.
Waktu sudah menujukan pukul 11 malam. Itu artinya dr. Alya sudah berdiri di tepi jalan selama 1 jam lebih. Kaki dr. Alya pun mulai terasa pegal. Otaknya yang dipenuhi rasa kesal, emosi, dan menahan ego untuk merahasiakan tempat tinggalnuya. Alya menjadi tidak bisa berfikir.
"Bagaimana caranya aku kabur? Apa aku pesan taxi online, apa aku ke panti? Apa aku lari saja ke apartemen? Apa pulang ke Bu Rita?"
Lalu dr. Alya meraih handpone di tasnya, matanya terbelalak.
"Kenapa nggak nyala?" dr. Alya tampak panik karena ponselnya mati. Lalu dengan rasa tidak terima dia memaksa memencet tombol power on off berharap masih bisa menyala. Tapi ternyata nihil.
"Ya Tuhan kenapa lagi dengan ponselku, apa aku menyerah saja, biarkan dia tau aku tinggal di Megayu? Tapi nanti dia nongol terus lagi" gerutu dr. Alya masih mempertahankan ego untuk merahasiakan tempat tinggalnya.
"Jadi dijemput nggak Dok? Udah malam lho ini" tanya dr. Gery mendekati dr. Alya yang tampak kebingungan. Dokter Gery merasa usahanya hampir berhasil. Kalau tahu tempat tinggal Alya, Gery akan bisa sering main dan pedekate.
Dokter Alya yang memang sudah kehabisan akal dan merasakan pegal di kakinya hanya diam memegang ponselnya.
"Beritahu alamat rumahmu, saya antar kamu pulang, menurutlah jangan keras kepala" ajak dr. Gery lembut menatap Alya dengan tatapan dalam.
"Nggak perlu!" Alya masih keras kepala tidak ingin Dokter Gery mengantar apalagi tau tempat tinggalnya.
Menyadari perjuanganya tidak berhasil dan melihat dr. Alya tetap keras kepala, dr. Gery menjadi gemas. Lalu dia meraih dan merebut ponsel di tangan Alya.
Menyadari hal itu, Alya yang sangat keras kepala tidak terima Gery mau mangambil ponselnya. Alya langsung menggenggam erat ponselnya. Terjadilah tarik menarik ponsel. Dan ponsel itu jatuh ke jalan raya.
"Haah" Alya menutup mulutnya kaget menyadari ponselnya jatuh. Dia melangkah maju hendak mengambil ponselnya tapi tanganya langsung ditarik ke pelukan dr. Gery.
"Ya Tuhaan, kenapa jantungku berdebar kencang begini hanya dengan memeluknya" gumam dr. Gery menatap dr. Alya.
Berbeda dengan dr. Gery, airmata dr. Alya tampak menetes di wajah polosnya. Dia merasakan emosi membuncah penuh kebencian dan menyesal bertemu dengan laki-laki ini.
"Wuusshhh" suara truk lewat.
Dokter Gery pun melepaskan tubuh Alya dari cengkramanya, setelah truk yang hampir menabrak dr. Alya berlalu.
"Kamu tidak apa- apa?" tanya dr. Gery melihat Alya menangis.
Ada rasa sesak, bersalah dan khawatir di hati dr. Gery. Niat Dokter Gery mendekati dr. Alya, mempunyai kesempatan mengobrol berdua. Tapi semua gagal. Lalu mereka berdua sama-sama menatap ke jalan.
Ponsel Alya sudah tidak berwujud. Remuk ditelindas roda truk. Tangis Alya semakin deras. Kakinya pegal berdiri terlalu lama, perutnya masih dismenorhe, badanya lelah setelah bekerja dan kini hatinya patah menahan kesal. Sempurna kesialan dr. Alya malam ini.
"Aku minta maaf" ucap dr. Gery menundukan kepala.
"Aku benci sama kamu. Enyah dan jangan menemuiku lagi" ucap dr. Alya kasar mendorong badan kekar di depanya.
Dokter Gery yang menyadari kesalahanya hanya diam. Dokter Alya lari kedepan tidak ada tujuan selain menjauh dari dr. Gery.
"Dddrrrt drrrttt" ponsel dr. Gery bergetar. Lalu dibaca pesan di grup rumah sakit.
"Ada pasien cito Dok, sekarang...!"
__ADS_1
Dokter Gery memasukan ponselnya ke saku lagi. Niat mengejar Alya pun dia buang. "Kenapa aku justru menyakitinya, sepertinya aku gagal" gumam dr. Gery, lalu bergegas melangkah ke ruang operasi.