
Apartemen Farid
Memakai sneakers hitam, celana olahraga setinggi lutut dan hoody berwarna merah maroon. Farid melakukan joging di taman dekat apartemen.
Diakui atau tidak diakui, disadari atau tidak di sadari Farid merasakan luka. Luka yang mengoyak hatinya. Farid ingin melupakan sakitnya itu.
Sejak bertemu Alya, Farid seperti menemukan oase saat menjalani hidupnya yang gersang akan cinta. Perilaku yang Alya tampilkan saat bersama anak-anak di panti begitu lembut, sabar dan penyayang. Alya juga selalu sopan dan hormat ke Farid. Meski sifat asli Alya saat di rumah bersama Ardi jauh dari itu semua.
Farid merasa Alya perempuan ideal yang selama ini dia cari. Wajahnya manis, lesung pipitnya begitu imut dan senyumnya begitu tulus. Farid sudah membayangkan setiap pulang bekerja mempunyai istri sebaik Alya bisa melepaskan semua lelahnya.
Tapi sekarang perempuan itu sudah dimiliki Ardi. Entah bagaimana ceritanya. Farid saja merasa sangat susah mengutarakan perasaanya atau mengajak Alya berkencan. Tau-tau Ardi teman curhatnya ambil start duluan.
Farid ingin marah, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Farid dan Ardi bersahabat lama, rasa sayangnya melebihi saudara. Alya juga sudah terang-terangan menolaknya. Farid juga tahu, Bu Rita yang membawa Alya dan lebih dulu mengenalnya. Mungkin memang dari awal. Bu Rita sudah menyiapkan semuanya.
Farid berlari tanpa lelah melampiaskan rasa kesalnya dan sakitnya. Dia ingin menangis tapi tidak bisa. Farid memilih mengeluarkan emosi lewat keringatnya. Merasakan udara segar di pagi itu. Iya dengan cara itu dia melampiaskan sesak di hatinya.
"Hah. hah. hah. " Farid memelankan ritme larinya kemuadian berhenti di bawah pohon.
"Huuft, gue harus move on" batin Farid dalam hati.
Setelah irama jantungnya kembali normal. Cucuran keringatnya berkurang Farid melanjutkan olahraganya berjalan. Kemudian berhenti di pedagang kaki lima. Farid memesan nasi kuning dan air mineral.
Sambil menunggu ibu penjual nasi, Farid membuka ponselnya. "Seminar Ilmiah?" gumam Farid membaca pesan whatsap dari temanya. "Datang nggak ya? Apa gue ambil aja ya? Sekalian jalan-jalan cari udara baru di luar Jakarta?"
Kemudian Farid diam dan berfikir lagi. "Lanjut S3 menjadi Doktor atau menikah?"
Jika memilih lanjut S3 itu berarti Farid harus mengundurkan diri dari yayasan. Kembali menyerahkan tugasnya ke Ardi. Menjadi dosen dan kuliah sendiri sudah cukup merepotkan.
Target kehidupan sebelumnya, Farid tahun ini harus menikah, baru lanjut S3. Tapi Farid justru kembali patah hati. Lalu Farid diam, dan teringat gadis kecil di masalalunya.
Farid saat SD dulu sangatlah cengeng dan dibully teman-temanya. Karena memang dari lahir, Farid berhati lembut dan sensitif. Ada satu gadis cerewet yang selalu membelanya. Dia juga yang menjadi motivasi Farid untuk tidak cengeng lagi.
"Huuuuft" Farid tersenyum memainkan gigi danbibirnya.
"Takdir macam apa ini? Dia juga pasti menertawaiku, kenapa kelemahanku dan nasib jelekku selalu Tuhan tunjukan pada dia?" gumam Farid sambil tersenyum sendiri sambil membayangkan gadis kecil dari masalalunya itu.
Sepiring nasi kuning beserta lauknya datang. Farid segera menikmatinya dan kembali mengantongi ponselnya.
****
Rumah Intan
Sebagai ibu yang baik dan menyayangi anaknya. Sebelum bekerja Intan memandikan anaknya dan menyuapinya. Hari ini hari pertama Intan kembali ke butik. Meski tau Ardi sudah memiliki istri dan calon anak, hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk maju.
Jika tidak kembali mendapatkan hati Ardi, setidaknya Intan harus mendapatkan uang dan kekuasaan. Intan memang sudah tidak sekaya dulu. Perusahaan papanya banyak disokong Gunawijaya. Saat Ardi memutuskan hubungan, saat itu juga kemunduran Intan Jaya dimulai.
Intan bertekad harus berdiri dengan kakinya sendiri. Intan harus tetap hidup dengan layak. Terbebas dari bayang-bayang kebangkrutan ayahnya. Intan tidak mau jatuh miskin dan semakin terpuruk. Intan harus kembali mendapatkan kepercayaan Gunawijaya.
"Sayang mommy berangkat kerja dulu ya" pamit Intan ke anaknya yang sudah digendong pengasuhnya.
Lalu Intan segera melajukan mobilnya menuju ke yayasan. Berniat memberitahu kalau dirinya sudah siap kembali bekerja, berkarya, mendapat dukungan fasilitas dari Gunawijaya.
Seperti sebelum-sebelumnya, Intan berjalan berlenggak-lenggok dengan cantik. Intan masuk ke kantor pengurus. Tapi pagi ini pengurus tampak sibuk dengan laporan dan tugasnya masing-masing.
Intan menelan ludahnya sejenak.
"Kenapa mereka tidak ada yang menyapaku?" batin Intan melirik ke pengurus masing-masing sibuk dengan komputernya.
Padahal sebelum-sebelumnya, Intan sangat dihormati. Intan langsung disambut dan diberi kursi saat datang. Ditanyai mau butuh apa dan ketemu siapa.
Tapi pagi ini berbeda, itu semua karena pengurus tau, Intan bukan lagi calon pemilik yayasan melainkan sama kedudukanya dengan mereka, karyawan.
Calon pemilik yang benar sudah Ardi umumkan kemarin. Calon pemilik yayasan seterusnya ternyata perempuan bertubuh kecil dengan senyum tulusnya yang beberapa waktu terakhir ini duduk dan mengobrol biasa bersama pengurus yang lain. Iya dia Alya.
"Ehm" Intan berdehem di depan meja kerja Bu Salma.
Bu Salma pun menoleh dan menghentikan jemarinya dari atas keyboard.
"Eh Non Intan? Ada apa Non?" tanya Bu Salma datar dan tetap duduk di mejanya.
__ADS_1
"Saya mulai hari ini kerja lagi Bu?" jawab Intan sedikit kesal. Bu Salma tidak seramah hari kemarin. Saat Intan membawa oleh-oleh di acara kafe danau Bu Salma sangat ramah. Sekarang biasa-biasa saja.
"Oh, gitu. Tapi, Non Intan kan dulu ngurusin butik ya? Apa mau ikut ngajar?" tanya Bu Salma jujur.
Dari dulu Intan kan tidak mau berurusan dengan anak-anak. Intan fokus mencari uang dan membuat karya, kemudian dijual. Bukan mengajari Anak-anak panti seperti yang dilakukan Bu Salma dan Sinta.
"Iya" jawab Intan menyadari kebodohanya.
Intan berniat ke kantor yayasan untuk menunjukan eksistensinya kembali di panti, bukan ngajar anak-anak. Ekspektasi Intan, Intan masih disegani dan akan menjadi Nyonya yang dihormati lagi. Tapi semua itu tidak berlaku lagi.
"Non Intan mau ngisi kelas les menjahit?" tanya Bu Salma menebak kesimpulan dari jawaban Intan.
"Ah tidak Bu. Saya cuma ingin menyapa Bu Salma"
"Oh. Ada yang bisa saya bantu Non?"
"Nggak. Ya udah saya ke Butik aja Bu Salma" pamit Intan kemudian pergi.
"Iya Non hati-hati" jawab Bu Salma bingunh melihat ekspresi Intan. Kemudian Bu Salma melanjutkan pekerjaanya lagi. Menyiapkan materi mengajari anak-anak panti nanti siang.
"****!" Intan membanting stir menuju ke Butik. Dia benar-benar kesal diperlakukan seperti karyawan.
Setelah melewati perjalanan beberapa saat Intan sampai ke butik. Beberapa karyawan lama yang masih mengenal Intan, menyapa Intan dengan ramah.
"Non Intan? Apa kabar? Selamat datang kembali Non?" sapa pelayan butik.
"Pagi, mulai hari ini gue kerja lagi" jawab Intan dengan gayanya yang anggun.
"Iya Non" jawab pelayan ragu-ragu.
"Ruangan gue masih sama kan?" tanya Intan hendak masuk ke ruangan tempatnya berkarya dulu. Tempat dulu Intan menyalurkan bakatnya menghadirkan gaun-gaun cantik dan mewah. Tentu saja dengan fasilitas dan bahan yang disediakan Ardi.
Pelayan mengusap tengkuknya ragu. Ruangan Intan dulu sudah dipakai desainer baru jebolan anak panti. Tentu saja itu junior Intan.
Jadi jika Intan bekerja lagi, Intan akan berbagi dengan desainer baru itu. Berbagi tempat, berbagi pelayan, dan juga berbagi bahan dan alat-alat. Tapi pelayan tau, Intan ingin mendominasi, dia tidak mau disaingi, pelayan pun bersiap mendapat luapan emosi Intan.
"Masih sama Non, tapi" jawab pelayan ragu-ragu.
"Di dalam ada Mbak Dara juga?"
"Dara? Siapa dia?"
"Dia desainer yang menggantikan Non Intan selama dua tahun ini" jawab pelayan menunduk.
"Oh" jawab Intan mengepalkan tangan menyembunyikan rasa kesalnya.
Lalu Intan melirik ke etalase dan beberapa manequein. Gaun-gaun yang terpampang memang gaun rancangan baru yang bukan hasil karyanya. Hasil Karya Intan memang masih ada yang terpajang, tapi hanya dengan hanger biasa.
"Silahkan masuk Non, biar saya kenalkan ke Mba Dara" jawab pelayan.
"Oke" jawab Intan lalu masuk ke ruangan kerjanya yang dulu.
Di dalam ruangan tampak perempuan berjilbab dan satu asistenya. Perempuan itu tampak sedang memasang mutiara-mutiara cantik di kebaya. Ya Dara sedang merampungkan kebaya pesanan teman sosialita Bu Rita.
"Mba Dara" panggil pelayan. Dara pun menghentikan aktivitasnya dan tersenyum ramah ke Intan dan pelayan.
"Iya Mba? Ada yang bisa saya bantu?" sapa Dara ramah. Karena Dara dulu juga anak asuh Bu Rita, meski menjadi desainer Dara sangat sopan dan ramah.
"Kenalkan, ini Non Intan, dulu dia desainer di sini. Sekarang dia akan kembali bekerja" tutur pelayan.
"Oh, benarkah? Senangnya. Kenalkan saya Dara" jawab Dara tersenyum senang mengulurkan tangan ke Intan.
Berbeda dengan Dara yang tersenyum lebar. Intan menelan salivanya, mengeratkan rahangnya menahan geram. Intan merasa terhina, bisa-bisanya posisinya yang sudah diakui banyak orang, bahkan lulusan luar negeri digantikan dan disamakan dengan anak jalanan yang lulus kuliah saja belum.
Dara pun menarik tanganya kembali merasa kikuk. Pelayan yang tahu Intan sudah menebak kejadian itu hanya menunduk. Karena kesal Intan berbalik dan pergi meninggalkan butik.
Sementara Dara dan kedua pelayan butik saling pandang. Mereka bingung Intan hanya diam kemudian pergi lagi.
"Kamu yang sabar ya Dar. Udah lanjutin lagi pekerjaanmu" tutur pelayan menasehati Dara. Dara pun mengangguk.
__ADS_1
"Apa dia yang namanya Mba Intan?" tanya Dara.
"Iya"
"Cantik ya? Sebenarnya gue pengen belajar banyak dari dia. Tapi kok dia kaya marah ya?"
"Udah nggak usah dipikirin. Kata Den Ardi dia butuh kerjaan di sini. Mungkin besok balik lagi. Dia merasa tersaingi kali liat lo di sini?"
"Hemm. Nggak mungkinlah gue nyaingin dia" jawab Dara ramah.
Meskipun Dara masih kuliah, tapi Dara belajar dengan giat. Dara juga telaten dan bersemangat berkarya. Motivasi Dara hanya tulus berkarya, bukan pujian atau kedudukan.
Bu Rita akan memfasilitasi semua ide dan mimpi Dara jika Dara semangat dan mau membuktikan hasilnya. Bu Rita juga memasarkan karya Dara.
Jika laku hasilnya dibagi dua. Dikembalikan ke panti untuk operasional lain dan sebagian untuk biaya Dara membayar kuliah. Tentu saja itu sudah menjadi hal yang menakjubkan untuk Dara.
"Hah. Siaaal!!!" teriak Intan di dalam mobil sambil mengacak-acak rambutnya.
"Gue harus temuin istri Ardi sekarang juga" batin Intan geram.
Intan melajukan mobilnya menuju kosan Anya. Intan menggenggam foto dari anak buahnya. Foto dimana Ardi memeluk erat perempuan berjilbab di depan kos Anya. Intan merasa yakin pagi itu akan menemui perempuan yang dianggap menjadi penghancur rencananya.
"Kalau dia istrinya kenapa dia tinggal di sini?" batin Intan setelah sampai di kosan Anya. Beberapa kali Intan memata-matai Istana Tuan Aryo, tidak pernah tampak perempuan berjilbab dengan postur seperti Alya. Kosan Anya satu-satunya tempat yang menjadi petunjuk Intan.
Tapi kosan Anya tidak mewah. Seharusnya Nyonya Ardi Gunawijaya tidak tinggal di kosan sekecil ini.
Lalu Intan menelpon Sinta. Sinta yang penasaran siapa Alya segera meluncur ke Intan. Merekapun bergegas menuju ke apartemen Megayu.
"Kalau udah ketemu istri Ardi, apa yang akan lo lakuin Tan?" tanya Sinta ketika mereka sudah satu mobil.
"Akan gue bunuh. Gue mau Ardi ngerasain sedih, seperti apa yang gue rasain"
"Serius? Lo nggak takut masuk penjara?"
"Hah, hidup gue udah cukup hancur. Gue cuma mau Ardi ngerasain pembalasan dari gue"
"Kalau perempuan itu benar Alya. Gue akan bantu lo" sambung Sinta.
Lalu mereka berdua memarkirkan mobilnya di parkiran Megayu. Mereka berduapun berjalan menuju ke satpam hendak menginterogasi.
"Permisi Pak" sapa Intan ke Pak Yon.
"Iya Neng, ada yang bisa saya bantu?"
Intan mengeluarkan foto Ardi.
"Saya mau cari seseorang. Apa orang ini tinggal di sini?" tanya Intan memberikan foto. Pak Yon mengambil dan memperhatikan dengan seksama. Lalu tersenyum.
"Oh Den Ardi. Sangat kenal Non"
"Dia masih tinggal disini? Kalau boleh tau di lantai berapa? Tinggal sama siapa?"
"Oh Den Ardi hanya sebentar di sini. Dia tinggal bareng istrinya. Tapi sekarang sudah pindah" jawab Pak Yon datar.
"Dheg" Sinta menelan ludahnya. "Jadi, Alya memang istri Ardi?" anak buah Sinta dengan jelas melihat Alya masuk ke mobil Ardi lalu mereka berdua masuk bersama.
"Kalau boleh tau pindah kemana ya? Terus bapak kenal dengan istrinya?" tanya Intan.
"Wah saya tidak tau. Tapi kalau dengan istri Den Ardi saya kenal, sangat kenal. Non Lian baik banget dan ramah, suka ngasih makanan. Dia cantik juga. Dia dokter magang di rumah sakit sebrang" jawab Pak Yon lancar merasa bangga dekat dengan Lian.
"Gue kenal Tan. Gue yakin dia Alya" bisik Sinta ke Intan.
"Oh iya. Namanya Alya Berlian Sari" sambung Pak Yon bangga bisa menyebutkan nama Lian dengan benar setelah beberapa kali melihat nametage Alya.
Sinta dan Intan benar-benar dibuat melongo. Ngapain mereka susah-susah sewa mata-mata. Ternyata orang yang mereka cari selama ini sudah mereka temui.
"Dokter magang Pak?" tanya Sinta menegaskan.
"Iya Non, kata Non Lian begitu" jawab Pak Yon polos.
__ADS_1
"Oke makasih Pak" jawab Sinta sambil mengepalkan tangan.
Mereka berdua kembali ke mobil dan pergi dari apartemen.