
****
Matahari mulai naik, cahayanya mulai menyebar menghangatkan suasana pagi yang cerah itu. Parkiran mobil dan mobil mulai penuh. Masyarakat sekitar dan tamu undangan mulai memenuhi restokafe dan taman di dekat danau yang Ardi bangu. Karena pagi itu Ardi menggratiskan semua makanan jadi masyarakat sangat antusias.
Tamu-tamu yang ditunggu datang. Pak Walikota dan rombongan tampak turun dari mobil. Ardi dan pengurus panti menyambut kedatangan Pak Walikota dengan tersenyum bahagia. Semakin dekat Ardi dengan pejabat setempat, ijin usahanya akan dipermudah, dibantu dan dilindungi.
Pak Walikota juga merasa bersyukur dan bahagia, karena ada pengusaha pribumi yang ikut memajukan wilayahnya. Apalagi perusahaan Ardi membangun usaha dengan pondasi kemanusiaan. Membangun usaha untuk menghidupi anak-anak yatim piatu.
Ardipun berjalan bersama mengiringi Pak Walikota menuju ke tempat duduk di depan panggung. Tanpa tahu malu Intan ikut berjalan bersama rombongan. Untung saja Intan cantik jadi tidak memalukan. Hanya saja dalam hati Ardi membatin. "Ngapain Intan ikut-ikutan. Tau begini Ardi gandeng istri sendiri"
Ardi tidak mengajak Alya, karena tidak mau Alya kecapekan, tantrum di berada di tengah keramaian. Ardi juga tidak mau istrinya diliatin banyak orang. Ardi juga tidak menyangka Intan akan datang.
"Selamat datang Pak, silahkan duduk" sambut Ardi ramah dan merendah.
"Selamat Tuan Ardi, atas dibukanya restoran, kafe dan taman ini" ucap Pak Wali kota berjabat tangan.
Setelah duduk mereka duduk di sofa barisan depan menghadap ke panggung yang sekarang. Intan duduk di belakang Ardi. Sambil menunggu MC Ardi mengobrol dengan Walikota.
"Terima kasih Pak" jawab Ardi dengan perkataan singkat namun terkesan.
"Saya yakin, Restokafe ini akan sukses Tuan Ardi, semoga juga bisa menambah daya tarik danau ini, semoga bisa maju dan membuka lapangan kerja untuk masyarakat sekitar" tutur Walikota.
"Aamiin Pak. Kalau restokafe sudah berjalan, saya malah ingin berinvestasi, membangun wahana wisata di danau ini Pak" jawab Ardi ingin mengembangkan usahanya dan bekerja sama dengan pemerintah setempat.
"Benarkah? Saya sangat setuju kalau begitu" jawab Walikota, bahagia. Karena tentu saja jika Ardi jadi berinvestasi. Akan memberikan pajak dan membuka lapangan kerja. Pedagang pun akan mendapatkan lapak.
"Nanti bisa kita bahas setelah acara ini" jawab Ardi yakin.
"Siap-siap. Oh ya ngomong-ngomong, kapan nih saya diundang di acara Tuan Ardi yang lain" goda Pak Walikota bercanda.
"Maksud Bapak?" tanya Ardi sopan.
"Saya dengar Tuan Ardi masih sendiri?" tanya Pak Walikota ingin mengobrol santai.
"Oh tidak Pak, Alhamdulillah saya sudah beristri" jawab Ardi percaya diri dan bahagia.
Intan yang di belakang Ardi mendengarnya seperti tersambar petir, kuping dan pipinya memerah. Nafasnya seperti tercekik, dadanya bergemuruh dan menjadi sangat sesak.
"Oh iya?" tanya Pak Walikota mengedarkan pandangan ke Intan.
"Istri saya di rumah Pak. Sengaja tidak saya ajak, dia sedang hamil muda. Kapan-kapan kita bisa makan bersama, saya ajak istri saya" ucap Ardi lagi.
"Wah ide bagus itu, istri saya sangat senang bisa berkenalan dengan Nyonya Ardi. Oh selamat Tuan Ardi, rupanya sebentar lagi anda akan menjadi ayah" tutur Pak Walikota bahagia.
"Terima kasih Pak, doakan istri saya sehat" jawab Ardi lagi dengan bibir merekah.
Ardi membayangkan istri mungil dan manisnya. Lesung pipit yang sangat menggemaskan dan tidak bosan Ardi pandang. "Sedang apa Lian sekarang?" gumam Ardi merindukan istrinya padahal baru berapa jam berpisah. Ardi tidak tahu kalau istrinya sekarang ada di tempat yang sama.
Karena kursi tamu undangan penuh, dan Walikota sudah datang, pertunjukan musiknya berhenti. Mc pun naik ke panggung. Dan acara dimulai.
__ADS_1
****
Intan yang mendengar percakapan Ardi hatinya terbakar. Dengan menggenggam tangan Intan keluar mencari Sinta. Intan harus menyusun rencana lain. Rencana pertama Intan jelas akan gagal karena Ardi sudah beristri.
"Secepatnya gue harus tau siapa istri Ardi" gumam Intan. Intan tidak bisa menahan emosinya dan ingin segera meninggalkan acara. Intan menelpon Sinta dan mengajaknya pergi.
Sambil mengepalkan tangan, Intan berjalan memecah kerumunan. Intan jalan terburu-buru dengan heelsnya. Sehingga pada saat melewati jalan bebatuan di tengah taman. Intan terkilir dan menabrak perempuan cantik berjilbab. Sehingga mereka terjatuh bersama. Untung Intan sudah agak jauh dari tenda acara sehingga yang menyaksikan hanya ibu-ibu pengunjung yang tidak dikenal.
"Auw" pekik Intan.
"Astaghfirulloh hati-hati Mba"
"Ssshhh" Intan mendesis melihat perempuan yang dia tabrak. Lalu Intan bangun dan tidak meminta maaf atau menyapa.
"Ish, cantik-cantik jutek banget sih? Itu kan perempuan yang tadi di samping Mas Ardi, siapa sih dia?" gumam Alya bangun.
Alya melihat sekeliling, Alya mencari suaminya dan teman-temanya.
"Ck. Ramai sekali" Alya berdecak. Lalu melihat ke arah tenda acara dan aula penuh sesak.
"Aku langsung ke belakang aja lah. Semoga Us Zahra dan Bu Salma di sana" batin Alya mengingat ruangan di belakang tenda yang ditunjukan Farid tempat orang-orang panti berkumpul.
Alya pun masuk, benar saja orang-orang panti sedang sibuk membuka bingkisan dari Intan. Mereka sedang menggosip dan mencoba memilih hadiah dari Intan.
"Us Alya?" panggil Bu Salma.
"Waalaikumsalam" jawab orang-orang bersamaan.
"Saya kira nggak dateng. Sinih, nih ada oleh-oleh dari tunanganya Den Ardi" tutur Bu Salma memberikan bingkisan oleh-oleh dari Intan.
Alya menelan salivanya mendengar penuturan Bu Salma. "Tunanangan Den Ardi? Apa maksudnya? Aku istrinya Mas Ardi" batin Alya mengeratkan rahangnya, menjaga kestabilan emosinya.
Alya ingin marah dan menjawab. Tapi Alya sadar, Alya sendiri yang salah, pernikahan seharusnya diumumkan, bukan disembunyikan. Bukan salah Bu Salma jika Bu Salma tidak tahu.
"Tunangan Den Ardi?" tanya Alya, memastikan. Alya mencoba memaklumi Bu Salma.
"Iyah. Masa Us Alya nggak tahu. Den Ardi anaknya Bu Rita" jawab Us Zahra.
Alya kembali menelan salivanya. Menghela nafasnya. Yang dibicarakan memang benar suaminya. Tapi Alya harus positif thingking, Alya yakin Bu Salma dan Us Zahra salah paham dan tidak mengerti.
"Saya tau Den Ardi, tapi maksudnya ini dari tunanganya?" tanya Alya lagi.
Tentu saja Alya tau Ardi. Orang Ardi laki-laki yang setiap malam memeluknya, menidurinya sampai Alya hamil. Alya bertanya mencari pembenaran dan mengusir kecurigaan.
"Iya tunanganya Den Ardi. Non Intan. Alhamdulillah mereka balik lagi ke panti, tadi mereka datang berduaan. Bawain kita semua oleh-oleh. Baik banget tau, orangnya cantik banget" sambung Bu Via pengurus panti yang lain.
Alya semakin penasaran, dan sekarang nafasnya mulai memburu, jantungnya mulai memacu sehingga detaknya semakin kencang. Ada hantaman panas di dadanya membuat otak dingin Alya sedikit bergoyang dan memanas.
"Datang bareng? Siapa? Kapan?" tanya Alya mulai terpancing emosi membuat yang lain melihat Alya sedikit aneh.
__ADS_1
"Kok Us Alya tanyanya gitu? Kenapa?" tanya Us Zahra menangkap wajah Alya yang berubah ekspresi.
"Aku penasaran aja" jawab Alya mencari alasan.
Alya gelagapan. Kalau Alya jelaskan sekarang Alya pasti dikira mengaku-ngaku. Siapalah Alya pendatang baru di panti, orang akan percaya jika Ardi sendiri yang menjelaskan. Semua memang salah Ardi, dari awal Ardi memang salah tidak terbuka.
"Yang datang bareng ya Den Ardi dan Non Intan. Mereka bawain kita seragam. Yuk dipakai nanti kita foto-foto sebagai keluarga Gunawijaya" jawab Us Zahra semangat.
"Tunangan Den Ardi? Yang mana?" tanya Alya masih terbata dan dadanya semakin sesak tidak menghiraukan Us Zahra.
"Oh, itu lho perempuan yang memakai dress biru berenda. Yang rambutnya hitam panjang, yang dari tadi di dekat Den Ardi" jelas Bu Salma.
"Oh" jawab Alya lemas dan memucat.
Alya menelan salivanya lagi. Ya Alya memang melihat suaminya berdekatan dengan perempuan cantik itu. Penyakit cemburunya Alya kambuh. Otaknya benar-benar oleng dan mulai datang berbagai spekulasi dan pikiran yang tidak jelas.
"Cantik banget kan?" tanya Us Zahra semangat.
"Iya cantik banget, cantik dan ganteng, cocok" jawab Bu Salma.
"Serasi banget Us? Mereka dulu sama-sama aktif di panti juga. Tapi karena Den Ardi kuliah di luar jadi nggak kepanti lagi. Sepertinya sebentar lagi Bu Rita mau mantu" ucap Bu Via semangat.
Alya mengepalkan tanganya berdiri dan meninggalkan teman-temanya. Alya tidak tahan lagi mendengar percakapan teman-temanya membahas suaminya dan perempuan lain. Alya keluar mencari tempat sepi di balik tembok dan menyandarkan badanya di tembok.
Air mata Alya jebol. Alya memukul-mukul dadanya dengan tanganya.
"Mereka pasti salah, mereka salah" ucap Alya dalam hati.
Tapi Alya tetaplah Alya denga sifat cemburunya yang tingkat dewa. Didukung hormon kehamilanya yang membuat sensitif. Alyapun lupa nasehat Ardi untuk tidak percaya dengan ucapan orang sebelum konfirmasi.
"Apa ini sebabnya Mas Ardi nggak segera umumin pernikahan dan jelasin ke Kak Farid?"
"Apa ini sebabnya Mas Ardi suruh aku rahasiain pernikahan di panti?"
"Apa ini sebabnya Mas Ardi nggak mau ajak aku kesini?"
"Jahat kamu mas, jahat!"
Alya meremas bajunya dan menangis sesenggukan. Bayangan tertawa bersama pengurus panti, makan-makan dan menikmati musik sambil menikmati pemandangan sirna. Meski sebenarnya keputusan Alya pergi adalah kesalahan fatal Alya. Tapi Alya merasa keputusanya benar. Alya merasa Tuhan membuka tabir suaminya yang sebenarnya.
"Pantas saja, Mas Ardi nggak angkat telponku" gumam Alya lagi sambil menghapus air matanya.
Alya kembali terbawa emosi dan cemburu butanya. Alya berniat meninggalkan acara. Alya merasa butuh teman cerita.
*****
Terimakasih buat kakak2 dan ibu2 yang mau baca dan bersedia kasih like atau komen.
Maaf kalau ceritanyanya banyak kekurangan. Nggak tahu ini bermutu atau tidak. Author masih belajar. Dan niatnya menghalu, menghibur diri sendiri dan semoga orang lain terhibur juga. Happy reading. Semoga menghibur, syukur-syukur ada nilai yang bisa diambil.
__ADS_1