
****
Rumah Sakit.
Setelah pertemuanya dengan Intan, Mira terus kepikiran Alya. Alya dan Intan sama-sama sahabat Mira. Meski Mira lebih lama kenal Intan tapi ada beberapa hal yang tidak Mira suka. Dan meski kenal belum lama, Mira merasa nyaman bersama Alya.
Alya sangat periang dan apa adanya. Alya juga tidak pamrih, Alya tulus dan berasa beneran sayang ke sahabatnya. Alya juga menghormati Mira sebagai mana mestinya.
Sementara Intan. Intan berteman hanya dengan levelnya. Membanggakan barang-barang mahal yang dia punya. Sukanya belanja, memamerkan dan membanggakan desainya.
"Hmmm" Mira menghela nafasnya sambil memutar ballpoint di tanganya.
"Apa iya itu anak Ardi?"
"Ah, kasian sekali Alya jika itu benar. Tidak-tidak, Ardi terlihat sangat sayang ke Alya, mereka juga romantis dan lucu"
"Alya tau nggak ya masalalu Ardi? Berarti aku juga harus tau masalalu Mas Tito? Nggak kebayang kalau nanti ada orang datang mengaku anak Mas Tito. Kenapa aku jadi takut begini?"
Jam praktek poli anak sudah selesai. Seharusnya Mira segera visit ke bangsal. Tapi Mira malah diam memukul-mukulkan balpoint di kepalanya. Perawat yang mengasisteninya menatap heran ke Mira. Entah apa yang Mira pikirkan.
Tidak disadari Mira, di pintu ruangan Mira, berdiri laki-laki tampan memakai sneli berdiri bersedekap menatapnya.
"Ehm-ehm" pria itu berdehem mencoba mengalihkan perhatian Mira. Tapi Mira tetap tidak ngeh. Kemudian laki-laki itu berjalan dan duduk di hadapan Mira.
"Masih melayani pasien nggak Dok? Saya mau priksa" tutur Gery mengajak Mira mengobrol.
Mira kaget melihat Gery di depannya. Mira menelan salivanya dan membetulkan posisi duduknya.
"Ngapain Lo kesini?" tanya Mira ketus, merasa aneh, Gery tiba-tiba datang ke ruanganya.
"Lo diundang makan malam nggak sama Dokter Stefan?" tanya Gery bosa basi.
"Makan malam?" tanya Mira balik.
"Iya" jawab Gery mengangguk
"Gue belum liat hp"
"Ya udah coba liat"
"Oke" jawab Mira mengambil ponselnya dan mengecek pesan yang masuk. Ternyata memang ada pesan masuk mengundang mereka makan.
"Iya ada" jawab Mira singkat dan datar.
"Ehm" Gery berdehem menggaruk kepalanya.
Gery berharap Mira memintanya berangkat bareng atau menjemputnya. Seperti yang dulu-dulu Mira lakukan. Tapi hari ini meski mereka akan pergi ke tempat yang sama, Mira diam saja.
"Lo dateng kan?" tanya Gery
"Datenglah?" jawab Mira singkat
"Berangkat darimana?" tanya Gery memancing.
"Dari rumahlah. Kan jam 7 malam"
"Oh" jawab Gery lagi menggaruk kepalanya dan tampak salah tingkah. Gery ingin sekali bilang. "Mau bareng nggak? Gue jemput ya?" tapi entah kenapa bibir Gery kelu. Gery sangat gengsi mengucapkanya.
Sementara Mira yang merasa sudah diabaikan bertahun-tahun hanya menatap heran ke Gery.
"Ngapain sih dia ke gue cuma mau tanya kek gini. Lo bikin gue berharap tau nggak sih Ger. Gue nggak bisa deket-deket lo gini" batin Mira dalam hati melihat jam. Lalu Mira berdiri dari bangkunya.
"Gue mau visit ruangan" ucap Mira pamitan berusaha menghindari Gery.
"Um?" jawab Gery mengangguk. "Mau ke ruang mana dulu nih?" tanya Gery berharap bisa visit bareng ke satu ruang yang sama.
"Dari yang terjauh biar selesai sekalian balik ke mobil. Duluan ya!" tutur Mira pamitan dan memberikan senyum menetralkan rasa dheg-dhegan di hatinya.
"Huft. Ingat Mira, Gery nggak cinta ke lo. Calon suami gue itu Tito. Lupain Gery. Titik" batin Mira sambil jalan menuju bangsal rawat inap meninggalkan Gery.
"Haish, kenapa gue jadi gerogi gini sih ngomong sama dia" gumam Gery dalam hati lalu mengacak-acak rambutnya.
Gery bangun dan ikut keluar, Gery juga sudah waktunya visit ke ruang ICU. Gery pun berjalan ke ruang ICU. Melakukan tugasnya memeriksa pasien-pasien yang berbaring memperjuangkan hidupnya.
Karena tempat tidur ICU sedikit. Gery mengerjakan pekerjaanya dengan cepat. Tapi itu membuat dia kesal. Gery masih ingin lama-lama di ruangan sampai Mira datang. Karena ruang NICU di samping ruangan Gery.
"Dok. Keluarga pasien mau konsultasi" ucap perawat.
Gery tersenyum lebar ada alasan untuk lama-lama di ruangan.
"Biasanya Dokter Mira visit NICU jam berapa?" jawab Dokter Gery melempar pertanyaan membuat semua perawat terbengong. Dan melihat jam dinding.
"Biasanya sebentar lagi visit Dok" jawab perawat.
"Okeh, panggil semua keluarga yang mau konsultasi"
"Baik Dok!" jawab perawat.
Pagi itu dengan ramah Gery menerima konsultasi semua keluarga pasien. Padahal hari-hari sebelumnya, Gery merasa menjelaskan keaadan pasien yang diambang kematian itu hal yang membuat tidak enak hati. Dan Gery hanya menjelaskan sesuai dengan pertanyaan keluarga pasien.
Saat edukasi keluarga pasien terakhir, perempuan berambut pirang bersneli masuk ke Ruang Nicu. Gery tersenyum senang. Usahanya tidak sia-sia. Gery mengakhiri edukasinya dengan senyum. Keluarga pasien pun berterima kasih dan pamit.
__ADS_1
Di ruang NICU, berjejer inkubator bayi dengan banyak peralatan. Perempuan bersneli dan membawa stetoskop tampak sedang memeriksa ditemani perawat senior. Gery menatapnya dengan seksama.
Ternyata Mira benar-benar cantik. Tubuhnya tinggi, hidungnya tegak ke depan. Mira memang mempunyai turunan darah arab.
"Gery? Ngapain kamu di sini?" tanya Mira kaget saat melihat Gery bersedekap di pintu.
Gery menggaruk rambutnya lagi mencari alasan.
"Gimana perkembangan bayi Dokter Stefan" jawab Gery beralasan.
Mira mengangguk lalu mendekat ke inkubator bayi atasan mereka itu. Gery ikut mendekat dan memperhatikan Mira memeriksa.
"Tanda-tanda vitalnya gimana Sus?" tanya Mira.
"Stabil Dok. Rr, hr, suhu dan Spo2 stabil, selalu di atas 95%"
"Udah nggak ada retraksi juga ya?" ucap Mira menyimpulkan setelah memeriksa.
Gery dan Mira menghela nafas. Lalu saling pandang dan tersenyum. Mereka berdua sangat lega.
"Hari ini lepas ventilator (*alat bantu nafas) ya!" tutur Mira ke perawat.
Lalu Mira menuliskan advist penanganan selanjutnya. Setelah selesai menulis rencana tindak lanjut, Gery dan Mira keluar bersama.
"Gue seneng banget, anak Dokter Stefan berhasil melalui masa kritis" tutur Mira sambil jalan.
"Gue bangga sama lo" puji Gery tulus. Mira mendengar Gery meliriknya sambil tersipu.
"Keren ya mereka, berjuang selama itu. Tetap setia sampai beneran dikasih keturunan" tutur Mira lagi.
"Haruslah. Seseorang ketika menikah harus setia. Makanya sebelum menikah kita harus bener-bener pastiin pasangan. Biar kita siap hadapi apapun masalah di pernikahan kita" jawab Gery serius sambil jalan.
"Dheg" jantung Mira langsung berdetak kencang.
Mira diam, Mira teringat ke Tito. Sebenarnya Mira belum yakin. Hanya saja Mira merasa sudah waktunya nikah.
"Beruntung Si Ardi, Alya langsung hamil" sambung Gery.
"Iya, aku juga pengin gitu" jawab Mira spontan.
"Kamu udah mau nikah?" tanya Gery spontan.
"Udahlah. Umur gue udah 29 tahun. Masa reproduksi sehat kan 35 tahun" jelas Dokter Mira penuh penekanan menyindir Gery.
"Ehm. Udah ada calonya emang"
"Kenapa!"
"Laki-laki yang datang ke bokap nyokap gue, dia yang bilang baik-baik buat nikahin Gue" jawab Mira nyindir Gery lagi. Orang yang Mira maksud adalah Tito.
"Oh" jawab Gery menunduk merasa tersindir dan mendadak lesu.
"Gue kemarin ketemu Intan" ceplos Mira menghentikan langkah berhenti di depan ruang operasi.
"Intan?" tanya Gery antusias.
"Dia bawa anak. Katanya itu anak Ardi. Tapi gue nggak yakin benar. Intan masih mengharapkan Ardi. Gimana yah?" tanya Mira cerita ke Gery.
"Duh kasian Alya kalo harus berhadapan sama Intan. Dia nekat, kriminal lagi. Lo peringatin Alya aja buat hati-hati. Gue kenal Ardi. Ardi nggak bakal ninggalin anaknya gitu aja. Bisa dipastikan itu bukan anak dia!" jawab Gery mantap memberi peringatan ke Mira.
"Oke" jawab Mira mengangguk. "Gue lanjut visit ya" pamit Mira.
"Ya, sampai ketemu nanti malam" jawab Gery tersenyum dan berlalu masuk ke ruang operasi.
Mirapun berjalan ke ruang kerjanya.
"Datang ke orang tuanya langsung. Hemm" Gery membatin dalam hati
"Apa Mira sudah dilamar orang? Apa aku benar-benar akan menjadi jomblo tua?" Gery berjalan masuk ke ruang operasi sambil memikirkan nasibnya.
****
Gerbong 7
Kursi nomor 1A - 6A.
"Ini dia" ucap Ardi kegirangan menemukan tempat duduknya.
Alya dan Anya mengekor di belakang. Tapi Anya, Ardi pesankan no 8A, sehingga berada di belakang Alya dan Ardi. Mereka terpisah. Ardi duduk dan meletakan barang-barangnya.
"Sini Yang!" Ardi menepuk bangku dan mengajak Alya duduk.
"Mas kok Anya beda?" tanya Alya dengan muka kecewa karena Anya berada di bangku berbeda, padahal kursi yang Ardi tunjuk kosong.
"Kita berdua aja di sini" jawab Ardi dengan muka tengilnya.
"Astaghfirulloh Maas!" jawab Alya mulai pusing dengan kelakuan suaminya.
"Kenapa?" tanya Ardi merasa tidak bersalah.
"Kasian Anya" jawab Alya merasa bersalah menjauhkan Anya dari dia dan suaminya.
__ADS_1
"Kasian gimana sih Yang?"
"Dia nggak ada temen ngobrol nanti Mas" tutur Alya merasa kasian dengan Anya.
"Sayang, Anya itu asik dengan ponselnya. Kalau dia di sini, kasian dia liatin kita" jawab Ardi nerangkul Alya tanpa tahu malu. Dan mencium kepala Alya
"Emang kita mau ngapain?"
"Mas mau makan kamu"
"Ish" jawab Alya mencubit paha suaminya.
"Auw sakit Yang!" jawab Ardi mengusap pahanya.
"Ya abis Mas gitu? Ini tuh kendaraan umum! Sopan Mas" jawab Alya gemash menghadapi Ardi.
"Nggak apa-apa, sepi ini. Sini peluk Mas!"
"Bener-bener ya!" ucap Alya kesal, sambil memandang suaminya manyun.
"Cup" Ardi malah mengecup bibir Alya. Alya kaget menerimanya.
"Jangan manyun. Dosa manyun sama suami!" tutur Ardi lalu melingkarkan tangan ke perut Alya.
"Jangan begini. Kalau tiba-tiba ada orang datang atau lewat, malu" tutur Alya memegang tangan suaminya.
"Nggak! Kursi di sini udah mas booking. Mas mau berduaan sama istri Mas" jawab Ardi meletakan kepalanya di bahu Alya.
"Tetep aja nggak sopan ih"
"Hari ini kamu udah bikin mas panik. Sekarang waktunya bikin mas seneng. Kamu ngapain aja sama Farid? Hemm" bisik Ardi sambil bersandar ke Alya.
"Ngapain gimana? Emang Lian perempuan apaan? Kok mas tanyanya gitu"
"Jangan diulangi lagi ya. Kalau sampai kaya gitu lagi. Mas akan kunciin kamu di rumah. Nggak boleh kerja!" jawab Ardi melepaskan pelukan.
"Ish" jawab Alya memanyunkan bibir.
"Untung aja mas nggak ketemu Farid. Kalau ketemu, mas bisa tonjok dia dan ancurin mobilnya"
"Iya maaf Lian salah"
"Mas mau tidur. Mas tidur di sini ya" pinta Ardi menepuk paha Alya. Lalu Ardi meletakan kepalanya di pangkuan Alya. Alya menyediakan pahanya sebagai bantal untuk suaminya.
"Mas mau tidur begini? Kalau ada yang lihat emang nggak malu?" tanya Alya heran.
"Ngapain malu. Kita kan udah nikah. Hari ini penumpang sepi, santai aja" jawab Ardi cuek dan menatap istrinya ke atas. Alyapun mengangguk percaya.
Kini sepasang suami istri itu memanfaatkan perjalananya untuk Q_time. Bermesraan di pojok gerbong kereta. Untung saja penumpang siang itu sepi. Padahal rencana Ardi mengajak Alya liburan di resort dekat pantai, bukan bermesraan di kereta.
"Mas" panggil Alya lembut membelai rambut Ardi.
"Hemm" jawab Ardi sambil menelungkupkan wajah bersiap tidur.
"Kenapa sih, kalau lagi kerja susah banget angkat telpon Lian. Bete banget tau kalau telpon nggak diangkat. Terus pikiran Lian kemana-mana. Kemarin Lian jadi salah kan?"
"Mas juga bete kalau telpon kamu nggak diangkat. Malah dimatiin. Rasanya mau mas banting aja" jawab Ardi mengungkapkan perasaanya saat dibalas cuek Alya.
"Nah itu tau? Terus kenapa Mas cuekin Lian. Kemarin tuh Lian udah bilang ke Kak Farid. Lian nggak mau ikut, Lian di rumah aja. Tapi kata Kak Farid, Mas Ardi akan seneng kalau Lian dateng. Lian konfirmasi ke Mas, telpon Mas. Mas nggak jawab. Ya udah Lian ikut Kak Farid deh!" terang Alya jujur.
"Hemmm. Maafin mas sayang. Mas nggak megang hape, kan nggak sopan sayang, kalau lagi ngobrol sama orang pegang hape. Kamu juga kalau megang pasien nggak liat hape kan?" jawab Ardi membalikan wajahnya menatap ke istrinya lagi.
"Iya sih. Tapi kan tetap aja, dicueki itu nggak enak"
"Ya gimana? Ya usah kamu jadi sekertaris mas aja. Biar kemanapun mas pergi kamu ikut"
"Ish" Alya mendesis dan memencet hidung suaminya.
"Daripada kita ribut terus. Pusing tau Yang ribut terus"
"Hemm, Lian nggak ngerti jadi sekertaris gimana?"
"Ya udah. Mulai sekarang positif thingking. Selalu ingat pesen Mas. Sekali mas bilang di rumah, ya udah di rumah aja. Jangan pergi tanpa ijin mas. Mas janji, mas akan sering ngecek hape!"
"Hemm! Mas, Mba Intan cantik banget. Mas yakin udah nggak cinta lagi sama Mba Intan?"
"Kalau mas cinta dia, ngapain mas nikahin kamu? Dia itu jahat. Kamu harus hati-hati sama dia".
"Kalau jahat kenapa mas ijinin dia ke panti?"
"Mas kasian liat dia nangis-nangis minta kerjaan. Dia punya anak. Tadinya mas rahasiain kamu biar dia nggak jahatin kamu. Tapi sekarang dia udah miskin, semoga dia udah berubah"
"Anak?" tanya Alya.
"Iya, dia selingkuhin Mas. Dia pengin mas akuin anaknya. Percaya sama Mas. Itu bukan anak Mas"
"Kok mas baru cerita?"
"Ya gimana mau cerita, kamu kerjaanya ngambek terus"
"Hemm"
__ADS_1