Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
104. Boleh Pulang


__ADS_3

****


Rumah Intan


"Gue mau secepatnya lo dapetin info tentang perempuan bernama Berlian. Cari dia! Apa pekerjaanya, dimana tempat tinggalnya? Siapa dia?" ucap Intan ke kedua asistenya di ruang kerja ayahnya.


"Baik Nyonya" jawab kedua pesuruh Intan. Lalu berpamitan.


Intan keluar dari ruang kerja ke taman rumahnya. Seorang balita laki-laki yang tampan dan lucu sedang duduk dan bermain disuapi baby sisternya.


"Biar saya yang suapin Bik" ucap Intan mendekat dan mengambil alih makanan anaknya.


Seperti ibu pada umumnya. Intan menyuapi anaknya dengan penuh kasih sayang. Tidak ada raut jahat ataupun nakal.


"Demi kamu sayang, akan mamah perjuangkan agar nama Gunawijaya ada di namamu. Mamah akan pastikan itu" ujar Intan memegang makanan anaknya.


"Siapapun tidak ada yang boleh menghalanginga. Ardi milikku" gumam Intan mengepalkan tanganya


Semua kenangan kehangatan keluarga Gunawijaya masih sangat membekas di ingatan Intan. Sehingga Intan tidak ingin melepasnya. Intan dulu sangat dimanjakan Ardi dan Bu Rita. Apapun yang diminta Intan pasti dikabulkan.


Tapi keteledoranya yang melanggar perintah Ardi untuk liburan bersama temanya menghancurkan segalanya. Intan nekad pergi bersama teman-temanya padahal Ardi tunanganya sudah melarangnya. Hal itu juga yang membuat Ardi sangat posesif terhadap Alya. Ardi tidak ingin Alya menjadi seperti Intan.


Intan sangat menyesali perbuatanya. Karena Intan sendiri melakukan hubungan itu di bawah sadarnya. Itu yang membuat Intan bersikukuh tidak mau mengakui teman laki-laki itu sebagai ayah anaknya. Intan ingin semua orang mengakui Ardi sebagai ayah dari anaknya, karena saat itu Ardilah tunanganya. Dan Intan masih merasa Ardi adalah miliknya. Padahal Ardi sama sekali tidak menyentuhnya.


"Aaaak, satu sendok sayang" tutur Intan ramah menyuapi anaknya.


"Mam mam" ucap anak Intan gemas. Setelah selesai menyuapi anaknya Intan mengajak bermain anaknya dan menidurkanya.


Ya keseharian Intan seperti ibu muda pada umumnya. Bahka Intan meninggalkan segala hoby dan pergaulanya dulu saat masih gadis.


****


Rumah Sakit


Setelah mengeluarkan unek-uneknya Mira kembali ke ruang kerjanya. Mira bersiap melakukan tugas mulianya sebagai dokter spesialis anak. Sebenarnya Mira perempuan yang baik dan cerdas. Hanya saja hidupnya yang serba mudah membuatnya tidak banyak berpengalaman tentang hidup.

__ADS_1


Pengalaman pacaran juga tidak pernah. Karena Mira hanya jatuh cinta pada satu pria, Gery. Tapi Gery selalu mengacuhkan, senekat apapun Mira mendekatinya dan mengungkapkan perasaanya, Gery tetap menolak. Padahal Mira selalu baik pada Gery. Bahkan saat sekolah Mira yang selalu membuatkan catatan pelajaran untuk Gery.


"Kasian sekali Dokter Mira" ucap Alya dalam hati melihat Mira pamitan untuk bekerja.


"Dari tatapanya sepertinya Dokter Mira sangat kesepian. Dia bahkan tidak punya teman untuk curhat. Dia sangat ingin menikah? Huuft. Padahal aku masih belum ingin menikah, tapi Tuhan kasih aku suami"


"Alya. Ayo bersyukur dan jaga pernikahan ini, bahkan di perutku sudah ada anaknya Mas Ardi" Alya mengelus perutnya sambil memikirkan dirinya dan suaminya. Entah mulai kapan Alya jatuh cinta. Tapi kini Alya selalu ingin diperhatikan dan berada di dekat Ardi.


"Dokter Gery banyak berubah. Kalau Dokter Mira beneran nikah sama laki-laki itu? Apa kabar Dokter Gery yaa?" gumam Alya lagi sambil memegang ponsel mahal yang baru dibelikan suaminya.


Sebagai anak rantau sebenarnya Alya sudah terbiasa sendiri. Tapi sendirian di saat hamil dan dirawat tetap saja menyedihkan. Tapi Alya tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan, Alya memilih mengisi waktunya memainkan ponsel.


"Semoga hari ini ibu boleh pulang ya Nak" ucap Alya berbicara sendiri sambil mengelus perutnya.


"Tetap kuat, yah. Jangan manja, kita harus mandiri, sepertinya ibu memang harus terbiasa ditinggal ayah. Ibu percaya ayahmu, bantu ibu tetap sehat, kalau udah pulang ke rumah. Nanti ibu telpon Oma sama Opamu, mereka pasti sangat bahagia" ucap Alya lagi mengelus perutnya.


Alta membayangkan wajah mertua cantiknya. Bu Rita pasti bahagia mendengar kabar Alya hamil. Karena memang Bu Rita sangat ingin mempunyai cucu.


Tidak lama, Alya bermain game di ponselnya Dokter Siska visit ruangan memeriksa keadaan Alya. Karena Alya sudah tidak keluar flek dan darah lagi, Alya diperbolehkan pulang, dengan syarat rutin minum obat dan tidak boleh kelelahan. Semua perawat dan dokter bersimpati dengan Alya karena Alya sendirian di kamar.


Alya tersenyum senang karena sore nanti pulang. Alya pun segera menghubungi suaminya. Tapi ternyata selalu diabaikan dan tidak dijawab. Alyapun kembali kesal dan pikiran negatifnya datang lagi.


"Ya ampuun, kenapa nggak dijawab sih! Sesusah itu 1 mengangkat telpon? Apa dia benar-benar tidak peduli denganku?" gerutu Alya meletakan ponselnya.


"Bagaimana aku pulang? Apa aku harus bersiap-siap sendiri? Dasar, dasar dasar!" Alya memukul-mukul bantal dan selimutnya karena merasa kesal. Akhirnya Alya bangun mengemasi barangnya sendiri, makan siang sendiri dan bertekad memesan taksi online.


Tapi kemudian Alya bingung, pulang ke aerim atau ke istana Tuan Aryo, atau ke megayu. Akhirnya Alya memilih pulang ke kos Anya lagi.


"Salah siapa di wa nggak dibaca, ditelpon nggak diangkat!" gumam Alya kesal.


Alya kembali memainkan ponselnya menunggu sampai Anya selesai jaga pagi dan menjemputnya. Setelah beberapa waktu Anya datang menjemput Alya.


"Tas Lo berat banget sih Al?" tanya Anya membantu Alya membawa tas.


"He... " jawab Alya tersenyum merasa tidak enak.

__ADS_1


"Jadi dari kemarin lo bawa-bawa tas ini? Ya ampun pantes aja lo langsung kontraksi" tutur Anya lalu meletakan tasnya di kamarnya.


"Ya kan isinya baju dan peralatanku"


"Sory kalau gue ikut provokasi lo, lo nggak usah kabur-kabur lagi makanya, punya suami ganteng tajir gitu lo harus pandai-pandai jagain dia"


"Hemmm"


"Telpon lagi geh, kasih tau lo di sini!"


"Males. Kesel banget rasanya"


"Jadi Lo mau nginep sini lagi, dan Lo ngambek lagi?" tanya Anya melihat gemas ke Alya yang selalu uring-uringan dengan suaminya.


"He... boleh ya?" jawab Alya memohon.


Anya menggelengkan kepalanya.


"No! Lo boleh di sini sampai suami Lo pulang, gue nggak mau jadi orang ketiga di prahara rumah tangga lo!" jawab Anya tegas.


"Hummm. Anya please!"


"Ya ampuun Alya, Lo sampai kapan sih berubahnya. Ingat lo itu udah mau jadi ibu. Mungkin suami Lo sibuk. Ya emang salah sih suami Lo ninggalin lo gitu aja. Tapi lo harus mikirin anak Lo. Lo harus pulang. Gue nggak mau sembunyiin istri orang lagi!" omel Anya lagi.


"Ya. ya" jawab Alya akhirnya menyerah. Alya dan Anyapun memutuskan untuk beristirahat dan tidur siang. Karena lelah bekerja tidak lama Anya tertidur begitu juga Alya.


*****


Kantor Gunawijaya.


Setelah mengasuk anaknya, Intan berniat memuluskan rencananya. Intan kembali mendatangi kantor Ardi lagi. Tidak peduli apapun Intan bertekad harus bertemu Ardi.


"Itu kan Nona Intan?" bisik salah satu resepsionist.


"Tuan Ardi belum kembali, biar saja!" jawab resepsionist yang lain membiarkan Intan masuk ke lift.

__ADS_1


Intan pun berjalan menuju ke lift dan naik ke ruangan Ardi.


__ADS_2