Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
137. Keputusan


__ADS_3

Anya tercekat mendengar perkataan Agung. Ada rasa kecewa, sakit dan tidak habis pikir. Anya mengenal Agung sebagai kakak kelas yang care, asik, cerdas dan se tower dalam beberapa hal. Kenapa Agung berubah. Betapa picik dan rendah pemikiran Agung saat ini.


Padahal perjuangan dan pengorbanan Anya begitu banyak. Anya setia ke Agung. Bahkan untuk beberapa waktu Anya bantu materi saat Agung kekurangan. Anya juga sabar dan tidak pernah marah. Anya selalu pengertian meski Agung cuek.


Sementara Agung masih menatap sinis ke Anya dan Farid. Agung merasa dongkol dan sakit hati. Agung merasa menjadi pacar Anya jarang bertemu dan bersamanya.


Tapi di saat pertemuan yang seharusnya dia nantikan bisa melepas rindu. Agung dihadapkan dengan kenyataan yang menyakitkan. Sifat nakal Agung keluar. Agung merasa tidak terima dan ingin Anya membayar sakit hatinya.


Farid yang menyaksikan dan mendengar perkataan Agung mengepalkan tanganya. Sebenarnya mencium Anya di depan umum juga bukan sesuatu yang dibenarkan di hati Farid. Itu semua tindakan spontan karena Farid ingin menunjukan ke Agung kalau Anya itu miliknya.


***


Flasback


Beberapa waktu lalu sepulang Farid jogging dan sebelum memutuskan berangkat ke Jogja, orang tua Anya menelpon Farid. Ayah Anya sakit, dan ingin perjodohan mereka dipercepat.


Sebelum ke Jakarta, Farid dan keluarganya pernah tinggal di bogor dan bertetangga baik dengan keluarga Anya. Farid dan Anya sekolah di SD yang sama. Mereka berteman baik meski usianya terpaut jauh. Anya kelas 1 Farid kelas 5.


Mereka berdua berangkat dan pulang sekolah bersama. Farid dulu penakut, sementara Anya meskipun kecil dia pintar dan pemberani. Anya dari kecil memang pandai menasehati dan cerewet. Anya gadis yang selalu membela Farid saat Farid dibully temanya.


3 bulan lalu setelah hampir 13 tahun tidak bertemu. Keluarga mereka berkumpul, membahas perjodohan Farid dan Anya. Mereka berdua sama-sama syok dan tidak terima.


Buat Farid Anya seperti adiknya, Farid memang sayang dan mengingat Anya dengan baik. Tapi sebagai adik. Bahkan Farid merasa berterima kasih ke Anya. Karena dulu Anya pahlawan bagi Farid, kecerwetan Anya membuat teman-teman Farid yang nakal pergi.


Sementara Anya tau sifat Farid. Anya merasa Farid bukan laki-laki maco dan pemberani. Karena dari kecil Farid selalu mengalah dalam segala hal. Farid selalu menampakan kelemahanya di depan Anya.


Jadi sekitar 2,3 bulan lalu, mereka sepakat memutuskan bekerja sama untuk menggagalkan perjodohan. Mereka berdua tetap akan menjadi kakak adik seperti dulu, bukan suami istri. Dan mereka menikah dengan pasangan pilihan masing-masing.


2-3 bulan lalu Farid bertemu Alya, Farid merasa menemukan perempuan yang tepat. Karena Alya tampak keibuan dan lembut saat bersama anak-anak, sesuai dengan karakter Farid. Tidak seperti Anya, sedikit tomboy dan cerewet. Faridpun merasa banyak berharap terhadap Alya saat itu.


Sama halnya dengan Anya. Anya merasa baru lulus kuliah. Anya masih ingin bersenang-senang dan meniti karir. Anya merasa cocok dengan Agung, Agung orangnya santai supel, care dan easy going.


Anya begitu jengkel saat hendak dijodohkan. Apalagi dengan laki-laki yang menurut ingatanya lembek. Farid bukan tipe Anya.


Tapi waktu terus berlalu dan merubah segalanya. Alya ternyata tak sesuai harapan Farid. Alya sekarang menjadi milik Ardi, sahabatnya sendiri.


Farid tidak mempunyai alasan lagi menolak Anya. Usia Farid semakin tua. Orang tua Farid juga selalu mendesak tentang kapan Farid menikah. Hari kemarin, orang tua Anya juga menanyakan kembali ke Farid.


Sebenarnya Anya masih menempati hati Farid, meski tempatnya sebagai adik dan penuh rasa terima kasih. Tapi rasa sayang sebagai adik itulah yang tanpa Farid sadari sebenarnya cinta yang sesungguhnya.


Farid menyayangi Anya apa adanya, rasa sayang tanpa pengharapan. Rasa sayang penuh dengan penerimaan baik dan buruknya Anya. Rasa penuh kasih ingin melindungi dan menyayangi, tanpa pamrih.


Bukan rasa suka dengan pamrih seperti Farid ke Alya. Farid kagum ke Alya penuh dengan harapan mempunyai istri sempurna, lembut dan solekhah. Padahal di balik wajah Alya yang lembut terhadap anak-anak, Alya bisa berubah menjadi perempuan yang galak, manja dan keras kepala.


Dan kini, tiba saatnya Farid menyadari perasaanya. Saat Farid sendirian dan jatuh, kembali lagi dia butuh Anya. Dia butuh cerewetnya Anya seperti belasan tahun lalu. Farid menyadari Anya orang yang seharusnya dia miliki dan butuhkan dalam hidupnya.


Farid merasakan sakit saat melihat Anya hendak memilih orang lain. Dan lebih menghunjam lagi, Agung melontarkan permintaan yang merendahkan Anya.


Farid langsung berjalan mendekat ke Agung. Farid yang selama ini lembut dan sopan. Sore ini Farid tampak menyeramkan. Farid mendaratkan kepalan tanganya ke Agung.


"Bug" Farid memukul Agung. Agung pun terhuyung memegang bibirnya yang memerah.


"A' Farid stop" teriak Anya tidak terima Farid memukul Agung.


Anya merasa dia bisa selesaikan masalahnya. Dan Farid tidak usah ikut campur. Lalu Anya mendekat dan berniat membantu Agung.


"Kenapa kamu belain dia Anya?" tanya Farid kecewa dan tambah sakit.


Anya tetap saja membela Agung. Padahal jelas-jelas permintaan Agung rendahan. Apa Anya akan bodoh dan mengikutinya. Agungpun tersenyum penuh arti merasa Anya tergila-gila padanya.


"Ini urusan Anya, Anya bisa selesaikan urusan Anya. A' Farid tidak usah ikut campur"

__ADS_1


"Anya tinggalkan laki-laki ini atau Aa telpon abimu!" ucap Farid emosi.


Mendengar pernyataan Farid Anya semakin kesal. Maksud Anya, Farid tidak usah ikut campur dengan kekerasan dan membuat gaduh. Anya bisa selesaikan masalahnya dengan kepala dingin. Anya juga tidak mau mengikuti mau Agung.


"A' Farid tidak berubah ya. Penakut dan pengecut. Ini urusan Anya, kenapa Aa bawa-bawa orang tua Anya! Anya bisa selesain urusan Anya"


"Jadi kamu mau ikut dia, untuk tidur di kosnya?" tanya Farid semakin panas dan dongkol


Belum Anya menjawab, ternyata beberapa pengunjung kafe memperhatikan mereka. Termasuk Dinda dan Dika. Merasa lama menunggu mereka keluar mencari Anya.


"Anya" panggil Dinda bertanya apa yang terjadi. Anya berada di tengah-tengah dua laki-laki yang kata pengunjung kafe berantem.


"Lo mau pergi dan nginep sama laki-laki itu?" tanya Dinda polos.


Anya menelan ludah dan memejamkan matanya sejenak, menyadari dirinya ditonton banyak orang.


"Agung kita perlu bicara. A' Farid please Anya malu, tolong jangan buat keributan. Kasih waktu buat Anya selesain masalah Anya" ucap Anya menengahi berbicara ke Agung dan Farid.


Agung mengangguk setuju dengan percaya diri. Farid mengangguk masih dengan pikiran kacau dan tatapan mengawasi.


"Anya. Siapa dia? Lo mau tidur bareng dia? Lo nggak jadi pergi le lava tour bareng gue?" tanya Dinda nyeplos dengan polosnya membuat semua orang berdecak.


"Tungguin gue bentar ya" tutur Anya ke Dinda. Lalu menarik Agung.


Anya dan Agung memilih duduk di bangku dekat parkiran. Farid dan Dinda menunggu dan mengawasi Anya dari depan pintu masuk kafe.


"Sory, gue bersihin luka lo dulu ya, sakit ya? Guue beli air dulu ya?" tutur Anya lembut, Anya masih peduli.


"Nggak usah. Gue nggak apa-apa. Gue mau pulang aja. Kalau lo cinta gue, sekarang lo cabut ikut gue" tutur Agung dengan nada mengancam


"Agung, sory gue nggak bisa" jawab Anya menunduk. Anya memang cinta Agung, tapi Anya juga tidak mau menjadi perempuan bodoh.


"Agung, honeyku. Please. Gue tau gue salah. Gue tau lo marah. Tapi gue nggak bisa ikut lo, gue kesini bareng temen-temen gue" jawab Anya mencoba memberi pengertian dan memahami Agung.


"Kenapa? Siapa mereka? Jadi lo lebih milih mereka?" tanya Agung lagi masih dengan congkak.


"Mereka temen gue. Gue bukan milih lo atau mereka, gue mau lo ikut gabung sama temen-temen gue, kaya pasangan-pasangan lain"


"Anya. Lo bilang gue gabung mereka? Hah? Setelah gue ngrasain ini dan setelah dia cium lo gitu" jawab Agung merasa gengsi berteman dengan teman-teman Anya.


"Oke. Tentang A' Farid gue bisa ngerti posisi lo. Gue minta maaf. Lo tau dia maksa gue. Bukan kemauan gue. Gue juga nggak tau kalau dia datang ke sini juga. Dia nggak bareng gue! Sungguh" jawab Anya menjelaskan ke Agung agar tidak salah paham.


"Nyatanya sekarang dia bareng lo, dan lo lebih milih mereka daripada gue?" jawab Agung sewot


"Ya lo kenapa nggak jemput gue dari pagi?" tanya Anya balik tidak mau disalahkan.


"Ya kan lo tau gue ada acara"


"Ya udah sih nggak usah salah-salahan terus, please maafin gue" jawab Anya menengahi dan tetap mencoba berdamai dengan Agung.


Anya benar-benar merasa sedih dan kesal. Rencana indahnya berlibur berubah berantakan dan berantem. Anya tidak mau hubungan yang dia yakini benar jadi hancur.


"Gue mau cabut. Kalau emang lo cinta gue, lo ikut gue"


"Ya nggak bisa gitu juga Agung" jawab Anya memelas masih ingin bernegosiasi.


"Jadi lo lebih milih laki-laki itu daripada gue?" jawab Agung tetap bersikukuh dengan pendapatnya.


"Kok bilang gitu? Gue nggak mungkin ikut nginep di tempat lo?"


"Kenapa lo nggak bisa?"

__ADS_1


"Ya karena gue kesini bareng temen-temen gue. Ada Dinda ada Alya. Barang-barang gue masih di tempat Alya. Gue pengen kita. Lo, gue dan mereka bisa berlibur bareng. Ayolah, mereka temen-temen gue. Itu berarti lo juga akan berteman dengan mereka" jawab Anya mencoba mengajak Agung berbaikan.


"Sory gue nggak bisa" jawab Agung tetap tidak bisa menerima masukan Anya.


"Agung!" panggil Anya memohon agar Agung mengerti.


"Kalau emang lo nggak bisa buktiin lo cinta sama gue. Kita putus aja" jawab Agung enteng dan tidak ada raut kesedihan di wajahnya.


"Putus?" tanya Anya terbata dan tidak menyangka semudah itu Agung bilang putus.


"Ya buat apa gue jalanin sama lo. Kalau lo nggak cinta sama gue?"


"Semudah itu lo bilang putus? Gue udah jelasin, gue nggak suka A' Farid. Kita bisa gagalin perjodohan gue sama A' Farid. Bokap gue cuma pengen gue nikah cepet. Lo datang ke bokap gue, bokap gue pasti bakal nerima lo. Gue cinta sama lo?" jawab Anya menjelaskan dan penuh harapan kalau Agung bisa dipercaya dan memperjuangkan cinta mereka.


"Lo gila ya. Lo egois. Gue nggak mungkin nikahin lo di posisi gue sekarang" jawab Agung terus terang dan merasa dirinya benar.


"Kok gue yang egois? Kalau lo perjuangin hubungan kita, ya lo ketemu bokap gue. Gue kesini buat lo. Gue juga berjuang buat lo"


"Gue akan ketemu bokap lo setelah ppds ku selesai. Ingat kan?"


"Ya kalau lo mau gagalin perjodohan gue sama A' Farid, bantu gue. Temuin bokap gue!"


"Ya itu urusan lo lah, harusnya lo bisa gagalin sendiri. Kalau emang lo nggak suka dia. Lo bilang bokap lo, lo tolak dia!"


"Kok Lo gitu sih? Pacar gue kan lo? Ya lo bantu gue buat ngomong kalau lo siap nikahin gue. Jadi bokap gue bisa terima lo, bokap gue bisa percaya sama gue dan lo" Anya tidak menyangka kalau Agung justru nyalahin posisi Anya.


"Nggak bisa dong. Lo tau kan gue belum kerja. Gue harus selesein pendidikan gue dulu. Ini cita-cita gue. Gue nggak mungkin nemuin bokap lo sekarang"


"Kenapa? Lo cuma tinggal ketemu bokap gue. Ngomong baik-baik" tutur Anya lagi memberikan solusi hubungan mereka.


"Nggak bisa" jawab Agung tegas dan tidak ada niatan memperjuangkan hubungan.


"Ya udah gue juga nggak bisa ikut lo?" jawab Anya kesal menolak permintaan Agung. Anya tidak bisa bicara lagi dan tidak menemukan solusi.


"Oke kita putus" ucap Agung ringan mengambil keputusan.


Agung bangung dari duduknya, menghela nafas dan membuang muka dari Anya. Kemudian Agung berjalan menuju mobil meninggalkan Anya.


"Agung... " panggil Anya menahan sesak dan menatap laki-laki di depanya berdiri dan berlalu begitu saja tanpa menoleh ke Anya. Air mata Anya pun menetes.


Anya merasa patah hati dan dibodohi. Kenapa ekspektasinya tidak sesuai kenyataanya. Kenapa cintanya yang begitu besar tidak mendapatkan balasan yang sepadan. Bahkan ketemu ayahnya saja Agung tidak mau dan dengan mudahnya bilang putus.


"Hiks, hiks" Anya menutup mukanya dan menunduk menangis tersedu-sedu.


****


Dinda, Dika dan Farid memperhatikan Anya dari kejauhan.


"Jadi itu pacar Anya? Ishh " gumam Dinda ke Dika dan Farid. Dika yang tidak tau apa-apa diam.


"Sepertinya mereka putus deh. Tuh cowoknya pergi. Kasian Anya nangis tuh, ayo kesana" ucap Dinda lagi.


"Kita langsung pulang aja!" jawab Farid memutuskan.


"Lah nggak jadi makan?" tanya Dinda polos.


"Nanti makan di rumah Alya aja. Lo hibur Anya. Gue tunggu di mobil. Ayo Mas Dika" jawab Farid lagi merasa senang dan lega.


"Hemm. Ya" jawab Dinda menurut. Dinda mendekati Anya menenangkan dan mengajaknya pulang.


Sementara Farid dan Dika berjalan ke mobil dengan tenang. Perasaan Farid sangat bahagia dan lega. Sementara Dika berasa seperti habis nonton drama.

__ADS_1


__ADS_2