
"Bangun Bro! Lo nggak boleh lemah gini! Lo harus kuat. Tonjok gue sepuas yang lo mau, lo harus bangun"
Ardi duduk di kursi rodanya menjenguk Gery. Alya, kedua mertuanya dan Dokter Nando menunggu di luar. Memberikan ruang pada Gery dan Ardi berbicara, meski hanya dengan komunikasi sepihak.
Ada penyesalan di hati Ardi. Sekuat apapun dia memperlihatkan dirinya di hadapan Alya, tapi Ardi tetap manusia. Melihat sahabatnya terbaring membuatnya tak bisa berkata apa-apa.
Heranya masih sempat-sempatnya Ardi mencemburui istrinya. Sekarang dia tau kenapa Alya begitu mengkhawatirkan Gery. Karena dia juga merasakan hal yang sama. Tapi tetap saja rasanya cemburu melihat istrinya menangisi orang lain.
Tidak bisa dibayangkan betapa menyesalnya Ardi kalau sampai Gery tak mau membuka mata lagi. Pergi meninggalkan dirinya, temanya dan keluarganya. Gery adalah deretan teratas nama orang-orang yang mewarnai hidup Ardi.
Apapun alasanya, seberapa berhasil tujuan Ardi menghancurkan Tito, tapi nyawa tetaplah nyawa tidak ada gantinya.
Ardi sudah kehilangan Jack. Meski Ardi mampu menanggung pendidikan dan kehidupan anak-anaknya, tapi tidak ada yang bisa menggantikan posisi ayah di hidup Bintang dan adik-adiknya.
Tetes demi tetes cairan obat di selang infus masuk ke tubuh Gery. Seharusnya tidak kurang dari 10 jam Gery sudah sadar dan pulih dari biusnya.
Tapi Gery kehilangan banyak darah. Tito dan anteknya begitu bengis memukulinya, menginjaknya, menendangnya, meski Gery sudah tidak berdaya. Gery butuh waktu sembuh lebih lama.
Ardi tidak tahu dunia kesehatan seperti istri dan sahabatnya itu. Dia tidak paham apa arti angka-angka di layar yang terpasang di samping Gery. Dia juga tidak tahu apa fungsi selang yang banyak itu. Menurutnya semua itu begitu ngeri.
Akhirnya Ardi memilih diam. Meraih tangan Gery, memberikan aliran semangat sebagai bentuk terbaik dari sahabatnya.
"Ger.... lo denger gue?" panggil Ardi.
Ardi sangat girang, Gery merespon genggaman tangan Ardi.
"Tho thok, Sayang, Sayang cepat kemari"
Tidak peduli di rumah sakit, toh rumah sakit pribadi milik sahabatnya, Ardi teriak-teriak menanggil istrinya.
Mendengar teriakan Ardi bukan istrinya yang datang melainkan perawat jaga. Karena Alya berada di balik kaca.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya perawat sopan.
"Panggilkan istriku dan Dokter Nando cepat"
"Baik Tuan"
Alya dan Dokter Nando kemudian datang ke ruangan Gery, sementara Tuan Aryo dan Bu Rita memilih kembali ke ruang rawatnya.
"Ada apa Mas?" tanya Alya ke Ardi.
"Gery menggerakan tanganya. Apa dia mendengarku?" tanya Ardi bersemangat ke Alya.
"Gue denger. Siap-sia apa lo kena tonjokan gue" jawab Gery pelan.
"Hoh" Ardi, Alya terbengong mendengar Gery bicara.
__ADS_1
"Haishhh" Ardi mendesis gemas ke sahabatnya itu.
Sementara Dokter Nando hanya tertawa. Sebenarnya sepeninggal Alya menjenguk Gery, Gery sudah mulai sadar. Hanya saja badanya masih kebas dan pusing jadi dia kembali tidur.
"Pah, oksigenku ganti dengan yang kanul biasa. Pakai ini sangat tidak nyaman" protes Gery ke ayahnya.
"Mulai sadar mulai nakal ya? Dasar kalian" cibir Alya melihat suami dan sahabatnya itu.
"Hehe" Gery hanya nyengir.
Alya ingin memberi tahu saat kemarin saturasi oksigen Gery sempat turun drastis. Membaik baru-baru saja. Tapi ya namanya dokter, biar saja Gery memberikan advis untuk dirinya sendiri.
"Memang nafasmu sudah tidak berat? Apa dadamu masih terasa sakit?" tanya Dokter Nando.
"Gery udah baikan Pah" jawab Gery.
"Ya udah Papah tinggal dulu" jawab Dokter Nando lega anaknya sudah membaik.
"Dok, tapi saturasinya tadi pagi masih jelek lho. Biar stabil dulu" tutur Alya akhirnya memberi nasehat.
"Gue udah sehat kok Al. Pakai nasal kanul cukup, pakai ini nggak nyaman" jawab Gery lebih tau dan menolak saran Alya. Iyalah dia spesialis anestesi. Suka-suka Gerylah.
"Lo ngapain sih yang nasehatin orang kaya dia. Udah biarin aja, dia kan dokter juga biar urus dirinya sendiri yuk balik yok" ucap Ardi mulai kumat. Padahal sebelumnya Ardi juga sangat mengkhawatirkan Gery.
"Ya udah sono kalian pergi! Ngapain di ruangan gue, berisik tau, ganggu gue aja" ucap Gery bales ngebanyol.
Gery mendengar dan tau semuanya, bahkan Ardi sempat menangis Gery tau. Gery hanya menerima perhatian sahabatnya dalam diam Gery tidak mau Ardi menjadi malu. Ah mereka berdua sahabat yang so sweet tapi gengsian.
"Tuh kan Yang? Denger sendiri kan? Dia mah sahabat nggak tau diri. Makanya kamu tuh nggak usah khawatirin orang kaya dia"
"Helehh" jawab Gery dan Alya manyun.
"Balik-balik" ajak Ardi ke istrinya.
"Woy canda woy. Gue kesepian, Aak" ucap Gery hendak bangun tapi ternyata badanya masih ngilu.
"Ada apa Dok?" tanya Alya panik dan berhenti menoleh ke Gery.
"Dia akting udah biarin!" jawab Ardi.
"Boleh minta tolong nggak Al" ucap Gery.
"Jangan!" ucap Ardi mencegah Alya menjawab.
Gery dan Alya sama-sama menatap Ardi si egois.
"Kenapa kalian liat gue gitu. Biar Gery yang urusin si Mira. Kamu nggak usah urusin dia. Ayo balik" ucap Ardi menyuruh Alya mendorong kursi roda Ardi.
__ADS_1
"Minta tolong doang woy" panggil Gery ingin minta tolong Alya menaikan bed setengah duduk..
"Maaf ya Dok!" jawab Alya memberi kode ke Gery kalau Alya tidak berani melawan Ardi.
"Haishh! Gue tonjok beneran lo ya, tolongin bentar gue pengen duduk" ucap Gery mendesis kesal sambil menahan sakit.
"Bodo!" ucap Ardi merasa kesal dikerjai Gery jadi ingin ngerjain balik. Ardi dan Alya tetap maju meninggalkan Gery.
Kini dirinya ditinggal sendirian sama kedua sahabatnya itu.
"Ck. Dasar kalian!" umpat Gery meratapi nasibya. Ingin bangun tapi masih ngilu-ngilu dan kesemutan akibat bius.
*****
"Ini rumah sakitnya?" tanya Papah Mira.
"Iya Pah, ayo turun"
"Nggak sabaran banget mau ketemu pacar"
"Pah Gery sakit. Papah liat kan fotonya Gery babak belur gitu? Coba kalau Mira tetep tunangan sama Tito. Muka Papah mau ditaruh dimana?" jawab Mira sambil menggerutu dan melepas seatbeltnya.
Sementara Ayah Mira hanya tersenyum karena memang dirinya salah. Mira berjalan setengah berlari dan mendekati bagian informasi.
"Mohon Maaf anda siapanya Dokter Gery ya?" tanya petugas informasi.
Seperti perintah Dokter Nando dan Tuan Aryo, informasi kesehatan mengenai mereka harap ditutup rapat untuk siapapun kecuali keluarga. Jadi setiap penjenguk harus dipastikan identitasnya.
"Saya temanya" jawab Mira.
"Mohon maaf anda tidak diperbolehkan menjenguk Nona"
"Siapa yang berani melarangku? Kamu tidak kenala saya?" tutur Ayah Mira mulai mengeluarkan kesombongan atas jabatanya.
Petugas yang mengenal wajah ayah Mira menelan ludah. Tapi jika dia melanggar aturan Dokter Nando, resiko pekerjaanya juga dipertaruhkan.
"Mohon maaf Tuan. Ini perintah Dokter Nando"
"Ck. Ba**ngan tengik itu tidak berubah. Kasih tau dimana ruanganya, atau saya cabut ijin rumah sakit ini" ucap Ayah Mira semakin congkak merasa tidak dihormati.
"Paaah" tegur Mira ke ayahnya.
"Saya jauh-jauh lho ke sini" ucap Ayah Mira masih emosi.
"Ehm. Ehm" Dokter Nando berdehem di belakang mereka.
"Ada apa ini ribut?" tanya Dokter Nando mendekati Mira dan Ayahnya
__ADS_1
Dokter Nando hendak pulang sebentar setelah memastikan Gery baikan.