Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
228. Calon Babeh


__ADS_3

Setelah ditegur Bu Rita, dan selesai membaca doa, semua anggota keluarga menikmati sarapan dengan hening. Dan seperti biasa tanpa tahu malu sebagai tanda kasih dan cintanya sebagai suami Ardi selalu menambahkan potongan lauknya untuk istrinya. Daripada melawan dan membuat ribut Alya memilih ikut saja.


Sekitar 10 menit semua selesai menghabiskan menu sarapanya masing-masing. Tuan Aryo pun bersiap beraktivitas hendak datang ke pertemuan sesama big bossnya. Bu Mirna hendak memulai aktivitas barunya dan tentu saja ditemani Bu Rita.


"Kamu ikut Mas yah" ucap Ardi di tengah keheningan.


Belum Alya menjawab Bu Rita yang menyahut.


"Ikut kemana?"


"Mas Ardi ingin Lian ikut ke kantor Mah" jawab Alya sopan.


Sementara Ardi memasang muka cemberut kesal ibunya mulai ikut campur niih. Alamat nggak bisa menikmati pacaran di kantor.


"Emang kamu nggak kerja?" tanya Bu Rita.


"Lian kerja sore Mah"


"Nggak usah ikut. Ardi ikut Papah" jawab Tuan Aryo melerai.


"Ikut kemana Pah?" tanya Ardi.


"Ada pertemuan dengan beberapa perusahaan besar. Kamu harus mulai kenal mereka, rencana akan dihadiri Presiden" jawab Tuan Aryo.


Alya diam tersenyum, dalam hati membatin "Kasian deh Mas Ardi"


"Ya Pah!" jawab Ardi malas tapi tetap patuh.


Tentu saja patuh sebagai penerus Gunawijaya Ardi memang harus memperluas pergaulan dan pengaruhnya. Ardi memikul tanggung jawab besar jika Tuan Aryo pensiun nanti.


"Kalau kesepian ikut Mamah sama Ibu aja!" tutur Bu Rita memberi saran.


"Enggak Mah" Lian di rumah aja, lagian nanti Lian jaga.


"Ya udah ibu berangkat ya" ucap Bu Mirna.


"Iya Bu. Semoga ibu betah di panti. Salam buat us Zahra bu Salma dan yang lain ya Bu" ucap Alya.


"Ya" jawab Bu Mirna mengangguk tersenyum.


Lalu mereka semua bangun. Alya membawakan tas Ardi dan mengantarnya sampai ke mobil.


Meski satu tujuan Tuan Aryo dan Ardi memakai sopir dan mobil sendiri-sendiri. Bukan karena tidak ramah lingkungan tapi memanfaatkan kendaraan dan sepulang pertemuan mereka akan mempunyai jadwal yang berbeda.


"Cup" Ardi mencium kening Alya lembut.

__ADS_1


"Kalau pertemuanya selesai cepat Mas yang antar kamu" bisik Ardi pamit ke Alya.


"Hah" Alya kaget masih berfikir sempet-sempetnya Ardi mau pulang dan antar Alya kerja.


"Jangan pergi kecuali konfirmasi sama Mas" ucap Ardi lagi.


"Ya" jawab Lian patuh, iya iya aja, paling nanti Ardi sibuk dan Alya tetap berangkat sama Fitri.


Semua kemudian berangkat meninggalkan Istana besar itu. Dan tinggal Alya yang di rumah. Alya kemudian berjalan masuk, masih penasaran kemana sambel tempenya.


Daripada di kamar bosan Alya berjalan ke dapur. Seperti saat pertama Alya datang, Alya ingin berbaur dengan para pelayan yang dia anggap saudara dan kawanya itu.


Di tempat cuci pakaian Mia tampak sibuk mencuci dan Ida memegang setrika. Bu Siti sedang membereskan sisa sarapan.


"Lagi pada sibuk yah?" tanya Alya duduk di bangku dekat dengan Mia mencuci baju, kebetulan tempat cucinya di tempat terbuka dan depanya ada kolam ikanya.


"Non Alya" batin Mia kaget.


"Kok Non Alya baik-baik aja sih dan malah kesini, apa dia melihatku dan dia mau menanyaiku?" batin Mia mulai gelisah dan mulai keluar keringat kecil-kecil di keningnnya.


"Hee" Alya tersenyum manis dan akrab ke Mia.


"Aku nggak ganggu kan?" tanya Alya.


"Nggak apa-apa aku bete di kamar. Kamu kok sekarang jadi pendiam sih?" ucap Alya mengajak Mia bercanda.


"Ahh. Apa iya sih Non?" jawab Mia canggung dan menelan ludahnya. Kemudian Mia menunduk, ada sesuatu yang menusuk hatinya dan terasa sangat perih.


"Ya Tuhan, ampuni aku, Non Alya baik banget, apa yang sudah aku lakukan, bagaimana ini. Apa benar Non Alya yang memakanya tapi kenapa dia baik-baik saja, apa setelah ini dia akan kesakitan dan keguguran"


"Iya. Tuh kan bengong. Woy" jawab Alya lagi mengagetkan Mia.


"Ah iya Non maaf" jawab Mia semakin pucat. Lalu Mia menatap Alya dengan seksama. Tidak ada ekspresi kesakitan sedikitpun dari wajah Alya.


"Udah punya pacar belum?" tanya Alya lagi membercandai Mia dengan ceria.


"Ah Non Alya. Mana sempat saya punya pacar Non" jawab Mia tersipu-sipu.


"Katanya pengen ngrasain malam pertama. Gera cari pacar terus nikah. Apa mau aku jodohin?" goda Alya lagi karena Alya pernah denger desas desus Mia sering keluar buat kencan.


"Iiih Non. Mia kan masih betah kerja di sini Non. Apa non pengen Mia cepet pergi makanha suruh nikah cepet" jawab Mia masih berbosa-basi.


"Ya nggak, kan nikah juga masih bisa kerja di sini" jawab Alya masih sangat sehat dan semakin ceria.


"Hee.. " Mia hanya tersenyum

__ADS_1


"Kata Kakak obat itu akan buat Non Alya kesakitan, pusing, mual, muntah dan keguguran. Kenapa Non Alya baik-baik aja ya? Apa sebentara lagi dia akan mengalami hal itu. Tapi Non Alya semakin cerewet dan ceria" batin Mia lagi.


Di saat yang bersamaan Pak Itong satpam Tuan Aryo lari memanggil Ida dan Bu Siti. Di dapur pun terdengar suara gaduh.


"Bu Siti, gawat" ucap Pak Itong.


Alya dan Mia kemudian ikut beranjak dan menghampiri Pak Itong.


"Ada apa Pak?" tanya Alya ke Pak Itong.


"Mang Adi Non" ucap Pak Itong gugup.


"Mang Adi kenapa?" tanya Alya.


"Anu Non. Mang Adi pingsan. Mutah-mutah katanya perutnya sakit" tutur Pak Itong memberi tahu.


"Terus sekarang dimana?" tanya Alya.


"Saya angkat ke post satpam. Megangin perut terus" ucap Mang Itong lagi


"Ayo kesana" tutur Alya segera pergi keluar.


Bu Siti. Ida dan Mia mengekor di belakang. Semua tampak panik, tapi tentu saja dengan otak dan pikiran masing-masing.


"Apa jangan-jangan Babeh Adi yang makan sambel tempe itu? Aduh gimana ini?" batin Mia panik. Karena diam-diam selama ini Mia chattingan sama anak tertua Mang Adi yang kerja di pabrik.


Mereka kemudian sampai di post satpam. Mang Adi yang bekerja sebagai tukang kebon di istana itu tampak tergeletak, wajahnya pucat pasi, tanganya memegang perutnya kencang. Di mulutnya tampak sisa bekas muntahan.


Alya kemudian mendekat. Memeriksa nafas nadi dan reflek nyeri Mang Adi.


"Panggil Fitri Pak, kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Alya tegas.


"Baik Non!" ucap Pak Itong. Pak Itong kemudian segera memanggil Fitri. Untuk menyiapkan mobil ke rumah sakit terdekat.


Pak Itong membantu Mang Adi masuk ke mobil. Lalu mereka berangkat ke rumah sakit. Alya minta ditemani Ida karena Ida sudah selesai menyetrika. Sementara Mia dan yang lain kembali bekerja.


Dengan langkah seribu Mia berlari ke kamar mandi tanpa diketahui Bu siti. Mia kemudian mengunci kamar mandi. Mia jongkok dipojokan, menggigit bajunya agar tidak mengeluarkan suara. Mia menangis sejadi-jadinya di kamar mandi.


Mia ketakutan, Mia juga merasa bersalah. Jiwa dan pikiranya bertarung. Mia bukan orang jahat. Mia juga punya perasaan. Mia tau Mia salah.


Tapi Mia juga ingin kakaknya baik ke Mia, mau menjadi wali nikah Mia. Mia hidup dengan bahagia. Mia ingin menjalani kehidupan seperti yang lain tidak seperti Bu Siti yang menjadi abdi di rumah itu.


"Bagaimana ini? Hiks hiks"


"Sebenarnya itu obat apa? Kata kakak itu tidak mematikan kenapa Babeh Adi begitu"

__ADS_1


__ADS_2