
“Yang merah? Apa yang biru? Hemmm, apa yang coklat ya? Apa yang abu? Aaah"
“Ya Tuhaan, kenapa aku segugup ini. Sebenarnya aku mau diajak kemana? Kenapa aku jadi sebahagia ini?” Aya bicara sendiri di depan kaca.
Seperti layaknya perempuan di masa pubertas awal saat pertama kali berkencan. Sore itu selepas sholat maghrib, Anya berdandan, bahkan memilih bajunya dengan penuh pertimbangan.
Anya mengeluarkan semua baju yang dia punya, mencoba satu per satu, dia pilih mana yang paling oke menurutnya. Anya ingin terlihat cantik di depan tunanganya itu.
Bahkan saking bingungnya dia berdandan, kamarnya berantakan full dengan pakaianya. Dan tanpa terasa waktu sudah masuk waktu isya dan Farid sudah sampai di depan kosanya Anya. Tapi Anya belum juga menjatuhkan pilihan.
“Thok..thok.. Dokter Anya” panggil Bu Dati mengetuk pintu kamar Anya.
“Iya Bu, ada apa?” tanya Anya dari dalam tidak berani membuka pintu karena kamarnya berantakan.
“Ada tamu Non” tutur Bu Dati.
“Hah?” Anya langsung garuk- garuk kepala tambah gugup.
“Iya Non, laki- laki”
“Ya udah suruh tunggu dulu Bu!” jawab Anya lagi.
“Ya Non” jawab Bu Dati.
Bu Dati kemudian melakukan permintaan Anya untuk menyampaikan ke Farid agar menunggu.
“Kenapa datangnya cepet banget sih?” gerutu Anya.
Lalu Anya buru-buru pakai baju. Akhirnya memilih jumpsuit warna abu muda dengan lengan pendek berhias kerutan lucu.
Rambut Anya yang sebahu dibiarkan terurai rapih. Anya pergi meninggalkan kamarnya yang berubah menjadi tempat obral baju, awul-awul, lebih parah dari kapal pecah. Entah apa respon Farid kalau melihatnya.
Setelah bercermin dan memastikan sudah rapih dan cantik, Anya mengambil tas selempangnya dan keluar. Saat Anya membuka pintu Farid pun menoleh dan berdiri sehingga mereka saling tatap dan melempar senyum malu- malu.
“Maaf” ucap Anya dan Farid berbarengan.
Lalu Anya mengusap tengkuknya, kenapa mereka berdua sama- sama megucapkan kata maaf. Aah so sweet nya.
“Ehm, Aa dulu deh yang ngomong” tutur Anya
“Neng dulu yang ngomong” jawab Farid sambil mengagumi kecantikan Anya.
“Nggak apa- apa Aa dulu” jawab Anya lagi.
Mereka malah berebut kebaikan saling mendahulukan pasanganya.
“Ya, Aa minta maaf jemputnya kemaleman yah? Aa ada urusan di panti terus tadi mampir jamaah sholat isya dulu” tutur Farid akhinya menjelaskan lebih dulu.
“Ah nggak, justru Anya yang minta maaf ke Aa, karena Aa nunggu Anya lama” jawab Anya.
Seharusnya sebelum Farid tiba Anya sudah siap. Malah Farid harus nunggu lagi.
Ternyata dua pasangan itu saling merasa tidak enak dan memikirkan perasaan pasanganya satu sama lain. He...
“Nggak apa-apa. Berarti kita impas ya?” jawab Farid.
"He.. iya"jawab Anya.
“Yuk berangkat” ajak Farid mempersilahkan Anya berjalan di depan. Anya pun berjalan di depan.
Lalu Farid membukakan pintu mobil untuk Anya.
“Makasih A” tutur Anya lembut.
__ADS_1
“Aa yang makasih, Neng udah mau Aa ajak pergi” jawab Farid lagi.
Lalu mereka saling senyum. Dan Farid menyalakan setir mobilnya melaju pergi, bergabung bersama kendaraan lain memadati jalan malam yang temaram.
“Sebenarnya kita mau kemana sih A?” tanya Anya.
Dari tadi Farid belum memberi tahu mereka mau kemana.
“Ke tempat yang kamu mau” jawab Farid asal.
“Hoh?” tanya Anya bingung. Farid malah tersenyum.
“Emang Anya mau kemana?” tanya Anya sendiri merasa dirinya nggak ada keinginan kemana-mana.
“Udah diam aja nanti tau sendiri kok” jawab Farid lagi.
“Oke” jawab Anya.
Lalu Anya melihat ke jalan menahan senyum bahagianya. Anya menebak- nebak sendiri. Mau diberi kejutan apa sama tunangan yang dulu menyebalkan tapi sekarang bikin berdebar- debar.
“Apa gue mau diajak dinner yah? Dimana? Semoga selera AA Farid nggak katrok deh” batin Anya, membayangkan candle light dinner ala-ala drama korea itu.
“Apa mau diajak nonton, tapi emang lagi ada film bagus? Film apa ya? Kok aku nggak tahu, biasanya kan Dinda update jadwal film” gumam Anya lagi mengira Farid akan mengajak kencan seperti orang-orangan.
Lalu anya mengambil ponsel dan mencari jadwal film yang sedang tayang di bioskop agar nanti tidak salah pilih film.
Karena Farid pendiam mereka saling diam. Anya fokus dengan pertanyaan dan jawabanya sendiri. Dan sibuk mencari ulasan film. Sampai mobil mereka melewati mall yang Anya kira menjadi tempat tujuan mereka.
Saat menyadari Farid berjalan lurus padahal mall besar di samping mobil mereka, Anya celingak celinguk ke Farid. Hendak bertanya, kok Farid lurus aja?
Tapi Farid tampak biasa saja malah mempercepat laju mobilnya saat lampu apil berwarna hijau. Sepertinya mall memang bukan tujuan Farid.
“Aa sebenarnya kita mau kemana sih?” tanya Anya lagi.
“Sebentar lagi sampai kok!” jawab Farid lagi.
Anya diam semakin penasaran, sebenarnya mau kemana, bahkan mobil mereka berjalan ke arah menjauhi pusat kota, yang Anya tau di daerah situ sudah tidak ada mall besar ataupun restoran enak.
Senyum yang tadi menghiasi wajah Anya kemudian menghilang. Sepertinya tebakan Anya salah. Semoga saja bukan hal aneh yang mereka datangi, begitu fikir Anya akhirnya.
Anya memilih diam dan tidak lama mereka sampai ke depan gerbang gedung besar dengan pintu masuk bertuliskan Universitas yang Anya tau itu kepunyaan keluarga Farid.
Gleg
Anya menelan ludahnya semakin tidak mengerti, mau apa malam- malam ke kampus? Mau pamer kampusnya ke calon istrinya? Atau mau ada pertemuan.
“Aaah semoga saja tidak ada hal yang aneh” pikir Anya.
Karena Anya mengira mau diajak dinner, setelah makan di kafe danau Anya tidak makan lagi sampai sekarang. Kalau sampai yang dilakukan Farid hal aneh, Anya bakal kelaparan setengah mati.
Dan kampus tampak lengang, hanya ada beberapa staff Farid yang bekerja lembur, penjaga kampus yang mengontrol listrik, dan beberapa mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan kemahasiswaan. Itupun terdengar di kejauhan.
Anya terbengong menelan ludahnya saat menyadari dimana mereka menghentikan mobilnya. Rasanya sangat gemas ingin marah ke Farid tapi tidak bisa. Di depanya tampak gedung besar dengan tulisan “Library”
“Apa coba tujuannya jam segini ngajakin ke perpustakaan?” batin Anya kebingungan.
“Yuk turun!” ajak Farid.
“Iya” jawab Anya mengangguk.
Saat mereka turun seseorang datang memberi hormat pada Farid dan memberikan kunci lalu Farid membuka kunci perpustakaan dan menyalakan lampu.
“Aa kita mau ngapain di sini?” tanya Anya lemah dan kecewa.
__ADS_1
“Katanya Neng mau belajar?” jawab Farid enteng.
“Hooh” Anya terbengong dan menggaruk kepalanya sambil berfikir. "Kapan Anya bilang ingin belajar"
“Neng pengen belajar tentang ilmu manusia kaan? Tadi bilang gitu? Di sini ada banyak buku yang bisa Neng pilih, bebas mau baca yang mana?” jawab Farid lancar benar- benar memebuat Anya berdecak gemash.
“Ya Tuhaaan, beginikah suami gue nanti? Maksud gue tadi siang kan dibocori trik trik sesuai ilmu Farid biar belahar ala- ala romantis gitu. Kenapa malah dijak ke perpustakaan, malam- malam lagi” batin Anya rasanya ingin berteriak dan memukul Farid.
“Aah iya” jawab Anya hanya bisa tersenyum getir.
“Nggak lagi- lagi deh tanya aneh- aneh ke A' Farid” batin Anya sambil berjalan mengikuti Farid masuk ke perpustakaan besarnya.
Saat sampai di dalam, seketika Anya melongo, meski kampus swasta ternyata perpustakaan di universitas Farid besar sekali dan keren.
Anya berjalan dan memutar tubuhnya melihat rak- rak buku yang menjulang tinggi. Seperti ada jutaan buku di ruang itu. Anya menelan ludahnya tidak percaya, sebenarnya laki- laki macam apa calon suaminya ini.
Farid kemudian berjalan ke salah satu rak dan memanjatnya dengan tangga yang tersedia. Seakaan Farid sudah hafal tempat buku itu. Lalu farid mengambil tiga buku.
Lalu turun menyerahkanya pada Anya.
“Baca ini Neng , ini buku bagus” ucap Farid memberitahu.
Anya menerimanya dengan malas.
“Ya Tuhan yang hoby baca kan Alya bukan gue, males banget harus baca sebanyak ini” gumam Anya dalam hati.
Anya asal menerimanya tidak melihat judulnya. Lalu tanpa melihat ekspresi Anya, Farid mengambil buku kesukaanya dan mengajak Anya duduk.
“Ini tempat Favorit Aa kalau lagi bete Neng” ucap Farid membanggakan perpustakaannya.
“Ah iya” jawab Anya lemas. “Tapi gue nggak suka Aa” batin Anya menggerakan bibirnya.
“Katanya mau belajar sama Aa” ucap Farid lagi melihat Anya diam tanpa menyentuh bukunya.
“Ah iya” jawab Anya lagi lalu mereka duduk dan mulai membaca buku.
Farid tampak sangat menikmati buku bacaanya tanpa melihat Anya. Sementara Anya mengigit bibirnya kesal. Bukunya tidak dibaca dan hanya dibolak balik. Tiba- tiba keluar suara dari dalam perutnya.
Kruyuk-kruyuuk.
“Iyuuh” gerutu Anya malu. Tapi Anya memang sangat lapar. Dasar Farid ternyata tidak sepeka yang Anya harapkan.
“Neng belum makan ya? Duh maafin Aa ya” ucap Fardi menutup bukunya.
“He..." Anya hanya nyengir
“Yuk cari makan yuk!” ajak Farid akhirnya.
"Iyah" jawab Anya bahagia.
Lalu mereka meninggalkan kampus mencari makan, tapi sayang waktu sudah malam. Di sekitar kampus restoran kesukaan Anya sudah tutup. Yang ada hanya penjual makanan pinggiran dengan selera dan harga mahasiswa.
“Tutup Neng” ucap Farid saat sampai di depan restoran yang Anya mau.
“Hemm” Anya hanya berdehem.
“Makan di angkring depan aja yuuk! Tuuh kayaknya rame” tutur Farid lagi menunjuk ada penjual angkring moderen dengan tempat makan lesehan di pinggir jalan.
“Ya A’” jawab Anya pasrah.
Farid tersenyum senang, merasa tidak salah memilih istri. Karena Anya sejauh ini tidak pernah protes. Bahkan makan di angkringan pun mau.
“Alyaaa.... gue harus cerita sama Lo , kayaknya emang lo deh yang pantes jadi jodohnya A' Farid, Ya Tuhaan, apa iya gue harus jadi Alya” Gumam Anya salam hati sambil menggigit sate telur puyuh.
__ADS_1