Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
173. Mira Sadar


__ADS_3

****


Rumah Sakit.


"Mba Fitri dimana?" tanya Alya menelpon pengawalnya.


"Saya di kantin rumah sakit Nyonya, maaf soalnya saya haus" jawab Fitri.


"Oh. Nggak apa-apa saya kesitu ya" ucap Alya ramah.


Alya mematikan telponya kemudian menyusul Fitri.


"Mohon maaf Nyonya" ucap Fitri menundukan kepala saat Alya menemuinya.


"Nggak apa-apa Fitri, santai aja, kalau di depan umum begini jangan panggil Nyonya. Mba aja" tutur Alya memperingati Fitri untuk yang kesekian kalinya.


"Baik Mba. Mba Lian mau langsung pulang atau?"


"Mama arisan, Mas Ardi katanya masih ada urusan. Aku makan di sini aja. Kamu udah makan?"


"Belum" jawab Fitri menggelengkan kepalanya.


"Ya udah makan dulu ya!"


"Ya Mba"


"Kamu mau makan apa? Pilih sendiri aja" tutur Alya lagi.


"Baik Mba"


Alya kemudian memesan sop daging dan air mineral. Sementara Fitri memesan soto. Mereka berdua makan bersama, tidak ada yang mengira mereka adalah tuan dan majikan.


Meski sudah menjadi Nyonya Muda, Alya selalu humble dan ramah. Alya selalu memperlakukan pembantu atau pegawainya sebagai sahabatnya. Baik ke Mia, Ida ataupun Fitri, Alya selalu baik dan berusaha tidak membuat jarak di antara mereka.


"Mba Fitri, maafin Mas Ardi ya" ucap Alya tiba-tiba setelah selesai makan.


"Maaf kenapa Mba?" tanya Fitri kaget kenapa Alya minta maaf.


"Kerja sama suamiku jadi repot, Mba Fitri jadi telat makan kan nungguin aku" tutur Alya lembut


"Ahh itu? He" jawab Fitri nyengir.


Fitri mengehela nafasnya lega dan semakin kagum ke majikanya. Fitri kira ada apa majikanya minta maaf. Alya ternyata berfikir sejauh itu saking perhatianya ke Fitri.


"Kenapa Mba Lian berfikir begitu. Pekerjaan saya sangat mudah. Saya hanya duduk-duduk saja dibayar" jawab Fitri merasa kikuk.


"Kamu benar tidak merasa terbebani?"


"Tidak Nyo. Tidak Mba. Mba Lian baik banget, saya malah ingin terus di samping Mba Lian. Saya janji akan melindungi Mba Lian dari apapun yang menyakiti Mba Lian"


"Aih kamu ini. Makasih ya"


"Hehe iya Mba"


Saat Alya hendak membayar makanya, langkah Alya terhenti. Seseorang tampak mendekatinya dan seperti ingin menyampaikan sesuatu.


"Dokter Mira memanggilku?" tanya Alya.


"Iya gue ada perlu sama lo" ucap Mira dingin.


Lalu mereka berdua duduk. Tentu saja Fitri masih setia di dekat Alya.


Mira melirik ke Fitri menatapnya aneh. Baru pertama Mira melihatnya. Kenapa bisa ada di rumah sakit dan dekat dengan Alya. Dia bukan perawat ataupun dokter. Begitu fikirnya.


"Siapa dia?" tanya Mira dingin melirik ke Fitri. 7

__ADS_1


"Oh iya kenalkan, dia Fitri" jawab Alya ramah meraih bahu Fitri.


"Perkenalkan saya Fitri. Sopir sekaligus pengawalnya Nyonya Alya" ucap Fitri sopan menganggukan kepala memperkenalkan diri.


"Oh, pengawal?" tanya Mira heran.


"He... Mas Ardi yang minta"


"Oh, segitunya ya Ardi ke lo?" ucap Mira berkomentar sinis.


"Segitunya gimana Dok?" tanya Alya.


"Nggak"


"Maaf Nyonya, apa maksud pertanyaan anda ke Nyonya Alya, bukankah suatu kewajaran seorang suami yang mencintai istrinya dan ingin menjaganya? Apa ada yang salah?" celetuk Fitri membela Alya.


Alya dan Mira menatap kagum ke Fitri. Ternyata Fitri begitu berani menyela pembicaraan Mira dan Alya. Alya saja menjaga sikap dan kata-katanya terhadap Mira.


Mendengar perkataan Fitri, Mira tersinggung. Memang tidak ada yang salah dengan cintanya Ardi, Alyalah yang beruntung mendapatkan cinta sebesar itu. Tidak sepertinya, terombang- ambing dalam keputusan dan takdir yang tidak jelas.


"Nggak" jawab Mira getir.


"Sudah, sudah. Tidak usah bahas Mas Ardi. Dokter Mira ada perlu apa ya manggil Alya?" tanya Alya melerai.


"Akhir pekan gue tunangan. Lo dateng ya!"


"Woo akhir pekan?"


"Iya"


"Bentar-bentar. Jangan-jangan bareng sama acaranya Kak Farid"


"Farid?"


"Iya, Kak Farid mau lamar Anya"


"Iyah"


"Mereka jadian?"


"Mereka dijodohkan, tapi mereka sudah berteman sejak kecil"


"Oh syukurlah, jadi kamu nggak bisa dateng?"


"Nanti Alya rundingin dulu sama Mas Ardi. Emang jam berapa Dok?"


"Aku malam"


"Oh. Alya usahain ya, semoga Mas Ardi ijinin bagi tugas. Biar Mas Ardi yang ke Bogor, Alya dateng ke Dokter Mira" jawab Alya berusaha mencari solusi yang bijak. Ternyata kedua sahabatnya akan lamaran di waktubyang bersamaan.


"Ok makasih ya sebelumnya" jawab Mira tersenyum getir.


Padahal Mira tidak punya teman dekat, jika Alya tidak datang berarti Mira tunangan tidak dihadiri teman-temanya, kecuali Intan. Sahabat Mita saat kuliah semua berada di luar Jakarta.


"Iya" jawab Alya tersenyum.


"Oh iya, sebelumnya gue minta maaf Al" tutur Mira lagi ragu-ragu.


"Kenapa Dok? Kok minta maaf?"


"Maaf, aku sebenarnya udah nggak pengen bahas ini, apalagi ikut campur. Tapi gue rasa lo perlu liat ini" ucap Mira mengambil amplop coklat dari tasnya.


"Apa Dok?"


"Ini. Maaf ya. Gue cuma mau bantuin temen gue, Intan temen gue Al. Gue kasian sama dia dan anaknya. Gue harap hati lo terbuka buat menerima Intan dan Anaknya. Anak Intan juga akan jadi saudara anak lo"

__ADS_1


Mira menjelaskan alasanya dan menyodorkan amplop coklat ke Alya.


"Mba Intan lagi?" tanya Alya membuka amplop.


Alya dengan santai dan membuka amplop itu dan mengangguk tenang. Tidak ada wajah cemburu, marah ataupun kecewa. Alya sudah diingatkan dan diberitahu suami tercintanya.


Mira mengernyitkan matanya menatap Alya begitu tenang. Kemudian Mira dan Fitri diam menunggu reaksi Alya.


"Maaf Dok. Sekali lagi, Alya percaya suami Alya seratus persen. Foto ini tidak seperti yang terlihat. Ini disengaja untuk jebak suami Alya. Alya punya tes DNA anak Mba Intan dan suami Alya Dok" tutur Alya tenang menanggapi foto itu.


Mira terdiam seperti terpukul untuk kesekian kalinya. Niat Mira memberitahu Alya dan mengungkap kejahatan Ardi. Tapi justru Alya yang berbalik menyadarkan Mira agar terbuka hatinya.


Ardi bahkan sudah melakukan tes DNA untuk anak Intan. Itu berarti Intan benar-benar berbohong.


"Ini, Mas Ardi bahkan memeriksa di dua rumah sakit yang berbeda" ucap Alya lagi menyerahkan foto hasil tes DNA di ponselnya ke Mira.


"Saran Alya, Dokter Mira berhati-hatilah berurusan dengan Mba Intan. Kalau memang dia masih terus mempengaruhi Dokter Mira begini. Saya akan katakan ke Mas Ardi untuk memberhentikanya, atau biar Alya sendiri yang akan menyampaikan ini ke dia" tutur Alya tegas.


Mira diam, Mira sangat malu. Mira memandangi foto tes DNA anak Intan dengan seksama. Pikiran Mira pun berkalana kemana-mana.


"Jika Ardi orang yang baik dan benar, lalu bagaimana dengan cerita Lila, jika terbukti Ardi yang benar, berarti Lila yang salah. Jika Lila salah, itu berarti Gery benar?" gumam Mira dalam hati.


"Dok" panggil Alya ke Dokter Mira karena Mira hanya diam dan tampak bengong.


"Gue minta maaf Al"


"Alya tau Dokter Mira orang yang baik. Makasih yah udah perhatian ke Alya dan keluarga Alya. Alya memang baru mengenal suami Alya 4bulanan kurang, tapi Alya percaya suami Alya, Alya cinta banget sama suami Alya"


"Maafin gue"


"Alya ngerti kok Dok"


"Gue mau tanya lagi tentang Ardi ke lo"


"Silahkan"


"Apa kamu tau tentang hubungan suamimu dengan perempuan bernama Lila?"


"Lila?" jawab Alya sambil berfikir.


"Tau Dok" jawab Alya.


"Kamu tau?" tanya Mita antusias.


"Dia orang jahat yang udah fitnah suami Alya. Dia juga....." jawab Alya teringat Jack.


"Fitnah? Terus? Apalagi yang kamu tahu tentang Lila"


"Alya juga nggak tahu pastinya Dok, tapi" jawab Alya ragu. Kasus pembunuhan Jack masih berjalan dan belum ketemu titik nya. Jadi Alya tidak boleh sembarangan menuduh.


"Tapi apa?"


"Mas Ardi masih menyelidikinya. Jadi Alya nggak bisa kasih tau takut fitnah. Kenapa Dokter Mira tanya tentang Lila?"


"Dia calon adik iparku"


"Hoh?" tanya Alya kaget.


"Dia juga pernah cerita tentang suamimu? Itu sebabnya gue sangat yakin kalau Ardi itu emang brengsek"


"Lila calon adik ipar dokter Mira? Dok, saran Alya batalkan tunangan Dokter"


"Gery juga tadi pagi bilang begitu"


"Batalkan Dok!" tutur Alya mantap.

__ADS_1


"Apa alasan gue bilang ke orang tua gue Al? Apa lo punya buktinya?"


__ADS_2