
Karena, bahkan seekor semut yang berjalan pun tidak akan luput dari ijin Tuhannya. Semua hal terkecil yang terjadi di dunia ini semua karena kehendakNya dan sudah diatur dalam skenarioNya. Meski tanpa si pemeran menduganya.
“Hooh” Bu Rita langsung terduduk lemas, benar-benar tidak menyangka.
Bu Rita menatap besanya kemudian melirik ke Pak Didik yang tampak duduk menyembunyikan muka nya yang memerah karena sangat malu dengan menunduk.
Bu Rita hanya bisa mengatur nafasnya masih mencoba mencerna dan menerima kenyataan sambil menyimak Bu Mirna dan Intan. Tapi melihat Pak Didik Bu Rita merasa sangat kesal.
“Jadi ibu, ibunya dokter Alya?” tanya Intan sambil menyeka air matanya. Intan sendiri tidak mengira. Seseorang yang katanya kerabatnya adalah ibu Alya.
“Ya, saya ibunya Alya. Saya perempuan yang diusir kakek nenekmu dan difitnah bapakmu! Alya adalah anak dari laki-laki yang kalian coret dari daftar nama keluarga kalian” tutur Bu Mirna dengan tatapan penuh kepahitan.
Bu Rita yang mendengarnya ikut kaget dan geram. Seoranh Bu Mirna berkata sebegitu geram
Intan semakin tak kuasa menahan emosi nya dan tidak tahu apa yang dirasa. Intan tidak tahu apa- apa. Ayah ataupun Opanya tidak pernah cerita tentang saudaranya. Intan kala itu masih balita.
Intan menundui dan menangis lagi beberapa saat.
Tuan Didik memang menikah dulu, meski adik. Karena Tuan Didik memang tidak menolak dijodohkan. Tidak seperti ayahnya Alya yang membangkang ingin memilih jodohnya sendiri.
Itulah mengapa Intan lebih tua dari Alya. Bahkan saat Bu Mirna dikenalkan di keluarga Satrio. Intan sudah lahir.
Bu Mirna ingat betul betapa kakek nenek Intan sangat mengistimewakanya. Sementara mereka memandang jijik ke Bu Mirna.
Saat Alya lahir bahkan kakek nenek Alya tidak peduli. Alya tidak dianggap. Keluarga ayah Alya benar- benar memandang jijik ke Alya dan Bu Mirna.
Bahkan sampai kakek neneknya meninggal dan ayah Alya meninggal mereka tidak pernah bertemu.
Bu Mirna tak kuasa menahan tangis, sangat sakit mengingatnya. Rasanya Bu Mirna ingin segera mengusir Tuan Didik dan tidak ingin melihatnya lagi.
Tapi situasinya tidak memungkinkan. Mereka berada di rumah besanya yang sedang berkabung.
“Maafkan kami Budhe” ucap Intan memberanikan diri. Intan semakin merasa rendah dan malu.
Bu Mirna, menggerakan tanganya, menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Meski tidak ingin melihat dan mengingat Intan, tapi Tuhan membawa Intan di hadapanya. Bu Mirna kemudian memperhatikan Intan dari atas sampai bawah.
Kedua orang tua Intan berasal dari orang kaya semua. Tapi karena mereka terbiasa hidup mewah dan berkecukupan. Mereka tidak bisa mengontrol diri, saat perusahaan sedang tumbang pun gaya hidup mereka tetap hedon.
__ADS_1
Puncak parahnya saat ibu Intan sakit dan membutuhkn biaya besar karena harus berobat ke banyak negara, hingga akhirnya meninggal. Keluarga Satrio pailit dan diambang kehancuran.
Sehingga pada suatu hari, Pak Didik harus meminta topangan ke Tuan Aryo karena perusahaan Intan Jaya hampir bangkrut. Tuan Aryo kemudian menaruh saham dan investasi di perusahaan Tuan Didik.
Sebagai bentuk pede kate dan terima kasihnya Tuan Didik mendekatkan Intan ke Ardi. Karena kebetulan anak mereka sama- sama sekolah di sma khusus orang- orang kaya.
Tuan Didik dan keluarganya semakin jumawa dan lupa diri saat mereka berhasil mendapatkan persetujuan Ardi menerima tunangan dengan Intan.
Intan pada saat itu menjelma menjadi desainer cantik, berbakat, lembut, sopan dan berkelas. Bersama Mira di sekolahnya pun mereka menjadi bintang dan menonjol karena kecantikanya.
Meski tidak mempunyai debar cinta seperti yang dirasakan Ardi ke Alya. Tentu saja Ardi yang dulu hatinya hampa patuh saja. Toh hidupnya saat itu sudah diatur Tuan Aryo, Intan juga tidak buruk.
Dan suatu hari Intan melakukan kesalahan Fatal. Ardi pun menjadi sangat trauma dan antipati lagi dengan perjodohan. Dan di hari itu juga Tuan Didik di ambang kehancuran karena ditinggalkan penyuplai dana perusahaanya.
Dan kini Tuan Didik kehilangan segalanya.
“Sedekat apa kau dengan putriku?” tanya Bu Mirna setelah memperhatikan Intan dengan seksama. Bu Mirna tidak menyangka kalau Alya selama ini berteman dengan sepupunya.
Intan diam menelan salivanya dan menoleh ke Bu Rita yang diam mendengarkan.
Intan mengenal Alya saat dia bertujuan menghancurkan Alya dan Ardi, bahkan ingin membunuh Alya. Bagaimana Intan akan menjawab pertanyaan Bu Mirna. Intan sangat malu dan benar-benar tertohok
“Dia mantan tunangan Ardi, Jeng” sahut Bu Rita menjelaskan karena tidak tahan.
“Apa?” sekarang bergantian Bu Mirna yang tercengang.
“Iya, dia perempuan yang menyakiti Ardi kita. Dia tidak sungguh berteman baik dengan putri kita, jangan dekati Alyaku” jawab Bu Rita masih memandang kesal ke Intan, apalagi ditambah mendengar cerita Bu Mirna.
Kini Bu Rita dan Bu Mirna sama- sama memandang jengah ke Intan dan Tuan Didik.
Intan yang miskin dan menderita pun menjadi sensitif dan merasakan aura kebencian. Dia juga menyadari, dirinya dan keluarganya memang sudah jahat, dan sangat jahat ke Alya.
“Tante Rita, Ibunya Alya, maaf kan kami, maafkan saya dan papa saya, dan semua masalalu kami. Sungguh saya tulus ingin berteman dengan Dokter Alya” tutur Intan pelan dengan tatapan sayu ke Bu Rita dan Bu Mirna.
“Kamu lihat kan? Kami sedang berkabung, anak asuhku meninggal. Tolong jangan perkeruh hati dan perasaan kami. Segera pergi dari sini sebelum suamiku dan Ardiku melihat kalian!” ucap Bu Rita dengan lirih tapi tajam.
Intan sangat paham dan sadar akan ucapan Bu Rita. Bahkan sebelum datang ke rumah itu, Intan sudah membayangkan dan menyiapkan hatinya.
__ADS_1
Tapi tetap saja sakit. Kini Intan merasakan sakitnya dibenci, dipandang sebelah mata dan diabaikan. Tapi sakit itu tidak lebih sakit dari sakitnya Alya dan Bu Mirna dulu.
“Maafkan kami Tante jika kedatangan kami mengganggu, kami datang kesini untuk bertemu Dokter Alya. Sungguh, kami hanya ingin menyampaikan terima kasih karena Dokter Alya membantu papah. Apa bisa kami menemuinya?” tanya Intan memberanikan diri lagi memohon meski dirinya tahu sudah diusir secara halus oleh Bu Rita.
“Untuk apa kalian menemui anakku, bukankah keluargamu tidak pernah menganggap kami ada?” tanya Bu Mirna ikut emosi menyindir Tuan Didik. Bu Mirna jelas masih sakit dengan Tuan Didik. Apa maksudnya Tuan Didik mau berterima kasih ke putrinya.
Intan menoleh ke Bu Mirna takut hendak menjawab.
“Alyaku sedang sakit, dia butuh istirahat, jangan sekali- kali kamu mengganggu dan menemuinya!” sahut Bu Rita mempertegas membuat Intan semakin tersisihkan.
“Baiklah, Intan dan papah nggak akan temui Alya lagi. Saya juga tidak akan kesini lagi. Tapi tolong sampaikan terima kasih kami, dan ini sebagai kenang- kenangan kami yang terakhir, Dokter Alya yang memintanya. Tolong berikan ini padanya Tante!” tutur Intan berkaca-kaca.
Meski melawan rasa malu karena dirinya tertolak. Memendam rasa salah dan penyesalan. Merasakan rasa sakit karena kehadiran mereka ditolak, Intan tetap menyerahkan paper bag, gaun pengantin buatanya.
Intan benar- benar tulus memberikan apa yang bisa dia berikan untuk Alya, meski gaun itu tidak akan cukup membayar kebaikan Alya. Tapu Intan merasa Alya benar-benar tulus memaafkanya.
Meskipun Intan ragu, jika Alya tau Intan sepupunya, apakah Alya masih akan baik atau tidak. Intan hanya peduli. Intan mempersembahkan sesuatu agar Alya tau dirinta ingin memperbaiki hidupnya dan menyadari kesalahanya.
Bu Rita diam tidak bergeming, begitu juga Bu Mirna. Tidak mengiyakan atau tidak menolak. Intan pun tidak menyerah, Intan meletakan paper bagnya di samping Bu Mirna.
“Kami pamit, Tante. Tolong maafkan kami. sampaikan salam kami pada Alya” lirih Intan lagi.
Bu Mirna dan Bu Rita masih terdiam. Lalu Intan berlalu mengajak Tuan Didik dan Baby El pergi.
Tuan Didik berjalan menunduk, dia tidak punya nyali menghadapi Bu Mirna dan Bu Rita bersamaan dalam satu waktu.
Dengan langkah mengendap dan tidak berani menatap. Mereka kemudian pergi meninggalkan rumah itu.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Bu Rita kemudian setelah pergi.
“Ceritnya panjang” jawab Bu Mirna.
“Apa Alya tahu akan hal ini?” tanya Bu Rita lagi.
“Belum, aku tidak ingin Alya sedih mengetahui masalalunya. Jadi selama ini aku tidak ceritakan pada dia. Tapi sekarang Alya akan menjadi seorang ibu. Aku akan memberitahu semuanya"
"Aku juga tidak menyangka kalau dirimu menantu keluarga Satrio Jeng. Suamiku pasti akan kaget. Mungkin suamiku mengenal suamimu" tutur Bu Rita menggenggam tangan Bu Mirna.
__ADS_1
Mereka saling tersenyum dan menguatkan. Selanjutnya para lelaki selesai mensholatkan Mia. Dan jenazah Mia siap diberangkatkn.