Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
165. Salah tempat


__ADS_3

Di lantai dua butik Gunawijaya dua perempuan yang berkawan sejak SMA itu duduk berhadapan.


Mira sengaja tidak ingin pulang bersama Tito. Entah kenapa, meskipun Tito tidak pernah memaki Mira seperti Gery memakinya dulu, Mira lebih takut mendengar Tito mengumpat seseorang.


Gery memang sering memaki Mira untuk pergi, tapi nadanya tidak keras dan dengan kata-kata yang bisa diterima, karena selama ini Mira memang menguntit Gery.


"Lo kenapa murung gitu sih? Mau nikah bukanya seneng?" tanya Intan melihat raut wajah Mira.


"Gue ragu Tan sama Tito" ucap Mira curhat ke Intan. Sebenarnya Mira salah tempat mencurahkan itu ke Intan.


"Kenapa lo ragu? Gue lihat nggak ada yang kurang dari Tito" jawab Intan lagi.


"Nggak tahu, mendengar dia bicara kasar begitu gue takut. Gue juga jadi paranoid, gue ngrasa dia bukan laki-laki yang baik, gimana kalau nanti gue nglakuin kesalahan, gue nggak bisa dibentak giti" tutur Mira lagi spontan mengeluarkan isi hatinya.


"Hemmm, semua laki-laki emang begitu, namanya juga manusia ada masa marah dan nggak nya. Nggak kok menurut gue dia Ok. Hari lamaran dan pernikahan lo di depan mata say. Gue nggak mau lo bernasib kaya gue" jawab Intan menasehati dan meyakinkan Mira.


Mira diam mendengarkan Intan.


"Iya" jawab Mira mengangguk.


"Lo mau minum apa biar gue pesenin minum"


"Air mineral aja. Tan"


"Oke biar gue telp Mba yang di bawah" jawab Intan kemudian meminta CS membawakan minum untuk Mira.


"Oh iya, gimana kabar istri Ardi?" tanya Intan membuka pembicaraan.


"Maaf Tan, gue nggak bermaksud nggak peduli sama lo lagi. Cuma. Gue nggak ngerti gue harus berpihak sama siapa? Lo temen gue, dia juga temen gue. Jangan bahas dia ya! Lo bisa kan selesein masalah lo sendiri" tutur Mira tidak ingin membuat dirinya bingung lagi dan memilih netral.


Buat Mira sekarang yang penting Intan baik ke dia. Dan Alya baik ke Mira. Urusan mereka biar mereka yang selesaikan sendiri.


"Lo nggak percaya sama gue?" tanya Intan kaget mendengar perkataan Mira yang menandakan kalau Mira mulai tidak berpihak padanya.


"Bukan. Gue bukan nggak percaya sama Lo. Tapi Alya juga temen gue. Gue ngrasa, Gue nggak seharusnya terlibat dalam masalah kalian. Gue bantu sebisa gue aja ya" jawab Mira lagi.


"Ok. Gue ngerti, dia pasti udah hasut lo kan? Lo bilang dia perempuan baik-baik, dia bukan perempuan baik-baik Mir, lo harus hati-hati sama dia" ucap Intan memulai mempengaruhi Mira lagi.


"Tapi Alya yang gue kenal, dia beneran perempuan baik-baik Tan"


"Mir, mana ada perempuan baik seperti dia. Dia nggak peduli masalalu suaminya, yang penting buat dia. Dia bisa kuasai harta Ardi dan menjadi Nyonya di keluarga itu" jawab Intan menjelek-jelakan Alya.


"Kok lo bilang gitu? Alya nggak seperti itu"


"Jadi lo nggak percaya sama gue?"


"Maaf banget Tan, gue nggak bermaksud nggak percaya dengan cerita lo dan urusan lo. Tapi gue nggak mau pusing dengan urusan kalian. Kemarin Alya titip pesan ke gue. Kalau lo masih mau kerja di sini. Alya minta lo buat nggak nemuin dia lagi dan bikin masalah. Alya bilang Ardi punya bukti kalau anak lo bukan anak Ardi. Maaf gue nggak bermaksud nyakitin lo" tutur Mira dengan polosnya.


"What? Dia bilang gitu?" tanya Intan geram.


Ternyata Alya bener-bener tidak bisa diremehkan. Intan merasa Alya mengibarkan bendera perang.


"Maaf ya" ucap Mira lirih merasa menyakiti Intan.


"Oke. Gue tunjukan sesuatu ke lo" jawab Intan mengeluarkan senjatanya.


Intan mengambil amplop coklat yang selalu dia bawa di tasnya. Sementara Mira diam menunggu apa yang hendak Intan tunjukan.


Intan pun menyerahkan senjata andalanya itu.


"Liat foto ini. Lo sekarang percaya kan sama gue? Ardi ayah dari anak gue. Gue kerja di sini buat anak gue biar bisa ketemu bapaknya. Gue bisa kerja di tempat lain enak aja" jawab Intan mengelabuhi Mira.


Padahal kenyataanya Intan yang memohon ke Ardi agar bisa kembali ke yayasan.


"Maaf Tan! Gue udah nggak percaya sama lo. Lo yang sabar ya. Menurut gue, lo kasih ini aja ke Alya"


"Percuma! Dia nggak akan percaya. Perempuan seperti dia nggak akan peduli. Mungkin emang udah takdir gue begini Mir" ucap pura-pura sedih dan menarik simpati Mira.


"Secepatnya gue akan cari pekerjaan lain. Hiks" ucap Intan lagi pura-pura menangis.


"Sabar ya Tan. Aku akan bantu kamu buat bilang ke Alya lagi" jawab Mira termakan omongan Intan.

__ADS_1


"Nggak usah Mir, lo nggak perlu nglakuin sejauh itu. Gue nggak mau dia jadi benci sama Lo"


"Nggak kok. Foto ini gue bawa ya" ucap Mira lagi.


"Bener?"


"Iya. Maaf ya" jawab Mira menepuk tangan Intan memberi semangat. Intan tersenyum, terutama hatinya.


"Kenapa lo nggak berubah sih Mir, lo dari dulu tetep aja lugu dan bodoh" batin Intan dalam hati merasa rencananya berhasil.


Sayangnya Intan tidak tahu kalau Alya juga sudah tahu tentang Intan menjebak Ardi dan Ardi sudah melakukan tes DNA.


****


Kediaman Gunawijaya


"Maaas, bangun!" ucap Alya lembut menepuk pipi suaminya.


Di rumah megah pemilik Gunawijaya grup, Tuan Muda dan istrinya masih bergelung di bawah selimut. Padahal jam dinding sudah menunjukan pukul 10 pagi dan bukan hari libur.


Itu merupakan hal yang sangat jarang terjadi. Biasanya jam segitu Ardi sudah bergelut dengan komputer dan berkas-berkas kesepakatan kerjasama. Bahkan di hari libur pun biasanya Ardi pagi-pagi berolahraga.


"Eemmmmt" Ardi hanya menggeliat, malah memeluk Alya lebih erat.


"Mas liat sekarang jam berapa? Mas nggak ke kantor?" tanya Alya lembut membelai rambut suaminya.


"Nggak! Papah yang ke kantor" jawab Ardi lagi dan membenamkan mukanya ke bawah ketiak istrinya.


"Emang kalau papa ke kantor. Mas terus libur gitu?" tanya Alya lagi berusaha membangunkan suaminya untuk yang kesekian kalinya.


"Huaaam" Ardi kemudian membuka pelukanya menjauh dari istrinya, menguap masih enggan membuka mata.


"Ishhh" Alya hanya mendesis. Kenapa suaminya berubah jadi pemalas begini.


"Hah" Ardi berusaha membuka matanya dan meregangkan tanganya.


"Udah jam 10 lho Mas. Masa disiplinan papah sih, nggak malu apa sama papah?" cibir Alya menasehati Ardi.


"He, iya ya" jawab Alya nyengir lupa agenda mertuanya.


"Ck. Masa masih ingat mas sih. Liat aja nanti. Pasti mamah di bawah udah uring-urigan nungguin kita" jawab Ardi ngebanyol, tau dirinya salah tapi malah santuy.


"Ih mas jahat banget sih sama mamah, kenapa nggak ingetin Lian dari tadi pas subuhan. Malah ngajak tidur" jawab Alya merasa tidak nyaman membuat Bu Rita kesal. Tapi Ardi malah cengengesan.


"Ya salah siapa kamu nggak ingat"


"Kok nyalahin Lian. Kalau Mas nggak tarik-tarik Lian dan ngajakin begituan, Lian kan udah mandi udah turun dari tadi" jawab Lian tidak terima, Ardi emang rese dan egois, bisa-bisanya salahin Lian.


"Tapi kamu seneng kan?" jawab Ardi masih membercandai Alya.


"Ish. Kalau Lian nggak mau, nanti marah, ngatain Lian durhaka. Tidur setelah sholat subuh itu pantangan tau Mas" jawab Lian cemberut.


"Hemmm yaya. Niatnya kan nggak tidur, tapi ketiduran. Ya udah ayo bangun!" jawab Ardi membela diri.


"Huh dasar" jawab Lian menggertu.


"Yuk mandi yuk!" ucap Ardi membuka selimut.


"Mas, Lian pas awal nikah, pengen banget resepsi. Tapi kenapa sekarang nggak ya?" ucap Lian tiba-tiba, membuat mereka tetap duduk. Alya merasa malas mengikuti Mamah mertuanya.


"Yaiya, orang kita udah telat" jawab Ardi merasa pesta pernikahan mereka bukan sesuatu yang penting.


"Nanti deh Alya bilang ke mamah buat acara sederhana aja" ucap Alya setuju dengan pendapat suaminya.


"Siip. Biar mas nanti yang atur. Syukuran aja udah, nggak lama lagi kan juga 4 bulanan"


"Lian takut bakal dibilang hamil duluan kalau resepsi tiba-tiba, 4 bulanan?"


"Aissh, ya jangan karena itu juga. Mikirin kok omongan orang. Niat itu ambil prioritas dan manfaatnya aja. Mas nggak mau kamu kecapekan, jadi tontonan orang. Tujuanya kan memberitahu orang lain kalau kita udah nikah. Udah gitu aja"


"Hemmm ya! Oh iya Mas, apa kabar Ka Farid sama Anya yak?" tanya Alya tiba-tiba.

__ADS_1


"Aissh, cinta banget sih sama Farid, pagi-pqgi nanyain dia. Ingat lho kamu masih di atas ranjang sama Mas"


"Ya ampun siapa yang cinta sih? Kan Lian tanya, kita kan udah penganten kadaluarsa masih mau mikirin resepsi. Padahal temen-temen kita, nikah aja belum. Kadang Lian ngrasa gimana gitu Mas?"


"Ya kamu tanya sama temenmu itu. Kapan nikahnya. Coba tanya, mau barengan nggak?"


"Isssh emang makan barengan"


"Lah kan kamu yang tanya. Peduli banget sama Farid. Mana hape Mas"


"Hemm, bukan gitu maksud Lian, Lian juga pengen Lian bahagia temen Lian bahagia juga. Nih hapenya!" jawab Lian memberikan ponsel suaminya.


Ardi kemudian memeriksa ponselnya tidak menanggapi Alya. Ardi menampakan senyum di bibirnya membaca pesan di ponselnya.


"Kok senyum?" tanya Alya ingin tau apa yang membuat suaminya senang.


"Mas mantau perkembangan kasus Jack. Plat mobil yang bunuh Jack udah ketahuan. Untung ada cctv di halaman sekolah" jawab Ardi memberitahu Alya.


"Syukurlah. Lian nggak tega mas liat anak-anaknya"


"Kok kamu nggak bilang sih Yang Gery telpon" ucap Ardi tiba-tiba tidak menghiraukan ucapan Lian.


"Heh?" Alya terhenyak lagi mendengar Ardi.


"Kok nyalahin Lian. Kan kita sama-sama tidur, mana Lian perhatiin ponsel Mas. Gimana sih?" jawab Lian merasa suaminya curang sukanya nyalahin istrinya.


"Haissh. Dia telp berkali-kali, kenapa nggak ada yang denger" cibir Ardi


"Lian udah kasih tau yang bener, jangan tidur setelah sholat subuh. Tapi Mas nggak dengerin, giliran banyak telpon masuk Lian disalahin. Hemmm?" cibir Alya lagi.


"Ada apa ya Gery telp?"


"Urusan Mba Intan lagi kali"


"Bukan deh kayaknya"


"Ya udah telpon balik"


"Iya ya?"


"Hemmm, makanya jangan marah-marah terus kerjaanya"


"Hemmm"


Lalu Ardi melakukan panggilan balik ke Gery. Sayangnya jam segitu Gery sedang berada di ruang operasi. Jadi panggilan Ardi tidak diangkat.


"Nggak diangkat Yang"


"Jam segini biasanya banyak program operasi Mas. Nanti jam 12an aja pas istirahat"


"Ya udah biar mas temuin dia aja. Yuk mandi! Siap-siap dibawelin Mamah" ucap Ardi segera bangun menuju ke kamar mandi.


"Sukurin. Mas dimarahin Mamah. Lian mau diem aja. Biar aja mas yang disalahin" jawab Lian nyusul suaminya ke kamar mandi


"Istri durhaka" cibir Ardi lagi.


"Kan mas yang ngajakin Lian tidur lagi, weeek. Daritadi tak suruh bangun malah narik-narik, huh" ucap Alya nyengir, mengejek dan mengajak bercanda suaminya.


"Huu. Suka juga, dasar. Plethak" jawab Ardi menyentil kepala Lian.


"Uuuh. Kebiasaan!"


****


*Udah up double ya.


Alhamdulillah nepatin janji kemarin, hehe. Selalu tinggalin koment biar author semangat yaak*.


Yang kangen Farid sama Anya sabar ya. Biar author susun alur ketemunya


😍

__ADS_1


__ADS_2