Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
194. Siri


__ADS_3

****


RS Healthiest


Di ruang Gery dirawat, Tuan Nando, Tuan Bayu dan Mira tampak antusias mendengarkan cerita Gery. Gery bercerita detail tentang awal mula memata-matai Tito. Sampai diberitahu Ardi, ikut Ardi dan perjalananya.


Tuan Bayu sangat kagum dan bangga pada calon menantunya itu. Terlebih lagi Dokter Nando sebagai ayahnya. Dia merasa berhasil mendidik anaknya. Meski judulnya demi Mira tetap saja Gery keren berhasil menumpas kejahatan.


"Pah terus acara nanti malam gimana?" celetuk Mira di tengah percakapan mereka mengingat rencana acara pertunanganya nanti malam.


Tuan Bayu, Gery dan Tuan Nando terhenyak kemudian memusatkan pandangan pada Mira.


"Ehm. Ehm" Gery berdehem.


"Papah belum sempet hubungi catering dan eo nya sayang. Sepulang dari sini saja ya" jawab Tuan Bayu juga baru teringat. Mau dibatalkan atau bagaimana rencananya.


"Papah mau batalin sekarang? sekarang saja sudah mau dzuhur Pah. Pihak catering pasti udah mulai masak juga. Makananya buat apa?" tanya Mira lagi.


Tuan Nando tampak bingung mendengar percakapan Tuan Bayu dan calon menantunya.


"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?" tanya Dokter Nando.


"Nanti malam acara pertunangan Mira dan Tito Pah, Gery begini buat batalin Mira dan Tito, Pah Om" jawab Gery memberanikan diri.


"Jadi?" tanya Tuan Bayu memancing Gery.


"Gery siap menggantikan Tito Pah. Om" tutur Gery berani.


"Ger. Lo belum sembuh" ucap Mira kasian melihat keadaan Gery.


"Jadi lo nolak gue?" tanya Gery tersinggung.


"Ya bukan gitu, gue nggak mau lo kenapa-kenapa? Gimana dengan keadaan lo?" tutur Mira menjelaskan.


"Dia akan cepet sembuh kalau Nak Mira yang rawat" tutur Dokter Nando.


"Nggak! Aku nggak ijinin putri semata wayangku ngrawat anak lo. Belum halal" ucap Tuan Bayu menolak.


"Yaudah dihalalin aja sekalian!" jawab Dokter Nando memberi usul.


"Halalin?" tanya Mira dan Gery berbarengan.


"Ya itu kalau kalian mau, papah sih terserah kalian aja" jawab Dokter Nando.


"Gery siap Om, Pah?" jawab Gery mantap tidaj mau buang kesempatan emas.


Tuan Bayu garuk-garuk kepala. Bingung mau memutuskan.


"Saya mau besanan sama kamu karena putriku ya!" ucap Tuan Bayu.


"Ya gue juga saranin ini karena putraku. Harusnya kamu berterima kasih karena kami menolongmu" ucap Dokter Nando.


"Putramu bukan kamu!" jawab Tuan Bayu masih tidak mau mengalah.


"Haish sama aja, dia anakku" jawab Dokter Nando, Gery adalah anaknya, tetap saja Dokter Nando berperan.


"Pah!" panggil Gery dan Mira bersamaan. Melerai kedua papahnya bertengkar.


Lalu Dokter Nando dan Tuan Bayu terdiam.


"Terus mau bagaimana?" tanya Dokter Nando membahas lebih lanjut.

__ADS_1


"Bagaimana apanya?" tanya Tuan Bayu.


"Ya acaranya. Dari pihak saya kan nggak ada persiapan, jadi nggak nih?" tanya Dokter Nando memastikan dengan enteng. Memastikan nikah seperti memastikan kencan saja.


"Untuk tempat, katering fotografi dan dekorasi kita sih sudah siap!" jawab Bayu mantap.


"Tapi gimana Gery Pah? Kamu bisa duduk?" tanya Mira bertanya ke Gery.


"Bisa kok! Dia yang fraktur tuh jari kaki dan yang retak jari tangan kiri" ucap Dokter Nando menjelaskan keadaan Gery.


"Tapi gimana dengan perutnya Om?" tanya Mira masih panik.


"Reaksi bius total nggak lama honey! 12 jam udah bisa bebas, ini juga udah bisa gerak-gerak" jawab Gery bersemangat menunjukan Gery siap menikah apapun keadaanya.


"Tapi perjalananya jauh lho" jawab Mira lagi.


"Ya udah kamu mau nikah nggak! Kalau nggak mau ya nggak apa-apa. Papah nggak masalah batalin cateringnya, papah bagikan ke panti asuhan" timpal Tuan Bayu menimang dan memastikan keputusan Mira.


"Saya siap Om" jawab Gery bersemangat tidak mau menunda pernikahanya.


"Ya sudah, biar pakai ambulan saja perjalananya" timpal Dokter Nando memberi ide.


"Ya sudah kalau itu keputusanya. Mira setuju!" jawab Mira.


Gery tersenyum lebar mendengarnya.


"Kamu nggak malu kan honey?" tanya Gery ke Mira.


Mira balas tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Nggak Ger. Gue sama sekali nggak malu!"


"Ya udah Fiks ya! Malam ini kalian nikah!" tutur Tuan Bayu mengambil keputusan.


Mereka berdua sangat bahagia. Akhirnya hari itu datang juga.


"Tapi malam ini nikah agama dulu" ucap Dokter Nando.


"Kok gitu sih Pah? Gery mau yang secara hukum langsung Pah!" jawab Gery tidak terima.


"Kalau ke KUA harus daftar dulu beberapa hari sebelumnya. Syarat-syarat administrasi juga belum kan? Nggak bisa mendadak gini" sambung Tuan Nando.


Kini Tuan Nando dan Tuan Bayu jadi kompak membicarakan pernikahan putrinya.


"Oh iya ya?" jawab Gery mengangguk tanda mengerti.


"Ya sudah Papah pulang dulu. Kasih tau keluarga tentang pernikahanmu" ucap Dokter Nando pamitan. Dari tadi niatnya mau pulang terhalang oleh teman lamanya.


"Papah juga mau urus KUA dan kyainya Mir" sambung Tuan Bayu.


"Ya Pah!" jawab Gery dan Mira bersamaan.


"Eits kamu ikut papa pulang!" ajak Tuan Bayu ke Mira.


"Terus Gery sama siapa Pah?" tanya Gery tidak terima ditinggal.


"Kalau mau nikah cepet harus berkorban. Prihatin! Sendiri dulu mandiri" jawab Tuan Bayu.


"Kau ini, kasihanilah anakku, biar anakmu menjaga anakku, kamu urus persiapanmu sendiri!" tutur Dokter Nando kasian ke anaknya.


"Mau nikah itu dipingit, nggak anakku harus pulang dulu!" jawab Tuan Bayu lagi. Mereka berdua kembali berdebat.

__ADS_1


Mira dan Gery kemudian menunduk menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Kenapa baru tau kalau kedua papah mereka saling kenal dan bahkan soulmate sejati.


"Terus jadinya gimana?" tanya Gery melerai.


"Kamu ikut papa pulang, biar dijaga perawat!" ucap Tuan Bayu ke Mira.


"Perawat?" tanya Mira tidak terima.


"Iya" jawab Tuan Bayu.


Gery malah senyum-senyum ingin menggoda Mira.


"Yakin rela? Aku sih nggak apa-apa. Perawat sini cantik-cantik kok" jawab Gery membercandai Mira.


Mira manyun membayangkan Gery disentuh-sentuh perawat cantik. Kebetulan di ruang ICU rumah sakit Gery yang jaga pagi ini perempuan semua.


"Nggak Pah! Mira nggak mau pulang!" jawab Mira melawan ayahnya.


"Ngelawan Papah!"


"Kasian Gery Pah!"


"7 jam lagi kamu akan jadi istrinya. Ini permintaan terakhir papah ke anak gadis papa sebelum lepas masa lajang. Pulanglah. Biar dia berkorban dulu"


"Tapi Pah kasian Gery"


"Mau tetap nikah, pulang sama Papah atau Papah batalin dan papang nggak mau jadi wali!" ancam Tuan Bayu tegas.


"Nggak Om. Jangan Dibatalin. Saya nggak apa-apa ditinggal!" jawab Gery menyerobot dan mengkode Mira untuk patuh. Daripada gagal nikah.


"Tapi perawat laki-laki ya yang rawat" pinta Mira cemberut ke Gery.


Gery mengangguk tersenyum. Dokter Nando tertawa mendengarnya.


Ternyata anak sahabatnya itu sangat mencintai anaknya seperti ibu Gery dulu yang sangat posesif ke suaminya.


"Tenang Nak Mira. Nanti Om panggilkan perawat laki-laki. Ayahmu tidak akan berhenti berbicara kalau kau tidak mengikutinya" jawab Dokter Nando pengertian.


"Baiklah ayo pulang!" ajak Tuan Bayu mengajak Mira pulang untuk memeberitahu keluarganya. Dan mempersiapkan semuanya.


"Baik-baik ya!" ucap Mira mengelus tangan Gery.


Gery mengangguk mesra dan balas menggenggam tangan Mira.


"Sampai ketemu di pelaminan My Queen, hati-hati ya!" jawab Gery tidak malu ke kedua orang tuanya bermesraan dengan Mira.


"Ya udah hubungi kepala perawat dan temanmu papah pulang dulu!" ucap Dokter Nando pamit.


"Ya Pah!" jawab gery bahagia.


Meski sendirian dan menahan sakit Gery sangat bahagia. Beberapa jam lagi dia akan menikah. Meski secara siri dulu, yang penting Mira jadi miliknya. Mereka akan hadapi kehidupan bersama sebagai suami istri.


Gery kemudian mengambil ponselnya di nakas yang layar depanya sedikit pecah akibat pukulan dan tendangan anak buah Tito.


Gery memberi kabar ke Ardi dan Farid.


"Apa lo telpon-telpon gue! Ganggu aja lo" jawab Ardi dibalik telepon.


"Lo udah bisa naik mobil belum?" tanya Gery tanpa bosa basi.


"Kenapa lo tanya gitu?" tanya Ardi lagi.

__ADS_1


"Jam 7 ikut gue ke hotel Continen"


"What? Lo mau pergi ke hotel? Ngapain? Lo emang udah sembuh?" tanya Ardi kaget.


__ADS_2