Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
202. Satu Meja


__ADS_3

Kata orang, bahkan seekor semut yang hidup tidak luput dari kehendak Tuhan. Semua yang terjadi merupakan sekenario Tuhan yang kasih. Sebagai hamba kita hanya perlu melaluinya dengan syukur semangat dan bahagia.


Seperti halnya Mira, meski melewati jalan panjang, penuh dengan kesabaran. Menikah di usia yang sedikit terlambat, hampir salah jalan. Kini dia mendapatkan apa yang menjadi mimpinya. Menikah dengan orang yang dia cinta.


"Gue aja yang dorong kursinya, ya Ger, kaya Alya" tutur Mira berbisik di pelaminan.


Mereka duduk dengan dua bangku. Gery masih dengan kursi roda, Mira dengan kursi hias.


Mira berniat mengajak Gery makan bersama, bergabung dengan keluarganya. Meski masih rame tamu-tamu sudah mulai berpamitan dan pulang satu persatu.


"Apa lo bilang? Coba ulangi!" tegur Gery ke Mira.


"Gue yang dorong kursi lo. Biar Eko makan dan nggak kasian jadi obat nyamuk, kita juga makan!"


"Bukan, bukan itu, tapi panggilan lo ke gue apa?"


"Apa siih?" tanya Mira tidak mengerti.


"Haiish, lo sekarang udah jadi istri gue. Masa masih manggil Ger sih!" protes Gery ingin dihormati sebagai suami.


"Hemm" jawab Mira beredehem malu.


"Yang mesra kek" jawab Gery lagi.


"Iya sayang!" panggil Mira canggung.


"Ganti-ganti udah pasaran"


"Terus apa?" tanya Mira.


"Gue kan manis, panggil honey kek apa sweetheart?"


"Lebai lulah. Gue latian dulu ya. Belibet ngomong begitu hehe!" jawab Mira bisik-bisik..


"Ya jangan panggil nama juga kali"


"Ya"


Mereka berdua tampak asik bercerita di pelaminan tanpa peduli dipandang orang-orang.


Melihat tamu-tamu udah mulai sepi, Ardi, Alya, Anya dan Farid kemudian datang menyapa. Mereka berbaris hendak mengucapkan selamat.


"Selamat ya, tinggal cap cuus, gaskeun?!" goda Ardi ke Gery berbisik di telinga.


"Gue masih harus bersabar Bos" jawab Gery


"Nggak apa-apa dulu gue juga seminggu baru berhasil" bisik Ardi lagi


"Lama amat! Bagi tips dong!" jawab Gery.


"Bukanya lo lebih pinter dari gue?" jawab Ardi lagi.


"Lo liat kaki tangan gue, gimana gue bisa beraksi" jawab Gery lagi.


"Halah, bisa-bisa. Kan yang dipake bukan kaki, Mira lebih senior dari Lian pasti lebih tau" jawab Ardi lagi sambil melirik ke Mira.


Alya yang di belakangnya mencubit Ardi.


"Ngobrolin apa sih lama banget, antri Mas yang mau salaman" bisik ke Alya memperingati Ardi.


"Ya sayang" jawab Ardi. Lalu Ardi segera berlalu sambil menepuk bahu Gery.


"Selamat Dokter Mira, Dokter Gery. Barakallah. Cepet sembuh ya, biar cepet honeymoonth!" ucap Alya ke kedua seniornya.


"Makasih Al" jawab Mira dan Gery menangkupkan tangan.


Dengan Mira Alya berpelukan dan cipika cipiki sampai bedak Mira sedikit menempel di jilbab Alya. Selanjutnya Farid dan Anya.


"Selamat Bro. Udah jadi suami lo sekarang, gue akui gue kalah dari kalian berdua" ucap Farid.


"Itu mah udah jelas Budur. Makanya!" jawab Gery masih sangat suka mengejek Farid.


"Yang sabar ya Mir sama Cecunguk kaya dia, kalau dia rese kunci aja pintu kamarnya, jangan kasih jatah!" sambung Farid ke Mira.


Mira dan Anya saling hanya tersenyum malu mendengarkan.


"Dasar lu!" ucap Gery.


"Barakallah ya buat kalian. Jangan keburu hamil. Tungguin gue!" ucap Farid.


"Hehe, Makasih ya!" jawab Mira menangkupkan tangan


"Serah gue lah. Ogah gue nunggu lo" jawab Gery.


Di belakang Farid menyusul Anya. Lalu mereka bersalaman-salaman dan bercipika cipiki. Senior yang dulu sangat Anya benci, ternyata akan jadi teman arisannya.


"Selamat ya Dok. Semoga selalu bahagia" ucap Anya.


"Iya makasih ya. Lo cepet nyusul ya!" jawab Mira.


Anya pun mengangguk senyum.


"Hayu luh kalian belum makan kan? Makan dulu!" ajak Farid masih perhatian ke Gery.


"Kalian duluan aja, abis ini kita nyusul!" jawab Mira melihat masih ada yang mau salaman.


"Makan yang banyak!" sambung Gery.


"Lo balik ke rumah sakit bareng Eko sama Mira ya. Gue harus ke Bogor soalnya" pamit Farid sambil salaman ke Gery.


"Oke Bro. Makasih ya!" jawab Gery mengangguk.

__ADS_1


"Yok, baek-baek ya!" jawab Farid sambil berlalu.


Farid dan Anya kemudian bergabung bersama Ardi dan Alya. Mereka bergabung dalam satu meja menikmati hidangan yang tersedia.


Tidak lama setelah rombongan Ardi duduk. Dari arah luar datang seorang perempuan cantik dengan rambut hitam legam datang menuntun anak usia 2tahunan seorang diri.


Mira dan Gery menatap lekat ke ibu cantik itu. Dia datang hanya berdua tanpa lelaki. Siapa lagi kalau bukan Intan.


Mira menelan salivanya merasa tidak nyaman. Beberapa hari lalu kan Mira baru saja datang ke Intan sama Tito. Mira juga tidak memakai kebaya buatan Intan.


Intan berjalan ke pelaminan dengan senyum cantiknya.


"Intan?" gumam Gery dan Mira.


"Hai, selamat ya. Akhirnya kalian menikah" ucap Intan dengan wajah cantiknya.


"Iya. Makasih ya!" jawab Mira sambil melihat anak Intan getir.


"Kenapa, kalian menatapku begitu? Gue nggak boleh datang kesini ya?" tanya Intan.


"Ah nggak. Makasih lo udah datang. Sory gue nggak make kebaya lo" ucap Mira.


"Nggak apa-apa. Gue juga minta maaf ya gue udah banyak kasih pengaruh buruk ke lo. Gue sadar gue salah. Gue nggak akan jadi temen baik buat kalian" ucap Intan sambil tersenyum


"Gue harap lo jujur Tan. Jangan lo ganggu Ardi dan Alya lagi!" ucap Gery tajam. Meski di pelaminan Gery tidak segan memperingati Intan.


Mendengar perkataan Gery Intan tersenyum.


"Lo tenang aja. Gue seorang ibu. Gue nggak akan ganggu mereka lagi" jawab Intan


"Oke, syukurlah!" jawab Gery.


"Selamat ya buat kalian" ucap Intan sekali lagi.


Mira dan Gery mengangguk.


"Makan dulu ya!" ucap Mira.


Intan mengangguk, lalu membawa anaknya ke stand makanan. Berkeliling mengambil. makanan sesuai mau anaknya.


****


Di meja tamu khusus 4 sahabat sedang menikmati makanan dengan hangat. Dan tampak perempuan paruh baya yang masih cantik datang nimbrung.


"Alya" panggil Bu Rita menghampiri anak dan temannya.


"Eh Mamah" jawab Alya menoleh diikuti Farid dan Anya.


"Malam Tante!" sapa Farid dan Anya ke Bu Rita. Sementara Ardi sang anak kandung justru biasa aja tidak menyapa.


"Pulang yuk. Ibumu udah nunggu di rumah" ajak Bu Rita ke Alya.


"Iya Mah" jawab Alya menoleh ke suaminya meminta ijin.


"Iya Kak, udah dari tadi sebelum maghrib" jawab Alya.


"Alhamdulillah, kalau gitu besok pagi bisa ikut dong! Ajak mertuamu ya Ar!" jawab Farid.


Alya dan Ardi saling tatap dan kemudian menatap Bu Rita. Mereka masih belum sepakat mau ke Bogor kapan dan naik apa?


"Acaranya jam berapa sih?" tanya Ardi.


"Pagi, jam 8. Soalnya Anya jaga malam Kak, jadi sore udah balik ke Jakarta lagi" tutur Anya menjelaskan membuat semua menoleh heran.


"Lo nggak ambil libur?" tanya Ardi heran ke Anya.


"Nggak bisa Kak, jadi pegawai rumah sakit kan susah liburnya, iya kan Al?" tanya Anya menyindir ke Alya.


Kalau Alya kan selalu ijin dengan alasan sakit. Emang sakit sih, terus cuti sekalian. Alya juga inisiatif minta tuker ke Dinda.


"Hemmm" jawab Ardi melirik ke Alya memberi kode, sudahlah keluar aja nggak usah kerja, begitu batinya.


"Denger kan Mas, hari ini Alya bisa libur tungguin kamu karena dijagain Dinda. Kasian kan Dinda?" jawab Alya menimpali.


"Yaya" jawab Ardi.


"Terus keputusanya gimana? Gue sih berharap Bu Mirna, Tante Rita dan Om Aryo tetep bisa datang" ucap Farid.


"Ya udah, biar bisa berangkat semua, gue nggak jadi ikut lo sekarang. Gue berangkat besok pagi-pagi" jawab Ardi memberi keputusan.


"Oke kalau itu yang terbaik" jawab Farid.


"Tapi Aa nanti sendirian?" tanya Anya.


"Mas, mas nggak apa-apa kalau mau berangkat sekarang. Papa Mamah sama Ibu sama Dinda besok bisa nyusul. Kasian kan Kak Farid sendiri" jawab Alya dalam hati malam ingin tidur dengan Bu Mirna.


Ardi sudah beberapa hari tidak minta jatah. Kalau malam ini tidur di rumah pastilah minta jatah. Padahal Alya rasanya sedang sangat lelah.


"Bener nggak apa-apa Mas berangkat duluan?" tanya Ardi.


"Iya"


"Ya udah Fiks. Ayo kita pulang. Kasian Bu Mirna di rumah sendirian" ajak Bu Rita.


"Oh ya, Kak Farid, Anya, maafin Alya, besok Alya nggak bisa dateng. Biar Dinda aja yang ikut. Alya besok harus jaga" ucap Alya tiba-tiba.


"Kok nggak ikut sih Yang? Mas siapa pasanganya?" protes Ardi.


"Mama setuju Alya nggak ikut! Istrimu nggak akan hilang, nanti kamu sama Bu Mirna" ucap Mama Rita.


Ardi berdecak kesal, istrinya sudah berasa jadi candu buatnya yang bikin Ardi selalu gelisah jika jauh-jauh dari Alya. Alya sekarang juga mengikuti semua mau Ardi dan melayaninya dengan baik. Kalau sama Bu Mirna bisa mati kutu nih nanti.

__ADS_1


Meski kecewa sahabatnya tidak ikut, Anya hanya diam menyimak.


"Iya Mah" jawab Alya patuh.


"Ck" Ardi berdecak.


"Mamah nggak mau Alya naik mobil jauh-jauh. Jam segini juga belum pulag, besok kerja. Ibu hamil nggak boleh capek. Yang ke Bogor, Bu Mirna, mamah, papah sama kamu, titik" ucap Bu Rita memutuskan.


"Ya" jawab Ardi patuh.


Tiba-tiba di belakang Bu Rita datang Intan membawa anaknya.


"Selamat malam semuanya, boleh saya gabung?" sapa Intan tiba-tiba dengan senyuman cantiknya.


Semua menoleh. Bu Rita kaget setelah hampir 2 tahun tidak bertemu dengan orang yang pernah dekat denganya. Bu Rita kemudian menatap baby boy dengan penuh tanda tanya.


Alya dan Ardi menoleh kaget juga. Ardi tampak sangat malas melihat mantanya itu. Sementara Alya tampak canggung tapi kasian.


Anya menoleh penasaran dan bingung siapa sebenarnya perempuan ini. Dia kan yang tadi dijumpai di butik.


"Intan?" tanya Bu Rita.


"Hai Mah, apa kabar?" tanya Intan masih menyapa Bu Rita dengan sapaan Mah.


Alya yang mendengarnya menelan salivanya sedikit cemburu.


"Ammaaa" celoteh Baby Boy.


"Iya sayang, ayo salim sama Oma ya!" ucap Intan mengajari anaknya salim ke Bu Rita.


Bu Rita terbengong menatap anak Intan. Dengan sifat lembutnya Bu Rita, seperti apapun Intan dulu Bu Rita tetap ramah ke Baby Boy, Bu Rita meraih tangan Boy dan membelainya lembut.


"Hai anak ganteng, siapa namamu?" sapa Bu Rita.


"Ai name isy Boy" jawab anak Intan pintar.


Bu Rita mengangguk tersenyum.


"Dia anakmu?" tanya Bu Rita ke Intan.


"Iya Mah" jawab Intan.


"Apa kau sudah menikah? Dimana suamimu?" tanya Bu Rita.


"Nggak Mah, Intan nggak meniah"


"Hoh?" tanya Bu Rita heran, lalu Bu Rita menelan salivanya menatap ke Alya.


Anya hanya menyaksikan percakapan Bu Rita dan Intan bingung. Kenapa perempuan ini memanggil mertua Alya Mah.


Alya terdiam menunduk. Ardi menggenggam sendok kesal dan membantingnya. Ngapain Intan datang bawa anaknya segala.


Ardi kesal sekali pada Intan. Apalagi setelah mendengar cerita Alya dia sempat mempengaruhi Alya.


Melihat respon Ardi. Intan tau diri dan sangat mengerti.


"Maaf, saya mengganggu kalian ya? Kalau gitu saya pergi saja" tanya Intan sopan masih sambil berdiri.


Semua diam tidak menjawab. Bu Rita hanya menatap Ardi dan Alya. Farid dan Anya memilih diam.


"Nggak kok!" jawab Alya ramah tersenyum memecah keheningan.


"Alya kalian udah kenal?" tanya Bu Rita.


"Udah Mah" jawab Alya.


"Iya kami sudah pernah bertemu sebelumnya" jawab Intan juga.


"Silahkan duduk Mba Intan, saya ambilkan bangku ya" tutur Alya ramah.


Mendengar Alya ramah ke Intan, Ardi kaget dan menoleh. Saat Alya bangun hendak mengambil kursi Ardi meraih tangan Alya.


"Ngapain? Duduk! Dia nggak pantas gabung sama kita!" ucap Ardi ke Alya.


"Maas, dia sama-sama manusia dia juga bawa anak kecil. Kita harus baik ke semua orang, Lian kasih bangku ya" jawab Alya lembut ke suaminya.


"Terima kasih, Nyonya Alya" jawab Intan tersenyum ramah mendengar percakapan Alya dan Ardi.


Ekspresi dan sikap Intan, beda sekali dengan saat dia di kafe waktu itu.


"Iya" jawab Alya juga dengan ramah.


Sebenarnya Alya juga merasa ada yang aneh dengan Intan. Tapi karena Intan membawa anak Alya jadi kasian.


Alya kemudian mengambilkan satu bangku untuk Intan di samping Bu Rita. Ardi kemudian merapatkan duduknya dengan Alya.


"Apa mau kamu datang kesini?" tanya Ardi tiba-tiba dengan nada ketus.


"Mas dia bawa anak kecil. Jangan galak-galak" bisik Alya ke Ardi.


Intan duduk memangku anaknya tersenyum.


"Gue kesini mau minta maaf ke kalian semua" ucap Intan


"Minta maaf?" tanya Bu Rita.


"Iya Mah. Intan pernah berfikir buruk, untuk bisa kembali ke Ardi dan berbuat jahat ke Alya. Saya minta maaf Nyonya Alya"


"Iya Mba Intan. Saya udah maafin kok" jawab Alya ramah lalu melirik ke Ardi yang tampak masih kesal dan tidak nyaman.


"Saya udah jahat ke Alya, padahal Alya sudah baik ke saya, bahkan saya sudah diijinkan bekerja di butik lagi. Saya di sini mau berterima kasih" tutur Intan lagi.

__ADS_1


"Kamu kembali ke butik?" tanya Bu Rita.


"Iya Mah" jawab Intan mengangguk.


__ADS_2