Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
271. Fiks


__ADS_3

Meski Dinda sudah menceritakan banyak hal tentang Dika, tapi rupanya sebagai ayah, Bapak Dinda ingin memastikan sendiri bagaimana kualitas anak ingusan yang berani- beraninya mencuri hati anak kesayanganya. 


Rombongan Dika sampai di rumah di perumahan elit. Yang ternyata itu jajaran kawasan perumahan bisnis milik Gunawijaya. Mereka terdiri dari 2 mobil bak, dan satu mobil mewah Ardi. 


Agar tidak membuat heboh, karena temanya hanya silaturrahim dan kenalan, Dika menyuruh satu anak buahnya ke hotel duluan. Jadi hanya tinggak mobil Ardi yang ditumpangi Farid, Ardi dan Alya, satu mobil bak yang dikendarai dirinya dan satu anak buahnya. 


Malam itu pun Dika hanya membawa buah tangan pepes nila andalan, masakan ibu Dika dan parcel buah yang dibawa Alya. Ardi dan Farid hanya sekedar menemani Dika untuk membuat Dika percaya diri. 


Saat menyadari ada suara mobil, ibu dan ayah Dinda langsung mengintip. Karena di komplek perumahan halaman sempit, jadi yang berhasil parkir di depan rumah Dinda hanya mobil bak Dika. Dan mobil mewah Ardi di belakangnya tidak terlihat dari jendela. 


Ayah dan Ibu Dinda memicingkan matanya syok. Apa iya anaknya yang nota bennya seorang dokter mau dilamar orang yang datang dengan mobil bak. Otot- otot tubuh Bapaknya Dinda kemudian menegang. Apalagi saat melihat yang keluar pria yang sangat muda. 


“Pah! Itu bener yang namanya Dika?” 


“Sudah mamah diam saja” ucap Papa Dinda. 


Lalu keluarlah Arlan sopir Ardi dan Farid kemudian disusul Alya yang menggandeng Ardi. Mama Dinda pun mengintip dengan bahagia memperhatikan Alya dengan baik. 


“Manis sih, tapi biasa aja. Padahal suaminya ganteng banget” batin Mama Dinda mengomentari Alya. 


Dika kemudian mengetok pintu rumah Dinda. Ayah dan ibu Dinda sendiri lagsung membukanya dan mempersilahkan duduk. Sebagai ketua rombongan dan yang dituakan, Ardi yang bosa- basi duluan menyapa. 


Alyapun langsung menyalami ibu Dinda dengan ramah dan menyerahkan oleh- oleh yang di bawanya. 


“Dinda nya dimana Tante?” bisik Alya setelah saling sapa.


“Masih di kamar” 


“Oh yaya” 


“Biar nanti saja, saya panggil. Silahkan duduk Dokter” 


“Ya Bu!” 


“Mau duduk di depan apa di sini?” 


“Di sini saja kali ya Bu? Pengen lurusin kaki” jawab Alya lebih memilih duduk di depan Tv di ruangan sebelah ruang tamu tapi Alya memilih lesehan karen pinggang dan kakinya mulai cepat terasa pegal. Sementara yang laki- laki duduk di sofa depan. 


“Oh iya, lagi hamil?” 


“Iya Bu?” 


“Berapa bulan?” 


“4 lebih jalan 5” 


“Oh syukurlah semoga sehat- sehat ya” 


“Iya makasih!” 


“Saya manggil Dinda dulu” 


“Iya Bu!” 


Ibu Dinda kemudian memanggil Dinda. Alya duduk lesehan dan meregangkan badan. Dan yang di luar sudah mulai ngobrol bosa basi.


Jika untuk orang lain, Ardi bisa sangat sopan an lihai mengambil hati mertua, padahal dulu dirinya sangat tidak sopan saat meminang Alya. 

__ADS_1


“Suatu kehormatan, Tuan Ardi berkunjung ke rumah saya” ucap Bapak Dinda. 


“Ah Bapak bisa saja, kan meyambung silaturrahim itu penting, Pak” jawab Ardi, sementara yang lain masih diam dari tadi masih Ardi yang mendominasi. 


“Yaya, Anda benar Tuan” 


“Sebenarnya kedatangan saya ke sini, saya mau mengantar adik saya, katanya ingin main dan berkenalan dengan Pak Surya sekeluarga” ucap Ardi mengawali dan melirik ke Dika. Lalu menyerahkan ke Dika untuk menyampaikan sendiri keperluanya.


“Oh ya...ya..” jawab Pak Surya bosa basi dan menatap Dika dengan seksama. 


Bohong kalau Dika tidak nerveous dan dheg- dhegan. Pak Surya bertubuh tinggi dengan perut sedikit melebar. Kumisnya tebal dan kulit agak hitam. Tatapanya tajam. 


“Selamat malam Pak Surya, perkenalkan saya Dika, Muhammad Andika Wijaya” sapa Dika sopan. 


“Ya, selamat malam” jawab Tuan Surya kemudian intonasinya berubah. 


“Saya yang meminta Tuan Ardi dan yang lain datang kemari Pak, saya ingin menyampaikan niat saya” lanjut Dika memberanikan diri, meskipun kata-katanya belepotan sambil dheg-dhegan tidak seperti Ardi, Dika yang penting maju weh. Tidak banyak bosa- basi dan langsung pada intinya. 


“Oh ya, kedatangan kalian saya terima, sampaikanlah niatmu” tanya Tuan Surya pura- pura.


“Saya datang kesini, memohon ijin agar diperbolehkan mengenal anak Bapak, Dokter Dinda Larasati” 


“Apa sebelumnya belum kenal?” tanya Pak Surya ingin mengetes Dika. 


Ardi, Farid dan teman Dika hanya menyimak. 


“Maksud saya, saya jatuh cinta pada putri Bapak, jika diijinkan saya ingin mengenal lebih dekat dan melangkah ke hubungan yang serius” jawab Dika lancar entah kenapa ada yang mendorong dirinya untuk bilang apa adanya saja. 


“Apa yang membuatmu jatuh cinta pada putriku?” tanya Pak Surya lugas.


Sehingga membuat yang mendengarnya menoleh, termasuk Alya dan Dinda yang kini ada di balik tembok ruang tamu. Kenapa jawabanya mata.


“Matanya?” tanya Pak Surya. 


“Mata Dokter Dinda bening ceria, penuh semangat, melihat sorotnya saya bisa melihat masa depan dengan bahagia bersamanya” jawab Dika memakai kiasan.


“Amit, amit. Jika dalam perjalanan kalian Tuhan mengambil matanya, apa kamu akan tetap mencintainya?” tanya Pak Surya lagi. 


“Ih Papa doanya jelek banget, amit- amit” batin Dinda kesal.


“Saya akan tetap mencintainya, karena selain matanya, saya jatuh cinta pada jiwa dan pemikiranya” jawab Dika lagi. 


“Berapa lamu kamu mengenal anakku?” 


“Jalan satu bulan” 


“Berapa kali bertemu?” 


“Satu kali” 


“Kenapa kamu mengatakan itu?"


"Dari semua sikap dan perilaku yang Dokter Dinda perlihatkan, saya yakin Dokter Dinda sesosok perempuan baik dan berhati bersih” 


“Bagaiamna bisa kamu mengatakan itu, padahal usia perkenalan kalian sangat singkat, bagaimana kalau kelak anakku berubah dan mengeluarkan sifat jeleknya?” 


“Karena pun saya juga mempunyai keburukan dan kejelekan, semua itu tidak masalah. Saya akan terima, dalam hidup kami tumbuh bersama dan belajar bersama. Bukan siapa yang sempurna tapi kami kami akan saling menyempurnakan” 

__ADS_1


“Dan sebenarnya sebelum kami bertemu di Jogja beberapa waktu lalu, saya sudah mengenal profil Dokter Dinda di beberapa kegiatan, bukan kah Dokter Dinda ikut di kegiatan aksi kemanusiaan di kampusnya. Saya kebetulan masuk ke pengurusanya dan mengisi beberapa materi pertemuan, saya sudah jatuh cinta dengan kebaikan hati putri bapak, pemikiran- pemikiranya dan semuanya meski saya belum mengenalnya” 


Tutur Dika lagi yang membuat semua tercengang. Dinda memang pernah aktif di komunitas kemanusiaan online antar mahasiswa.


Di komunitas itu sering melakukan rapat online membuat tulisan- tulisan yang memotivasi. Pusatnya memang di Jogja, terkadang mereka juga ada penggalangan dana untuk kegiatan kemanusiaan. 


Tanpa Dinda sadari mereka ternyata sudah saling kenal via online. Tapi Dika memakai akun dengan nama lain. 


“Berapa usiamu?” 


“21 Tahun” 


“21?” tanya Pak Surya kaget. 


Dika dan Dinda kemudian keringetan dan dheg- dhegan. 


“Kalau saya ijinkan kamu mengenalnya, apa rencanamu terhadap putriku?” 


“Kalau diijinkan, karena saya sudah yakin memilih putri bapak sebagai teman hidup saya, saya ingin segera menghalalkanya. Saya ingin menuliskan banyak cerita di hari- hari saya bersama putri bapak” ucap Dika lagi membuat semua terheran. 


Ardi yang sudah mau menjadi bapak pun dibuat malu oleh keberanian dan kesopanan Dika, tidak terkecuali Farid yang hubunganya stuck. Tuan Surya sendiri tertegun dengan keberanian Dika. 


“Di usiamu yang masih 21 tahun, apa jaminanmu bisa membahagiakan putriku?” 


“Saya akan memperlakukanya dengan hormat sebagaimana ajaran agama kami memuliakan perempuan dengan kelembutan dan kasih sayang, saya akan membimbingnya dengan ilmu yang saya dapat. Saya akan memberikan tempat tinggal yang layak, dan saya akan bertanggung jawab memberinya nafkah” 


“Bukankah usiamu masih kuliah? Darimana kamu mau menafkahi dan menghidupi putriku?” 


“Saya memang masih kuliah Pak. Memang tidak banyak, tapi saya yakin saya bisa bertanggung jawab” 


“Kenapa begitu?” 


“Saya diamanahi Alloh, saya mempunyai peternakan kambing dan sapi, saya juga punya tambak ikan, saya juga mempunyai perkebunan. Setiap bulanya saya menjual dan menyetor susu sapi ke tempat pengolahan susu begitu juga menyediakan sapi untuk pedaging. Untuk kambing kami melakukan jual bel yang memasok ke beberapa rumah makan, begitu juga ikan. Untuk perkebunan Keluarga saya mempunyai usaha kebun kopi di Sumatera” 


Sekali lagi semua menjadi tertegun dengan penjelasan Dika. 


“Kamu masih muda masih panjang harapanmu untuk bertemu dengan banyak perempuan dan karirmu, kenapa ingin buru- buru menikah?”


“Karena di dalam kitab suci saya, salah satu kriteria orang muslim adalah yang menjaga kemaluanya. Saya takut jika saya menunda  menikah padahal semua sudah siap saya tergelincir dalam dosa. Jadi saya ingin menyegerakan, saya ingin melamar putri bapak, karena Alloh” jawab Dika lagi. 


Fiks, Tuan Surya kemudian menyunggingkan senyum bahkan matanya nanar. Tuan Surya memandang Ardi ingin berterima kasih, berkat Dinda berteman dengan istrinya, anaknya bertemu dengan pemuda sekeren Dika. 


“Bawa orang tuamu secepatnya kesini” ucap Tuan Surya. 


Lalu semua tersenyum dan bernafas lega. Tuan Surya kemudian memanggil Dinda untuk menyajikan minum. Karena dari tadi memang Tuan Surya sengaja memberi pelajarn ke tamunya. 


Dinda keluar dengan dandananya yang cantik. Dika yang baru bisa bertemu lagi pun takjup dengan Dinda yang sekarang berhijab. Jauh lebih anggun dan cantik. 


Selanjutnya mereka mengobrol santai dan menikmati hidangan yang disediakan. 


****


Terima kasih sudah menunggu dan tetap baca. jika ada salah mohon koreksi.


Author sedih mau berpisah dengan kisah mereka, yang tinggal sebentar lagi.


hiks hiks

__ADS_1


__ADS_2