Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
116. Berangkat


__ADS_3

****


"Lo cengeng banget sih? Bete gue liat lo lembek mewek gitu!" ucap Intan ke Sinta di dalam mobil melihat Sinta sedih.


Karena mobil Sinta ditinggal di danau, Sinta meminta Intan menjemputnya. Sinta tau dari Farid kalau Ardi akan datang, nanti juga akan ada wartawan, wali kota dan beberapa pejabat setempat. Intan tidak menyiakan kesempatan untuk datang.


Sinta curhat di dalam mobil atas apa yang dia alami semalam. Sinta memang jahat, tapi dia tidak sepandai dan setegar Intan. Umur Intan dan Sinta juga lebih tua Intan. Dulu yang ajak Sinta kenal dengan Bu Rita juga Intan.


"Gue benci banget sama Alya" jawab Sinta melanjutkan curhat.


"Secantik apa sih Alya itu?" tanya Intan simpati terhadap Sinta


"Dia nggak cantik sama sekali, pendek, kecil dan dekil. Dia cuma pandai berdrama" ucap Sinta menuduh Alya. Padahal Sinta sendiri yang pandai berdrama.


Sinta dan Intan memang bertubuh tinggi, tidak seperti Alya. Sinta dan Intan 160 cm, seperti model, sementara Alya hanya 155cm, tidak terlalu pendek sih.


Awal Alya ke Jakarta, Alya memang tidak modis karena pakaianya yang tertutup. Tidak seperti Intan dan Sinta, bajunya mewah semua. Wajah Alya juga tidak glowing karena masih dengan krim toko biasa, tapi manis dan baby face. Tapi setelah tinggal di Aerim, Ardi sering memesankan salon datang ke rumah. Jika dibuka jilbab dan bajunya Alya sekarang sudah cantik.


"Gue jadi penasaran" jawab Intan sambil nyetir mobil.


"Nanti gue kasih tau. Gue juga masih penasaran, kenapa dia satu mobil dengan Kak Ardi ke apartemen Megayu waktu itu? Siapa dia?"


"Pacar Ardinamanya Berlian, bukan Alya. Gue udah dapet alamat tempat tinggalnya. Alya saudara Bu Rita kali" jawab Intan menebak dan sok tau.


"Berlian?" tanya Sinta mengulangi. Sinta seperti pernah dengar tapi dimana?


"Gue denger dari karyawanya, dan bener dong, Ardi langsung tidak berkutik pas gue sebutin namanya"


"Terus lo masih mau nekat lanjutin rencana lo? Lo udah tau dong kalau Ardi udah nggak cinta sama Lo?"


"Came on baby. Gue nggak cuma butuh cinta Ardi. Dunia gue sekarang anak gue. Gue mau anak gue punya ayah, gue mau anak gue hidup layak dan terhormat, gue harus ambil, apa yang emang udah jadi milik gue"


"Lu emang Gila Tan? Terus apa yang akan lo lakuin ke Berlian itu?"


"Apa aja" jawab Intan tegas dan pasti.


"Salut gue sama lo"


"Tergantung lah Berlian itu seperti apa?"


"Oke" jawab Sinta mengangguk.


Dua perempuan cantik bersahabat itu melanjutkan perjalananya menuju peresmian restokafe danau.


****


Istana Tuan Aryo


"Maas" panggil Alya manja duduk di balkon pagi - pagi.


"Ya sayang kenapa?" jawab Ardi di dalam kamar sedang berkutat dengan laptop.


Pagi itu baik Ardi dan Alya bangun dan mandi sebelum subuh. Alya berniat menelpon kedua mertua dan ibunya. Seperti rencana Alya saat di rumah sakit, Alya akan mengabarkan kehamilanya ke orangtua mereka.


"Kok nggak ada yang angkat yah?" jawab Alya masuk ke kamar lagi dengan wajah sendu karena tidak berhasil menelpon ketiga orang tua mereka.


Ardi menghentikan jarinya, mengalihkan pandangan dari laptop ke istrinya. Ardi menatap Alya yang manyun dengan penuh cinta.


"Sekarang jam berapa sayang? Ini masih terlalu pagi. Nanti aja telponya"


"Lian kangen ibu mas, kangen banget"


"Ya gimana? Mau ke Jogja?"


"Lian konsultasi dulu sama Dokter Siska"


"Apa ibu kita jemput aja ke sini" jawab Ardi memberi ide.


"Siapa yang jemput?"


"Urusan gampang"


"Beneran?"


"Apa mau istri mas, akan mas kabulin, sinih duduk sini" ucap Ardi lalu merangkul bahu Alya dan mencium keningnya.


"Ish"


"Yang, kok kamu nggak ada ngidam apa kepengen apa gitu? Mangga muda, atau apa? Makanan, kaya orang-orang gitu"


"Kok tanya gitu?" tanya Alya memcingkan mata menatap suaminya aneh. Harusnya kan Ardi seneng kalau Alya nggak rewel hamilnya.

__ADS_1


"Ya mas kan pengen so sweet, ikut menikmati kehamilan istri mas. Jadi hero daddy" jawab Ardi bercanda dengan ekspresi nakalnya.


"Nggak, nggak ada. Lian cuma pengen mas di rumah terus nggak boleh pergi-pergi" jawab Alya mengerjai suaminya.


"Hmmmm" jawab Ardi melengus.


"Bisa nggak?" tanya Alya menantang.


"Bukan gitu sayang. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya bekerja di kita. Mas yang tanggung jawab mengurus perusahaan dan mempertahankanya. Kalau mas biarin tanpa tanggung jawab, terus bangkrut yang rugi bukan cuma kita"


"Yayaya, paham" jawab Alya memotong pembicaraan, sebenarnya Alya tahu tapi hanya ingin mengerjai saja.


"Kamu di rumah aja ya! Arlan akan jemput Mia dan Ida, biar bisa temenin kamu" tutur Ardi memberi pesan ke Alya.


"Emang jemput dimana?" tanya Alya penasaran bagaimana nasib Mia dan Ida beberapa hari ini.


"Di kosan mereka" jawab Ardi datar


"Maas"


"Hemmm"


"He...,Lian tetep boleh pergi-pergi kaan? Percaya sama Lian, Lian nggak kabur lagi" ucap Alya merayu.


"Hemmm" Ardi diam mengemasi laptopnya.


"Kok hem, boleh ya?" tutur Alya memelas. Ardi menatap istrinya sambil berfikir.


"Bete tau di rumah terus. Bisa setress nanti Lian"


"Ya. Pakai sopir!" jawab Ardi lembut setelah berfikir.


"Makasih suamiku"


"Emang mau pergi kemana sih?"


"Ya kali nanti Lian pengen ke Anya, belanja atau ke panti, nggak semua datang ke danau kan? Anak-anak kaya Vivi"


"Mas mau kamu di rumah aja, tapi karena sayangku ini tadi malam udah senengin mas, mas bolehin"


"Beneran? Makasih suamiku sayang" jawab Alya lagi memeluk suaminya duluan.


"Hee..." Alya hanya nyengir, sekarang Alya benar-benar sudah banyak agresif.


"Ya udah turun sarapan, mas mau berangkat"


"Ayok!"


Sepasang suami istri yang mulai dewasa itu turun keluar kamar. Mereka berdua sarapan bersama. Setelah itu Alya mengantar suaminya pergi bekerja.


"Cepet pulang ya" ucap Alya mencium tangan suaminya.


"Setelah ngobrol ma Farid mas pulang" jawab Ardi tersenyum.


"Iya. Harus diutamain mas, kita dosa banget kalau terus sembunyiin ini dari Kak Farid" jawab Alya memberi pesan. Ardipun mengangguk dan mencium kening Alya. Ardi pergi di antar Pak Rudi.


Setelah melihat mobil Ardi meninggalkan gerbang, Alya masuk ke dalam rumah kembali, menikmati hari liburnya pasca sakit. Alya menyalakan tv mengisi waktunya. Saat Alya duduk ponsel Alya berdering. Wajah Alya berbinar terang karena Bu Rita yang menelpon.


"Halo Sayang, tadi telpon ya? Maaf baru megang Handhphone" sapa Bu Rita ceria.


"Halo Mah, assalamu'alaikum, apa kabar Mah?"


"Waalaikum salam. Baik sayang, kamu lagi dimana? Kok rambutnya masih di cepol begitu?" tanya Bu Rita heran, Bu Rita tau sekarang waktunya peresmian Restokafe.


"Alya di kamar, di rumah Mah" jawab Alya jujur.


"Kok di rumah? Suamimu mana?"


"Mas Ardi kan datang ke acara pembukaan yang di danau"


"Lhoh kamu nggak ikut? Harusnya kamu ikut, sekalian liburan, ada hiburanya juga lho!"


"Nggak Mah, Mas Ardi pengen Lian di rumah aja"


"Aih sukanya anak itu, seharusnya sekarang Ardi ajak kamu, sekalian waktunya kalian umumin pernikahan kalian"


"Mas Ardi mau kasih tau ke Kak Farid dulu, baru ke yang lain"


"Lhoh emang Farid belum di kasih tau? Kalian udah lama lho nikah?"


"Iya Mah maafin Lian dan Mas Ardi. Mas Ardi belum ketemu Kak Farid lagi, hari ini Mas Ardi mau bilang"

__ADS_1


"Ck. Kalian benar-benar ya? Mamah harus bertindak lagi kalau begini. Besok selesai urusan papa mama di sini kita siapin resepsi buat kalian" ucap Mama Rita merasa anak dan menantunya tidak beres dan keterlaluan.


"Mah, Lian hamil" ucap Alya spontan. Alya merasa tidak perlu resepsi toh sudah hamil.


"What? Really?" tanya Bu Rita kegirangan.


"Iya Mah"


"Oh my God, Alhamdulillah, doa mamah terkabul, terima kasih sayang, secepatnya Mamah pulang! Udah berapa bulan?"


"Baru 6 minggu Mah"


"Ya udah sehat-sehat ya, Mamah happy banget dengernya. Ya udah Mamah mau ada acara udah dulu ya, nanti telpon lagi ya?"


"Ya Mah, assalamu'alaikum" jawab Alya menutup telp. Bu Rita pun menjawab salam dan menutupnya.


Alya menutup telponya. Alya diam memikirkan omongan mertuanya. Sesungguhnya Alya sangat ingin datang ke danau juga. Pasti menyenangkan, menikmati hidangan lezat bersama pengurus panti yang lain. Mendengarkan musik dan bernyanyi bersama di tepi danau. Tapi suaminya memintanya di rumah aja. Alya yang sedang berusaha menjadi istri yang baik memilih diam di kamar saja.


****


Kosan Anya.


Malam itu Farid menginap di kafe bersama penjaga kafe dan anak-anak panti calon karyawan. Setelah Farid percaya diri semua sesuai rencana. Farid bersiap-siap, ganti baju, memakai parfum dan menyisir rambut. Farid terlihat sangat tampan dan berkarisma. Farid mengingat janji Alya kemarin saat mengantar ke kos. Farid pun berniat menjemput Alya, ke kosan yang Farid kira kosan Alya.


Farid menjemput Alya dengan wajah berseri. Meskipun agak jauh, Farid tidak masalah dan merasa senang. Setelah menempuh perjalanan Farid sampai ke kontrakan Anya. Kontrakan tampak sepi, Farid turun dari mobil, mengucapkan salam dan mengetok pintu.


Sudah tiga kali Farid mengucapkan salam tapi tidak ada jawaban. Lalu farid melihat sekeliling, ternyata ada bel.


"Astaghfirulloh sampai nggak lihat" ucap Farid, lalu memencet bel.


Tiga kali Farid memencet bel belum juga ada jawaban.


"Apa Alya bekerja? Apa Alya sudah berangkat?" batin Farid, lalu mengambil ponselnya. Farid pun menelpon Alya.


Di dalam kosan, Anya baru pulang jaga malam sedang di kamar mandi. Anya mendengar ada bel, tapi Anya sedang tanggung dengan hajatnya. Anya berfirkir ada Bu Dati yang membukakan pintu. Tapi ternyata Bu Dati sedang ke pasar.


****


Istana Tuan Aryo


Alya duduk di balkon kamar sambil membaca buku lagi. Alya memandang ke halaman menunggu janji suaminya. Kata Ardi, pagi ini Mia dan Ida akan balik bekerja lagi. Pelayan di rumah Ardi memang banyak, tapi Alya merasa cocok dengan Mia dan Ida, mereka seperti sahabatnya.


Tiba-tiba ponsel Alya berbunyi. Alya menelan salivanya dengan jantung berdebar. Farid menghubunginya.


"Kenapa Kak Farid telpon aku? Apa Mas Ardi udah ketemu dan langsung jelasin ka Kak Farid, syukurlah, semoga Kak Farid berpositif thingking terhadapku" batin Alya dheg-dhegan lalu memencet tombol menerima.


"Assalamu'alaikum Kak Farid. Gimana?" jawab Alya lembut dan sopan ke Farid.


"Waalaikumsalam Al. Gue di depan kosan lo nih" ucap Farid santai.


"Dheg" Alya menelan salivanya bingung. Alya tidak menyangka Farid bakal ke kosan Alya.


"Kak Farid di kosan?" tanya Alya terbata.


"Kamu dimana? Ingat kan sekarang di pembukaan kafe danau. Bu Salma, Us Zahra dan yang lain udah dateng. Aku jemput kamu" jawab Farid semangat.


"Astaghfirulloh bagaimana ini? Aku jawab apa? Kak Farid kasian sekali" gumam Alya bingung sambil menggigit jari.


"Aku, aku, nggak di kosan Kak. Kak Farid balik aja" jawab Alya terbata merasa kasian ke Farid.


"Kamu udah di danau?" tanya Farid lagi


"Belum" jawab Alya jujur dan spontan.


"Kamu dimana?" tanya Farid lagi.


"Aku? Aku? Di rumah Mas Ardi, Kak" Alya ragu menjawab dimana.


"Oke" jawab Farid singkat.


"Kak tapi aku" jawab Alya mau bilang kalau Alya tidak akan datang ke danau karena Mas Ardi tidak mengijinkan. Tapi Farid sudah menutup telponya. Alya memegang telponya ragu dan panik.


"Mas Ardi gimana ini? Kenapa dia nggak langsung nyari Mas Farid dan bilang? Aku harus bilang apa ke Kak Farid. Apa aku jelasin aja? Tapi gimana aku bilangnya?"


"Apa aku tanya dulu ke Mas Ardi?" gumam Alya berfikir.


Alya menelfon Ardi suaminya untuk bercerita dan meminta pendapat. Tiga kali Alya menelpon Ardi tapi tidak diangkat. Alyapun mengirim pesan ke suaminya.


"Ih. Kebiasaan telpon nggak diangkat, pesan nggak dibaca!" gumam Alya gemash dan kesal ke suaminya.


Sebenarnya Alya juga ingin ke danau, tapi kalau pergi bareng Farid pasti Ardi marah dan cemburu. Pergi sendiri Alya lupa jalanya.

__ADS_1


__ADS_2